Musim lebaran sering dipakai silaturahim. Tapi sekarang kawan bercerita, udah malas silaturahim. Karena katanya, di balik silaturahim sering banyak omongan yang buruk dan gibah yang tidak ada habisnya. Masa iya begitu? Iya memang begitu. Terkadang, hidup kitayang jalanin tapi orang lain yang komentarin.
Mungkin sulit dihindari dalam silaturahim atau pergaulan. Yang ujungnya,
hanya membicarakan orang lain bahkan membahas aib-aib orang lain, apalagi orang
yang dianggap musuhnya atau dibencinya. Tapi terserah apa namanya, peganglah
prinsip “jangan mau dirusak oleh mulut orang lain”. Jangan pernah sudi suasana
hati dirusak hanya karena omongan orang lain. Apalagi zaman now, mungkin satu
mulut bisa berhenti tapi pasti akan ada mulut-mulut lainnya yang berkoar-koar.
Patut dipahami, omongan orang itu sulit dikontrol. Perkataan dan pikiran
orang lain pun seperti hujan. Kita tidak akan bisa mencegahnya, apalagi
menghentikannya. Selalu dan akan terus ada. Sebab apa yang keluar dari mulut
orang lain itu terjadi karena sifat dan pemikirannya. Mau sebaik ataupun
buruknya kita, tetap saja, kita tidak akan pernah bisa selamat dari omongan
manusia.Maka tips-nya sederhana. Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain.
Jangan biarkan suasana hati kita dirusak oleh omongan orang lain. Karena mulut
punya orang, tapi hati punya kita.
Adalah wajar, biar suasana lebaran, masih ada orang yang tidak suka pada
kita. Orang yang kerjanya membenci kita akan selalu ada. Entah apa sebabnya?
Karena kodrat manusia memang tidak sempurna. Tidak mampu membahas yang baik ya
mau tidak mau mengkaji yang buruk. Karena pekerjaan paling mudah adalah
bergibah tentang orang lain. Jadi, tidak masalah apa pun yang orang katakan
tentang kita. Toh, hidup dan segala sesuatunya kita yang menjalaninya. Orang
lain memang tugasnya ngomongin, sekalipun tidak kasih makan tidak pula
sekolahkan kita.
Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Teruslah berbuat baik dan
menebar manfaat di mana pun. Bila kita berbuat baik, tentu bukan untuk dipuji.
Bila kita salah pun, adalah momen untuk memperbaiki diri. Karena selama masih
ada di dunia, tugas kita hanya terus belajar. Belajar menyikapi hidup, belajar
menerima omongan orang lain. Sambil tetap eling dan waspada. Agar esok, kita
bisa berkembang menjadi lebih baik.
Ketahuilah, orang lain hanya punya mulut. Tidak punya uang untuk kasih
makan. Tidak punya kelebihan untuk membantu orang lain. Jadi biarkan mereka
hidup dengan dunianya dan kebiasaannya. Maka, jangan mau dirusak oleh mulut
orang lain. Tetaplah introspeksi diri, teruslah memperbaiki diri. Bila ada
omongan orang lain yang buruk, cukup disikapi dengan rileks tanpa perlu
menjadikannya sebagai beban. Jadikan pembelajaran sekaligus hikmah, bahwa di
dunia apa saja ada. Termasuk orang yang tidak punya urusan dengan kita tapi
begitu peduli mulutnya terhadap kita.
Mulut orang lain sama sekali tidak bisa kita bungkam. Cukup jadikan
pelajaran dan sarana untuk terus berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun.
Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Sebab kita ada hingga hari ini, bukan
untuk mendengarkan omongan lain. Tapi untuk menjalankan apapun sesuai kata
hati. Fokus saja pada diri kita sendiri, tidak ada ruang bagi mulut orang lain.
Salam literasi!