Tampilkan postingan dengan label Akses Bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akses Bacaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2026

Kiprah Motor Baca Keliling, Langkah Kecil Literasi dari Pelosok

Ada langkah-langkah kecil yang tak pernah ramai oleh tepuk tangan atau pujian. Langkah yang sederhana, namun terus bergerak dengan keyakinan. Setiap pagi, sebuah motor yang dipenuhi buku melaju menyusuri jalan berdebu, menembus gang sempit hingga kampung-kampung yang jauh dari perpustakaan. Di balik kemudinya, seorang pegiat literasi mengantarkan lebih dari sekadar buku. Ia membawa harapan, rasa ingin tahu, dan kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal dunia yang lebih luas. Semuanya dari buku bacaan, semuanya karena adanya akses bacaan.

 

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Jalan berbatu, cuaca yang tak menentu, serta jarak yang panjang menjadi bagian dari rutinitasnya. Debu jalanan menempel di pakaian, panas matahari menyengat kulit, namun semangatnya tak pernah surut. Baginya, setiap senyum anak yang menyambut kedatangan motor baca keliling adalah energi yang menghapus rasa lelah. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik.

 

Di setiap kampung yang disinggahi, buku-buku menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi dengan kenyataan. Anak-anak berkumpul dengan mata berbinar, membuka lembar demi lembar cerita yang membawa mereka menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat. Orang tua pun perlahan menyadari bahwa literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca, melainkan tentang membuka cara berpikir, menumbuhkan keberanian bermimpi, dan memperluas harapan.

 


Dari perjalanan itu, tersimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengantarkan buku. Hidup mengajarkan bahwa makna tidak selalu lahir dari langkah yang besar atau pencapaian yang gemilang. Terkadang, perubahan justru dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan konsisten. Setiap kilometer yang ditempuh adalah bukti bahwa kepedulian mampu menjangkau tempat-tempat yang mungkin terlupakan.

 

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai tujuan, melainkan seberapa tulus kita menjalani setiap langkah yang membawa manfaat bagi sesama. Seperti motor baca keliling yang terus melaju tanpa banyak sorotan, kebaikan sering bekerja dalam diam. Dan justru dari perjalanan yang sederhana itulah lahir ketenangan, harapan, serta masa depan yang perlahan berubah—satu buku, satu kampung, dan satu senyum pada satu waktu.

 

Begitulah kisah seoarang driver motor baca keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung salak Bogor. Bukan mempersoalkan minat baca tapi fokus sediakan akses baca anak-anak Indonesia. Salam literasi! #TBMLenteraPustaka #MotorBacaKeliling #TamanBacaan

 




Kamis, 13 Maret 2025

Driver Motor Baca Keliling di Kaki Gunung Salak

Saat menjalani aktivitas sosial sebagai driver Motor Baca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, sangat jelas mengajak anak-anak untukmembaca itu tidak mudah, apalagi di era serba digital seperti sekarang. Terbukti, bahwa kegemaran membaca bukan soal minat baca. Tapi soal ketersediaan akses bacaan di kampung-kampung. Wajar bila motor baca keliling tiba di suatu kampung, akhirnya tidak banyak anak yang mau membaca. Sebabnya, karena selama ini tidak tersedia akses bacaan. Tidak ada tempat membaca. Anak-anak yang tidak biasa membaca. Maka sulit membangun kegemaran membaca.

 

Dari motor baca keliling, saya belajar. Harapan selalu berbeda dengan kenyataan. Maka harus ada kesediaan untuk belajar menerima segala hal yang berjalan apabil tidak sesuai ekspektasi kita. Kita ingin anak-anak membaca buku tapi ternyata mereka tidak terbiasa membaca buku. Kita berharap sesuatu tapi nyatanya berbeda. Jadi, memang diperlukan ruang keikhlasan dalam hal apapaun, dalam kehidupan.

 

Faktanya, tidak semua hal yang kita jalani dalam hidup senantiasa seperti apa yang kita inginkan. Tidak semua harapan bisa jadi kenyataan, persis seperti tidak semua doa dikabulkan. Semuanya memang sudah pantas dan pas untuk kita. Selebihnya tetap ikhtiar baik dan selalu berdoa. Jangan mengeluk apalagi jadi frustrasi. Hadapi dan Jalani saja.

 

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Hendaklah manusia tidak condong pada dunia dan mengeluh ketika kena musibah. Bahkan seharusnya dia sabar dan mengharapkan pahala, apakah itu ujian hidup susah, penyakit, dan lain-lain. Sebab dunia memang tempatnya cobaan. Jangan dia mengeluh karena musibah dan cobaan. Dan hal yang dapat memudahkannya ialah yang dibimbingkan oleh Nabi Muhammad dalam hadits ini." (Tashil al-Ilmam, 6/158)

 


Hidup ya memang ada lika-likunya. Selalu ada pasang surut, belokan, dan tikungan. Bukti bahwa hidup dapat menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang kuat, bijaksana, dan unggul. Agar mampu memaknai setiap langkah hidup, walaupun berat, terseok-seok, dan menyakitkan. Namun tetap yakin bahwa di balik itu semua ada rencana indah Tuhan ke depannya. Selalu melewati apapun dengan kepala tegak dan hati penuh semangat. Menjadikan kegagalan dan cobaan sebagai pijakan untuk melangkah lebih baik untuk menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.

 

Seperti yang dijalani driver motor baca keliling. Saat menyambangi kampung, tentu ada anak-anak yang mau baca dan tidak. Menikmati setiap langkah perjalanan dalam menyediakan akses bacaan, di samping meningkatkan kegemaran membaca. Tetap komitmen dan konsisten berkiprah untuk Gerakan literasi, sambil bersikap realistis di segala keadaan. Terimalah diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan jangan pernah menyerah, karena keberhasilan selalu menunggu di ujung perjuangan. Salam literasi!




Sabtu, 20 Januari 2024

Layanan Motor Baca Keliling Simobi Siap Meluncur di Februari 2024

Sebagai wujud langkah konkret mengatasi minimnya akses bacaan, Bank Sinarmas dan TBM Lentera Pustaka siap meluncurkan layanan MOtor BAca KEliling (MOBAKE) “Simobi” pada Februari 2024 mendatang. Hal ini dilakukan sekaligus untuk meningkatkan minat baca anak-anak usia sekolah di Kabupaten Bogor. Nantinya, motor baca keliling “Simobi” akan menjelajah ke Desa Sukajadi, Sukujaya, dan Sukaluyu seminggu dua kali.

 

Sebagai salah satu mitra CSR korporasi TBM Lentera Pustaka tahun 2024 ini, Bank Sinarmas menyediakan 1 unit motor baca dan aksesori serba merah untuk mendekatkan 200 buku bacaan ke anak-anak di kampung-kampung yang disasar. Melalui motor baca “Simobi”, Bank Sinarmas meyakini minat baca anak akan meningkat bila tersedia akses bacaan yang dekat.

 

“Layaran motor baca keliling Simobi ini menjadi cerminan CSR pilar pendidikan Bank Sinarmas kepada Masyarakat, di samping mendukung misi TBM Lentera Pustaka dalam menekan angka putus sekolah. Harapanya motor baca Simobi ini diminati anak-anak dan dapat meningkatkan kegemaran membaca Masyarakat” ujar Retno Tri Wulandari, Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas dalam keterangannya (21/1/2024).

 

Sebagai bank swasta nasional, Bank Sinarmas menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai sarana edukasi literasi keuangan kepada anak-anak dan kaum ibu. Agar lebih anak-anak lebih bijak menelola keuangan dan memahami arti penting uang. Selain menyediakan motor baca keliling Simobi, Bank Sinarmas pun merevitalisasi Rooftop Baca TBM Lentera Pustaka, memberikan tabungan SIMPEL (SIMpanan PELajar) ke anak-anak taman bacaan, serta bantuan perangkat komputer untuk literasi digital.

 

Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka menyatakan layanan motor baca keliling Simobi akan menyasar sekitar 100 anak pembaca aktif di 3 kampung. Agar anan-anak dapat menyeimbangkan aktivitas bermain gawai dengan membaca buku saat motor baca datang ke kampungnya. Syarif, begitu panggilannya, akan terjun langsung menjadi “driver” motor baca keliling dengan membawa 200 buku di boks dan 2 buah tikar, serta berseragam serba merah. Setiap Minggu sore menyusuri jalan-jalan berliku hanya untuk menyediakan akses bacaan.

 

Untuk diketahui, TBM Lentera Pustaka saat ini dikenal sebagai taman bacaan yang konprehensif di Indonesia. Setelah beroperasi 6 tahun, TBM Lentera Pustaka menjalankan program literasi seperti TABA (Taman Bacaan) dengan 100 anak usia sekolah, GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 40 anak usia prasekolah, YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, Koperasi SImpan Pinjam dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, DonBuk (Donasi Buku), RABU (RAjin menaBUng), dan MOBAKE (MOtor BAca KEliling). Tidak kurang 200 orang setiap minggunya menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka yang didukung oleh 12 wali baca dan relawan.

 

Kehadiran layanan motor baca keliling Simobi, hanyalah perbuatan kecil untuk meningkatkan kegemaran membaca secara konkret dari Bank Sinarmas dan TBM Lentera Pustaka. Untuk mengatasi minimnya akses bacaan di anak-anak dan masyarakat. Salam literasi #MotorBacaKeliling #MobakeSimobi #BankSinarmas #TBMLenteraPustaka



Jumat, 28 April 2023

Kisah Praktik Baik di Taman Bacaan, Apa yang Harus Dilakukan?

Mendirikan taman bacaan atau rumah baca, di mana pun, memang tidak mudah. Harus cukup mental dan punya sikap yang jelas. Ibarat kata, mendirikan taman bacaan bagi saya, persis seperti membuka warung. Harus jelas apa yang mau dijual, siapa sasaran pembelinya? Dan yang penting, apa tujuannya? Bila gagal menjawabnya, maka taman bacaan itu akan “punah” di tengah jalan.

 

Taman bacaan pun tidak bisa didirikan hanya berdasar idealisme pendirinya. Ingin membangun minat baca. Atau hanya ingin ikut-ikutan bergerak di dunia literasi atau taman bacaan. Pasti akan sulit dalam perjalanannya. Karena faktanya, tidak sedikit taman bacaan yang berada di “lingkungan yang salah”, tidak ada anak-anak yang membaca. Hingga akhirnya, taman bacaan hanya sekadar nama. Tanpa jadwal yang jelas, aktivitas pun jadi seadanya. Terserah si pendirinya, mau dibuka atau tidak. Lalu, membangun diskusi dan seminar tentang literasi dan taman bacaan di luar sana. Jadilah, taman bacaan yang “jauh panggang dari apa”.  Taman bacaannya ke mana, tujuannya ke mana pula?

 

Taman bacaan itu sifatnya sosial. Maka ada 2 (dua) hal penting yang harus ada di taman bacaan. Yaitu 1) kreativitas dan 2) kolaborasi dengan berbagai pihak. Tanpa kreativitas, taman bacaan jadi kosong dan monoton. Tanpa kolaborasi, taman bacaan pun akan “kelelahan” di tengah jalan. Karena itu, taman bacaan harus melibatkan banyak pihak. Mulai dari anak-anak dan orang tua, aparatur masyarakat di level kampung, relawan, komunitas sosial, dan korporasi untuk ber-CSR. Siapapun mereka, apapun bentuk keterlibatannya, dan sekecil apapun kontribusinya harus terlibat. Bila tidak, maka taman bacaan pun akan “hidup segan mati tak mau”.

 

Itulah simpulan sementara saya berdasarkan pengalaman mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Taman bacaan yang saya dirikan dengan cara saya sendiri. Tempatnay di rumah saya dan program-nya pun saya rancang sendiri. Alhasil, pengalamam dan praktik baik mengelola taman bacaan itu sudah saya tuangkan ke dalam buku-44 saya berjudul “Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment” terbitan Footnote Press tahun 2022, ISBN 978-623-99780-5-1 (271 halaman) (Peluncuran Buku Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan - Peristiwa - www.indonesiana.id)

 

TBM Edutainment, adalah sebuah model pengembangan dan tata kelola taman bacaan yang kini sedang saya tulis sebagai disertasi untuk meraih gelar "Doktor Manajemen Pendidikan" di S3 Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Pakuan (Unpak) Bogor. Dari sisi kreativitas, TBM Lentera Pustaka mengembangkan salam literasi, doa literasi, senam literasi, laboratorium baca tiap Minggu, event bulanan dengan mendatangkan "tamu dari luar", dan jajanan kampung gratis. Agar taman bacaan tidak membosankan dan bukan hanya tempat membaca buku. Dari sisi kolaborasi, TBM Lentera Pustaka juga melibatkan korporasi dan komunitas untuk berkiprah nyata dalam gerakan literasi. Seperti di tahun 2023 ini melibatkan 1) Bank Sinarmas, 2) Asosiasi DPLK, dan 3) AAI Perancis sebagai sponsor CSR yang ikut membina TBM Lentera Pustaka, di samping melibatkan komunitas seperti BEM Faperta IPB, komunitas motor, alumni UNJ, dan mahasiswa Unindra yang ikit berkiprah secara rutin di taman bacaan. Kata kuncinya di TBM Edutainment, berbasis edukasi dan hiburan selalu ada di TBM Lentera Pustaka.

 

Saat didirikan 6 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka hanya punya 14 anak pembaca aktif. Tapi kini sudah ada 130-an anak pembaca aktif.  Awalnya hanya menjalankan 1 program literasi yaitu taman bacaan namun kini sudah mengelola 15 program literasi,  yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 130 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) MOBAKE (MOtor BAca KEliling), 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Koleksi buku tadinya hanya 600 buku, kini mencapai lebih dari 10.000 buku bacaan. Dengan dukungan 5 wali baca dan 12 relawan, kini TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu dan tidak kurang dari 200 orang menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka setiap minggunya.

 


Sejauh ini, berbagai catatan prestasi pun sudah ditorehkan TBM Lentera Pustaka dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak, seperti:

1.    Terpilih Ramadhan Heroes dari Tonight Show NET TV (Mei 2021)

2.    Terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia sebagai penyelenggara program “Kampung Literasi” dari Direktorat PMPK Kemdikbudristek RI dan Forum TBM (Juli 2021).

3.    Terpilih "31 Wonderful People tahun 2021" kategori pegiat literasi dan pendiri taman bacaan dari Guardian Indonesia (September 2021)

4.    Sosok Inspiratif Spiritual Journey PT PLN (Oktober 2021)

5.    Terpilih sebagai “Jagoan 2021” dari RTV (Desember 2021).

6.    Terpilih sebagai “Kampung Literasi” dalam meningkatkan literasi masyarakat Kabupaten Bogor dari Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAP) Kab. Bogor (Oktober 2022).

Pada tahun 2023 ini, TBM Lentera Pustaka pun mendapat hibah “motor pustaka” dari Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) yang didukung Ditjen Kebudayaan. Dana Indonesiana, dan LPDP menyusul Revitalisasi kebun baca dari Bank Sinarmas dan CSR event dari KrispyKreme Indonesia.  

 

Secara publikasi, TBM Lentera Pustaka pun sering dijadikan narasumber liputan literasi dan taman bacaan dari berbagai media seperti: CNN TV, NET TV, Berita Satu TV, RTV, Jawa Pos TV, DAAI TV, TV Parlemen, Republika, Kompas,com., Merdeka,com., BogorKita.com., di samping pendiri TBM Lentera Pustaka dikenal aktif menulis untuk gerakan literasi dan taman bacaan.

 

Patut diketahui, spirit TBM Lentera Pustaka bukanlah “membangun minat baca”. Tapi hanya “sediakan akses bacaan” kepada anak-anak susia sekolah di kampung yang terancam putus sekolah akibat kemiskinan. Lagi pula, minat baca sudah pasti bakal terjadi bila akses bacaannya tersedia, Karena itu, TBM Lentera Pustaka pun menjalankan program “motor pustaka” atau “motor baca keliling” yang rutin keliling desa atau kampung seminggu dua kali. Hanya untuk menyediakan akses bacaan. Saat di taman bacaan, anak-anak pu tidak hanya membaca. Tapi bermain dan berinteraksi serta dimotivasi oleh relawan. Agar taman bacaan jadi tempat yang “asyik dan menyenangkan”. Karena selama ini, kelemahann terbesar dari taman bacaan adalah gagal menjadi tempat yang asyik dan menyenangkan. Terlalu monoton dan membosankan.

 

Taman bacaan di manapun harus ciamik. Mantap dan bagus karena selalu aktif berkegiatan literasi, di samping fokus mengurus taman bacaannya. Bukan sibuk ber-seremoni atau seminar tentang literasi dan taman bacaan. Bagi TBM Lentera Pustaka, tidak ada teori yang paling benar dalam ber-literasi atau taman bacaan. Taman bacaan, sejatinya akan menemukan jalannya sendiri berdasr praktik baik yang dilakukannya sendiri. Karena itu, siapapu yang aktif di taman bacaan harus “mengusir” jauh-jauh soal kendala atau hambatan yang ada. Di samping memperbesar komitmen dan konsistensi dalam mengurus taman bacaan secara sepenuh hati, bukan setengah hati.

 

Lalu, apakah saya sudah puas dengan kondisi TBM Lentera Pustaka sekarang? Maaf, tidak ada kata puas di taman bacaan atau saat berliterasi. Karena taman bacaan adalah “ladang amal” sekaligus “legacy – warisan” untuk umat. Maka taman bacaan harus tetap dijaga dan ditingkatkan eksistensinya. Agar mampu memberikan manfaat yang optimal kepada pengguna layanannya. Sekalipun Desa Sukaluyu bukan tanah kelahiran saya, tapi saya sudah menjadikan taman bacaan sebagai “jalan hidup pengabdian”. Insya Allah hingga akhir hayat nanti. Agar jangan ada anak-anak yang putu sekolah, jangan ada lagi kaum buta huruf di bumi Indonesia.

 

Maka, tetaplah berkiprah di taman bacaan. Jangan mudah menyerah apalagi “baper” di taman bacaan. Tapi juga jangan paling “sok tahu” dalam berliterasi. Cukup jalani dengan sepenuh hati. Sekali lagi, tidak ada teori paling benar di taman bacaan. Perbaiki saja niat, baguskan ikhtira, dan perbanyak doa. Insya Allah, taman bacaan di mana pun akan indah pada waktunya.

 

Karena "khairunnaas anfauhum linnaass", sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Agar taman bacaan dan literasi lebih ciamik ke depannya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka






Jumat, 18 Februari 2022

Perluas Akses Bacaan, TBM Lentera Pustaka Luncurkan MOBAKE (MOtor BAca KEliling) di Kaki Gunung Salak

Apa benar minat baca orang Indonesia rendah?

Menurut saya tidak. Bukan mint abaca yang rendah. Tapi tidak tersedianya akses untuk membaca di Indonesia. Di banyak daerah, anak-anak sangat sulit mendapat akses buku bacaan yang memadai. Maka wajar, karena tidak ada akse maka mintanya pun tidak ada. Itu sangat logis.


Lalu data dari UNESCO menyebut hanya 1 orang dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat membaca buku yang tinggi. Sah-sah saja, sebabnya lagi-lagi tidak tersedia akses bacaan. Tentu, minatnya tidak ada. Jadi harusnya UNESCO bertanya, “apa di setiap daerah tersedia tempat untuk membaca?”. Itu baru oke, karena spiritnya menyediakan tempat membaca. Bukan menuding tidak punya minat baca.

 

Maka atas kegelisahan itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka Bogor siap meluncurkan MOBAKE (MOtor BAca KEliling) pada Minggu, 20 Februari 2022 di Bogor. Sebuah program motor keliling untuk menyediakan akses bacaan ke kampung-kampung di sekitar kaki Gunung Salak yang anak-anaknya selama ini tidak memperoleh akses buku bacaan. Untuk sementara, MOBAKE akan beroperasi seminggu 2 kali dan meyasar kampung-kampung yang angka putus sekolahnya tergolong tinggi.

 

Syarifudin Yunus, penggagas MOBAKE sekaligus Pendiri TBM Lentera Pustaka berkomitmen untuk memperluas pengaruh taman bacaan melalui buku bacaan ke anak-anak. Sebagai penyeimbang gempuran era digital dan aktivitas gawai anak-anak. MOBAKE pun menjadi program ke-13 TBM Lentera Pustaka untuk menambah kiprah taman bacaan yang telah berjalan lima tahun. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi anak-anak dan masyarakat kampung. Sebagai penggagas, pria yang dipanggil Syarif ini akan mengoperasikannya sendiri dan dibantu relawan taman bacaan yang diberi honor per jam operasi.

 


Syarif yang berprofesi sebagai Dosen FBS Unindra dan kandidat Doktor Manajemen Pendidikan dari Pascasarjana Unpak ini, menegaskan dia tidak masalah menjadi driver motor baca keliling asalkan aktivitas literasi dan kegiatan membaca tetap bisa jadi bagian hidup anak-anak di kampung. Baginya, membaca bukan soal minat melainkan akses. Jika dianggap minat baca rendah, lalu apa yang sudah dilakukan? Tetap acuh dan masa bodoh?.

 

“Saya berkomitmen untuk menjalankan motor baca keliling dan aktivitas literasi di TBM Lentera Pustaka. Mungkin kata banyak orang, kegiatan ini hanya hal kecil dan sederhana. Tapi buat saya, justru ber-literasi di taman bacaan adalah kemewahan yang tidak ternilai harganya. Jauh lebih baik dibandingkan urusan dunia yang tidak kelar-kelar dan begitu-begitu saja” ujar Syarifudin Yunus di TBM Lentera Pustaka hari ini (18/02/2022).

 

Melalui motor baca keliling, TBM Lentera Pustaka pun mensosialisasikan motto “Baca Bukan Maen” dan tanpa baca kita merana. Agar anak-anak kampung tertarik untuk membaca di pinggir jalan saat motor baca keliling datang atau di taman bacaan. Salam literasi #MOBAKE #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 

Jumat, 07 Agustus 2020

Kolaborasi, Esensi TBM Lentera Pustaka Kelola Taman Bacaan dan Gerakan Literasi

Tidak sedikit taman bacaan di Indonesia seakan “jalan di tempat”. Konsekuensinya, tata kelola taman bacaan pun dilakukan apa adanya atau setengah hati. Lalu, bagaimana mungkin gerakan literasi sebagai gerakan sadar untuk “memahami dan memampukan” bisa berjalan dengan optimal? Karena literasi memang bukan sekadar baca-tulis. Namun sebuah cara untuk menjadikan seseorang untuk paham dan mampu sehingga berdaya. Saya menyebut literasi sebagai “gerakan untuk bertahan hidup tiap orang pada masanya”.  

 

Apalagi di tengah wabah Covid-19 dan saat sekolah “merumahkan” siswanya untuk belajar;

ketika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak efektif. Inilah momen taman bacaan di manapun untuk membuktikan peran penting dan tanggung jawab sosialnya kepada pemerintah dan masyarakat. Taman bacaan sebagai sarana alternatif pendidikan nonformal yang tetap mampu mewadahi anak-anak usia sekolah untuk tetap belajar dan membaca di taman bacaan. Taman bacaan sebagai “learning centre” masyarakat, di samping menjadi bagian social empowerment dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di luar sekolah.

 

Maka mengelola taman bacaan sama sekali tridak bisa lagi sendirian. Mau tidak mau, tata kelola taman bacaan di era revolusi industri harus berkolaborasi. Bersinergi dengan banyak pihak untuk membangun kepedulian terhadap gerakan literasi bagi masyarakat Indonesia. Beberapa kolaborasi yang bisa dilakukan antara lain: 1) pengadaan buku atau donatur buku, 2) relawan untuk menjadikan program taman bacaan lebih asyik dan menyenangkan, 3) sponsor CSR koprorasi untuk membiayai operasional taman bacaan, 4) bersama warga sekitar untuk mewujudkan program berkelanjutan, dan 5) aparatur pemerintah setempat untuk memperkuat kelembagaan dan peran taman bacaan. Tentu masih banyak lagi kolaborasi yang bisa dikreasi dari dan untuk taman bacaan. Agar taman bacaan tidak “mati suri” keberadaannya.

 

Apalagi taman bacaan adalah “pekerjaan hati” bukan pekerjaan eksistensi atau sensasi. Karena kegaduhan seperti apapun di luar sana, taman bacaan harus tetap berjalan dalam mengemban gerakan literasi. Oleh karena itu, taman bacaan harus dikelola secara profesional, sepenuh hati, dan yang papling penting kolaborasi. Melibatkan banyak pihak secara bersama-sama memajukan taman bacaan sebagai social empowerment.

 

Sebagai lembaga pendidikan nonformal yang berbasis sosial, harus diyakini, taman bacaan hanya bisa tegak bila didukung oleh banyak pihak; aparatur, masyarakat dan orang tua, korporasi, relawan, bahkan sekolah-sekolah yang ada di sekitar taman bacaan. Maka, kepedulian sosial terhadap taman bacaan bukanlah sekadar niat baik. Tapi harus diwujudkan dalam aksi nyata.

 

"Intinya taman bacaan harus dikelola dengan kolaborasi. Kemitraan sangat penting demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Karena ke depan, pendidikan tidak lagi bisa bertumpu pada sekolah semata. Pendidikan dan belajar bisa dilakukan siapa saja. Agar tercipta ekosistem pendidikan yang sesungguhnya, yang melibatkan anak, orang tua, masyarakat, sekolah, pemerintah bahkan individu dan korporasi yang peduli terhadap gerakanliterasi" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor.

 

Komitmen untuk bermitra dan kolaborasi inilah yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Bogor di Kaki Gunung Slaak. Agar taman bacaan dapat dikelola secara profesional dan berkelanjutan dari sisi peran dan manfaat kepada masyarakat. Setelah 3 tahun berdiri, setiap tahunnya TBM Lentera Pustaka selalu melibatkan korporasi untuk ikut peduli dan mengisi kegiatan taman bacaan, khususnya untuk literasi finansial dan literasi teknologi. Di tahun 2020 ini, TBM Lentera Pustaka disponsori oleh 1) Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, 2) Bank Sinarmas, dan 3) Asosiasi DPLK. Bahkan tidak sedikit aktivitas CSR korporasi/komunitas yang dilakukan di TBM Lentera Pustaka seperti: LOMA Socisety, Fashion Runners, SMC Group, N-Max Tangsel Community, dan individu lainnya. Tidak kurang 20 kegiatan CSR setiap tahun digelar di TBM Lentera Pustaka.

 

Alhasil, TBM Lentera Pustaka kini telah mengubah anak-anak kampung yang tadinya polos, pemalu dan cenderung sulit berinteraksi dengan orang "dari luar”. Kini berubah menjadi anak-anak yang terbiasa membaca rutin 3 kali seminggu dan mampu “menghabiskan” 5-8 buku per minggu per anak. Bahkan dengan menerapkan “TBM Edutainment”, sebuah model pengembangan taman bacaan masyarakat yang berbasis edukasi dan hiburan. Kini TBM Lentera Pustaka menjadikan kegiatan di taman bacaan harus asyik dan menyenangkan. Beragam aktivitas diterapkan di taman bacaan seperti: 1) salam literasi, 2) doa literasi, 3) senam literasi, 4) membaca secara bersuara, 5) laboratorium baca tiap hari Minggu, 6) event bulanan dengan “tamu dari luar” untuk motivasi, dan 7) tersedia “jajajan kampung” gratis setiap bulan. Dan tersedia fasilitas WiFi gratis tiap Sabtu dan Minggu, pelajaran komputer, dan kebun baca Lentera Pustaka sebagai sarana untuk membaca di ruang terbuka dan bercocok tanam.

 

Semua pihak sepakat, aktivitas taman bacaan dan gerakan literasi tidak aka pernah usai. Demi tegaknya tradisi baca dan terbentuknya masyarakat yang literat; masyarakat yang paham dan mampu untuk bertahan hidup. Maka taman bacaan harus dikelola secara bersama-sama, harus kolaborasi.

 

Karena taman bacaan adalah sebuah legacy, sebuah warisan untuk umat. Maka tata kelola taman pun harus asyik dan menyenangkan. Salam literasi...  #TBLenteraPustaka #BacaBukanMaen #TamanBacaan


Jumat, 26 Juni 2020

Nazril, Suara Anak Kecil DI Taman Baca

“Pak, gimana ini pake komputernya?” tanya Nazril antusias.

Maka bersyukurlah, para orang tua. Bila anaknya hari ini sudah pandai menggunakan komputer. Apalagi laptop dan gawai yang tentu dibeli dengan sebongkah rupiah. Bersyukurlah. Karena di luar sana, masih banyak anak-anak Indonesia yang belum pernah memakai komputer. Jangankan mengoperasikan, mengenal seperti ap aitu computer pun belum tentu tahu.

 

Nazril, siswa kelas 4 SD. Ia hanya salah satu dari puluhan anak di Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak yang belum mengenal wujud komputer. Dan kini, dengan senyum merekah, ia makin senang berada di taman bacaan. Karena selain membaca buku, ia pun sudah mulai belajar menggunakan komputer. Cara memakai mouse, mengetik, lalu memastikan tulisan di layar sudah cocok.

 

Mungkin tidak banyak orang tahu. Nazril yang tinggal di Kampung Warung Loa adalah satu dari puluhan anak yang terancam putus sekolah. Selain anak yatim, keluarganya pun tergolong miskin. Bahkan kakaknya yang perempuan pun kini SMA-nya “bermukim” di pesantren. Tanpa biaya, asalkan masih tetap bisa sekolah. Anak-anak yang terancam putus sekolah. Akibat kemiskinan dan ketidakberdayaan. Alasan ini pula yang menjadi dasar berdirinya Taman Bacaan Lentera Pustaka. Agar tidak ada lagi anak-anak putus sekolah, selain menyediakan akses bacaan kepada anak-anak.

 

Sore itu, Nazril dan teman-teman sebayanya pun membaca di taman bacaan. Lembar demi lembar buku dibacanya. Dengan suara nyaring diringin sayup-sayup udara sejuk di Kaki Gunung Salak. Bergabung di taman bacaan sejak 2018, kini Nazril sudah terbiasa membaca 5 buku per minggu. Ditambah lagi, semangat membaranya untuk belajar komputer. Seperti dalam pikirannya ingin tahu, “seperti apa dan secanggih apa sih yang namanya komputer?”.

 

Kisah Nazril, si anak pembaca aktif di Taman Bacaan Lentera Pustaka. Adalah bukti bahwa minat baca anak Indonesia rendah tidaklah sepenuhnya benar. Justru minat baca terletak pada ketersediaan buku bacaan. Tersedianya akses membaca buku untuk anak-anak Indonesia, di manapun dan kapanpun. Begitu pula komputer. Selagi ada dan tersedia, anak-anak itu pun bersemangat untuk belajar dan menggunakannya.

 

Salah bila banyak orang menyangka. Anak-anak Indonesia malas dan tidak gemar membaca. Justru tanggung jawab orang dewasa dan pemerintah untuk sediakan akses bacaan kepada mereka. Berikan anak-anak akses. Maka mereka pun akan membaca buku dan belajar komputer. Itulah cara membentuk anak-anak yang literat.

 

Nazril dan anak-anak lainnya. Sebelumnya, mulutnya tertutup awan gelap buku-buku yang jauh darinya. Sebelumnya, mata dan jari-jarinya tersekat tembok besar yang menghalanginya. Tapi kini, ketika buku dan komputer ada di depan matanya. Senyum ceria pun merekah di bibirnya. Ada haranyan di balik matanya. Bahwa masa depan itu ada di pikirannya. Tidak segelap dulu lagi …

 

Ada benarnya kisah dalam film "Imperfect" (2019). Bahwa Ketika seseorang atau anak-anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Akibat keterbatasan, kemiskinan, bahkan ketiadaaan akses pasti akan jadi bahan cemoohan. Anak-anak yang tumbuh tanpa sikap percaya diri. Maka sudah saatnya siapapun yang paham. Berani bertindak untuk membimbing anak-anak untuk mencintai dirinya sendiri, sambil menyiapkan akses untuk mereka. Apapun keadaannya.

 

Tentu, Nazril dan teman-temannya di taman bacaan bukan sudah menang. Atau sudah hebat membaca. Justru sekarang. Nazril dkk. sedang “bertempur lahir batin” dengan anak-anak lain yang belum mau membaca, belum berganung ke taman bacaan. Nazril dan anak yang membaca, sungguh harus ditemani. Agar dia tidak merasa sendiri dan tergoda kegiatan anak-anak yang tidak ada manfaatnya; nongkrong, main game, atau becanda tidak karuan.

 

Jam dinding pun terus berdetak. Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Itu tanda. Bahwa waktu adalah sebuah pilihan. Mau dipakai untuk hal bermanfaat atau disia-siakan begitu saja. Seperti Nazril si anak kampung yang kini pun masih berjibaku dengan waktunya, hari-harinya. Semoga ia tetap membaca dan tidak tergilas zaman.

 

Dari Nazril di Taman Bacaan Lentera Pustaka. Saya pun termotivasi kuat.

Untuk lebih fokus pada kelebihan yag ada pada diri-sendiri. Fokus pada yang positif daripada yang negatif. Bersikap realistis dan tetap bersyukur. Sekecil apapun perbuatan baik yang kita torehkan, pasti akan berbuah manis bila tiba waktunya. Dilihat atau tidak dilihat orang, diperhatikan atau tidak, tetaplah berdiri di jalur kebaikan yang sudah dirintis. Itu saja.

 

Karena Nazril dan anak-anak lainnya di kampung. Dia hanya ingin jadi cukup baik untuk dirinya. Walau dia tidak cukup baik bagi semua orang… salam literasi