Tampilkan postingan dengan label Minat Baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minat Baca. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juni 2023

Taman Bacaan: Lebih Baik Menyalakan Lilin daripada Mengutuk Kegelapan

Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Mungkin kalimat itu terdengar klise. Apa sih maksudnya?

 

Ini sih hanya cara mengingatkan diri sendiri saja. Karena zaman begini, banyak orang berkeluh-kesah sehari-harinya. Lebih banyak melihat masalah dari sesuatu ketimbang mencarikan solusinya. Apa;agi di media sosial, seakan hidup isinya masalah semua. Sehingga “mengurung” cara berpikir dan Tindakan untuk fokus pada jalan keluar.

 

Jadi teringat suatu kisah. Kono di sebuah kerajaan hiduplah seorang raja yang bijaksana. Pada suatu malam, sang raja pergi ke sebuah jalan yang sering dilalui rakyatnya. Kemudian ia meletakkan sebuah batu yang sangat besar tepat di tengah-tengah jalan tersebut. Lalu apa yang terjadi?

 

Ketika pagi hari, orang-orang kebingungan. Mengapa tiba-tiba ada batu besar di tengah jalan? Batu itu dianggap sangat mengganggu sekali. Sehingga mereka mengumpat dan mencaci maki. Siapa yang taruh batu di jalan? Sebagian dari mereka hanya bisa mengeluh dan menghela napas Panjang. Akibat perjalanannya terganggu oleh batu di tengah jalan. Sebagian lagi mengucap sumpah serapah kepada siapapun yang telah mendatangkan masalah batu di tengah jalan.

 

Hingga lewatlah seorang laki-laki, berjalan dan melintasi jalan tersebut. Ia terheran melihat batu besar yang menghalangi jalan. Tapi mengapa tidak ada orang yang tergerak untuk menyingkirkannya? Maka sang lelaki [un mendorong batu tersebut sekuat tenaganya agar bergeser ke tepi jalan. Memang cukup berat dan melelahkan. Namun pada akhirnya, ia berhasil menyelesaikan pekerjaan tersebut meski kelelahan. Tanpa disangka, rupanya di bawah batu besar itu ada satu kantong uang emas. Sang lelaki merasa gembira memperolehnya. Rupanya raja memang sengaja meletakkan hadiah tersebut, sebagai kejutan bagi siapa saja yang tergerak menyingkirkan batu itu. Begitulah kisahnya, sebagai pelajaran untuk kita.

 


Entah kenapa, sebagian besar orang lebih senang mengeluh daripada mencari solusinya? Hanya fokus pada masalah, bukan jalan keluar. Apapun dikeluhkan, lalu mengumpat dan menyalahkan orang lain. Mentalitasnya selali jadi “korban”. Lebih baik menghindar daripada menyelesaikan masalah. Banyak yang tidak tertarik untuk mencari solusinya,

 

Hari ini, betapa banyak orang menuding mint abaca rendah tanpa mau menyediakan akses bacaan. Lupa bahwa tidak aka nada minat baca tanpa mudahnya akses bacaan, di mana pun. Ada lagi yang hanya menyuruh anak-anak membaca tapi orang dewasanya justru sibuk bermain gawai. Taman bacaan sebagai ladang amal pun dijauhi, bukan justru didekati. Gagal melihat manfaat taman bacaan, justru bersijap apatis. Begitulah yang terjadi saat ini, banyak orang lebih melihat masalah daripada mencari solusi.

 

Banyak orang lupa. Seperti peribahasa Arab berkata, "Lebih baik menyalakan lilin, daripada mengutuk kegelapan." Mungkin, sangat sedikit sekali orang yang berani menghadapi masalah dan merasa perlu ikut andil mencari solusinya. Lebih fokus mencarikanjalan keluar daripada mempermasalahkan atau menyalahkan orang lain.

 

Seperti minat baca yang rendah, tentu bukan kesalahan orang per orang. Maka lebih baik fokus menyediakan akses bacaan ke masyarakat. Membangun taman bacaan masyarakat atau berkiprah di gerakan literasi. Maka bagi orang-orang yang fokus “menyalakan lilin”, bersiaplah akan mendapat kejutan tidak terduga sebagai hasil dari ketulusannya. Menebar kebaikan dan manfaat kepada orang banyak, bukan justru mempermasalahkannya. Salam literasi!

 

Jumat, 28 April 2023

Kisah Praktik Baik di Taman Bacaan, Apa yang Harus Dilakukan?

Mendirikan taman bacaan atau rumah baca, di mana pun, memang tidak mudah. Harus cukup mental dan punya sikap yang jelas. Ibarat kata, mendirikan taman bacaan bagi saya, persis seperti membuka warung. Harus jelas apa yang mau dijual, siapa sasaran pembelinya? Dan yang penting, apa tujuannya? Bila gagal menjawabnya, maka taman bacaan itu akan “punah” di tengah jalan.

 

Taman bacaan pun tidak bisa didirikan hanya berdasar idealisme pendirinya. Ingin membangun minat baca. Atau hanya ingin ikut-ikutan bergerak di dunia literasi atau taman bacaan. Pasti akan sulit dalam perjalanannya. Karena faktanya, tidak sedikit taman bacaan yang berada di “lingkungan yang salah”, tidak ada anak-anak yang membaca. Hingga akhirnya, taman bacaan hanya sekadar nama. Tanpa jadwal yang jelas, aktivitas pun jadi seadanya. Terserah si pendirinya, mau dibuka atau tidak. Lalu, membangun diskusi dan seminar tentang literasi dan taman bacaan di luar sana. Jadilah, taman bacaan yang “jauh panggang dari apa”.  Taman bacaannya ke mana, tujuannya ke mana pula?

 

Taman bacaan itu sifatnya sosial. Maka ada 2 (dua) hal penting yang harus ada di taman bacaan. Yaitu 1) kreativitas dan 2) kolaborasi dengan berbagai pihak. Tanpa kreativitas, taman bacaan jadi kosong dan monoton. Tanpa kolaborasi, taman bacaan pun akan “kelelahan” di tengah jalan. Karena itu, taman bacaan harus melibatkan banyak pihak. Mulai dari anak-anak dan orang tua, aparatur masyarakat di level kampung, relawan, komunitas sosial, dan korporasi untuk ber-CSR. Siapapun mereka, apapun bentuk keterlibatannya, dan sekecil apapun kontribusinya harus terlibat. Bila tidak, maka taman bacaan pun akan “hidup segan mati tak mau”.

 

Itulah simpulan sementara saya berdasarkan pengalaman mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Taman bacaan yang saya dirikan dengan cara saya sendiri. Tempatnay di rumah saya dan program-nya pun saya rancang sendiri. Alhasil, pengalamam dan praktik baik mengelola taman bacaan itu sudah saya tuangkan ke dalam buku-44 saya berjudul “Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment” terbitan Footnote Press tahun 2022, ISBN 978-623-99780-5-1 (271 halaman) (Peluncuran Buku Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan - Peristiwa - www.indonesiana.id)

 

TBM Edutainment, adalah sebuah model pengembangan dan tata kelola taman bacaan yang kini sedang saya tulis sebagai disertasi untuk meraih gelar "Doktor Manajemen Pendidikan" di S3 Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Pakuan (Unpak) Bogor. Dari sisi kreativitas, TBM Lentera Pustaka mengembangkan salam literasi, doa literasi, senam literasi, laboratorium baca tiap Minggu, event bulanan dengan mendatangkan "tamu dari luar", dan jajanan kampung gratis. Agar taman bacaan tidak membosankan dan bukan hanya tempat membaca buku. Dari sisi kolaborasi, TBM Lentera Pustaka juga melibatkan korporasi dan komunitas untuk berkiprah nyata dalam gerakan literasi. Seperti di tahun 2023 ini melibatkan 1) Bank Sinarmas, 2) Asosiasi DPLK, dan 3) AAI Perancis sebagai sponsor CSR yang ikut membina TBM Lentera Pustaka, di samping melibatkan komunitas seperti BEM Faperta IPB, komunitas motor, alumni UNJ, dan mahasiswa Unindra yang ikit berkiprah secara rutin di taman bacaan. Kata kuncinya di TBM Edutainment, berbasis edukasi dan hiburan selalu ada di TBM Lentera Pustaka.

 

Saat didirikan 6 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka hanya punya 14 anak pembaca aktif. Tapi kini sudah ada 130-an anak pembaca aktif.  Awalnya hanya menjalankan 1 program literasi yaitu taman bacaan namun kini sudah mengelola 15 program literasi,  yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 130 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) MOBAKE (MOtor BAca KEliling), 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Koleksi buku tadinya hanya 600 buku, kini mencapai lebih dari 10.000 buku bacaan. Dengan dukungan 5 wali baca dan 12 relawan, kini TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu dan tidak kurang dari 200 orang menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka setiap minggunya.

 


Sejauh ini, berbagai catatan prestasi pun sudah ditorehkan TBM Lentera Pustaka dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak, seperti:

1.    Terpilih Ramadhan Heroes dari Tonight Show NET TV (Mei 2021)

2.    Terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia sebagai penyelenggara program “Kampung Literasi” dari Direktorat PMPK Kemdikbudristek RI dan Forum TBM (Juli 2021).

3.    Terpilih "31 Wonderful People tahun 2021" kategori pegiat literasi dan pendiri taman bacaan dari Guardian Indonesia (September 2021)

4.    Sosok Inspiratif Spiritual Journey PT PLN (Oktober 2021)

5.    Terpilih sebagai “Jagoan 2021” dari RTV (Desember 2021).

6.    Terpilih sebagai “Kampung Literasi” dalam meningkatkan literasi masyarakat Kabupaten Bogor dari Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAP) Kab. Bogor (Oktober 2022).

Pada tahun 2023 ini, TBM Lentera Pustaka pun mendapat hibah “motor pustaka” dari Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) yang didukung Ditjen Kebudayaan. Dana Indonesiana, dan LPDP menyusul Revitalisasi kebun baca dari Bank Sinarmas dan CSR event dari KrispyKreme Indonesia.  

 

Secara publikasi, TBM Lentera Pustaka pun sering dijadikan narasumber liputan literasi dan taman bacaan dari berbagai media seperti: CNN TV, NET TV, Berita Satu TV, RTV, Jawa Pos TV, DAAI TV, TV Parlemen, Republika, Kompas,com., Merdeka,com., BogorKita.com., di samping pendiri TBM Lentera Pustaka dikenal aktif menulis untuk gerakan literasi dan taman bacaan.

 

Patut diketahui, spirit TBM Lentera Pustaka bukanlah “membangun minat baca”. Tapi hanya “sediakan akses bacaan” kepada anak-anak susia sekolah di kampung yang terancam putus sekolah akibat kemiskinan. Lagi pula, minat baca sudah pasti bakal terjadi bila akses bacaannya tersedia, Karena itu, TBM Lentera Pustaka pun menjalankan program “motor pustaka” atau “motor baca keliling” yang rutin keliling desa atau kampung seminggu dua kali. Hanya untuk menyediakan akses bacaan. Saat di taman bacaan, anak-anak pu tidak hanya membaca. Tapi bermain dan berinteraksi serta dimotivasi oleh relawan. Agar taman bacaan jadi tempat yang “asyik dan menyenangkan”. Karena selama ini, kelemahann terbesar dari taman bacaan adalah gagal menjadi tempat yang asyik dan menyenangkan. Terlalu monoton dan membosankan.

 

Taman bacaan di manapun harus ciamik. Mantap dan bagus karena selalu aktif berkegiatan literasi, di samping fokus mengurus taman bacaannya. Bukan sibuk ber-seremoni atau seminar tentang literasi dan taman bacaan. Bagi TBM Lentera Pustaka, tidak ada teori yang paling benar dalam ber-literasi atau taman bacaan. Taman bacaan, sejatinya akan menemukan jalannya sendiri berdasr praktik baik yang dilakukannya sendiri. Karena itu, siapapu yang aktif di taman bacaan harus “mengusir” jauh-jauh soal kendala atau hambatan yang ada. Di samping memperbesar komitmen dan konsistensi dalam mengurus taman bacaan secara sepenuh hati, bukan setengah hati.

 

Lalu, apakah saya sudah puas dengan kondisi TBM Lentera Pustaka sekarang? Maaf, tidak ada kata puas di taman bacaan atau saat berliterasi. Karena taman bacaan adalah “ladang amal” sekaligus “legacy – warisan” untuk umat. Maka taman bacaan harus tetap dijaga dan ditingkatkan eksistensinya. Agar mampu memberikan manfaat yang optimal kepada pengguna layanannya. Sekalipun Desa Sukaluyu bukan tanah kelahiran saya, tapi saya sudah menjadikan taman bacaan sebagai “jalan hidup pengabdian”. Insya Allah hingga akhir hayat nanti. Agar jangan ada anak-anak yang putu sekolah, jangan ada lagi kaum buta huruf di bumi Indonesia.

 

Maka, tetaplah berkiprah di taman bacaan. Jangan mudah menyerah apalagi “baper” di taman bacaan. Tapi juga jangan paling “sok tahu” dalam berliterasi. Cukup jalani dengan sepenuh hati. Sekali lagi, tidak ada teori paling benar di taman bacaan. Perbaiki saja niat, baguskan ikhtira, dan perbanyak doa. Insya Allah, taman bacaan di mana pun akan indah pada waktunya.

 

Karena "khairunnaas anfauhum linnaass", sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Agar taman bacaan dan literasi lebih ciamik ke depannya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka






Rabu, 01 November 2017

Zaman Now Emang Aneh; Banyak Orang Gak Suka Membaca Buku

Aneh itu artinya "tidak seperti biasa yang kita lihat, ajaib atau ganjil" gitu. Kalo "aneh-aneh"; artinya macam-macam. Mungkin zaman now, tergolong zaman aneh; berbuat yang aneh-aneh. Atau perilaku banyak orang aneh... bener gak ya?

Bisa jadi, kata banyak orang. Zaman now emang aneh. Aneh bin ajaib deh.
Pergi pagi pulang malam buat kerja. Tapi tiap hari kerjaannya ngeluh mulu.
Si miskin doyannya makan daging. Ehh si kaya malah pengen makan sayur doang.
Banyak laki-laki pengen badannya berisi. Ehh yang perempuan malah pengen kurus.
Makin aneh lagi, hewan piaraan malah dipakein baju. Tapi yang melihara malah jarang pake baju.


Zaman now, emang aneh.
Dulu lagi gak punya uang pengen banget nikah. Giliran udah punya uang malah pengen pisah.
Orang kaya pura-pura miskin. Giliran orang miskin malah pura-pura kaya.
Duduk samping-sampingan tapi berasa jauh karena pada maen gadget. Giliran jauh teriak-teriak kangen pengen ketemu. Orang-orang aneh.

Zaman now, emang udah susah ditebak.
Tiap hari bawaannya dakwah melulu. Tapi sholat gak mau di masjid, ngajinya jarang. Berasa dirinya paling benar sendiri. Orang lain yang beda sama dia, langsung divonis sebagai orang jahat. Kalo ditanya semua pengen ke surga, tapi perilakunya jauh banget dari ciri-ciri orang surga.
Zaman now emang aneh. Susah ditebak sulit diterka. Terus mau gimana lagi kalo gitu...

Zaman now makin aneh.
Karena sekarang susah banget bisa ngeliat mahasiswa di kampus makan sambil baca buku. Udah jarang orang di kereta di bis sambil baca buku. Semua mereka udah gak suka buku, lebih suka gadget.
Orang yang buta huruf pengen banget bisa baca. Ehh orang yang pada jago baca sekarang ini malas banget baca. Anehnya lagi, kalo disuruh baca malah minta dibacain. Pantes ada hasil riset, katanya orang Indonesia 90% gak suka baca. Mungkin sukanya "ngomongin orang" kali ya....

Zaman now, emang aneh.
Katanya membaca itu penting. Paham dan sadar betul. Tapi dia sendiri gak pernah baca. Hidupnya jauh dari buku... aneh.

Maka TBM Lentera Pustaka, cita-citanya sederhana aja. Cuma pengen anak-anak yang selama ini gak punya akses bacaan jadi punya waktu untuk membaca, tentu secara rutin. Biar anak-anak punya tradisi baca dan budaya literasi yang lumayan. Agar bisa berubah cara pikir dan perilakunya kelak.... Semoga aja Allah izinkan ya.

Zaman now harusnya berani berubah.
Berubah apa saja, asal bisa jadi lebih baik. Lebih bermanfaat buat orang banyak bukan buat diri sendiri. Berubah dari gak suka baca buku jadi doyan baca buku. Dari gak suka nyumbang buku jadi doyan nyumbang buku.

Zaman now udah kayak gini.
Mau diapain lagi? Mau ikut hanyut dalam kenistaan dan kamuflase. Atau mau bertahan sesuai aslinya; apa adanya saja.

Zaman now, semua orang pengen berubah.
Tapi gak banyak dilakukan untuk berubah. Maka gak akan ada waktu yang tepat kalo hanya menunggu. Mulailah berubah dengan "membaca".
Karena dengan membaca, kita akan berubah. Karena kita, mungkin sudah susah dinasehatin orang lain.

Lebih baik berubah sekarang, mulai membaca lagi dan untuk diri sendiri saja dulu. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali.... #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen



Sabtu, 02 September 2017

Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca Anak

Bacalah dan Tuhanmu sangat pemurah, yang telah mengajarkan manusia dengan pena, yang telah mengajarkan manusia tentang apa yang tidak diketahuinya“

Minat baca anak-anak Indonesia, masih sangat rendah. Data dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya 1 orang yang senang membaca.

Namun tahukah kita, apa yang menyebabkan minat baca anak Indonesia rendah?
Syarifudin Yunus, pendiri TBM Lentera Pustaka menyatakan salah satu penyebab rendahnya minat baca anak Indonesia rendah adalah tidak adanya akses bagi anak-anak untuk membaca buku dengan layak dan memadai. Apalagi di daerah-daerah yang jauh dari akses perpustakaan dan perhatian.
“Berdasar pengamatan di Kp. Warung Loa Kaki Gunung Salak yang tak jauh dari Jakarta. Fakta menyatakan anak-anak banyak dan mereka tertarik untuk membaca buku. Tapi sayang, mereka susah mendapatkan akses buku bacaan. Alhasil, minat baca anak jadi rendah,” ujar Syarifudin Yunus.

Lalu, mengapa minat baca anak Indonesia tergolong rendah?
Tentu ada banyak alasa. Ada banyak teori yang “diduga” menjadi sebab rendahnya minat baca anak-anak. Setidaknya ada 6 (enam) sebab rendahnya minat baca anak Indonesiia tergolong rendah.
Pertama, karena sistem pembelajaran yang belum memuat “keharusan” membaca buku. Belajar baru sebatas mencari informasi atau memperoleh pengetahuan dari apa yang diajarkan. Bukan terletak pada aktivitas siswa untuk tahu dari bacaan
Kedua, karena makin banyaknya jenis hiburan, tayangan TV, tempat rekreasi, bahkan permainan anak yang makin “menyingkirkan” waktu anak untuk membaca. Membaca makin kalah populer dari kegiatan masyarakat modern.
Ketiga, karena budaya baca memang sulit dikembangkan sebagai perilaku anak-anak. Budaya verbal terlalu dominan sehingga anak makin jauh dari buku.
Keempat, karena orang tua makin tidak peduli terhadap kebiasaan belajar dan kebiasaan membaca anak. Orang tua semakin sibuk dengan urusannya sendiri. Hingga lupa membimbing anak untuk “membaca” apapun.
Kelima, karena sifat malas yang kian merajalela di kalangan anak-anak. Anak sekarang semakin malas untuk membaca dibandingkan menonton TV.
Keenam, karena tidak adanya sarana dan akses mendapat buku bacaan. Perpustakaan atau taman bacaan masih menjadi barang langka di berbagai daerah sehingga anak-anak kesulitan mendapat “tempat membaca:.

Berangkat dari alasan tersebut, TBM Lentera Pustaka hadir untuk mengambil bagian dan ikut aktif dalam memfasilitasi anak-anak dan remaja agar lebih mudah dalam mendapatkan akses buku bacaan.

TBM Lentera Pustaka berlokasi di Kp. Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari Kab. Bogor memiliki sekitar 500-an anak-anak usia sekolah (SD s.d SMP). Tujuan TBM LENTERA PUSTAKA adalah untuk menyediakan akses membaca buku-buku bermutu bagi anak-anak; di samping untuk membangun tradisi baca dan peradaban yang lebih baik.    

Namun patut disadari, TBM Lentera Pustaka sebagai organaisasi nirlaba akan sulit untuk menjalankan perannya apabila tidak didukung oleh masyarakat dan berbagai pihak. Untuk itu, TBM Lentera Pustaka mengajak masyarakat dan korporasi untuk ikut serta berpartisipasi /donasi dalam program taman bacaan yang dikembangkan TBM Lentera Pustaka.

Adapun bentuk partisipasi/donasi yang diharapkan, antara lain:
1.   Penyediaan fasilitas/infrastruktur untuk berdirinya TBM LENTERA PUSTAKA, dengan biaya sebesar Rp. 16.100.000,-
2.   Penyediaan buku bacaan dan biaya operasional TBM LENTERA PUSTAKA selama 1 tahun, dengan kebutuhan adan mencapai Rp. 50.200.000,-

Pada prinsipnya, TBM LENTERA PUSTAKA siap bekerjasama dan bersedia menerima partisipasi/donasi dan CSR Korporasi untuk memastikan beroperasinya TBM yang sangat diharapkan masyarakat ini.

Untuk informasi lebih lanjut dan partisipasi/donasi silakan hubungi:
TBM Lentera Pustaka
Jl. Masjid Jami Kp. Warung Loa No. 77 RK 12 Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari Bogor 16610
Telp:  0818 194172 – 0812 8568 3535 atau Email: lentera.pustaka77@gmail.com
Rekening Bank BNI Cabang Jkt. Sampoerna Strategic (a.n. Syarifudin Yunus)
No. Rek. 028-826-1601

Akankah anak-anak Indonesia semakin mudah mendapat akses buku bacaan?
Sungguh tidak ada yang tahu. Semuanya, terpulang kepada kita. Mau atau tidak membantu kegiatan sosial seperti yang dilakukan TBM Lentera Pustaka. Semua orang tahu, manfaat membaca itu penting sebagai jendela dunia, jendela ilmu pengetahuan. Namun, itu semua tidak dapat berjalan dengan sendirinya …. Harus ada dukungan dan sinergi dari berbagai pihak.


Membaca adalah warisan terindah yang bisa diberikan kepada anak-anak Indonesia. SELAMAT MEMBACA …. #TBMLenteraPustaka

Siap Hadir, TBM LENTERA PUSTAKA di Kaki Gunung Salak Bogor

Atas sebab banyak anak-anak yang punya waktu luang dan kurangnya akses buku yang dapat dibaca, insya Allah saat ini tengah dirintis berdirinya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) LENTERA PUSTAKA, dengan fokus menjalankan program peningkatan tradisi baca. Rencananya, TBM LENTERA PUSTAKA akan diresmikan pada Minggu, 5 November 2017 Pukul 10.30 WIB di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari Kab. Bogor.  Lokasi ini terletak di Kaki Gunung Salak, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dan kepedulian sosial terhadap minat baca anak-anak dan remaja.

Kegiatan TBM LENTERA PUSTAKA meliputi: 1) taman bacaan masyarakat dengan tutorial 2 kali seminggu, 2) penyediaan buku bacaan anak-anak dan remaja yang positif dan bermanfaat, 3) bedah buku anak, dan 4) edukasi tradisi baca dan peradaban budaya anak.
Seluruh kegiatan TBM LENTERA PUSTAKA melibatkan karang taruna dan relawan yang ingin berkiprah dan memajukan taman bacaan masyarakat yang terletak di Kaki Gunung Salak, dan tergolong masyarakat pra sejahtera.



Sasaran TBM LENTERA PUSTAKA terdiri dari:
  1. Anak-anak Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari = 240 anak
  2. Anak-anak Desa Taman Sari Kec. Taman Sari = 200 anak
  3. Karang Taruna Kampung Warung Loa = 120 pemuda/pemudi
  4. Ibu-Ibu di Kampung Warung Loa = 80 ibu

Nantinya, TBM LENTERA PUSTAKA akan beroperasi selama 2 hari dalam seminggu, yaitu: 1) Tiap SELASA, pukul 15.30 – 17.30 WIB dan 2) Tiap KAMIS, pukul 15.30 – 17.30 WIB. Selain itu, sebulan sekali pada hari Minggu pagi pukul 09.30 – 12.00 WIB akan diselenggarakan ”games buku dan dongeng” yang dilakukan secara langsung oleh pendiri TBM LENTERA PUSTAKA, Bapak Syarifudin Yunu, M.Pd.

TBM LENTERA PUSTAKA sangat mengharapkan partisipasi dan bantuan berbagai pihak demi terselenggaranya taman bacaan masyarakat ini. Karena tanpa dukungan berbagai pihak, operasional TBM LENTERA PUSTAKA berpotensi mengalami hambata, Adapaun bentuk partisipasi yag diharapkan, antara lain:
1.   Penyediaan fasilitas/infrastruktur untuk berdirinya TBM LENTERA PUSTAKA, dengan biaya sebesar Rp. 16.100.000,-
2.  Penyediaan buku bacaan dan biaya operasional TBM LENTERA PUSTAKA selama 1 tahun, dengan kebutuhan adan mencapai Rp. 50.200.000,-

Pada prinsipnya, TBM LENTERA PUSTAKA siap bekerjasama dan bersedia menerima partisipasi/donasi dan CSR Korporasi untuk mewujudkan beroperasinya TBM ini.

Kita percaya bahwa buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Untuk itu, TBM LENTERA PUSTAKA sangat berkomitmen untuk membangun tradisi baca bagi sekitar 500 anak-anak/remaja, di samping memberi edukasi akan pentingnya peradaban dan etika.

Untuk informasi lebih lanjut dan partisipasi/donasi dapat menghubungi:
TBM Lentera Pustaka
Jl. Masjid Jami Kp. Warung Loa No. 77 RT 01/12 Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari Kab. Bogor 16610
Telp:  0818 194172 – 0812 8568 3535 atau Email: lentera.pustaka77@gmail.com

Rekening Bank BNI Cabang Jkt. Sampoerna Strategic (a.n. Syarifudin Yunus)
No. Rek. 028-826-1601

Mari wujudkan mimpi anak-anak di masa depan melalui buku ... #TBMLenteraPustaka