Selasa, 01 April 2025

Setelah Lebaran, Hidup Kita yang Jalanin Orang Lain yang Komentarin

Musim lebaran sering dipakai silaturahim. Tapi sekarang kawan bercerita, udah malas silaturahim. Karena katanya, di balik silaturahim sering banyak omongan yang buruk dan gibah yang tidak ada habisnya. Masa iya begitu? Iya memang begitu. Terkadang, hidup kitayang jalanin tapi orang lain yang komentarin.

 

Mungkin sulit dihindari dalam silaturahim atau pergaulan. Yang ujungnya, hanya membicarakan orang lain bahkan membahas aib-aib orang lain, apalagi orang yang dianggap musuhnya atau dibencinya. Tapi terserah apa namanya, peganglah prinsip “jangan mau dirusak oleh mulut orang lain”. Jangan pernah sudi suasana hati dirusak hanya karena omongan orang lain. Apalagi zaman now, mungkin satu mulut bisa berhenti tapi pasti akan ada mulut-mulut lainnya yang berkoar-koar.

 

Patut dipahami, omongan orang itu sulit dikontrol. Perkataan dan pikiran orang lain pun seperti hujan. Kita tidak akan bisa mencegahnya, apalagi menghentikannya. Selalu dan akan terus ada. Sebab apa yang keluar dari mulut orang lain itu terjadi karena sifat dan pemikirannya. Mau sebaik ataupun buruknya kita, tetap saja, kita tidak akan pernah bisa selamat dari omongan manusia.Maka tips-nya sederhana. Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Jangan biarkan suasana hati kita dirusak oleh omongan orang lain. Karena mulut punya orang, tapi hati punya kita.

 


Adalah wajar, biar suasana lebaran, masih ada orang yang tidak suka pada kita. Orang yang kerjanya membenci kita akan selalu ada. Entah apa sebabnya? Karena kodrat manusia memang tidak sempurna. Tidak mampu membahas yang baik ya mau tidak mau mengkaji yang buruk. Karena pekerjaan paling mudah adalah bergibah tentang orang lain. Jadi, tidak masalah apa pun yang orang katakan tentang kita. Toh, hidup dan segala sesuatunya kita yang menjalaninya. Orang lain memang tugasnya ngomongin, sekalipun tidak kasih makan tidak pula sekolahkan kita.

 

Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Teruslah berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun. Bila kita berbuat baik, tentu bukan untuk dipuji. Bila kita salah pun, adalah momen untuk memperbaiki diri. Karena selama masih ada di dunia, tugas kita hanya terus belajar. Belajar menyikapi hidup, belajar menerima omongan orang lain. Sambil tetap eling dan waspada. Agar esok, kita bisa berkembang menjadi lebih baik.

 

Ketahuilah, orang lain hanya punya mulut. Tidak punya uang untuk kasih makan. Tidak punya kelebihan untuk membantu orang lain. Jadi biarkan mereka hidup dengan dunianya dan kebiasaannya. Maka, jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Tetaplah introspeksi diri, teruslah memperbaiki diri. Bila ada omongan orang lain yang buruk, cukup disikapi dengan rileks tanpa perlu menjadikannya sebagai beban. Jadikan pembelajaran sekaligus hikmah, bahwa di dunia apa saja ada. Termasuk orang yang tidak punya urusan dengan kita tapi begitu peduli mulutnya terhadap kita.

 

Mulut orang lain sama sekali tidak bisa kita bungkam. Cukup jadikan pelajaran dan sarana untuk terus berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun. Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Sebab kita ada hingga hari ini, bukan untuk mendengarkan omongan lain. Tapi untuk menjalankan apapun sesuai kata hati. Fokus saja pada diri kita sendiri, tidak ada ruang bagi mulut orang lain. Salam literasi!

Literasi Karma, Jangan Jahat-jahat Jadi Orang

Banyak orang takut pada karma. Tidak sedikit pula yang menganggap karma adalah sesuatu yang buruk. Hukum buruk atas perilaku manusia. Tidak sepenuhnya benar. Karma itu semua hal yang keluar dari diri kita, akan kembali kepada kita. Sederhananya, karma berarti suatu konsekuensi yang diterima karena kelakuan atau perbuatan si manusia itu sendiri.

 

Karma sering disangkut-pautkan dengan sesuatu hal buruk. Ada juga yang percaya, karma merupakan balasan bagi perbuatan seseorang di masa lalu. Namun, tidak semua karma itu berbuah pahit. Apabila seseorang menanam benih kebaikan tentu akan mendapat buah yang manis di masa depan. Jadi, karma bukanlah pembalasan dari alam semesta, melainkan pantulan dari tindakan kita sendiri.

 

Hukum karma, menegaskan tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Semuanya sudah sesuai dengan pikiran dan perbuatan si manusia. Siapapun yang menyebut kebetulan, itulah kondisi manusia yang tidak mampu memahami kesengajaan Allah SWT. Karma itulah salah satu hal dalam hidup yang ditakdirkan oleh kehidupan untuk manusia sesuai dengan amal perbuatannya.

 

Jika kita memberikan hal yang baik kepada dunia, maka seiring berjalannya waktu, karma akan menjadi baik dan pasti kita akan menerima yang baik. Sungguh, apa pun yang kita berikan untuk hidup, pasti akan kembali pada kita. Maka jangan membenci siapapun. Karena kebencian yang keluar dari diri kita, suatu saat akan kembali kepaada kita. Bila tidak bisa mencintai orang lain, maka cukup diam tanpa berprasangka buruk.

 

Jagalah hati dan batin di mana pun. Karena dosa hati jauh lebih berbahaya daripada dosa zahir. Kerusakan hati adalah pangkal utama kerusakan zahir. Sebab dari rusaknya lahir itu dari rusaknya batin. Karenanya, dosa hati lebih besar dari dosa zahir.

 


Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa “Dosa-dosa besar, seperti riya’ (pamer keta’atan), ujub (bangga/takjub terhadap amal), kibr (sombong), fakhr (membanggakan amal), khuyala` (angkuh), putus asa, tidak mengharap rahmat Allah, riang gembira atas penderitaan orang lain, membongkar aib orang lain, senang atas musibah yang menimpa orang lain, berharap orang lain merana, benci yang berketerusan, senang dengan tersebarnya fahisyah (maksiat), menebar fitnah, dan iri – dengki yang semuanya berasal dari hati, dosa-dosa itu statusnya lebih haram dari zina, meminum minuman keras, dan dosa-dosa besar yang zahir selain keduanya”(Madarijus-Salikin, Ibnul Qoyyim rahimahullah).

 

Jadi, jangan takut dengan karma. Karma tidak selalu buruk. Kita tidak perlu khawatir tentang apa yang akan kita terima tapi khawatirlah dengan apa yang kita berikan dan perbuat. Maka jangan buang waktu untuk benci atau balas dendam. Toh, orang-orang yang menyakiti orang lain pada akhirnya akan menghadapi karma mereka sendiri atas perbuatannya. Teruslah berbuat baik dan tebarkan manfaat kepada sesama di mana pun, hingga karma kebaikan pun akan mengikuti kita.

 

Makanya jangan jahat-jahat jadi orang, karena apapun yang kita perbuat akan Kembali kepada kita. Salam literasi!

 


Literasi Pensiun, Blak-blakan Susahnya Hidup di Hari Tua?

Mungkin, ada kesalahan cara pandang tentang masa pensiun di Indonesia. Karena dianggap pensiun masih lama, maka sebagian besar pekerja merasa tidak perlu mempersiapkan masa pensiunnya sejak dini. Pengamatan subjektif, rata-rata pekerja di Indonesia baru sadar dan memulai untuk menyiapkannya masa pensiun biasanya 5 tahun sebelum pensiun. Alhasil, uang pensiunnya tidak optimal karena durasi menabung untuk hari tua tergolong sebentar. Kok bisa? Karena masa pensiun dianggap “gimana nanti” bukan “nanti gimana”.

 

Survei membuktikan, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia sangat bergantun dari transferan anak-anaknya setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan 7 dari 10 pensiunan pada akhirnya mengalami masalah keuangan di hari tua, tidak mampu mempertahankan standar hidupnya seperti saat bekerja. Maka wajar, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Sebabnya, karena tidak ada dana yang cukup untuk masa pensiun atau saat tidak bekerja lagi.

 

Ini kisah nyata, seorang kawan yang sudah pensiun bercerita. Dia menyesal karena tidak mempersiapkan masa pensiunnya sejak awal bekerja. Alias tidak mau menabung untuk hari tua di saat mulai bekerja. Dan kini setelah 3 tahun pensiun baru terasa beratnya tidak punya uang di hari tua. Uang pesangon 22 tahun bekerja habis untuk memenuhi biaya hidup setelah pensiun dalam kurun 2 tahun saja. Selebihnya, dia harus jadi “driver ojol” untuk mencari tambahan uang untuk biaya hidup. Dia beruntung, karena sudah tidak punya anak yang harus ditanggung. Kondisi fisik pun masih kuat, tidak ada masalah kesehatan. Alhamdulillah, bagaimana bila sakit0sakitan di hari tua?

 

Blak-blakan soal pensiun. Ternyata benar, merencanakan masa pensiun tidak bisa asal-asalan. Harus punya komitmen untuk memulai menabung untuk hari tua sejak bekerja. Harus ada gaji yang berani disisihkan untuk masa pensiun, berapa pun nilainya. Karena jika tidak, masa pensiun yang kelam akan jadi cerita di kemudian hari. Terlepas dari perdebatan soal instrumen investasi untuk masa pensiun, intinya menabung untuk hari tua harus dimulai sejak dini, sejak saat bekerja. Agar manfaatnya bisa diambil atau digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup di hari tua. Setuju nggak?

 

Masa pensiun nggak bisa dianggap remeh. Hari tua nggak bisa asal-asalan, tanpa persiapan. Agar setelaha pensiun, tidak bergantung kepada anak-anaknya. Atau minimal tetap mampu mempertahankan standar hidup seperti saat bekerja. Syukur-syukur bisa memenuhi gaya hidup seperti saat bekerja dulu. Masa pensiun yang panjang, bisa mencapai 18 tahun masa kehidupan ditambah inflasi setiap tahun harus disadari membuat masa pensiun membutuhkan biaya yang tidak kecil. Karenanya, masa pensiun harus disiapkan sejak dini.

 


Salah satu cara yang bisa ditempuh pekerja untuk mempersiapkan masa pensiun adalah menjadi peserta dana pensiun, khususnya DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Menjadi peserta dana pensiun, berarti menabung secara rutin (biasanya bulana) untuk hari tua. Sebut saja untuk “uang pensiun” kita sendiri. Melalui dana pensiun, setidaknya kita sudah mempersiapkan masa pensiun lebih baik. Ada tabungan yang khusus digunakan untuk hari tua, saat usia pensiun tiba. Karena dana pensiun adalah “kendaraan” yang paling pas untuk pekerja dalam mempersiapkan masa pensiun yang sejahtera.

 

Selain untuk meredam perilaku konsumtif dan gaya hidup berlebihan, dana pensiun setidaknya memberikan 4 (empat) manfaat kepada pekerja. Yaitu  1) ada dana yang pasti untuk masa pensiun, 2) ada Tabungan khusus yang dipersiapkan untuk hari tua, 3) ada  hasil investasi yang optimal selama menjadi peserta karena sifatnya jangka panjang, dan 4) ada insentif pajak saat manfaat pensiun dibayarkan, yang tidak dimiliki produk keuangan lainnya.

 

Secara blak-blakan, bolehlah disebut akan sulit menjalani masa pensiun tanpa dukungan dana pensiun. Bisa jadi, masa pensiun jadi merana di hari tua akibat tidak tersedianya dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di saat tidakbekerja lagi dan usia sudah tua. Sudah terlalu banyak cerita, pekerja yang berjaya di saat masih bekerja lalu merana di masa pensiun. Mumpung baru lebaran, mulailah berani mengambil keputusan untuk menyiapkan dana pensiun sejak dini. Karena siapapun, cepat atau lambat, pasti akan pensiun. Masalahnya, seberapa besar modal yang kita punya saat memasuki usia pensiun nanti? Ketahuilah, pensiun itu bukan soal waktu tapi soal keadaan. Mau seperti apa di masa pensiun? Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DanaPensiun