Tampilkan postingan dengan label edukator DPLK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukator DPLK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2026

Kisah Pekerja: Bila Cinta Keluarga Ya Siapkan Dana Pensiun untuk Hari Tua

Raka adalah seorang pekerja kantoran yang setiap hari berangkat pagi dan pulang saat langit mulai gelap. Cukup profesional dalam bekerja. Tapi di sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri melihat foto istri dan anaknya di layar ponsel. Baginya, keluarga bukan sekadar alasan untuk bekerja keras, tetapi juga alasan untuk memikirkan masa depan yang lebih panjang. Masa ketika ia tidak lagi bekerja alias pensiun.

 

Suatu malam, setelah pulang kerja, Raka melihat ayahnya yang sudah pensiun duduk termenung di ruang tamu. Ia mendengar percakapan pelan antara ayah dan ibunya tentang biaya hidup yang semakin berat. Hati Raka terenyuh. Ia menyadari bahwa tanpa persiapan yang matang, masa tua bisa menjadi beban. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang dicintai di dalam rumah.

 

Sejak saat itu, Raka mulai mengubah cara pandangnya. Ia tidak lagi berpikir bahwa pensiun adalah sesuatu yang masih jauh. Baginya, cinta kepada keluarga bukan hanya tentang memberi hari ini, tetapi juga memastikan bahwa di masa depan ia tidak akan merepotkan  anak atau keluarganya. Ia mulai mencari tahu tentang dana pensiun, apa manfaatnya bagi pekerja? Raka mulai menyusun rencana keuangan, dan menyisihkan sebagian gajinya secara konsisten untuk dana pensiun.

 

Awalnya tidak mudah. Raka harus menahan diri dari gaya hidup konsumtif yang dulu sering ia lakukan. Ia mengurangi pengeluaran yang tidak penting, menunda keinginan sesaat, dan lebih bijak dalam mengelola uang. Setiap rupiah yang ia sisihkan terasa seperti bentuk cinta yang ia tabung untuk hari tua nanti. Sebagai wujud cinta pada keluarganya.

 

Waktu berjalan, dan kebiasaan itu mulai membuahkan hasil. Raka merasa lebih tenang menjalani hidup. Ia tidak lagi dihantui kecemasan tentang hari tua, tentang masa pensiun. Sebaliknya, ia justru merasa lebih dekat dengan keluarganya, karena ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil hari ini adalah untuk melindungi keluarganya di kemudian hari. Apalagi di masa pensiun saat tidak punya gaji lagi.

 


Suatu hari, anaknya yang masih kecil bertanya, “Ayah, kenapa Ayah suka menabung?” Raka tersenyum dan menjawab, “Supaya nanti kalau Ayah sudah tua, Ayah tetap bisa berdiri sendiri dan tidak merepotkan kamu.” Anak itu mungkin belum sepenuhnya mengerti, tetapi pelukan hangatnya menjadi jawaban bahwa cinta itu terasa. Sebagai pekerja, Raka sudah siapkan dana pensiun. Agar tidak merepotkan anaknya.

 

Raka sadar dan paham betul. Sebuah studi yang menyebut 40% keluarga mengalami kesulitan finansial serius dalam 6 bulan pertama saat pencari nafkah utamanya meninggal dunia. Bahkam 30% keluarga terpaksa menjual aset (rumah, kendaraan) setelah itu.” Apakah itu yang dinamakan cinta keluarga?” Raka membatin.

 

Di dalam hati, Raka percaya bahwa cinta sejati bukan hanya tentang hadir hari ini, tetapi juga tentang mempersiapkan hari esok. Ia ingin menua dengan tenang, tetap mandiri secara finansial, dan tetap menjadi sosok yang membahagiakan keluarganya. Bukan malah sebaliknya. Karena bagi Raka, mencintai keluarga berarti memastikan terjaganya standar hidup di hari tua bersama keluarga, bukan malah menjadi beban keluarganya.

 

Katanya cinta keluarga, kok merepotkan anak di hari tua? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun

 


Minggu, 27 April 2025

Berapa Tingkat Penghasilan Pensiun Pensiunan di Indonesia?

Kajian dan informasi tentang tingkat penghasilan pensiun (TPP) atau replacement rate pensiunan di Indonesia tergolong langka. Hampir tidak ada acuan yang baku tentang seberapa besar penghasilan di masa pensiun yang pas untuk orang Indonesia? Tidak ada pula “angka nyata” rata-rata secara agregat yang diterima oleh pensiunan di Indonesia saat ini. Belum lagi bila dikaitkan dengan alasan subjektif yang menyatakan kebutuhan biaya dan rumah tangga setiap orang berbeda-beda, standar hidup berbeda, dan tingkat konsumsi bulanan pun berbeda. Oleh karena itu, patokan tingkat penghasilan pensiun hanya dapat diprediksi berdasarkan data-data yang ada.

 

Bila kita sebagai pekerja formal, dengan asumsi hanya memiliki program pensiun wajib (seperti: Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan) dan memiliki gaji terakhir sebelum pensiun Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) per bulan, maka diprediksi tingkat penghasilan pensiun (TPP) yang diperoleh hanya 10% dari gaji terakhir atau sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) per bulan tanpa diketahui akan berlangsung berapa lama terjadi setelah pensiun. Angka TPP ini hanya membandingkan gaji terakhir sebelum pensiun dengan tingkat penghasilan yang diperoleh dari program pensiun wajib sebagai manfaat pensiun setelah si pekerja pensiun. Hal ini berarti, seorang pekerja dengan gaji terakhir Rp. 10.000.000,- (sebelum pensiun) hanya akan ter-cover biaya hidupnya di masa pensiun sebesar Rp. 1.000.000,- (setelah pensiun) atau terjadi penurunan penghasilan sebesar 90% dari gaji terakhir.

 

Sementara itu, setelah memawancarai 20 pensiunan di Jakarta, untuk mengetahui berapa besaran kebutuhan biaya hidup di masa pensiun (dengan perkiraan gaji terakhir Rp. 10.000.000,- per bulan), maka diperoleh infomrasi pengeluaran bulana pensiunnan yang terdiri dari: makan, belanja bulanan, biaya air + listrik, internet, gaya hidup, asuransi kesehatanm dqan lain-lain diperoleh jumlah kebutuhan bulanan pensiunann sebesar Rp. 5.600.000,- (lima juta enam ratus ribu rupiah) per bulan). Maka bila dikalkulasi secara aktual, tingkat penghasilan pensiun (TPP) pensiunan di Indonesia terjadi kesenjangan atau kekurangan sebesar Rp. 4.600.000,- (empat juta enam ratus ribu rupiah) atau kurang 46% dari gaji terakhir (lihat). Dengan demikian, dapat dikatakan tingkat penghasilan pensiun (TPP) pekerja formal di Indonesia saat ini mengalami kekurangan 46% dari gaji terakhir. Kondisi ini tentu menjadi sebab pensiunan gagal mempertahankan standar hidup di hari tua, di samping mengalami masalah keuangan di masa pensiun.

 


Informasi tentang tingkat penghasilan pensiun (TPP) harus dipahami sebagai data untuk memproyeksikan keadaan pensiunan di Indonesia dari segi ketersediaan finansialnya. Melalui TPP, harapannya dapat membangun kesadaran akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun atau hari tua, di samping perlunya pengelola dana pensiun seperti DPLK menyusun langkah strategis untuk meningkatkan TPP pekerja atau orang Indonesia. Dalihnya sederhana, bila ingin kepesertaan dana pensiun meningkat dan aset kelolaan bertumbuh signifikan maka harus dilakukan perubahan pola edukasi, pemasaran, dan ketersediaan akses digital dana pensiun kepada masyarakat. Karena hampir tidak mungkin, peserta dan aset kelolaan dana pensiun di Indonesia tumbuh signifikan tanpa adanya perubahan pola edukasi, pemasaran, dan ketersediaan akses digital dana pensiun.

 

Nah mari kita bertanya, berapa kebutuhan biaya hidup kita di saat pensiun nanti? Salam literasi #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 

Selasa, 14 Februari 2023

Literasi Dana Pensiun, Kok Pekerja Lupa Masa Pensiun?

Banyak pekerja lupa mempersiapkan masa pensiun. Maka wajar, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama Sekali tidak siap pensiun alias berhenti kerja. Kenapa? Karena tidak tersedianya dana untuk membiayai kehidupannya saat tidak bekerja lagi. Tidak punya uang yang cukup untuk membiayai kebutuhan di hari tua. Maka mau tidak mau, masa pensiun memang harus dipersiapkan sejak dini.

 

Sebenarnya cukup mudah untuk bisa siap pensiun. Asal mau menabung untuk hari tua, menyisihkan sebagian gaji untuk masa pensiun. Menabung 3% atau 5% dari gaji untuk dicairkan saat pensiun tiba. Saat mencapai usia pensiun. Tapi sayangnya, banyak pekerja masih terbuai gaya hidup. Sehingga “menganggap” tidak bisa menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Tapi bila mau jujur, sebenarnya ada 5 sebab utama para pekerja jadi lupa mempersipakan masa pensiun. Gara-gara 5 hal ini, pekerja tidak punya kesiapan untuk memasuki masa pensiun, yaitu:

 

1.      Terlalu cinta perilaku konsumtif di saat bekerja. Hanya bermentalitas konsumen; gemar membeli barang atas dasar keinginan bukan kebutuhan.

2.      Terbuai gaya hidup modern yang tidak perlu. Ingin hidup bergaya sehingga menyeret ke biaya hidup tinggi dan di luar kemampuannya. Lebih besar pasak daripada tiang.

3.      Terlalu gemar utang sehingga jadi beban hidup. Selama bekerja hanya sibuk membayar utang, hingga lupa menabung untuk masa pensiun.

4.      Terlambat menabung untuk hari tua atau masa pensiun. Alasannya, gaji tidak cukup untuk biaya hidup.

5.      Terlalu takut memiliki program pensiun. Gaji hanya dihabiskan untuk kebutuhan hidup dan perilaku konsumtif. Tidak berani untuk menyiapkan masa pensiun saat masih aktif bekerja.

 

Atas dasar 5 sebab di atas, maka tidak ada solusi lain untuk bisa lebih siap pensiun. Selain “bertindak dari sekarang untuk mempersiapkan masa pensiun yang sejahtera”. Berani menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Berani menabung untuk masa pensiun sejak dini tanpa ditundqa lagi.

 


Bagaimana caranya? Mungkin, ikhtiar yang paling sederhana adalah mulai ikut dalam program pensiun DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena DPLK adalah program yang dirancang khusus untuk mempersiapkan masa pensiun pekerja. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di hari tua di masa pensiun, di samping memperoleh keberlanjutan penghasilan di haru tua. Tiap pekerja yang menjadi peserta DPLK maka berhak atas manfaat pensiun yang dibayarkan saat mencapai usia pensiun.

 

Mulailah persipakan masa pensiun sejak dini. Kalau bukan kita, mau siapa lagi? Agar tetap nyaman di hari tua, tetap sejahtera di masa pensiun. Kerja yes, pensiun oke. #EdukasiDanaPensiun #YukSiapkanPensiun #MasaPensiun #DanaPensiun