Rabu, 21 Mei 2025

Pak Darto, Gelisah di Hari Tua (Cerpen Pensiunan)

Setiap pukul lima sore, kantor seolah melepaskan napas panjang. Kursi-kursi berdecit, komputer dimatikan, dan langkah kaki bergema di lorong panjang menuju parkiran. Di antara mereka, Pak Darto, pegawai bagian administrasi yang sudah bekerja selama 27 tahun, mengemasi meja kerjanya dengan rapi, seperti biasa.

 

Tapi sore itu ada yang berbeda.

Bukan karena langit mendung atau klakson mobil bersahutan, melainkan karena bisikan kecil yang terus mengganggunya sejak pagi: "Tinggal tiga tahun lagi pensiun, Dar."

Tiga tahun, sama dengan 1.095 hari. Waktu yang terus berkurang, dan tabungan yang tak kunjung cukup. Uang gaji yang selalu habis untik biaya hidup bulanan.

 

Di halte busway TransJakarta, Pak Darto duduk sendiri. Melihat seorang anak muda berbaju rapi menaiki mobil listrik, tertawa sambil berbicara melalui headphone-nya. "Mungkin anak itu bahkan sudah punya dana pensiun dan tabungan yang cukup" pikir Pak Darto sambil tersenyum kecut.

 

Dulu, ia berpikir loyalitas pada kantor adalah segalanya. Selalu datang tepat waktu, tidak pernah menolak lembur, bahkan tak pernah berpikir pindah kerja. Ia hidup untuk bekerja. Kata kawannya yang sudah pensiun lebih dulu, ternyata uang pensiun dari kantor hanya cukup untuk hidup dua tahun, tiga tahun paling lama. Pak Darto kepikiran terus, sebentar lagi dia mau pensiun.

 

Anak-anaknya belum semua mapan. Istrinya, Bu Rini, masih berharap bisa membuka warung kecil di kampung halaman. Tapi dari mana modalnya?

"Kalau sakit nanti gimana? Kalau anak-anak belum siap, apa aku jadi beban?" bisik gelisah Pak Darto itu makin nyaring.

 

Busway pun datang. Pak Darto naik pelan-pelan, duduk di kursi dekat jendela. Kota berpendar cahaya, tapi pikirannya gelap. Ia mengingat masa mudanya, saat gaji pertama dibelikan motor, bukan ditabung. Saat tunjangan habis untuk cicilan, bukan menyiapkan dana pensiun.

 

Ia juga teringat pada kawannya, Pak Joko, yang pensiun dua tahun lalu. Dulu mereka duduk di meja yang sama. Tapi kini, Pak Joko sesekali menghubunginya, bercerita betapa sulit hidup hanya dengan uang pensiun dari kantor. Semuanya pas-pasan dan paling bertahan dua tahun setelah pensiun. "Aku kira cukup, Dar. Tapi ternyata, habis buat biaya hidup bulanan kebutuhan harian. Apalagi kalua sakit, pasti ludes. Aku nggak nyangka hidup setelah pensiun itu... sepi dan mahal."

 

Malam itu setibanya di rumah, ia membuka laci lama yang penuh dokumen. Ia menemukan brosur tentang DPLK yang pernah dibagikan di kantor lima tahun lalu. Waktu itu, ia anggap brosur itu seperti iklan biasa. Kini, ia baca perlahan, kata per kata, seperti seseorang yang baru belajar mengenal masa depan. Apa sih artinya mempersiapkan pensiun? Kata batinnya.

 


Pak Darto mulai membuka-buka ponsel, mencari video tentang perencanaan pensiun. Ia menonton dengan saksama, sesekali mencatat. “Mulailah dari yang kecil, asal konsisten,” kata seorang edukator dana pensiun di YouTube. Kata-kata itu menempel di kepalanya.

 

Besok paginya, ia datang lebih awal ke kantor. Bukan untuk kerja lembur, tapi untuk menemui bagian HR.

"Mbak Santi, saya boleh tanya soal program pensiun tambahan itu? Yang dulu sempat dibagikan? Saya tertarik ikut."

 

Mbak Santi tampak terkejut, tapi senang. "Tentu, Pak. Kalau Bapak mulai sekarang, masih bisa kumpul cukup untuk modal kecil. Kita bisa atur potongan dari gaji bulanan. Nanti kami di HR akan bantu membayarkan iurannya dari gaji Bapak.."

Sore harinya, ia duduk di meja makan bersama Bu Rini. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, percakapan mereka bukan tentang harga sembako atau kuliah anak, melainkan tentang hari tua.

"Bu, nanti kalau kita pulang kampung, kita bisa buka warung kecil. Mungkin nggak besar, tapi cukup buat kita sibuk, dan... hidup. Aku juga mulai nabung di dana pensiun, lumayan 3 tahun sebelum pensiun."

Bu Rini tersenyum. Bukan karena warungnya, tapi karena akhirnya, Pak Darto memilih untuk tidak hanya gelisah. Tapi juga bersiap.

 

Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Setiap kali melihat kalender, Pak Darto tidak lagi menghitung waktu yang habis, tapi waktu yang bisa dimanfaatkan. Ia mulai berbicara dengan rekan-rekannya. Mengajak berdiskusi soal masa pensiun. Beberapa menanggapi dengan tawa sinis, tapi sebagian lain mendengarkan dengan serius.

 

Hingga suatu hari, Pak Darto diminta berbagi informasi di acara internal kantor bertema "Mempersiapkan Pensiun Sejak Dini". Ia tak menyangka, kegelisahannya bisa berubah menjadi suara yang didengar orang lain. Rekan-rekan sekantor-nya pun menyimak dengan seksama.

 

“Rekan-rekan, saya memang terlambar ikut dana pensiun. Tiga tahun jelang pensiun. Tapi inilah kesadaran yang saya harus bagikan ke rekan-rekan. Siapkan masa pensiun sejak dini, mulailah menabung di DPLK. Untuk hari tua kita sendiri, agar tak gelisah dan merana”.

 

Jarum jam terus berputar. Tapi untuk Pak Darto, waktunya baru saja dimulai untuk sadar pensiun. Kata hatinya, “dunia boleh berlari tapi aku tidak boleh berhenti”. Untuk menyiapkan hari tua yang tenang. Karena kalua bukan aku, mau siapa lagi?



Apa Motif Kamu Membaca Buku?

 

Kali ini saya menyindir diri sendiri. Saat membaca buku, saya meminta difoto. Maka terpampanglah “foto saya sedang membaca”. Lalu, apa yang dimaknakan orang lain atau syaa sendiri tentang “membaca buku” yang difoto?

 

Sebuah sindiran cerdas sudah dimulai oleh Russell, seorang filsuf dan logikawan. Tentang motif seseorang dalam membaca buku, untuk mengkritisi potensi kemunafikan sosial dengan cara yang halus namun tajam. Menjadikan buku sebagai “alat” entah untuk apa, karena yang tahu adalah “si dia” yang membaca buku sambil di foto.

 

Hanya ada dua motif orang membaca buku di zaman begini:

Satu, menikmati bacaan (enjoyment). Ini adalah alasan paling otentik dan murni. Membaca karena tertarik pada isi, ide, cerita, atau karena buku itu memberi makna dan kesenangan batin tersendiri. Pembaca semacam ini cenderung membaca secara reflektif dan mendalam, ada kesadaran akan pentingnya membaca buku.

Kedua, menyombongkan diri (boasting). Ini adalah motif sosial yang lebih dangkal. Orang membaca bukan karena menikmati atau ingin memahami isi buku, tetapi agar bisa menunjukkan status intelektual di hadapan orang lain. Ini lazim terjadi terutama pada bacaan yang dianggap “berat”, klasik, atau terkenal.

 


Adalah Russell yang menyindir kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial bahkan dalam aktivitas intelektual seperti membaca buku. Ia mengajak kita untuk jujur pada diri sendiri: apakah kita membaca karena ingin tahu dan berkembang, atau sekadar ingin dipandang Kuti buku atau pintar?

 

Di zaman begini, di era media sosial, sindiran tentang motif membaca buku sangat relevan. Karena sekarang, banyak orang memajang buku-buku jadi latar belakang, jadi status, atau posting di medsos bukan untuk membagikan pemikiran. Tapi untuk membangun citra. Sindiran ini untuk diri saya sendiri, agar kembali pada esensi membaca yaitu menikmati dan memahaminya.

 

Tapi, bila pun motif membaca pun untuk menyombongkan diri. Bagi saya,tidak ada salahnya dan baik-baik saja. Barangkali masih ada orang yang terinspirasi untuk membaca buku gara-gara notif menyombongkan diri saat membaca buku. Seperti mencitrakan taman bacaan oun tidak masalah, daripada hanya mencitrakan diri yang hanya kamuflase. Lebih kamuflase bersama buku daripada kamuflase diri. Salam literasi!

 

Inilah 5 Sebab Kesenjangan Literasi Dana Pensiun

Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 menyebut tingkat literasi dana pensiun di Indonesia mencapai 27,79%, menurun dibandingkan SNLIK tahun 2022 yangg 30,46%. Bila dibandingkan dengan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia pada umumnya yang mencapai 66,46%, tentu tingkat literasi dana pensiun masih tergolong rendah. Melalui tingkat literasi danapensiun dapat dikatakan, hanya 2,7 orang yang paham akan dana pensiun. Berarti sebagian besar orang di Indonesia tidak tahu tentang dana pensiun. Sementara dari tingkat inklusi atau kepemilikan dana pensiun pasti lebih kecil lagi, saat ini hanya 0,5 orang (tidak sampai 1 orang) yang punya dana pensiun.

 

Industri dana pensiun di Indonesia,suka tidak suka, saat ini dihadapkan oleh tantangan besar akan adanya kesenjangan literasi dana pensiun di masyarakat. Literasi dana pensiun adalah kemampuan individu untuk memahami dan menerapkan informasi serta konsep dana pensiun untuk membuat keputusan yang tepat dalam mempersiapkan masa pensiun. Rendahnya tingkat literasi dana pensiun menjadi cermin belum optimalnya edukasi dan sosialisasi akan pentingnya dana pensiun di kalangan pekerja atau masyarakat.

 

Beberapa contoh konkret  kesenjangan literasi dana pensiun yang terjadi di masyarakat antara lain:

1.       Tidak paham pentingnya dana pensiun. Banyak orang cenderung memprioritaskan kebutuhan dan keinginan jangka pendek (konsumsi, hiburan, gaya hidup) daripada memikirkan masa depan pensiun yang dianggap masih lama. Wajar, masyarakat tidak paham pentingnya dana pensiun dan berpotensi mengalami masalah finansial di hari tua akibat tidak adanya kesinambungan penghasilan di masa pensiun sebagai pengganti gaji bulanan.

2.       Tidak mengerti mekanisme dana pensiun. Saat ini banyak pekerja tidak tahu cara kerja dana pensiun. Dana pensiun disamakan dengan asuransi jiwa, ada pula yang menganggap sama dengan reksa dana atau tabungan di bank. Bingung apa sih dana pensiun, apalagi konsep iuran dan investasi di dana pensiun. Tidak ada yang memberi tahu manfaat dan biaya yang terjadi di dana pensiun?

3.       Tidak tahu cara menjadi peserta dana pensiun. Tidak sedikit masyarakat yang memberi komentar rumitnya proses pendaftaran dana pensiun, bahkan tidak tahu cara mendaftar ke program dana pensiun seperti DPLK (masih manual dan hurufnya kecil-kecil). Bila berminat pun, tidak tahu berapa banyak iuran yang harus disisihkan secara teratur untuk masa pensiun?

4.       Minimnya edukasi dan sumber informasi yang mudah diakses. Tidak banyak edukasi yang dilakukan tentang dana pensiun, termasuk langkanya informasi tentang dana pensiun yang dapat diakses masyarakat. Ke mana masyarakat belajar dan bisa lebih paham tentang dana pensiun? Website, iklan, atau artikel tentang dana pensiun? Kurangnya edukasi dana pensiun yang komprehensif dan berkelanjutan menjadi kendala tersendiri di dana pensiun.

5.       Salah persepsi tentang dana pensiun. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap dana pensiun dapat dicairkan secara “sekaligus” padahal dana pensiun spiritnya dalah menyediakan kesinambungan penghasilan di hari tua, seperti “gaji bulanan” saat masih bekerja. Siapa yang harus memengertukan hal ini?

 


Sebagai bukti tantangan literasi dana pensiun di Indonesia, seperti Survei Dana Pensiun terhadap 100 pekerja milenial yang dilakukan Syarifudin Yunus, Edukator Dana Pensiun DPLK SAM pada Maret 2025 yeng menyimpulkan 1) 54% pekerja milenial tidak pernah mendapat informasi secara langsung tentang pentingnya mempersiapkan masa pensiun dan 2) 61% pekerja milenial tidak tahu DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan), tahunya bank, reksa dana, atau asuransi jiwa.  

 

Bercermin dari kondisi tersebut, sangat jelas literasi dana pensiun dihadapkan pada tantangan yang besar. Tentang bagaimana meningkatkan literasi dana pensiun yangsejalan dengan peningkatan inklusi dana pensiun. Membuat banyak orang “makin paham” dana pensiun dan akhirnya “mau memiliki” dana pensiun. Inilah “pekerjaan rumah” industri dana pensiun yang harus dioptimalkan. Salam #YukSiapkanPensiun#EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM



Senin, 19 Mei 2025

Loyalitas dan Dedikasi Relawan TBM, Rayakan Ultah di Taman Bacaan

Jadi relawan taman bacaan memang tidak mudah. Karena sifat relawan ya begitu, sukarela dalam memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk taman bacaan. Maka status relawan itu tidak ada yang ajeg, melainkan hanya dipelihara dan dirawat agar komitmen dan konsistensinya langgeng. Doa pengelola taman bacaan kepada relawan, hanya komit dan konsisten sepanjang waktu.

 

Karena sudah jadi rahasia umum, relawan taman bacaan biasanya komitmennya tidak stabil. Sering bersifat sementara atau musiman, sehingga sulit diandalkan dalam jangka panjang. Sangat tergantung dari “mood personal”, bila motivasinya turun maka komitmennya pun kendor. Relawan TBM pun waktunya terbatas, hanya aktif di waktu luang. Karenanya relawan TBM pasti sulit dikontrol atau diarahkan bahkan bila “baperan” pasti “pergi jauh” dari TBM. Hilanglah kesempatan mengabdi, berbuat baik, dan menebar manfaat kepada banyak orang.

 

Memang butuh strategi untuk manajemen relawan. Lagi-lagi relawan sifatnya sukarela, jadi mudah untuk pergi. Mengelola relawan, tidak cukup hanya tugas tanggung jawab. Tapi harus memberikan pemahaman bahwa relawan adalah “pengabdian yang mulia”. Tidak ada bayaran di dunia tapi bayarannya oleh langit. Akibat berkiprah secara sosial tanpa pamrih, tanpa imbalan apapun.

 

Maka bersyukur TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor soal relawan, hingga kini memiliki 6 wali baca tetap dan 18 relawan yang setia. Apalagi tim relawan TBM Lentera Pustaka dikomandoi oleh Mustopa Alwi sebagai Koordinator Relawan. Alwi yang diangkat sejak Oktober 2024 lalu, tergolong luar biasa berkiprah di TBM Lentera Pustaka. Dia nge-kost di Setiabudi JakPus, bekerja di Balaraja Tangerang dan setiap hari Minggu selalu ada di TBM Lentera Pustaka. Berkendara motor Jakarta-Bogor setiap Minggu, berangkat pagi pulang larut malam. Di usia muda, mau berkorban untuk taman bacaan dan bersusah-payah mengabdi secara sosial, sementara anak muda lain sedang asyik menikmati secangkir kopi di kafe-kafe. Patut diacungi jempol! Dan kebetulan pada 17 Mei 2025 ini, Alwi berulang tahun ke-32 dan merayakan ulang tahunnya bersama relawan lain di TBM Lentera Pustaka. Seru dan menyenangkan hingga bisa jadi kenangan.  Sebagai apresiasi dan terima kasih atas pengabdiannya di TBM Lentera Pustaka, saya pun menuliskan catatan literasi ini. Selamat ulang tahun Alwi, semoga sehat, berkah dans segera mendapat jodoh yang baik ya.

 


Alwi dan teman-teman relawan lain di TBM Lentera Pustaka patut diapresiasi. Membantu anak-anak membaca, mengajar berantas buta aksara, menjalankan motor baca keliling, memotivasi abak-anak yang kendor membacanya, mengajar kelas prasekolah, mengelola koleksi buku, hingga mempromosikan minat baca dan merawat taman bacaan, baik secara fisik maupun administratif. Tujuan sederhana, agar taman bacaan tetap asyik dan menyenangkan bagi anak-anak dan pengguna layanannya. Agar kegemaran membaca anak-anak meningkat dan tersedia akses bacaan yang berkualitas.

 

Alwi dan relawan TBM Lentera Pustaka, mungkin hanya sedikit dari relawan yang begitu loyal dan berdedikasi untuk taman bacaan. Karena loyal dan dedikasi mencerminkan sikap dan komitmen mereka terhadap tujuan dan nilai dari taman bacaan atau kegiatan literasi yang didukung.

 

Relawan TBM yang loyal, berarti setiap pada taman bacaan. Tidak mudah berpaling atau meninggalkan taman bacaan meskipun menghadapi tantangan. Selalu menjaga nama baik dan reputasi taman bacaan, serta mendukung visi misi TBM Lentera Pustaka. Relawan berdedikasi, berarti mau memberikan waktu, tenaga, dan pikiran secara tulus tanpa mengharapkan imbalan. Tanpa pamrih berbuat baik dan menebar manfaat di TBM. Selalu memiliki semangat untuk terus berkontribusi di taman bacaan.

 

Karenanya sangat pantas berucap “terima kasih” kepada relawan taman bacaan yang selalu siap berkembang demi meningkatkan dampak positif dari kontribusinya kepada masyarakat. Bagi relawan, loyalitas dan dedikasi adalah fondasi penting agar bisa memberi manfaat secara berkelanjutan, dipercaya, dan menjadi bagian dari perubahan yang berarti untuk masyarakat. Relawan TBM memang is the best! Salam literasi #RelawanTBM #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka




Sabtu, 17 Mei 2025

Survei Komentar Netizen tentang Masa Pensiun Orang Tuanya, 77% Komen Negatif

Laporan Asian Development Bank (ADB) bertajuk “Aging Well in Asia” (Mei 2024) mengungkap kalau 50% penduduk lansia (+60 tahun) atau bisa disebut pensiunan di Indonesia mendapat penghasilan dari transferan keluarga dan anak-anaknya. Artinya, 1 dari 2 lansia yang ada sangat mengandalkan transferan anaknya untuk biaya hidup. Kondisi ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri atas kehidupan kaum lansia di hari tua atau pensiunan ketika sudah tidak lagi bekerja.


Tidak punya dana pensiun dan tidak memiliki perencanaan hari tua dianggap jadi penyebabnya. Minimnya literasi keuangan dan kesiapan untuk menghadapi masa pensiun di kalangan masyarakat menjadi salah satu isu penting yang disorot oleh ADB. Dalam skala luas, ditemukan pula bahwa 40% masyarakat lansia di Asia-Pasifik tidak punya dana pensiun, yang membuat mereka punya ketergantungan tinggi terhadap transfer dari keluarga atau anak. Tercatat ⅓ sampai ⅔ penghasilan lansia di sebagian besar negara berasal dari transferan keluarga atau anaknya.


Menariknya, bukan terletak pada survei-nya. Tapi justru komentar yang diberikan netizen terhadap hasil survei “Aging Well in Asia” dari ADB. Dalam postingan Instagram GoodStats (https://www.instagram.com/p/DByDVKQza43/), Syarifudin Yunus selaku edukator dana pensiun DPLK SAM menyimpulkan terdapat 23% komentar bernada “positif”, sedangkan 77% bernada “negatif”. Survei atas komentar ini dilakukan terhadap 30 komentar pertama yang terdapat pada postingan tersebut.

 

Di antara komentar yang bernada positif, antara lain; “Kita bukan bahas mengenai hak & kewajiban, Atau mengenai agama dll. Tetapi kita concern mengenai FINANCIAL LITERACY/LITERASI KEUANGAN. Kalau setiap orang tua bijak dan memahami bidang ini, Maka ada harapan, GENERASI BERIKUTNYA AKAN LEBIH BAIK”. Ada pula komentar positif lainnya, mebyebut “Nenek gua menolak ditransfer cucu/anaknya, dampak rajin menabung, deposito dimana2 punya kontrakan 10 kamar, padahal di umur 20 tahun masih jadi pembantu, dan kakek gua supir bus trayek”. Komentar ini dianggap positif karena berpihak pada konsep “kemandirian finansial” orang tua di masa pensiun.

 

Sedangkan komentar negatif lebih dominan, mungkin karena cara pandang yang belum berubah sekaligus masih “abu-abunya” persepsi tentang “anak sebagai investasi orang tua”. Contoh komentar negatif antara lain: “Salah satu yang membuat rezeki seret itu, PELIT SAMA ORANGTUA”. Ada pula yang menyatakan “Banyak anak, banyak Rezeki", mungkin ini yg d maksud, Orang tua jadul mah gitu, smg otru sekarang nggak mnggantungkan hidup ke anak2nya, krn sdh memiliki dana pensiun dan tabungan utk hari tua”.

 

“Ini semua terjadi karena mindset kebanyakan orang tua yang menganggap anak sebagai investasi pensiunan mereka. Yg kesel dari pemikiran orang² zaman dulu, anak adalah investasi, anak blm punya apa-apa udah disuruh nikah, sementara dia juga berharap anaknya nanggung kehidupan ortu juga”

 

“Komen-komennya pada kenapa sih, sudah sewajarnya kita sebagai anak membantu orang tua, orang tua sudah waktunya istirahat dan tenaganya tidak sekuat anak anaknya. Mereka bergantung ke pada siapa lagi kalau bukan anaknya, apa tidak kasian melihat orang tua kalian kerja di waktu tua”.

 

Mencermati komentar-komentar survei “Aging Well in Asia” tersebut, sebenarnya tidak semestinya diperdebatkan dalam konteks hubungan orangtua vs anak. Melainkan isu penting pada soal “kemandirian finansial orang tua” di masa pensiun. Karena itu, diperlukan perencanaan hari tua bagi setiap pekerja untuk masa pensiunnya. Karena bila tidak, maka mata rantai untuk orang tua yang pensiun bergantung kepada anak-anaknya sulit untuk diputus. Jujur saja, ketika anaknya mampu tidak masalah membantu orang tua. Tapi bagaimana bila anaknya tidak mampu?

 


Pentingnya dana pensiun atau perencanaan hari tua, justru dapat memutus “sandwich generation” di Indonesia. Di mana kelompok orang dewasa yang bekerja (berusia antara 30 hingga 50 tahun) berada di tengah-tengah tanggung jawab dan beban ekonomi untuk  1) merawat orang tua yang sudah lanjut usia, 2) menghidupi dan membesarkan anak-anak, dan 3) menafkahi pasangan dan keluarga inti sehari-hario. Pekerja yang "terjepit" di antara dua generasi yang sama-sama membutuhkan dukungan, baik secara finansial, emosional, maupun fisik.

 

Sandwich generation pasti memiliki anak-anak yang masih membutuhkan biaya pendidikan dan pengasuhan. Masih punya orang tua lanjut usia yang membutuhkan perhatian atau biaya hidup dan Kesehatan, Dan akhirnya mengalami tekanan finansial, karena harus mengatur keuangan untuk dua arah (ke atas, ke bawah, dan ke pasangan). Risikonya, terkena beban emosional dan stres akibat tanggung jawab triple. Sementara faktanya, tidak sedikit anak-anak yang masih sulit menabung untuk masa pensiun karena kebutuhan biaya hidup yang semakin membengkak dari tahun ke tahun.

 

Survei yang menyebut separuh dari penduduk lansia atau pensiunan di Indonesia sangat mengandalkan transferan keluarga dan anak-anaknya, tentu bukan untuk diperdebatkan dari sisi “anak sebagai investasi orang tua”. Akan tetapi harus dimaknai akan pentingnya pekerja atau orang tua untuk menyiapkan kemandirian finansial di hari tua, sehingga tidak lagi bergantung kepada keluarga atau anak-anaknya. Karena itu, harus ada keterlibatan negara untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya dana pensiun kepada masyarakat, di samping pentingnya kampanye #SadarPensiun bagi pekerja di Indonesia. Untuk masa pensiun yang lebih baik, yang tidak bergantung kepada anak-anaknya. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 

Jumat, 16 Mei 2025

Kurikulum Cinta, Apa Ada?

Banyak orang bilang nggak bisa hidup tanpa cinta. Omong kosong, hidup itu tergantung nafas atau udara. Maka lebih penting oksigen daripada cinta. Ada pula yang hampir kehilangan kewarasan karena cinta.  Status nggak jelas hubungan biasa saja tapi meminta untuk setia. Makanya ada yang bilang, besok-besok nggak usah pakai cinta malah ribet. Setuju nggak?

 

Hanya orang bodoh yang gampang jatuh cinta. Bersedia menerima luka tapi masih bilang ikhlas. Sudah tahu terus terluka karena cinta tapi tetap tidak ingin melepasnya. Tetap mencintai walau penuh rasa sakit. Bahkan ada  cinta yang sangat bodoh. Untuk terus menunggu, padahal orangnya sudah pergi jauh. Berharap pada sesuatu yang sudah hilang. Maka wajar, makin banyak orang merasa bodoh karena cintanya.

 

Apa ada cinta sejati? Sama sekali nggak ada. Cinta sejati hanya ilusi kesempurnaan. Kan semua manusia pasti punya kekurangan dan keterbatasan. Maka nggak ada satupun manusia yang bisa dituntut sempurna, termasuk pasangan kita. Bila hanya mencari pasangan yang sempurna, kita akan selalu kecewa, karena kesempurnaan itu tidak pernah benar-benar ada. Sempurna itu hanya ilusi.

 

Kita sering lupa. Cinta itu hanya bagus untuk tema cerita sinetron. Cinta yang dijadikan kekuatan kata para penyair. Bahkan cinta yang selalu mengikat tokoh dalam cerita novel. Lalu, kenapa kita mau bercinta seperti cerita film atau novel? Sangat bodoh, bila cinta dibikin kamuflase. Cinta itu nggak pernah bisa diukur. Kemungkinan cinta hanya dua, dipertahankan atau dihancurkan. Tidak ada yang lain, karena cinta isinya cuma konsekuensi. Maka siapapun yang mudah jatuh cinta, harus terima konsekuensinya. Sama sekali ilusi, bila ada yang beranggapan. Bahwa kita menerima cinta yang layak kita mendapatkannya. Apa ada cinta begitu?

 

Sudah 29 tahun saya menjalani cinta, dengan pasangan surutnya. Tidak ada yang lain, selain mau mempertahankan atau menghancurkannya. Ketika di otak kita hanya orang dan kekurangan pasangan, maka hancurlah cinta itu. Sebaliknya bila kita, menjadikan cinta lebih matang dari waktu ke waktu dan mampu menerima kekurangan pasangan dengan sepenuh hati. Maka cinta itu layak dipertahankan. Cinta itu nggak ada yang sejati. Tapi cinta itu pasti indah ketika dua jiwa mau saling memahami dan tetap memilih untuk bersama, meskipun mereka tahu satu sama lain tidak sempurna. Bertahan pada cinta, begitu cinta di Pendopo Lawas.

 

“Apa yang menjadi takdirmu akan menemukanmu” atau “Apapun yang ditakdirkan untukmu, akan mencari jalan untuk menemukanmu”, begitu kaya Ali bin Abi Thalib. Cinta itu hanya salah satu cara untuk takdir menemukan tempatnya. Karena apapun yang telah ditetapkan akan secara otomatis terwujud dalam hidup seseorang, termasuk cinta.

 


Dalam filsafat Islam, “kurikulum cinta” bukanlah romantisme murahan tapi menjadi cara penyucian jiwa. Cinta nggak boleh karena nafsu atau membabi buta karena suka. Tapi cinta harus berada di tengah, tidak berlebihan dan tidak mengabaikan. Cinta nggak boleh tumbuh dari pikiran ekstrem. Tapi cinta berkembang dari ilmu, akhlak, dan kesabaran; bukan dari fanatisme atau ketakutan. Maka cinta harus mampu menumbuhkan kasih sayang yang adil, mencintai karena Allah, dan membenci karena ilmu. Cinta yang menembus batas menuju makna. jadi, kurikulum cinta apa ada sebenarnya?

 

Maka hati-hati memaknai cinta. Rileks saja dan tidak usah berjuang mati-matian untuk cinta. Karena cinta bukanlah soal menemukan, melainkan menciptakan. Itu berarti, cinta bukan soal menuntut, tetapi memahami. Aneh, bila bilang cinta adalah segalanya tapi bertindak sebatasnya. Bilang akan selalu ada untuknya, tapi lebih sering hilang saat diperlukan. Maka ada benarnya, hanya orang bodoh yang menyerahkan segalanya untuk orang yang tidak pantas dicintainya.

 

Cinta itu hanya ilusi. Bagi orang-orang yang punya harapan lebih pada cinta. Terlalu bergantung dan percaya pada cinta, sementara cinta sendiri tetap liar dan kemana-mana. Kok masih ada yang berpikir, “aku tidak bisa hidup tanpa cinta”.

 

Satu yang pasti, orang yang bertuhan pada cinta. Maka dialah orang paling susah dikasih tahu atau dinasihati oleh siapapun. Salam literasi!




Terpilih sebagai Mitra KKN Tematik Literasi 2025 Perpusnas RI, TBM Lentera Pustaka Harapkan Ini

Sebagai momen 45 tahun hadirnya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dan memperingati Hari Buku Nasional, 17 Mei 2025, Perpusnas RI akan meluncurkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi dan Relawan Literasi Masyarakat (Relima). KKN Tematik Literasi dari Perpusnas RI nantinya akan menggandeng 15.000 mahasiswa dari 22 perguruan tinggi di seluruh Indonesia dan akan ditempatkan di 1.000 lokus di seluruh Indonesia.

 

KKN Tematik Literasi ini merupakan upaya bersama antara Perpusnas RI dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk mengawal program literasi di masyarakat, agar program distribusi 10 juta buku untuk taman bacaan masyarakat (TBM) di masing-masing daerah tidak sebatas menjadi kegiatan membaca buku belaka, tetapi berjalan dengan program-program kreatif dari mahasiswa untuk mewujudkan ekosistem budaya baca yang produktif dan berkelanjutan di tengah masyarakat.

 

TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, sebagai salah satu mitra taman bacaan yang menjadi lokus KKN Tematik Literasi menyambut positif inisiasi yang dilakukan Perpusnas RI sebagai ikhtiar bersama untuk memperkuat layanan taman bacaan dan meningkatkan kegemaran membaca masyarakat. Melalui KKN Tematik Literasi ini jadi bukti hadirnya pemerintah dalam mendukung kegiatan literasi dan pembudayaan kegemaran membaca yang sudah dirintis taman bacaan, utamanya di kampung-kampung. Pada KKN Tematik Literasi 2025 ini, TBM Lentera Pustaka akan kedatangan 8 mahasiswa mulai 23 Juni s.d. 1 Agustus 2025, yang akan mengabdi selama 40 hari untuk untuk menambah giat membaca bersama masyarakat.

 


“Sebagai salah satu mitra terpilih dari Perpusnas RI, TBM Lentera Pustaka menyambut positif program KKN Tematik Literasi tahun 2025 ini. Dari surat yang disampaikan, program ini melibatkan 29 TBM atau perpustakaan di Jabar, 23 di Jateng, 7 di Jatim dan 1 di Lampung. Semoga bisa jadi program yang bagus untuk meningkatkan aktivitas membaca yang fungsional, bukan hanya asal baca" kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka hari ini (16/5/2025).

 

Bagi TBM Lentera Pustaka, KKN Tematik bukan kali pertama. Sebagai mitra IPB, TBM Lentera Pustaka pernah menjadi lokus KKN Tematik mahasiswa pada tahun 2021 dan 2022. Saat itu mahasiswa IPB membuatkan sistem database buku yang diberi nama “SISTABA (SIStem Taman BAcaan) Lentera Pustaka” sebagai acuan basis data buku bacaan dan identitas anggota sebagai kontribusi nyata mahasiswa kepada taman bacaan. Melalui SISTABA yang dibangun, seluruh koleksi buku bacaan dan identitas anak pembaca TBM Lentera Pustaka menjadi lebih mudah dikelola dan di-update.

 

Tahun berikutnya, KKN tematik IPB melakukan kegiatan di TBM Lentera Pustaka seperti: 1) sosialisasi pencegahan dan penanganan covid-19, 2) pembuatan hand sanitizer dan distribusi masker, 3) penyuluhan pembuatan pupuk organik cair (POC) dan pekarangan pangan lestari (P2L), dan 4) donasi buku.

 

Harapannya, melalui KKN Tematik Literasi tahun 2025 yang diinisiasi Perpusnas RI, mahasiswa dapat berkontribusi lebih baik dam berkualitas untuk penciptaan ekosistem budaya baca di masyarakat. Karena membaca, sejatinya adalah dari untuk dan oleh kita Bersama. Harus ada kolaborasi dan sinergi yang produktif di taman bacaan. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #KKNTematikLiterasi #PerpusnasRI



Kamis, 15 Mei 2025

Ajak Anak ke TBM, Berarti Memilih Circle untuk Masa Depan yang Positif

Saat ini tidak kurang 70-an ibu-ibu di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor selalu mengantar anaknya untuk membaca di taman bacaan. Ada yang seminggu 5 hari atau paling minimal 3 kali seminggu, para ibu berada di taman bacaan. Hanya untuk mengantar anaknya membaca buku atau belajar calistung dan bermain. Kenapa ibu-ibu itu mau mengantar anaknya ke taman bacaan?

 

Mungkin sekadar ilustrasi saja. Banyak orang tua rela membayar mahal sekolah anaknya. Bukan demi Pelajaran, kurikulum, atau fasilitas. Tapi karena sadar lingkungan anaka yang positif itu penting. Memilih sekolah berarti memilih lingkungan yang mendukung. Persis sama dengan TBM (Taman Bacaan Masyarakat), sekalipun gratis, berarti kita sedang memilih lingkungan yang baik untuk anak.

 

Taman bacaan bukan hanya tempat membaca atau belajar. Tapi tempat untuk membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara untuk melihat dunia. Selama 2 jam berada di TBM cukup sebagai penyeimbang waktu di sekolah yang 6-8 jam sehari. Membiasakan dekat dengan buku, sudah cukup bagi anak-anak untuk berada di lingkungan yang baik.

 

Seperti di sekolah, di taman bacaan pun anak-anak kita akan: 1) dengar omongan teman dan akan mempengaruhi gaya bicaranyayang akan tiru, 2) punya nilai-adab yang akan tertanam dalam dirinya, 3) dapat energi lingkungan yang akan mereka bawa pulang, dan 4) lihat cara wali baca – relawan membimbing mereka. Saat mengajak anak ke TBM berarti orang tua atau ibu sedang memilih: a) siapa yang akan jadi teman anaknya, b) bagaimana cara anak menyikapi masalah, dan c) pola komunikasi yang akan dibawa ke rumah?

 

Lingkungan sekolah, lingkungan taman bacaan sama dengan “circle” anak. Mereka akan tumbuh bersama, saling mempengaruhi, dan saling membentuk keptribadian. Sekolah dan taman bacaan sama pentingnya. Mereka akan saling: 1) menguatkan atau menjatuhkan, 2) menjadi tempat berbagi cerita atau sumber tekanan, dan 3) memberi dukungan atau membentuk rasa takut pada anak.

 

Ketika anak sedang mencari jati diri, “circle” itu bisa menjadi cermin yang menentukan. Soal bagaimana anak memandang dirinya sendiri? Di sekolah atau di taman bacaan, anak akan selalu menerima setiap kata yang mereka dengar. Dan setiap perlakuan yang mereka terima, pelan pelan menjadi suara batin yang mereka bawa sampai dewasa nanti.

 

Jadi begitu penting, cara orang tua atau para ibu melihat taman bacaan. Bahwa taman bacaan bukann cuma tempat baca buku, tempat membentuk kebiasaan baca atau bermain bersama. Tapi taman bacaan itu soal tempat 1) apakah anak dihargai sebagai individu, 2) bagaimana pedulinya wali baca dan relawan kepada anak-anak, dan 3) apakah anak-anak belajar empati bukan hanya kompetisi?

 


Zaman begini, jujur saja, susah cari tempat pendidikan anak yang gratis seperti TBM. Anak-anak dikasih kaos seragam minimal 2 buah, ibu-ibunya punya seragam, ada event ceria setiap hari Minggu, ada motivasi dari orang dewasa, ada kampanye ayo baca, ada jajanan kampung gratis bulanan, bahkan fasilitasnya tergolong memadai. Ada kebun bacam, ada ruang baca, ada rooftop baca, hingga literasi digital. Ada toilet dan ada musala serta parkiran khusus pengguna layana TBM. Semuanya itu ada di TBM Lentera Pustaka yang kini melayani 223 anak pembaca aktif dan 360-an pengguna layanan setiap minggunya.

 

Sekali lagi, taman bacaan bukan cuma tempat baca buku. Tapi tentang “value” yang ditanamkan kepada anak-anak kita. Nilai-niali kebaikan yang dibawa pulang ke rumah. BUkan hanya cari ilmu tapi juga rasa aman dan dukungan kita untuk “memberi lingkungan yang baik dan sehat untuk masa depan anak-anak”. Soal menyediakan “circle” yang berkualitas untuk anak.

 

Lalu, kenapa masih menganggap baca buku tidak penting? Kenapa menyangka TBM biasa-biasa saja? Sama sekali salah, TBM itu soal memilih “circle” untuk masa depan anak. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen





Rabu, 14 Mei 2025

Literasi Dana Pensiun, Kisah Pak Darto di Hari Tua

Pak Darto, 62 tahun, beliau mantan pegawai di perusahaan ekspedisi. Bawa mobil setiap hari, muatan berat, jalanan rusak, cuaca buruk—semua ia hadapi tanpa banyak keluh-kesah. "Kerja keras, nanti juga hidup bakal tenang," begitu katanya setiap kali pulang malam-malam buta sambil menyeka peluh.  Setiba di rumah, ia tak lupa memeluk kedua anaknya yang sudah tertidur.

 

Dulu, saat masih bekerja. Pak Darto hidup sederhana tapi cukup. Gaji sebagai sopir ekspedisi, meski tidak besar, bisa memenuhi kebutuhan harian, membiayai sekolah dua anaknya, dan sesekali mengajak keluarga makan di luar. Ia bekerja keras, jarang sakit, dan selalu optimis. Namun, seperti banyak pekerja informal lainnya, ia tidak pernah punya tabungan pensiun, dan menabung pun hanya sesekali. “Nanti juga ada rezekinya,” begitu pikirnya setiap kali istrinya mengingatkan soal hari tua.

Tapi kini, setelah pensiun. Pak Darto baru terasadar. Kendaraan milik perusahaannya dulu sudah tak bisa ia kendarai lagi. Fisiknya mulai lemah. Ia mengandalkan uang dari hasil jual motor yang selalu dibawanya ke kantor dulu. Ditambah sedikit bantuan dari anaknya yang juga sedang berjuang menghidupi keluarganya sendiri. Di hari tuanya, biaya hidup Pak Darto malah terasa lebih berat. Obat darah tinggi dan gula yang harus rutin ditebus, rumah bocor pun tak bisa diperbaiki karena tak ada uang. Dan istri tercinta pun mulai sakit-sakitan dan memerlukan biaya.

 

Satu-satunya hiburan Pak Darto hanya duduk di depan rumah, memandangi jalanan yang dulu ia lintasi setiap hari. Tapi kini, tanpa pekerjaan, tanpa gaji bulanan, dan tanpa tabungan hari tua atau dana pensiun, hidup di masa pensiun Pak Darto justru lebih menakutkan daripada saat bekerja.

 


Malam datang tanpa suara. Hanya suara kipas angin tua yang menemaninya. Istrinya terbatuk-batuk di dalam kamar. Pak Darto hanaya menatap langit-langit rumah, lalu menutup mata perlahan. Ternyata bagi Pak Darto, hari tua justru hari tua lebih sulit dari masa bekerja. Akibat tidak merencanakannya dengan bijak. Dana pensiun selalu diabaikan saat masih bekerja, dan kini dia menyesal karena hidupserba kekurangan di masa pensiun. Hari tua yang tadinya dipikir bisa dinikmati, kini berubah jadi keadaan yang merana dan memprihatinkan.

 

Pak Darto pun berpesan, jangan lupa siapkan dana pensiun selagi bekerja, Jangan sampai seperti saya di hari tua. Karena dana pensiun adalah kebutuhan di hari tua, bukan sekadar pilihan. Salam #YuKSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

Catatan Literasi: Jangan Lupa Ngopi Dulu

Hidup enak itu bukan punya jabatan atau kekayaan. Bukan pula punya pendidikan tinggi. Tapi hidup enak sejatinya bisa menikmati apa yang ada, termasuk sarapan di pinggir jalan. Hidup sederhana dan lebih banyak syukurnya> Asalh makan terasa enak tidur pun nyenyak, itulah hakikat hidup enak.

 

Ada benarnya yang menyebut, janganlah mencari akhlak seseorang di masjid atau saat pakai kopiah. Tapi lihat saat punya rezeki, seperti apa? Lihat saat dimintai tolong, bagaimana? Atau saat jual beli dan berutang kayak apa? Di situlah akan tampak akhlak aslinya.

 

Sekarang ini ngeri banget. Banyak orang tidak kaya tapi tindak-tanduknya seperti orang kaya. Hobby-nya beda, tongkrongannya sebakul. Terlihat mewah, demi gengsi agar kelihatan wah. Bergaul hanya sebatas kongko-kongko, namun tidak menyentuh esensinya. Akhirnya, semua hanya sebatas ilusi.

 

Biar tekor asal kesohor. Lebih besar pasak daripada tiang. Begitulah kira-kira sebutan untuk yang berjuang untuk gaya hidup. Semuanya ingin serba keren walau boleh ngutang. Terlihat wah walau dompet kosong. Jujur pada diri sendiri saja susah, apalagi untuk urusan orang lain. Tampak luar jadi beda dengan tampak dalam. Tidak sesuai aslinya, kata sebuah iklan.

 


Hidup enak itu gampang banget. Tetap sederhana kapan saja dan di mana saja. Selalu bersyukur atas segala yang dimiliki. Dan memakai waktu untuk berbuat baik dan menebar manfaat, termasuk berkiprah di taman bacaan. Bahkan kata orang tua saya, hidup enak itu bila makan terasa enak, tidur nyenyak, dan nggak punya utang yang bikin sesak.

 

Hidup makin enak, bila nggak membandingkan diri dengan orang lain. Karena semua sudah ada jalannya masing-masing. Apa adanya saja, bukan ada apanya. Yah kalau orang menjauh, kita tidak usah mendekat. kalau orang buang muka, kita tidak usah menyapa. Kalau orang tidak suka, kita tidak usah memaksa. Silaturahmi dan bergaul memang penting, tapi harga diri tetap perlu dijaga. Karena biar gimana pun, harga diri yang paling utama.

 

Maka raihlah hidup enak, hidup yang lebih banyak syukurnya daripada keluhannya. Agar segalanya lebih rileks dan sederhana. Dan jangan lupa ngopi. Salam literasi!

 


Selasa, 13 Mei 2025

Pekerja Takut 3 Hal Ini Saat Pensiun

Dari sekalian alasan ketakutan pekerja di masa pensiun, survei tentang persepsi dan preferensi pekerja biasa terhadap dana pensiun yang dilakukan Syarifudin Yunus, edukator dana pensiun DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) pada Maret 2025 menyebutkan 44% pekerja takut hidup susah secara ekonomi di masa pensiun, 43% pekerja takut tidak punya gaji lagi, dan 13% pekerja takut akan biaya kesehatan di hari tua. Maka dapat dinyatakan, pekerja memiliki kekhawatiran di masa pensiun atas sebaba 1) hidup susah secara ekonomi,2) takut tidak punya gaji lagi, dan 3) takut akan biaya kesehatan.

 

Survei yang melibatkan 100 pekerja di Jakarta ini menjadi cermin pandangan pekerja terhadap dana pensiun. Sekalipun bersifat subjektif, persepsi pekerja terhadap dana pensiun dapat menjadi acuan akan pentingnya perencanaan hari tua pekerja di Indonesia. Selain dapat menjadi jaminan finansial di hari tua, dana pensiun sangat diandalkan pekerja sebagai "sumber penghasilan pengganti di hari tua" agar tetap bisa hidup layak tanpa harus bekerja lagi. Tanpa dana pensiun, banyak pensiunan terpaksa bekerja lagi di usai tua atau bergantung hidup pada anaknya. Karena itu, pekerja yang memiliki dana pensiun setidaknya dapat mengurangi kekhawatiran tentang masa pensiunnya sendiri.

 


Ke depan, Indonesia akan menghadapi penuaan populasi (aging population) di mana tren penduduk usia tua akan meningkat. Melalui dana pensiun, diharapkan dapat menjamin kesejahteraan pekerja di hari tua. Apalagi pekerja di sektor informal yang tidak memiliki jaminan finansial di masa pensiun. Dana pensiun menjadi sangat diperlukan untuk mengatasi potensi masalah keuangan di kalangan pensiunan, di samping mencegah terjadinya ketimpangan sosial di hari tua.

 

Sebagai solusinya, pekerja harus berani untuk menyiapkan masa pensiunnya sendiri khususnya melalui DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Agar “Kerja Yes, Pensiun Oke”. Melalui DPLK, pekerja nantinya akan 1) memiliki pendanaan yang pasti untuk hari tua, 2) mendapatkan hasil investasi yang optimal selama menjadi peserta, 3) mendapat manfaat pajak saat manfaat dibayarkan, dan 4) jadi lebih disiplin menabung untuk hari tua. Jadi, dana pensiun memang seharusnya tidak dilihat sebagai beban melainkan komitmen untuk mempersiapkan kesejahteraan di masa pensiun. Salam #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

 


Hakikat Pengetahuan dan Membaca Buku

Ada benarnya, pengetahuan memang tidak menjamin seseorang berperilaku baik. Tapi ketidak-tahuan pasti jadi jaminan perilaku buruk. Pengetahuan memang bukan segalanya. Tapi dengan pengetahuan, siapapun jadi punya arah. Hidup nggak asal-asalan, lebih punya tujuan.

 

Siapapun, saat mengetahui sesuatu tidak otomatis membuatnya bertindak dengan benar. Namun ketidak-adaan pengetahuan hampir pasti membuka jalan bagi kesalahan. Karena saat tidak tahu, manusia cenderung bertindak berdasarkan dorongan naluriah, nafsu, ketakutan, atau pengaruh luar yang tidak selalu etis. Ketika akal sehat tidak dibekali pemahaman, maka keputusan yang lahir pun rawan menimbulkan kerugian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ketidak-tahuan sering kali jadi “petaka”.

 

Ketidaktahuan itu menciptakan celah bagi manipulasi. Orang yang tidak mengerti suatu persoalan akan lebih mudah diarahkan, dibentuk opininya, bahkan dijadikan alat untuk tujuan yang tidak ia pahami sendiri. Kekerasan, ketidak-adilan dan korupsi sejatinya berakar pada ketidaktahuan yang dibiarkan tumbuh subur, baik karena sistem yang sengaja menindas maupun karena ketidakpedulian untuk belajar dan memahami. Akibat tidak tahu, banyak yang tersesat jalan pikiran dan omongannya.

 

Pengetahuan memang bukan jaminan mutlak untuk menjadi baik. Tapi pengetahuan adalah landasan agar seseorang bisa melihat lebih jelas mana yang layak dipilih. Lebih mampu menimbang mana yang baik dan buruk. Ia menuntun pada kebijaksanaan atau setidaknya membuka ruang untuk mempertimbangkan ulang setiap tindakan. Pengetahuan pasti mengajak pemiliknya untuk selalu berpikir yang objektif, minimal jadi hati-hati pada setiap keadaan.

 


Di tengah dunia yang penuh distorsi dan ketergesaan, tahu lebih banyak akan satu hal itu penting sebelum bicara. Jangan sampai kita jadi banyak bicara pada hal-hal yang tahunya sedikit saja. Sedikit tahh tapi bicara banyak. Maka perbanyaklah pengetahuan, agar mampu memahami lebih dulu sebelum bertindak. Karena pengetahuan adalah bentuk tanggung jawab paling dasar manusia untuk lebih baik.

 

Dan salah satu cara untuk menambah pengetahuan adalah membaca buku, selain diskusi dan sekolah. Membaca, setidaknya kita membatasi diri untuk tidak banyak bicara atas hal-hal yang kita tahu hanya sedikit saja. Jadilah literat, salam literasi!