Selasa, 25 April 2023

Literasi Lebaran, Jangan Mudah Mengutuk Pagi?

Lebaran baru saja kelar. Hawanya saja masih terasa. Energinya pun masih merasuk ke diri. Rohnya masih ada ada di jiwa-jiwa yang fitrah. Untuk menunduk dan muhasabah diri. Agar menjadi pribadi yang lebih baik seusai lebaran. Tapi, kenapa masih ada orang-orang yang gampang mengutuk pagi bahkan membencinya?

 

Jangan pernah mengutuk pagi. Jangan mudah membenci pagi. Jangan memarahi hujan yang turun. Apalagi membenci dan menghujat orang lain atas sebab apapun. Karena kita, bisa kjadi tidak tahu banyak apa yang terjadi. Hanya tahu sedikit saja, yang mungkin terlalu subjektif. Maka tidak ada kebenaran yang sifatnya subjektif. Objektivitas di atas segalanya. Objektif yang berkenan di hati nurani dan akal sehat.

 

Jadi, jangan pernah mengutuk pagi. Karena kutukan, hujatan, dan kebencian tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Tidak akan pernah membuat pegi kesulitan yang mendera diri. Cukup diam dan berdoalah kepada Allah SWT. Agar semuanya baik-baik-baik saja. The show must go on.

 

Kecewa dan sedih itu lumrah terjadi. Kesal dan marah pun sangat manusiawi. Seperti hujan dan panas pun pasti terjadi setiap hari. Maka jangan pernah mengutuk pagi, jangan mencaci hujan dan panas. Hingga terlontar ucapan atau tulisan kotor di media sosial. “Sialan, panas banget hari ini. Gue jadi malas ke mana-mana”, jangan pernah mengutuk panas mentari. Tetaplah tenang dan menerima realitas. Tanpa perlu menyesali apalagi membahas keburukan orang lain. Berkata-kata buruk dan negatif itu tercela dan dilarang. Sikap bijak itulah hikmah terpenting momen lebaran, bila paham.

 


Pagi itu hadir bukan untuk dikutuk. Tapi disyukuri karena bertabur rahmat-Nya. Hadirnya sinar matahari selalu memberi harapan kepada siapapun. Saat pagi hadir di depan mata, di situlah ada kesempatan berharga. Untuk bersyukur dan meniatkan berkata dan berbuat yang baik. Mumpung masih diberi kesempatan bernapas, berpikir, menikmati pagi apapun keadaannya.

 

Jangan pernah mengutuk pagi, jangan membenci hujan. Suasanan yang pasti hadir dalam kehidupan. Karena masih ada jutaan orang yang merindukannya. Masih ada orang-orang yang menanti kehadirannya. Tanpa peduli, ada yang membenci atau mencintainya. Karena semua yang datang untuk manusia, adalah anugerah dan karunia-Nya. Tidak mungkin bisa dibantah atau diperdebatkan. Nikmati saja yang ada, syukuri yang dipunya. Agar segala urusan dimudahkan, sehingga bisa lebih bermanfaat untuk orang lain.

 

Pagi bukan hukuman, hujan pun bukan penjara. Hanya pagi dan hujan yang tidak mengenal pangkat, jabatan, harta atau status sosial. Kaya miskin pasti menemui pagi. Sebagai bukti, bahwa manusia hakikatnya sama di hadapan Ilahi Rabbi. Hanya iman dan takwa yang membedakannya. Karena pagi, selalu mengajarkan siapapun. Untuk lebih berani "introspeksi diri" bukan "mengoreksi keadaan atau orang lain". Salam literasi! #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 

Literasi Sesama Besan, Ngobrol yang Merenungkan

Saat silaturahim lebaran hari ini, saya kedatangan besan (mertua dari anak pertama saya, Fahmi) di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Ngobrol cair saja tentang berbagai hal. Tentang hal-hal yang baik, apalagi kami sebentar lagi akan menjadi kakek. Karena mantu saya, Firda sudah memasuki bulan ke-3 usia kandungannya. Dan alhamdulillah menurut keterangan dokter, Insya Allah dikarunia anak kembar. Alhamdulillah ya Allah atas segala karunia-Mu. Semoga sang janin dan ibunya, selalu diberi kesehatan dan kelancaran saat lahiran nanti.

 

Sambil rileks, obrolan demi obrolan kami berujung pada tekad orang tua untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Selain nasihat dan doa tentunya. Sebagai wujud cinta orang tua kepada anak. Sekalipun orang tua dan anak hidup dalam dunia yang sudah berubah. Bahkan dinamika kehidupan yang tidak sama lagi.

 

Karena apa yang dialami orang tua dan anak sudah berbeda. Tidak lagi sama dalam banyak hal. Maka sekadar obrolan yang merenungkan, terkuak dinamika yang sudah berubah. Sebagai renungan untuk selalu hati-hati dan waspada dalam hidup. Untuk selalu direnungkan:

 

Karena zaman dulu, orang sulit mencari ilmu tapi mudah mengamalkannya. Tapi zaman sekarang, orang mudah mencari ilmu tapi sulit mengamalkannya.

Karena zaman dulu, ilmu dikejar, ditulis, dihafal, diamalkan, dan diajarkan. Tapi zaman sekarang ilmu diunduh, disimpan, dan dikoleksi, lalu diperdebatkan.

Karena zaman dulu, butuh peras keringat dan banting tulang untuk mendapatkan ilmu. Tapi zaman sekarang, cukup peras kuota internet sambil duduk manis ditemani secangkir minuman dan snack.

Karena zaman dulu, ilmu disimpan di dalam hati, selama hati masih normal ilmu tetap terjaga. Tapi zaman sekarang, ilmu disimpan di dalam memory gadget, kalau baterai habis, ilmu pun tertinggal, kalau gadget rusak maka hilanglah ilmu.

Karena zaman dulu, siapapun harus duduk berjam-jam di hadapan guru dengan penuh rasa hormat dan sopan maka ilmu merasuk bersama keberkahan. Tapi zaman sekarang, cukup tekan tombol atau layar sambil tidur-tiduran maka ilmu merasuk bersama kemalasan.

 


Sebagai obrolan yang merenungkan. Memang zaman sudah berubah. Karena sekarang, kita telah sampai di zaman di mana bicara tanpa perlu suara. Melihat tanpa perlu tatap muka. Memanggil tanpa perlu teriak. Hingga bicara hanya perlu ketik saja, melihat hanya perlu klik saja, dan memanggil hanya perlu “ping” saja. Begitulah hidup di zaman begini yang mungkin membuat banyak orang tua khawatir terhadap anak-anaknya.

 

Saat media sosial telah menjadi budaya, sementara Al-Qur'an semakin dilupakan. Dari yang hanya melihat-lihat, sampai mereka yang beradu pendapat. Dari tingkah yang dibuat-buat, sampai yang terang-terangan maksiat. Dari yang salah dibenarkan, sampai yang benar disalahkan. Hingga tidak sadar jemari ini berkhianat, untuk melihat apa yang seharusnya tidak boleh dilihat. Bagaimana orang tua tidak khawatir?

 

Maka sebagai renungan, orang tua dan anak-anaknya.

Ketahuilah dan selalu ingatlah. Karena mata kita akan menjadi saksi atas apa yang kita lihat. Jari-jemari akan akan menjadi saksi atas apa yang kita tulis. Hingga suatu hari nanti apapun yang kita lakukan dengan anggota badan kita akan bersaksi di hadapan sang pencipta. Maka siapakah yang dapat membantahnya?

 

Maka di momen lebaran, gunakan waktu dan usia untuk lebih bermanfaat. Gunakan apa yang ada pada diri kita sebagai ladang amal. Untuk selalu menanam kebaikan hingga menuai hasilnya di akhirat. Tetaplah menjadi orang baik. Tanpa perlu membicarakannya kepada orang lain.

 

Itulah sebuah obrolan yang merenungkan. Untuk orang tua dan anaknya. Salam literasi!

Senin, 24 April 2023

Literasi Idul Fitri, 12 Cara Interaksi dengan Kesulitan?

Momen lebaran memang indah. Karena banyak orang bergembira merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Di berbagai sudut rumah, di jalan-jalan, terbersit wajah-wajah penuh senyum. Sebagai tanda kebahagiaan. Bersuka cita menyambut datangnya bulan Syawal. Sambil terus menjaga kebersihan hati, pikiran, bahkan perilaku. Sebuah fitrah manusia yang didambakan sepanjang tahun.

 

Namun di balik momen lebaran, masih saja ada saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan. Berjibaku dengan masalah yang dihadapinya. Seperti tidak mengenal waktu, masalah selalu datang silih berganti, Tidak punya uang, berteman dengan kemiskinan, hingga terganggunya hubungan persaudaraan. Kesulitan demi kesulitan terus mendera mereka. Semakin sulit hidupnya, saat mereka kian terbebani oleh mimpi-mimpinya sendiri. Terkadang mereka pun memaksa diri untuk berjuang keras untuk memenuhi harapan orang lain.

 

Seperti seorang kawan yang merasa kusulitan di momen lebaran kali ini. Akibat terlalu berlebihan dalam menganalisis keadaannya sendiri. Segala hal dianggap selalu jadi masalah. Hidupnya jadi tertekan, cenderung menyalahkan diri sendiri dan keadaan. Hanyut dalam kesulitan, larut dalam terpaan masalah hidup. Sehingga semakin sulit berpikir jernih, berlapang dada, bahkan merasa tidak mampu mengambil keputusan. Sulit, sulit, dan sulit merundung sebagian saudara-saudara kita. Sekalipun di momen lebaran.

 

Laqad khalaqnal-insāna fī kabad. Artinya, "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (Al Balad: 4). Sebenarnya sangat jelas, bahwa tiap fase kehidupan manusia pasti akan menemui kesulitan. Mulai dari dilahirkan hingga saat menemui kematian. Sulit saat hidup di dunia, mencari rezeki, galau dalam menentukan tujuan hidup. Mau apa dan kemana mereka?

 

Mumpung di momen lebaran. Ada baiknya, siapapun untuk merenungkan kembali. Tentang pentingnya “berinteraksi” dengan kesulitan, bersahabat dengan masalah. Karena memang sejatinya, tidak ada satu pun manusia yang tidak punya masalah di dunia ini. Masalah pasti ada, kesulitan pasti ditemui, Soalnya, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kesulitan atau masalah adalah fakta, Maka dibutuhkan “sikap” untuk memperlakukannya. Karena fakta tidak lebih penting daripada sikap.

 


Berbekal pengalaman atas masalah dan kesulitan selama mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka dalam 6 tahun terakhir di kaki Gunung Salak Bogor, terbuktikan berinteraksi dengan kesulitan atau masalah itu sangat penting. Nah, bagaimana caranya? Setidaknya, ada 12 (dua belas) cara pandang yang harus diperkuat siapapun saat menghadapi kesulitan atau masalah:

 

1.      Tetap rileks saat menghadapi kesulitan. Bahwa masalah itu datang silih berganti, dan orang lain pun mengalami kesulitan yang sama, bahkan kadang lebih parah. Rileks saja sambil tetap berpikir realistis untuk mencarikan solusinya.

2.      Tidak ada kesulitan yang tidak memiliki hikmah. Jadi sangat penting merenungkan hikmahnya untuk diri sendiri sebagai “arah jalan” ke depan. Justru dengan masalah, banyak orang jadi lebih matang dan lebih bijak.

3.      Gantungkan harapan hanya kepada Allah SWT, bukan kepada orang lain. Datangnya manfaat atau mudarat semuanya hanya dari Allah SWT.

4.      Sadari semua yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. Segala sesuatu ditetapkan untuk kita dari Allah SWT tidak akan pernah luput. Semua sudah ditetapkan-Nya. Bila harus terjadi, maka terjadilah. Butuh sikap ilkhlas dan lapang hati.

5.      Pahami hakikat hidup di dunia maka akan lega dan lapang dada. Banyak orang salah memahami dunia sehingga gagal menyikapinya. Dunia adalah jalan bukan tujuan.

6.      Berbaik sangka saja kepada Allah SWT. Jangan salahkan keadaan, orang lain atau Allah SWT. Semua yang terjadi pada kita pasti baik di mata Allah SWT dan cukup bersabar untuk mananti hasilnya.

7.      Jangan egois karena pilihan Allah SWT pasti lebih baik daripada pilihan kita sendiri. Tidak perlu memaksa diri, karena jalan hidup sudah ada dalam takdir-Nya.

8.      Selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan. Jalan keluar pasti ada. Bahkan Semakin berat kesulitan yang dialami justru semakin dekat jalan keluar bahkan baik hasilnya.

9.      Yakinlah tidak ada kesulitan yang Allah SWT berikan tanpa disiapkan solusinya. Semua masalah sangat gampang di mata Allah SWT, sudah disiapkan “sepaket”, apa masalahnya dan jalan keluarnya?

10.  Perbaki niat dan baguskan ikhtiar. Mungkin saja, kesulitan menjadi alat introspeksi atas niat masa lampau yang kurang pas dan ikhtiar yang tidak optimal. Maka perbaikilah niat dan ikhtiar.

11.  Terus berdoa yang baik kepada Allah SWT. Jangan pernah bosan berdoa karena manusia itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Berdoa saja tanpa henti karena Allah SWT tidak pernah bosan mendengar dan mengabulkan doa hamba-Nya.

12.  Bangkit, bangkit, dan bangkit. Jangan pernah terlena dengan kesulitan atau masalah apapun. Sikapi semuanya dengan berbuat yang terbaik, soal apapun dan di mana pun.

 

Kesulitan itu pasti ada, masalah pun selalu hadir. Maka mulailah berinteraksi dengan kesulitan dan masalah. Ada baiknya tidak bertumpu pada fakta tapi lebih  penting bagiamana cara menyikapinya? Memang berat, namun apapun harus dihadapi. Toh, pada akhirnya semuanya akan berlalu. Asal tetap bersikap realistis, objektif, dan sesuai hati Nurani. Jangan hiraukan apa kata orang lain karena orang lain itu pun punya masalahnya sendiri.

 

Jadikan momen lebaran sebagai sarana untuk memperbaiki diri dari hari-hari sebelumnya. Tetap optimis dan berpikir positif dalam keadaan apapun. Memamg terkesan klies, tapi memang itulah sikap yang harus dijunjung tinggi. Agar mampu berinteraksi dengan kesulitan apapun. Jangan biarkan masalah menerpa tanpa mampu dituntaskan. Itulah ikhtiar yang harus dilakukan.

 

Kembali ke fitrah. Itu berarti berani berinteraksi dengan kesulitan dan masalah. Memang ada benarnya. Kata bijak yang menyuruh kita untuk “berdoa menjadi manusia lebih kuat dalam menghadapi masalah, bukan berdoa untuk hidup lebih mudah”. Salam literasi!

Minggu, 23 April 2023

Literasi Ikhlas di Momen Lebaran, Apa Artinya?

Anjang sana dalam suasana lebaran masih terus berlangsung. Kemarin pun saya main ke rumah seorang kawan di Banten. Rumahnya sederhana, seperti pada umumnya orang-orang biasa. Duduk di teras rumah, beralaskan tikar. Di atas lantai peluran biasa, bukan keramik. Tapi rasanya adem, bahkan mata senyap-senyap terasa kantuk. Ada apa gerangan?

 

Saat beranjak siang, pun saya disuguhkan makanan siang. Sederhana, hanya berlauk ikan hasil tangkapan empang dan sayur asem. Tentu, tidak ketinggalan sambal dan kerupuk. Alhamdulilllah, luar biasa. Bukan hanya pas lapar, tapi makan siang sederhana teras nikmat sekali. Apalagi makan pakai tangan, lebih terasa nikmatnya. Dengan sedikit air kobokan yang bercampur dan merasuk ke nasi. Bukti bahwa sesuatu yang sederhana mampu membuat kenikmatan yang patut disyukuri.

 

Apa yang saya mau sampaikan melalui tulisan ini. Dari makan siang di suasana lebaran, apapun akan terasa nikmat bila diterima dengan ikhlas. Walau hanya dengan ikan tangkapan empang dan sayur asem, makan siang terasa luar biasa. Murah dan sederhana, dengan sesekali cocolan sambal. Rumah sederhana, makanan sederhana, dan penampilan sederhana pun akan menyejukkan pandangan mata bila semuanya diterima dengan ikhlas.

 

Saya pun berpikir. Sebenarnya apapun di dunia ini. Bahkan semua hal yang terjadi dalam hidup. Ada satu hal yang harus dipahami betul. Bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu hanya bisa dirasakan ketika kita benar-benar ikhlas menerimanya. Selalu berlapang hati atas apa yang sudah menjadi takdir kita. Seperti makan siang saya di rumah kawan, yang hanya ikan dan sayur asem sungguh nikmat dan membahagiakan. Memang benar, bila ada yang menyatakan “Bahagia itu sederhana”. Tidak harus mewah, tidak harus traveling. Cukup makan siang di kampung kecil di rumah kawan, asal ikhlas maka terasa nikmatnya. Jadi, nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan?

 


Ikhlas, ternyata penting. Bagi siapapun. Tidak peduli seberapa banyak rasa lelah yang dialami. Tidak peduli seberapa waktu yang dihabiskan. Tidak peduli seberapa berat rasa lapar itu. Bahkan tdai peduli seberapa rasa sakit yang pernah hadir atau luka yang pernah ada. Asal ikhlas maka akan memberi kepuasan tersendiri. Karena memang sejatinya, hidup ini memang terus berjalan.

 

Jadi, di momen lebaran ini. Ada baiknya kita memperbesar sifat ikhlas dalam hal apapun. Berlapang hati dalam segala keadaan dan kondisi. Apapun yang terjadi. Tanpa perlu menyesali masa lalu. Tanpa perlu berkeluh-kesah, tapi cukup dijalani dan disyukuri atas apa yang ada. Bahkan saat bergaul dengan orang buruk pun, sangat dibutuhkan sikap ikhlas. Agar mampu memberi pelajaran dan hikmah dalam kehidupan. Karena bergaul dengan orang buruk sekalipun, pasti ada pelajaran yang berharga darinya. Tanpa perlu berurai air mata.

 

Hidup memang pasang-surut. Pahit manis kehidupan pasti bisa dialami siapa saja. Tanpa mengenal pangkat, jabatan atau status sosial. Syaratnya sederhana, terima dengan ikhlas. Agar berbuah kebaikan pada akhirnya. Untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. Karena sejatinya, kebaikan adalah perlakuan, bukan pertukaran.

 

Asal ikhlas, siapapun dan apapun pasti bisa diterima. Karena nyatanya, tidak semua orang berbuat baik itu ikhlas. Salam literasi!

Taman Bacaan Sulit Bertahan Tanpa Konsistensi, Setuju Nggak?

Kemarin, seorang kawan bercerita. Selama bulan Ramadan, katanya rajin tadarusan Al Quran. Tapi baru sehari berselang saat lebaran, katanya lagi kok malas ya? Apa karena sudah bukan bulan puasa? Saya sih diam saja.

 

Dari obrolan itu, saya hanya menegaskan pentingnya “konsistensi” dalam urusan apapun. Ya, apapun harus konsisten alias mantap dalam bertindak. Jangankan ibadah, urusan sepele seperti cuci piring atau menyapu lantai saja bila tidak konsisten ya akan kacau-balau. Ngomong juga kalau tidak konsisten ya pasti beda dengan perilakunya. Apa yang diomong, apa yang dikerjakan itu kuncinya ada di konsistensi.

 

Konsisten atau istikomah itu bukan hanya sikap tapi perbuatan. Untuk melakukan suatu hal secara berkelanjutan, terus menerus. Apapun motifnya, mau ada uangnya atau tidak ada uangnya ya harus konsisten. Karena konsisten itu berarti tetap, kokoh, dan berdiri tegak dalam kondisi apapun. Dan apapun aktivitasnya apabila dikerjakan secara berulang dan teratur, Insya Allah pasti ada hasilnya. Bahkan bisa jadi “passion” atau gairah tersendiri yang diraih. Maka di situ, ada kepuasan batin yang tidak ternilai harganya.

 

Jujur saja saat ini, saya jadi orang yang selalu menulis setiap hari. Minimal satu artikel, tentang apa saja yang bisa dan mau saya tulis. Terserah ada yang baca atau tidak, saya tidak peduli. Karena sejatinya, saya sedang melatih dan membiasakan konsistensi dalam menulis. Dan bagi saya, lebih baik menulis daripada banyak omong. Sebab, tulisan pada akhirnya ada rekam jejaknya. Bisa dilacak di kemudian hari. Bikin kue atau aktif di taman bacaan pun butuh konsistensi. Bukan hanya sebatas berani memulai tapi tidak mampu menjaga konsistensinya. Apalagi hanya karena euphoria, ikut-ikutan semata tanpa didukung sikap istikomah untuk memeliharanya dari waktu ke waktu.

 

Konsistensi, dalam hal apapun itu sangat penting. Tokoh-tokoh seperti Albert Einstein, Thomal Alfa Edison, bahkan Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan RI bukan tanpa kendala atau kegagalan. Tapi mereka selalu bertindak konsisten, hingga pada akhirnya berhasil. Sayangnya zaman begini, banyak orang bikin ini bikin itu tapi tidak konsisten. Bahasa kampungnya “anget-anget tai ayam”. Pengen begini pengen begitu tapi tidak istikomah dalam menjalaninya. Ya, hasilnya pikir saja sendiri kan bisa dicek …

 


Sudah 6 tahun ini, saya mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sementara saya bertempat tinggal di Jakarta. Seminggu sekali datang ke taman bacaan hanya untuk “mengurus” secara konsisten. Saya jaga betul konsistensi di taman bacaan agar tetap eksis. Kalau alasan sibuk ya semua orang juga sibuk. Saya pun sibuk mengajar di kampus, sibuk jadi konsultan, sibuk sebagai direktur eksekutif di salah satu asosiasi jasa keuangan di Indonesia. Sibuk, sibuk, dan sibuk pasti dialami banyak orang. Tapi sibuk juga yang jadi alasan untuk “tidak melakukan apapun” kapan saja dan di mana saja.

 

Karena konsistensi itulah, TBM Lentera Pustaka yang saya dirikan tadinya hanya punya 1 program literasi yaitu taman bacaan. Tapi kini sudah menjalankan 15 program literasi seperti: GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, DonBuk (Donasi Buku), RABU (RAjin menaBUng), LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat,  LITFIN (LITerasi FINansial), LIDAB (LIterasi ADAb),  MOBAKE (MOtor BAca KEliling), Rooftop Baca, dan Berantas Buta Huruf Al Quran. Dalam waktu dekat pun akan mebuka kafe literasi “Kopi Lentera” sebagai tempat nongkrong bernuansa literasi ber-view Gunung Salak. Dengan koleksi lebih dari 10.000 buku serta didukung 5 wali baca dan 12 relawan, alhamdulillah saat ini melayani tidak kurang dari 200 orang per Minggu sebagai pengguna layanan TBM Lentera Pustaka.

 

Konsistensi itu landasan awalnya komitmen. Dan ujung akhirnya adalah prestasi atau hasil yang baik. Tidak ada prestasi atau hasil baik tanpa konsistensi. Apalagi cuma omongan dan pikiran doang. Karena konsistensi itu berpijak pada prinsip dan nilai-nilai yang dianut orangnya. Tetap, tidak berubah-ubah, atau ajek. Konsisten, atas apa yang dikatakan dan sesuai dengan yang dikerjakan. Maka ketika konsistensi ternodai, maka “mati suri” atau seperti “jauh panggang dari api”. Apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan tujuan awalnya, tidak kena sasaran.

 

Siapapun yang konsisten, pasti bertindak dengan hati-hati. Tidak mudah goyah, sulit terpengaruh oleh orang lain, dapat diandalkan, punya integritas, bahkan tdiak takut ditiru oleh orang lain. Karena konsisten maka selalu bijak dalam mengambil keputusan dan pada akhirnya apa yang diucapkan sama dengan apa yang dikerjakannya. Tidak peduli komentar orang lain. Kan orang lain juga tidak bantu apa-apa. Jadi buat saya, cukup jaga saja konsistensi, Apapun dan di mana pun.

 

Nah, bila konsistensi sudah dilakukan. Bukan berarti tanpa kendala dan hambatan kan? Jadi biarlah semuanya berproses, ada atau tidak ada kendala. Asal terus perbaiki niat, baguskan ikhtiar, dan perbanyak doa. Dijalani saja dengan penuh rasa syukur dan sabar. Selebihnya, biarkan Allah SWT yang bekerja untuk orang-orang yang konsisten. Pada waktunya, pasti akan tiba kok, cepat atau lambat.

 

Jadi pesan literasinya adalah apapun yang dilakukan kerjakan saja secara konsisten. Jangan terlalu banyak komentar apalagi keluh-kesah. Karena semua sudah ada dalam skenario-Nya. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 



Literasi Lebaran, Be Better in Real Life than on Social Media

Be better in real life than on social media!

Jadilah lebih baik di dunia nyata daripada di media sosial! Itu kalimat ajakan di momen lebaran. Sebagai cerminan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Apalagi sepanjang bulan suci Ramadan kemarin, berapa banyak kata-kata bijak yang kita sajikan di media sosial. Postingan-postingan tnetan kutipan ayat dan hadist yang luar biasa dan sangat menginspirasi. Meng-upload pesan relijius setiap hari, konten yang positif. Tapi sayang, itu hanya terjadi di media sosial. Belum di dunia nyata.

 

Hari berganti hari. Kini Ramadan telah berganti Syawal. Akan lebih baik bila kata-kata bijak dan hikmah ramadan tidak lagi sebatas di media sosial. Sudah saatnya di momen lebaran berubah menjadi realitas di dunia nyata. Menjadikan postingan di media sosial persis terjadi di dunia nyata. Seperti kata orang bule, yang lantang berkata, “Be better in real life than on social media!”

 

Be better in real life than on social media!

Itulah tugas besar kita bersama di bulan Syawal. Untuk menjadikan setara antara dunia maya (media sosial) dengan dunia nyata. Untuk melanjutkan semangat kebaikan di bulan Ramadan terus berlanjut di bulan Syawal. Untuk lebih banyak praktik daripada teori. Karena sesungguhnya, nasib kita bukan atas apa yang ada di media sosial. Melainkan di media nyata, perilaku konkret sehari-hari yang dicatat oleh Malaikat Rakib dan Atid. Karena keduanya, ada di dunia nyata bukan di media sosial.

 

Bagaimana caranya?

Tentu, sederhana saja. Saatnya mengubah slogan baik di media sosial menjadi tindakan di dunia nyata. Secara konkret, menerapkan praktik baik dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan yang tidak sebatas di media sosial. Sambil melatih diri untuk mempermudah jalan menuju perbuatan baik dan mempersulit jalan menuju perbuatan buruk. Be better in real life than on social media!

 

Misalnya di momen lebaran ini, biasanya mulut sering digunakan untuk menggibahi atau bergosip tentang orang lain, apapun alasannya, mulai dihentikan. Agar pahala puasa dan lebaran tidak terbuang percuma. Bicaralah yang baik-baik, tentang nasihat kebaikan. Ada orang yang senangnya kepo terhadap urusan orang lain, mulailah untuk menyetop kebiasaan kepo atas nama  apapun. Karena orang lain pun sama sekali tidak peduli terhadap Anda. Karena Anda memang tidak membantu, tidak menyekolahkan, apalagi memberi makan.

 


Begitu pula bila ingin meningkatkan kualitas ibadah keseharian. Ingin tahajud di tengah malam, memperbanyak sedekah, bahkan menyantuni anak-anak yatim dan kaum jompo. Sudah saatnya sekarang dilakukan secara nyata. Siapkanlah hati, pikran, dan perilaku konkret untuk bisa melakukannya. Jangan tunda setiap niat kebaikan, jangan pula hanya bertutur baik di media sosial tanpa eksekusi nyata. Karena sejatinya, 1 ons praktik lebih baik daripada 1 ton teori. 1 kebaikan di dunia nyata lebih baik dari 100 kebaikan di dunia maya. Mengubah niat baik jadi aksi nyata.

 

Saya pun begitu. Selalu berupaya mengubah kata bijak yang bersemangat menjadi aksi nyata di lapangan.  Atas nama kemanusiaan dan kepedulian sosial. Sebagai contoh, ikut menjadi relawan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sebuah taman bacaan yang dalam 6 tahun perjalanannya, kini TBM Lentera Pustaka telah mengelola 15 program literasi dari yang tadinya hanya 1 program yaitu taman bacaan sebagai tempat membaca 130-an anak usia sekolah keluarga tidak mampu yang berasal dari 3 desa (Tamansari, Sukaluyu, Sukajaya). Kini ada aktivitas seperti 1) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 2) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 3) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 4) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 5) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 6) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 7) DonBuk (Donasi Buku), 8) RABU (RAjin menaBUng), 9) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 10) LITFIN (LITerasi FINansial), 11) LIDAB (LIterasi ADAb), 12) MOBAKE (MOtor BAca KEliling), 13) Rooftop Baca, dan 14) Berantas Buta Huruf Al Quran. Dengan koleksi lebih dari 10.000 buku serta didukung 5 wali baca dan 12 relawan, TBM Lentera Pustaka kini dikenal sebagai taman bacaan paling komprehensif. Tidak kurang dari 200 orang per Minggu menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka ini.

 

Be better in real life than on social media! Jadilah lebih baik di dunia nyata daripada di media sosial! Ubah niat baik jadi aksi nyata. Sebagai cara untuk mempermudah jalan menuju perbuatan baik. Lakukan, lakukan, lakukan agar terjadi! Salam literasi!

 


Sabtu, 22 April 2023

Kok Kamu Galau di Momen Lebaran, Kenapa?

Silaturahim lebaran masih terus berlanjut. Untuk mengembalikan diri ke fitrah-Nya. Berkunjung, bercengkrama sambil menikmati hidangan lebaran yang apa adanya. Ketupat, opor ayam, kue nastar, hingga berbagi rezeki sedikit ke sanak saudara. Euforia lebaran masih terasa di dada. Tapi kenapa masih ada galau menyelimuti hati dan pikiran? Apa gerangan yang menyebabkan kegalauan di hari nan fitri?

 

Sahabat, meminta maaf dan memaafkan memang membutuhkan keikhlasan. Tulus dan sepenuh hati untuk mengakui kekurangan diri. Berlapang dada untuk meminta maaf dan memaafkan. Apapun alasannya. Sebagai momen membersihkan diri dari penyakit hati, sekaligus menyambung tali silaturahim yang pernah terputus.

 

Ikhlas, itulah obat kegalauan. Karena mengikhlaskan itu lebih menenangkan. Agar tidak berlama-lama bergelut dengan benci, dendam, bahkan cacian. Merelakan setiap yang dirasa itu lebih menyenangkan. Agar tidak ada sesak menerpa atau gundah merana. Lebaran, adalah momen untuk memperbaiki niat, membaguskan ikhtiar, dan memperbanyak doa baik. Setelah menggembleng diri melalui ibadah puasa sebulan penuh. Tanpa pamrih dan sepenuh hati.

 

Masih galau, mungkin karena belum ikhlas. Sehingga merasa tergores, terjatuh, dan terluka. Merasa sakit atau disakiti. Memang selalu ada ujian dan cobaan dalam diri. Atas sebab apapun, oleh siapapun. Maka biarkanlah pancaran senyum merasuk hingga ke hati. Untuk tetap berlaku bijak dan mengontrol emosi. Sebab sabar memang tidak ada batas. Apalagi di momen lebaran yang suci.

 


Sahabat, apapun kondisinya. Ikhlaskan semuanya. Damaiman semua dengan iman dan takwa yang ada. Buka karena ingin surga. Bukan pula karena malaikat tidak pernah alpa. Tapi semuanya karena tiap manusia memang penuh potensi dosa. Maka solusinya, hanya meminta maaf atau memaafkannya. Selebihnya, tinggal selaraskan hdup sesuai dengan ketentuan dan ketetapan Ilahi Rabbi.

 

Galau itu manusiawi. Maka mengeluhlah, menangislah, dan tersungkurlah di hadapan-Nya. Karena apapun cobaannya, semuanya hanya pantas dilihat oleh-Nya. Bukan oleh manusia lain yang juga lemah. Hanya Allah SWT kuncinya segala beban dan ujian. Hanya kepada-Nya, berbagi dan mengadu masalahnya. Sebagai buah iman dan takwa dari ibadah puasa.

 

Sahabat, hanya lingkar iman dan takwa yang melindungi kita. Hanya Allah SWT yang menjaga kita. Dengan qalbu yang menguatkan gerakan. Melalui lisan yang menjadikan cerminan. Dan karena pikiran dan perilaku yang menjadi kekuatan. Seluas apapun ujiannya. Seberat apapun cobaannya. Tetaplah iman dan takwa yang kita simpan.

 

Maka di momen lebaran dan sesudahnya nanti. Hanya iman dan takwa yang mampu menjasi oase di dalam hati. Untuk lebih tenang, lebih bijak tanpa perlu dijangkau pikiran. Karena iman dan takwa, sejatinya bukanlah keyakinan tanpa bukti. Tapi sebuah kepercayaan tanpa syarat.

 

Agar esok dan hari-hari mendatang, menjaga iman dan takwa itulah “pekerjaan terbesar” kita. Untuk lebih realistis dalam hidup. Karena hanya iman dan takwa yang bisa melihat apa yang kita percayai. Salam literasi!

 

Literasi Menjaga Lisan, Jangan Kotori Lebaran dengan Omongan Buruk

Idul Fitri telah tiba, suasana lebaran menyelimuti seluruh aktivitas umat muslim di Indonesia. Selain merayakan “kemenangan” sebulan penuh berpuasa, lebaran sangat identik dengan silaturahim. Saling kunjung-mengunjungi ke sanak saudara dan kerabat. Saling bermaaf-maafan sambil bercengkrama menikmati hidangan lebaran.

 

Tapi sayang, nyatanya, tidak sedikit orang yang merasa tidak nyaman saat silaturahim lebaran. Akibat masih adanya omongan atau kata-kata yang terkadang menyakitkna, menyindir, atau menyinggung orang lain. Entah, apa sebabnya? Akibat kesalahan yang tidak termaafkan atau sakit hati. Atau bahkan memang ada orang-orang yang memang saat bicara selalu mengedapankan “sentimen” personal. Kultur negatif yang melekat pada diri seseorang. Nah, begitulah faktanya di sekitar kita.

 

Meminta maaf dilakukan atau diminta memaafkan pun diterima. Tapi di saat yang sama, masih saja berkata-kata yang negatif atau membuat orang lain tidak nyaman. Berkata-kata yang lebih banyak negatif-nya daripada positif. Bertanya yang membuat orang lain tidak senang, memamerkan harta dan dirinya, berbicara sombong, bahkan berkata-kata yang menyakitkan orang lain. Bila itu terjadi, maka suasana silaturahim dan lebaran pun dikotori oleh lisan yang tidak terjaga.

 

Lisan atau ucapan itu nakhoda. Maka dalam suasana lebaran penting untuk menjaga lisan. Sebagai salah satu akhlak yang baik dan menjadi perilaku yang perlu untuk dibiasakan. Agar lisan tidak menjadi pisau yang dapat melukai orang lain dan diri sendiri. Lagi pula sayang kan. Bila sebulan penuh saat berpuasa, lisan sudah dilatih untuk tadarus, zikir, hingga berdoa yang baik-baik. Tapi akhirnya dikotori saat silaturahim lebaran.

 

Saatnya menjaga lisan di momen lebaran. Hadist Nabi Muhammad SAW menyebut, “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (H.R. Al-Bukhari). Maka penting menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang kotor atau menyakitkan. Karena lisan yang terjaga dengan baik, insya Allah akan menjadi “jembatan” hidup yang baik, tubuh yang selamat, dan mendatangkan rezeki yang berkah. Lisan yang baik pun menjadi penenang hati, penentram jiwa.

 


Jangan kotori suasana lebaran dengan lisan yang tidak baik, tidak sepantasnya. Sehingga membuat orang lain tersinggung, apalagi tersakiti. Patut diketahui, setidaknya ada 5 (lima) keutamaan pentingnya seseorang menjaga lisan, yaitu:

1.    Mendapatkan derajat mulia sebagai orang muslim. Seperti ditegaskan “Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain.” (HR. Bukhari).

2.    Menjadi bukti kadar ketakwaan yang meningkat. Karenan kuat-lemahnya kualitas takwa seseorang tercermian dari apa yang diucapkan. Maka penting, tutur kata dijaga setiap saat.

3.    Menjadi amalan yang berpahala. Lisan yang baik dan terjaga sejatinya menjadi amalan yang memberikan keberkahan dan berselimutkan pahala yang melimpah.

4.    Menyelamatkan di akhirat. Siapapun yang tidak mampu menjaga lisannya selama di dunia, maka binasalah di akhirat.

5.    Mendapat ganjaran surga. Selain dijauhkan dari neraka, lisan yang terjaga “dijanjikan” mendapat ganjaran surga.

 

Maka siapapun, jadikanlah momen lebaran untuk melatih menjaga lisan. Lebaran memakai baju baru boleh, memakai sandal baru boleh. Tapi jauh lebih penting menjaga lisan dan berperilaku yang baik. Untuk saling menghargai dan saling memaafkan dengan ikhlas dan tulus.

 

Karena sebaik-baik manusia adalah mereka mampu menjaga lisannya. Agar tidak membuat orang lain bisa tersinggung. Menjaga lisan dari ucapan-ucapan kotor karena sejatinya Allah SWT tidak menyukai perkataan yang kotor dan buruk. Salam literasi!