Tampilkan postingan dengan label renungan lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan lebaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2026

Literasi Idul Fitri: Memelihara Ibadah dan Kebaikan setelah Hari Nan Fitri

Idul fitri atau lebaran sering dipersepsi sebagai puncak kemenangan. Tidak salah tapi tidak sepenuhnya benar. Justru setelah hari nan fitri (suci), setiap kita dihadapkan pada ujian sekaligus tantangan untuk memelihara ibadah dan kebaikan. Tetap istiqomah dalam ibadah dan kebaikan di kehidupan sehari-hari. Itulah ujian yang sesungguhnya setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Sebab, yang dinilai bukan hanya kuatnya kita di bulan Ramadan tapi konsistensi kita setelahnya.

 

Idul Fitri bukan garis akhir, tapi titik awal. Sering orang merasa “Ramadan sudah selesai, kembali ke kehidupan normal.” Padahal makna fitri adalah kembali suci, bukan kembali ke kebiasaan lama. Artinya ibadah tidak berhenti, kebaikan tidak surut, dan hati tetap dijaga.

 

Ukuran keberhasilan Ramadan adalah setelahnya. Para ulama sering mengatakan: tanda diterimanya amal adalah dimudahkan untuk amal berikutnya. Jadi indikatornya sederhana, masihkah kita menjaga salat tepat waktu? Masihkah Al-Qur’an dibaca walau sedikit? Dan masihkah sedekah tetap berjalan? Kalau iya, itu tanda Ramadan meninggalkan jejak. Ada bekas yang lebih baik setelah sebulan penuh berpuasa.

 

Maka tantangan terbesar adalah konsistensi atau sikap istiqamah. Selama Ramadan suasananya mendukung, lingkungan ikut menjaga. Tapi setelahnya godaan kembali normal, ritme hidup kembali sibuk. Di situlah nilai istiqamah muncul. Sedikit tapi terus menerus, lebih dicintai daripada banyak tapi terputus

 

Sangat penting untuk menjaga ibadah dan kebaikan. Agar tetap bersemayam dalam hati dan perilaku keseharian setelah puasa. Ada banyak cara tapi cukup kerjakan yang sederhana. Kalau di Ramadan mampu membaca 1 juz per hari, setelahnya cukup 1–2 halaman, tapi rutin. Turunkan target tidak apa asal jangan berhenti. Tilawah dibikin ringan tapi konsisten

 


Jaga “ritual inti”. Minimal pertahankan salat tepat waktu, dzikir harian, dan tilawah meski sedikit. Ini jadi “tulang punggung” spiritual. Pertahankan kebiasaan baik, misalnya sedekah rutin, bangun lebih pagi, dan mengurangi hal sia-sia. Jangan biarkan Ramadan hanya jadi “event tahunan” tanpa meninggalkan “bekas” sedikit pun.

 

Mulailah memilah dan memilih lingkungan yang positif. Jangan yang toxic. Cari teman yang mengingatkan, komunitas yang mengajak kebaikan, dan keluarga yang saling menguatkan. Karena iman itu naik turun, dan lingkungan sangat berpengaruh.

 

Ketahuilah, kebaikan kecil yang dijaga = besar nilainya. Kita sering berpikir, “Sedikit, tidak berarti”. Padahal dalam pandangan Allah “yang kecil tapi istiqamah akan bernilai besar”. Sebalaiknya, “yang besar tapi sesekali justru mudah hilang”. Sebaga refleksi sederhana, pertanyaannya bukan “Sehebat apa saya di Ramadan?” Tapi “Apa yang masih saya bawa setelah Ramadan pergi?”

 

Jadi, tetaplah pelihara ibadah dan kebaikan setelah Idul Fitri. Untuk menjaga ruh Ramadan tetap hidup dan menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan. Agar esok, kita semua lebih baik dan lebih baik. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

 

Sabtu, 29 April 2023

Saatnya Tadabbur Diri di Taman Bacaan

Idul fitri sudah, ramadan pun berlalu. Lalu, apa yang membekas dari momen spiritual yang sakral tersebut? Biasa-biasa saja dan normal kembali ya. Tidak ada yang berubah? Atau hanya sebatas seremoni belaka. Semoga tidak demikian ya.

 

Saatnya tadabbur. Untuk merenungkan dengan seksama dan mendalam akan pentingnya momen idul fitri dan ramadan yang telah lewat. Bertadabbur sebagai cara untuk melihat dampak idul fitri dan ibadah ramadan serta hasil akhirnya seperti apa? Dengan tadabbur, makna idul fitri dan ramadan jadi terang benderang. Sehingga mampu mengambil manfaat dan hikmah dari lubuk hati yang paling dalam. Untuk selalu mempraktikkan kesucian lahir batin, di samping sikap istikomah dari ibadah puasa. Untuk lebih mendekat kepada Allah SWT. Tadabbur untuk menjadi lebih baik ke depan.


Tadabbur seperti kisah Nabi Musa. Ketika si bayi Musa ditemukan oleh istri Firaun, Allah SWT sudah mengatur agar Musa tidak ingin menyusu melainkan hanya kepada ibunya. Allah SWT menyatakan: “dan Kami cegah baginya menyusui dari perempuan lain sebelum itu” (Al Qashash: 12). Jadi. Allah SWT “mengharamkan” semua ASI bagi Musa, dengan tujuan yang amat indah agar ia bisa kembali ke ibunya. Begitu kira-kira?

 

Begitulah skenario Allah SWT untuk Musa. Saat menahan suatu perkara penting baginya (untuk segera menyusu) dengan tujuan agar ia mendapat susu yang lebih baik, yaitu dari ibunya sendiri.

 

Hikmahnya, cobaan itu memang seperti itu. Terlalu mudah bagi Allah SWT untuk menahan atau mengambil sesuatu dari kita, dari siapapun. Karena Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik dari itu. Syaikh Thanthawi dalam tafsirnya menyebut, “Jika Allah mengambil sesuatu darimu apa yang tidak engkau sangka-sangka, maka ketahuilah Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang tidak engkau sangka-sangka pula”.

 


Allah Maha Besar!

Di antara nama Allah adalah Al-Hakim. Artinya, tidak ada sedikitpun kesalahan dan luput dari ketentuannya. Al-Hakim yang Maha Bijaksana dalam ketentuan dan ketetapan-Nya. Allah bisa menurunkan cobaan berupa kehilangan atau musibah ataupun cobaan lainnya dari hal-hal yang tidak kita sukai. Karena Allah tahu dan ingin dengan itu kita mendapat kebaikan di masa yang akan datang. Cobalah ditadabburi. Mungkin, kita pernah mengalaminya. Saat mendapat musibah yang tidak kita sukai, namun berujung sangat baik bagi kita di kemudian hari.

 

Ber-tadabbur-lah. Lebarkan pandangan kita, luaskan perenungan kita. Agar paham, tentang ujian hidup orang lain yang lebih besar dari ujian kepada kita. Kesulitan orang lain yang jauh lebih sulit daripada kesulitan kita. Maka, cukupkan diri dengan tadabbur dan banyak-banyaklah bersyukur. Agar semakin meningkat keimanan kita, di samping mengajak kita untuk selalu menjadi diri sendiri dalam mengabdi kepada Allah SWT. 


Tadabbur di taman bacaan, pun bisa terjadi. Untuk merenungkan, sebenarnya kita dari mana berasal dan mau ke mana menuju? Untuk selalu menebar kebaikan dan manfaat kepada orang lain. Melalui penyediaan akses bacaan kepada anak-anak dan masyarakat. Salam literasi!