Minggu, 05 Mei 2024

Perkuat Literasi Gaya Hidup, Mahasiswa Unindra Luncurkan Antologi Cerpen Titik Waktu

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2024 dan mempersoalkan gaya hidup modern. Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) meluncurkan buku antologi cerpen Titik Waktu di TBM Lentera Pustaka Bogor (4/5/2024). Dihadiri 60-an anak pembaca aktif usia sekolah, antologi cerpen ini menegaskan pentingnya mengelola waktu, bukan membuang-buang waktu.

 

Buku antologi cerpen “Titik Waktu” ini merupakan bagian dari proses menulis kreatif yang dialami mahasiswa secara langsung, selama kuliah. Sebagai bukti proses  dalam mempelajari, mencipta, dan menerbitkan karyanya sendiri. Mahasiswa yang diajarkan bahwa belajar sastra harus dimulai dan berakhir dari yang tertulis. Antologi cerpen ini terinpsirasi dari fenomema mengaukanya gaya hidup yang kian tidak produktif. Sebuah buku fiksi cerpen “hasil kuliah menulis kreatif” yang ditulis 80 mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI bersama dosen pengampunya.

 

Hari ini kian banyak orang membeli gaya hidup, bukan menjalani hidup. Hingga terbuai gaya hidup dan menyia-nyiakan waktu. Menjauh dari kesederhanaan, bermimpi tentang kemewahan. Hati-hati, gaya hidup telah menyingkirkan jati diri sesungguhnya. Jadilah diri sendiri, jangan khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentangmu. Jangan lagi meratapi waktu yang telah berlalu. Tapi gunakanlah untuk membuat perubahan yang lebih baik. Jangan pernah menunda-nunda, karena waktu tidak akan pernah menunggu kita lagi. Titik waktu, siapapun tidak bisa memperpanjangnya. Kita hanya bisa membuatnya berarti.

 

Cerpen-cerpen yang disajikan dalam buku ini bertemakan gaya hidup. Diterbitkan oleh LovRinz Publishing dengan 281 halaman, Antologi Cukstaw Cerpen Titik Waktu ingin memberi pesan bahwa setiap detik yang dilewati adalah pelajaran berharga bagi siapapun yang menyadarinya.



Menurut Syarifudin Yunus, dosen pengampu Menulis Kreatif Unindra, buku ini menjadi cerminan sikap reflektif terhadap cara pandang anak-anak muda tentang gaya hidup yang berkembang dalam kehidupan. Setelah belajar di kelas, semua mahasiswa diminta untuk menuliskan hikmah gaya hidup yang diketahui atau dialaminya dalam bentuk cerpen sebagai ekspresi dalam konteks pendidikan.

 

“Antologi cerpen Titik Waktu ini adalah ekspresi mahasiswa terhadap gaya hidup. Sebagai generasi muda mahasiswa harus mampu menyuarakan pentingnya mengelola gaya hidup di tengah dinamika peradaban ke dalam cerita pendek. Gaya hidup jangan sampai membuang-buang waktu,” ujar Syarifudin Yunus dalam acara peluncuran hari ini di Bogor.


Cerita dalam antologi ini merupakan kisah fiksi yang reflektif dan motivatif sebagai pesan moral kepada pembaca. Cerpen yang disajikan dengan cara yang berbeda. Bahwa menulis adalah perbuatan, bukan pelajaran. Antologi cerpen ini diharapkan dapat menjadi "obat" untuk mengembalikan rasa, pikir dan perilaku generasi muda untuk bersikap terhadap gaya hidup. #KuliahMenulisKreatif #UnindraKeren #CukstawCerpen




Sabtu, 04 Mei 2024

Sudah Dibuka Tempat Ngopi Asyik Sambil Baca Buku di Kopi Lentera

Zaman now, makin banyak orang yang tidak lagi sempat membaca buku. Atau makin tidak suka membaca buku. Mungkin karena baca buku dianggap monoton dan begitu-begitu aja?

 

Nah sekarang, ada lho kafe berkonsep literasi. Di tiap mejanya ada buku bacaan. Boleh dibaca boleh juga tidak dibaca. Tapi intinya, di setiap meja ada buku-buku bacaan. Coba deh kunjungi KOPI LENTERA, tempatnya di Kampungg Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor di kaki Gunung Salak Bogor. Bagi yang biasa main ke curug Nangka atau curu luhur, Kopi Lentera dekat daerah situ. Tepatnya sejajar dengan Pura Jagatkarta Parahiyangan.

 

Kopi Lentera ini diinisiasi oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka. Taman bacaan yang dikenal komprehensif dan kreatif di Bogor. Jadilah Kopi Lentera, sebagai tempat ngopi dan nongkrong sambil baca buku. Lokasinya sih asyik, view-nya Gunung Salak kalau siang dan Kota Bogor kalau malam. Kope Lentera dikelola oleh wali baca dan relawan TBM Lentera Pustakasebagai usah kecil-kecilan atau UMKM-nya taman bacaan. Kopi Lentera mengusung konsep “tempat ngopi yang lebih literat” untuk gerakan literasi dan taman bacaan yang lebih berdaya.

 


Saat ini Kopi Lentera beroperasi hanya 3 hari dalam seminggu. Yaitu 1) Jumat pukul 15.00-23.00 WIB, 2) Sabtu pukul 15.00-23.00 WIB, dan 3) Minggu pukul 10.00-22.00 WIB. Tentu, Kope Lentera tidak seperti kafe-kafe lainnya. Karena konsepnya literasi, jadi ciri kuatnya “selalu ada buku di meja”, murah dan berkelas, dan bisa ngobrol atau diskusi apa saja. Silakan dicek di https://www.youtube.com/shorts/AQjE7QTD5Eo atau di IG: @kopilentera.cafe.

 

Di mana si ada tempat ngopi dan nongkrong asyik sambil baca buku? Sekarang ini langka banget pastinya. Tapi kini, sudah ada di kaki Gunung Salak namanya Kopi Lentera. Jadi buat sahabat yang lagi main ke Kaki Gunung Salak atau curug Nangka dan sekitarnya, silakan mampir ke Kopi Lentera. Yuk ngopi asyik sambil baca buku. Salam literasi #KopiLentera #TBMLenteraPustaka #BacaBikanMaen



Jumat, 03 Mei 2024

Pelajaran Literasi dari Nabi Ayub

Ada yang masih ingat kisah Nabi Ayub? Mari kita Simak kembali. Nabi Ayub AS diberi banyak nikmat oleh Allah SWT. Bukan hanya punya wajah yang rupawan, Nabi Ayub memiliki harta yang berlimpah, anak yang banyak, dan istri yang setia. Sehari-harinya beliau tidak pernah lupa untuk bersyukur. Bahkan senantiasa mengeluarkan hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Sungguh luar biasa Nabi Ayub.

 

Hingga suatu waktu, Allah SWT timpakan ujian yang luar biasa ke Nabi Ayub. Ujian yang tidak cuma satu tapi silih berganti. Semua yang dimiliki Nabi Ayub, mulai diambil kembali oleh Allah SWT. Hartanya habis, anak-anaknya wafat, hingga beliau pun diuji sakit kusta pada seluruh tubuhnya yang berkepanjangan. Mungki jadi ujian paling dahsyat yang pernah terjadi di kalangan manusia.

 

Belajar dari ujian Nabi Ayub. Jelas sudah, bahwa "nikmat dunia hanya titipan, yang bisa diambil pemiliknya suatu waktu nanti". Apapun yang ada di dunia sifatnya sementara, semuanya titipan dan tidak akan abadi.

 

Suatu kali, istri Nabi Ayub pun berkata "Wahai Ayub, seandainya engkau mau meminta kepada Allah, tentu Ia akan memberimu jalan". Nabi Ayub justru menjawab dengan "Aku telah diberi kesehatan selama 70 tahun, sakit ini hanya sedikit derita yang Allah timpakan sampai aku bisa bersabar sama seperti masa sehatku yaitu 70 tahun". Ssungguh luar biasa sikap Nabi Ayub saat menghadapi ujian dan diberi sakit.

 

Bahasa sederhananya, "Ujian ini tuh cuma sedikit musibah yang Allah titipkan padaku dari banyaknya nikmat yang sudah Allah berikan." Sungguh, pelajaran sabar yang indah ada di Nabi Ayub.

 


Maka, belajarlah setangguh Nabi Ayub. Karena kita hanya manusia biasa. Sedih dan terluka memang manusiawi tapi kita bisa belajar setangguh Nabi Ayub. Sesabar dan seikhlas beliau dalam menghadapi ujian. Untuk tidak cepat-cepat merasa kecewa dengan takdir yang Allah tentukan pada diri kita. Untuk selalu sabar, Syukur, dan ikhlas dalam segala keadaan.

 

Sejatinya, Allah SWT lebih paham yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah tahu yang paling pas untuk kita. Allah juga yang lebih mengerti, ujian apa yang pantas untuk kita? Karena tidak ada ujian atau cobaan yang di luar batas kemampuan manusianya. Jadi, teruslah syukuri nikmat dan ujian dari-Nya. Dan katakan kepada Allah "Ya Rabb, tanpa-Mu kami tidak mampu. Kami dan dunia ini milik-Mu, mohon lapangkaan hati kami untuk menerima takdir-Mu." Bahwa manusia sehebat dan sekuat apapun, tetap bukan apa-apa tanpa-Nya.

 

Di dunia ini, semuanya bersifat sementara. Anugerah dan ujian datang silih berganti. Hari ini punya uang, besok tidak punya uang. Begitulah realitasnya, jalani dengan lapang hati. Sambil tetap berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama. Siapapun, berdoalah untuk lebih mampu mengahadapi masalah, bukan terhindar dari masalah. Lalu, bersikap lapang dada agar menjadi pribadi yang kuat dan tabah. Tanpa keluh kesah, aplagi menyerah. Karena di balik lapang dada, ada kemewahan akhlak dan iman.

 

Pelajaran literasi dari Nabi Ayub. Untuk selalu lapang dada dalam menerima realitas. Karena hidup ini bukan melulu soal memperoleh yang terbaik. Namun lebih kepada menerima kenyataan dengan sabar dan ikhlas. Untuk selalu dekat dengan-Nya dan tetap menjadi diri sendiri. Karena toh, ujian dan kegagalan tidak akan pernah mengalahkan keinginan kuat untuk selalu memperbaiki diri. Sala, literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Hebat Banget Konsumen Kopi Lentera, Makan Rujak Cireng + Indomie Tanpa Minum?

Kopi Lentera, baru saja soft opening Minggu ini. Nah siapa konsumen pertamanya? Tidak tahu siapa, tapi dari struk-nya dia pesan rujak cireng + Indomie, bayarnya Rp. 38.000. Cuma begitu lihat struk, kok dia nggak minum ya? Hebat juga sih, makan rujak cireng dan Indomie tapi nggak minum. Atau mungkin, minumnya bawa sendiri kali ya. Tapi nggak masalah sih, yang penting makan dan nongkrongnya di Kopi Lentera. Terima kasih ya konsumen pertama Kopi Lentera.

 

Just info aja. Kopi Lentera itu tempat ngopi dan nongkrong yang literat. Di setiap mejanya ada buku bacaan. Tempatnya di Rooftop Baca TBM Lentera Pustaka. Bolehlah dibilang "kedai kopi" milik taman bacaan. Yang mengelola wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka, mereka yang mengabdi dan menjalankan aktivitas taman bacaan tanpa pamrih. Makanya Kopi Lentera dibikin, agar bisa jadi UMKM atau usaha kecil-kecilan buat ongkos dan jajan wali baca + relawan TBM Lentera Pustaka. Asal bisa nutup modal dan ada lebihan sedikit sudah cukup. Sesederhana itu aja. Kedai kopi di mata TBM Lentera Pustaka misinya tetap sosial, nggak buat jadi lebih kaya.

 


Ngopi dulu, biar nggak ngomong mulu. Nanti malu, kan lebih baik membaca buku. Kopi Lentera yakin banget. Asal niatnya baik, ikhtiarnya bagus + tambah doa yang baik, insya Allah hasilnya akan baik lagi berkah. Ngopi, kata kaum penikmat kopi nggak bakal bikin miskin. Bikin Kopi Lentera pun nggak bakal bikin kaya. Karena niatnya untuk kebaikan wali baca dan relawan yang selama ini berkiprah di taman bacaan. Bismillah, insya Allah lancar dan berkah.

 

Buat yang sempat melangkahkan kaki ke daerah Gunung Salak Bogor, jangan lupa mampir ke Kopi Lentera. Seruput secangkir kopi untuk tegaknya gerakan literasi dan taman bacaan. Suguhan kopi lentera, mau pahit mau manis justru bikin mata lebih terbuka. Apalagi ditambah rujak cireng. Dapatkan update-nya di IG @kopilentera.cafe ya.

 

Dan sebagai pendiri TBM Lentera Pustaka, insya Allah, saya jajan di Kopi Lentera minimal 200 ribu tiap hari Minggu. Oke kan? Salam Kopi Lentera, kafenya pegiat literasi. #KopiLentera #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



Kamis, 02 Mei 2024

Tanamkan Literasi Finansial Sejak Dini, Bank Sinarmas Terima Kunjungan Anak SD Taman Bacaan

Literasi keuangan sangat penting ditanamkan sejak dini ke anak-anak usia sekolah (sesuai amanat OJK - https://sikapiuangmu.ojk.go.id/). Agar tiap anak punya pengetahuan dan pengalaman keuangan sehingga terbentuk menjadi kebiasaan menabung dan mengelola keuangan untuk masa depannya. Selain mengenal arti uang, literasi keuangan pun berguna untuk membentuk kebiasaan anak menabung, mengutamakan kebutuhan daripada keinginan, bahkan nilai-nilai berbagi kepada sesama.

 

Sebagai bagian untuk mengenal funsi bank dan memperkuat literasi finansial, Vanesa (kelas 5 SD) dan Putri Aulia (kelas 3 SD), dua anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka berkunjung ke kantor Bank Sinarmas cabang Ciomas hari ini (2/5/2024). Mau ngapain anak sekolah ke bank? Tujuannya 1) untuk untuk mengambil Buku Tabungan SIMPEL yang sudah ada dan 2) menyetor kelengkapan dokumen untuk 16 anak yang akan membuka tabungan SIMPEL. Diantar oleh wali baca (Susi, Resa, Dilla), maka nantinya sudah 36 anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka memiliki Tabungan SIMPEL.


Selain membaca buku, anak-anak TBM Lentera Pustaka juga menabung di celengan kaleng setiap kali jam baca seminggu 3 kali. Nah nantinya, setelah dua bulan, uang Tabungan di celengan akan disetor ke rekening Tabungan SIMPEL dengan cara dijemput oleh petugas Bank Sinarmas. Hal menjadi bukti, taman bacaan bukan hanya membangun budaya membaca anak. Tapi juga mampu menjalan edukasi literasi finansial khususnya menabung di bank. Sebagai mitra CSR, Tabungan SIMPEL Bank Sinarmas ini menjadi contoh kolaborasi apik antara taman bacaan dan bank.

 


Sebagai bank swasta nasional, Bvank Sinarmas berkomitmen dan peduli untuk menyediakan akses perbankan ke anak-anak usia sekolah. Karena itu, Tabungan SIMPEL bagi anak-ank TBM Lentera Pustaka telah diluncurkan sejak Februari 2024 lalu. Sebagai bagian pendidikan pentingnya menabung dan mengelola uang dengan bijak. Selama ini Bank Sinarmas pun melakukan edukasi keuangan secara rutin dua bulanan di  TBM Lentera Pustaka, di samnping menjadi sentra kegiatan CSR.

 

“Kami senang anak TBM Lentera Pustaka berkunjung ke kantor Bank Sinarmas. Ini menjadi kolaborasi literasi keuangan yang baik. Agar anak-anak mau menabung sejak dini, di samping tetap membaca buku di taman bacaan. Tentu, Tabungan SIMPEL ini sangat bermanfaat untuk kebutuhan anak-anak nantinya” ujar Retno Tri Wulandari, Corporate Secretary Bank Sinarmas dalam keterangannya.

 

Sebagai taman bacaan yang telah berdiri sejak 7 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka terus mengoptimalkan program literasi finansial. Selain Tabungan SIMPEL, saat ini TBM Lentera Pustaka juga mengelola koperasi simpan pinjam untuk 28 ibu-ibu dan Minggu ini akan meluncurkan Kopi Lentera, kafenya pegiat literasi sebagai cara pemberdayan ekonomi untuk wali baca dan relawan taman bacaan.

 

Kunjungan anak taman bacaan ke kantor Bank Sinarmas ini menjadi simbol pentingnya sinergi pihak swasta dalam ikut serta menggerakkan minat baca anak, di samping penanaman literasi keuangan sejak dini. Untuk mengajarkan aktivitas positif anak di tengah gempuran era digital. Salam literasi #BankSinarmas #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen



Rabu, 01 Mei 2024

Catatan Hardiknas, Surat untuk Kaum Terdidik

Ini sebuah catatan di Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei. Tentang surat untuk kaun terdidik.

Mungkin kita sepakat, pendidikan itu tidak identik dengan kepintaran. Pendidikan bukan pula pengganti kecerdasan. Tapi pendidikan adalah kepekaan, sebuah kepedulian. Maka pendidikan seharusnya berbasis pada karakter, pada moral yang bisa menjadikan siapaun yang terdidik menjadi lebih baik. Sangat keliru, bila pendidikan dipandang sebagai alat untuk menggapai kehormatan. Apalagi pangkat dan jabatan. Hingga akhirnya, banyak orang pintar hanya mempertontonkan arogansi, egoisme. Lalu, memandang dunia seperti miliknya sendiri. Kaum terdidik yang dibayangi nafsu. Segala sesuatu “dikorbankan” asal keinginannya terpenuhi.

 

Lebih baik kita memiliki seribu kepekaan walau tanpa pendidikan. Punya kepedulian dan kesalehan sosial tanpa pendidikan. Daripada berpendidikan tapi tidak peka sama sekali. Pendidikannya tinggi tanpa kepedulian. Untuk apa?

 

Sekarang ini, banyak kaum terdidik yang pergi makan ke mana-mana, nongkrong pakai laptop di mana-mana? Ngopi di tempat keren sambil diskusi tentang negara dan kekuasaan. Tapi sayang, cuma sampah doang saja buangnya sembarangan. Coba deh pergi ke gunung, ke laut. Berapa banyak sampah yang dibuang kaum terdidik. Ada banyak kaum terdidik yang kemping, melatih “bertahan hidup” di alam. Tapi sayang, gunung dan jalur pendakian seketika malah makin kotor sepulang mereka. Kaum terdidik sering membersihkan mukanya dengan tissue. Tapi sesudah itu, tissue bekas dibuang seenaknya. Apa begitu, contoh yang diberikan kaum terdidik?

 

Kepada yang terhormat kaum terdidik. Di hari pendidikan nasional ini. Mari kita renungkan bersama. Bahwa kita memang boleh bangga, pendidikan di negeri ini maju sekali. Hingga menjadi simbol martabat bangsa katanya. Pendidikan sangat mudah diakses masyarakat. Belum ideal tapi sudah sesuai harapan dunia pendidikan. Aspek pedagogi dan andragogi sudah berlangsung seiring sejalan. Guru semakin bertanggung jawab atas apa yang diajarkan. Siswa pun kian mandiri. Teori pendidikan terus lahir dari orang-orang pintar. Walau praktiknya masih “jauh panggang dari api”.

 

Kepada yang terhormat kaum terdidik. Kenapa sih korupsi masih tetap merajalela di negeri ini? Mengapa sih nafsu berkuasa semakin menggila di bangsa ini? Hingga negeri ini dinobatkan sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Dinasti kekuasaan makin dipertahankan. Katanya, korupsi itu tindakan kejahatan. Katanya, dinasti kekuasaan itu awal mula dari kolusi dan nepotisme. Tapi kenapa kaum terdidik membiarkan semua itu terjadi?

 

Kaum terdidik pasti tahu dong.  Sulit dibantah orang-orang pintar di negeri kita melimpah ruah. Tapi kenapa orang-orang pintar lebih suka mencari-cari kesalahan orang lain? Ada masalah bukannya diperbaiki malah dieksplorasi. Orang pintar kadang lucu, ingin tinggi tapi caranya menjatuhkan. Ingin baik tapi menjelekkan. Terkadang kita bingung, dulu orang-orang pintar itu sekolah di mana? Apa sih mata pelajaran yang dipahaminya, agama atau PPkn? Kok sekarang, malah makin banyak orang-orang pintar yang gaduh dan berisik. Sementara orang-orang yang dianggap bodoh hanya bisa diam dan berharap hidupnya lebih baik. Jadi, apa yang salah dengan pendidikan kita?

 

Mohon maaf ya kaum terdidik. Saya memang bukan orang pintar. Tapi saya masih terus belaar dan mencari jawaban dari banyak sekali pertanyaan. Dan akhirnyam saya menyimpulkan bahwa hasil tertinggi dari pendidikan itu adalah memahami realitas. Punya toleransi, punya kepedulian kepada sesama. Karena prinsip penting pendidikan adalah semakin paham perbedaan, harusnya makin paham arti kebersamaan. Itulah pendidikan yang literat, bukan pendidikan yang Merdeka!

 

Sejatinya, pendidikan bukan mencari-cari kesalahan orang lain. Apalagi bersikap arogan dan egois atas nama kecerdasan dan pendidikan. Tapi pendidikan seharusnya lebih berdaya untuk menemukan cara dalam memperbaiki kesalahan, mengatasi kekuarangan yang ada.

 


Kepada yang terhormat kaum terdidik. Saya sangat menyadari pendidikan itu kompleks. Sekalipun pendidikan penting tapi bukan berarti tidak boleh dikoreksi. Negeri ini sudah penuh sesak oleh orang-orang pintar. Sudaj padat oleh orang-orang terbaik dengan kualitas pendidikan yang tinggi. Tapi sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang "gagal" memaknai nilai-nilai sakral dalam pendidikan. Bahwa pendidikan lebiih bertumpu pada value oriented, bukan knowledge oriented. Karena bukan gelar atau pangkat yang menjadikan kita terdidik. Melainkan manfaat dan amaliah dari ilmu yang dimiliki. Pendidikan yang sungguh-sungguh berkontribusi terhadap realitas kehidupan.

 

Mungkin kaum terdidik setuju. Bahwa semakin banyak ilmu seseorang harusnya semakin besar sumbangsihnya kepada orang lain. Seperti kata Marthin Luther King, “Life's most persistent and urgent question is "what are you doing for others?”. Apa yang sudah dilakukan kaum terdidik untuk orang lain?

 

Maka pesan di hari pendidikan nasional, belajarlah dari masa lalu bila ingin mendefinisikan masa depan. Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei. Salam literasi #HariPendidikanNasional #CatatanHardiknas #TBMLenteraPustaka




Atasi Problem Klasik Relawan, Taman Bacaan Buka Kafe Literasi Bernama Kopi Lentera

Tempat ngopi kian menjamur di mana-mana. Ngopi udah jadi gaya hidup, bahkan kebiasaan buat sebagian orang. Tapi di mana ada tempat ngopi yang literat? Tempat ngopi dan nongkrong sambil membaca buku. Ada, namanya Kopi Lentera di Kaki Gunung Salak bogro.

 

Bismillah, insya Allah Minggu 5 Mei 2024 ini, KOPI LENTERA mulai soft opening. Sebauh tempat ngopi dan nongkrong berkonsep literasi. Tempatnya di Rooftop Baca Taman Bacaan Lentera Pustaka. Ngopi di sini, kalau siang view-nya Gunung Salak. Kalau malam, view-nya kota Bogor dengan nuansa lampu dari kejauhan. Di Kopi Lentera, bukan cuma ngemil atau ngopi tapi selalu ada buku di tiap mejanya. Buku-buku itu mau dibaca atau nggak, ya nggak masalah. Karena buku baik bila dibaca. Tapi bila dilihat pun bisa mengingatkan orang.

 

KOPI LENTERA ini dikelola oleh wali baca dan relawan Taman Bacaan Lentera Pustaka. Yah, hitung-hitung biar ada pemasukan buat ongkos atau jajan relawan dan wali baca.  Mereka sudah berdedikasi bantu TBM Lentera Pustaka tanpa pamrih. Berjuang menegakkan budaya membaca. Maka wajar, TBM Lentera Pustaka merintis "usaha kecil-kecilan" yang dikelola relawan dan wali baca. Syukur-syukur banyak pengunjungnya, kan lumayan buat motivasi. Nggak penting berapa modal yang disiapkan Pendiri TBM Lentera Pustaka untuk Kopi Lentera? Asal niatnya baik, ikhtiarnya bagus insya Allah jadi ladang amal. Sebagai pendiri TBM Lentera Pustaka, saya selalu memikirkan kelanjutan TBM Lentera Pustaka ke depan. Karena saya hanya seminggu sekali berada di TBM. Jadi sangat tergantung pada relawan dan wali baca yang bantu dengan sepenuh hati, untuk menjalankan semua aktivitas literasi yang ada di TBM Lentera Pustaka. Apalagi TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu, kecuali hari Senin saja.

 


Maka untuk penikmat kopi. Yukk mampir ke Kopi Lentera di TBM Lentera Pustaka, Utamanya saat melintas atau berada di sekitar Kaki Gunung Salak Bogor. Mampir ke KOPI LENTERA, biar bisa ngopi sambil membaca buku. Bahkan bila hari Minggu bisa ikutan aktivitas di TBM Lentera Pustaka atau mengajar kaum buta aksara. Minimal, ngopi sambil diskusi atau menikmati musik yang tematik. Sekaligus jadi wujud kepedulian terhadap gerakan literasi dan taman bacaan. Ohh ya, untuk sementara waktu Kopi Lentera jam bukanya baru hari Jumat, Sabtu dan Minggu mulai pukul 10.00-21.00 WIB.

 

Bismillah, Kopi Lentera siap beroperasi. Dan semoga menghadirkan "senyum berkah" untuk relawan dan wali baca yang mengelolanya. Kopi Lentera, kafenya pegiat literasi di kaki Gunung Salak Bogor. Salam literasi #KopiLentera #TamanBacaan #TBMLentetaPustaka



Selasa, 30 April 2024

Literasi Hari Buruh

Bila datanya belum berunah, sekarang ini setidaknya ada 140-an juta buruh atau pekerja di Indonesia. Porsinya, 60% ada di sektor informal dan 40% di sektor formal. Saya juga masih jadi buruh. Bisa jadi, ratusan juta orang yang mudik atau pulang kampung saat lebaran pun statusnya buruh. Dan sebagian besar buruh hari ini, pasti merasakan dampak mahalnya sembako.

 

Negara atau pemerintah harus tahu. Kebijakan apapun yang dibuat pasti punya dampak terhadap buruh. Khususnya secara ekonomi, maka negara harus hati-hati. Janga nasal-asalan bikin regulasi bila akhirnya menambah sengsara kaum buruh. Negara harus tahu, buruh itu bekerja bukan untuk kaya atau mengumpulkan harta. Tapi bekerja untuk aktualisasi diri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menafkahi keluarganya. Hanya sesederhana itu buruh memandang pekerjaan.

 

Tiap tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai Hari Buruh atau May Day, kenapa buruh selalu demo? Karena buruh punya problem atau masalah yang tidak kunjung diselesaikan. Karena hari ini, sekalipun katanya zaman sudah serba digital atau canggih, ratusan juta buruh di Indonesia masih tetap dihantui problematika yang klasik. Setidaknya problematika buruh di Indonesia yang krusial adalah:

1. 1. Masalah upah atau gaji yang masih terlalu kecil sehingga buruh gagal memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, sulit memenuhi kebutuhan sekolah anak apalagi keluarganya.

2.    2. Masalah status buruhnya yang dari dulu hingga hingga kini masih begitu-begitu saja.

3.    3. Masalah pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan hidup yang bukannya makin sejahtera malah makin bermasalah akibat biaya hidupn dan kebutuhan pokok yang kian mahal.

4.    4. Masalah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sering semena-menqa dilakukan pemberi kerja atau pengusaha.

5.    5. Masalah uang lembur dan tunjangan kesehatan yang tidak memadai sehingga membuat ekonomi buruh turun drastic bila anggota keluarganya sakit atau membutuhkan biaya kesehatan yang besar.

6.    6. Masalah hari tua atau pensiun yang sama sekali tidak punya kesiapan karena uapah atau gaji selalu habis untuk memenuhi biaya hidup. Maka wajar, 9 dari 10 buruh di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja.

 


Atas masalah-masalah yang dihadapi buruh di atas, negara atau pemberi kerja sepatutnya tidak boleh bertindak semena-mena terhadap buruh. Bila belum mampu memperbaiki nasib atau menyejahterakan kaum buruh sebaiknya jangan membuat kebijakan yang menyusahkan buruh. Di mata buruh, tidak ada pekerjaan yang tetap atau permanen. Karena kapan pun, buruh nasibnya tergantung “majikan”. Bila terpaksa berhenti atau diberhentikan dari pekerjaan pun, buruh hanya bisa pasrah.

 

Apalagi di zaman digital begini, buruh makin pusing. Belanja via online makin gampang tapi gaji makin tidak cukup. Daya beli buruh makin kalang-kabut. Bekerja puluhan tahun tapi tetap tidak punya uang banyak. Kebutuhan hidup makin meningkat, sementara kesejahteraan tidak kunjung membaik. Sambil terus khawatir, bila seaktu-waktu di-PHK atau kantornya bangkrut. Harus diakui, buruh hari ini masalahnya kompleks, kondisinya pun memperihatinkan. Selamat Hari Buruh #HariBuruh #Mayday

Senin, 29 April 2024

Cerita Seorang Kawan di Taman Bacaan

Seorang kawan, berkeluh kesah. Karena hidupnya merasa enggan berganti episode. Selalu tidak cukup dan kurang. Selalu terkungkung dalam nestapa. Merasa lelah, lelah, dan lelah. Seakan tidak ada harapan lagi.

 

Katanya, dia ingin sekali bersedekah, yang tifak pernah pusing membagi penghasilan agar mencukupi kebutuhan. Dia ingin tiap akhir pekan punya aktivitas sosial di taman bacaan, berbuat yang manfaat kepada sesama. Dia ingin segala kebutuhannya terpenuhi. Dia ingin seperti orang-orang yang berkecukupan. Bisa nongkrong di kafe-kafe, pergi umroh, bahkan punya penghasilan yang memadai. 

 

Kawan itu terus-menerus berangan-angan. Sambil meratapi keadaannya. Rasa iri pun mendera jiwanya. Mulai membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Rasa yang menggerogoti rasa syukur. Tidak lagi ikhlas dalam hidupnya sendiri. Mendambakan hidup enak walau tidak tahu rahasianya.

 

Sang kawan lupa. Apapun bentuknya, siapapun orangnya. Bahwa dalam kelapangan atau kesempitan adalah ujian. Lapang bukan berarti selamat. Sempit bukan berarti tamat. Di situlah, pentingnya sikap ridho terhadap takdir Allah SWT. 

 

Tidak satupun manusia yang hidup tanpa masalah. Tidak ada pula manusia yang sempurna. Setiap masalah pastinya menjadi ujian keimanan. Agar bisa lolos melewati berbagai masalah. Agar mampu mengatasi godaan setan. Jadi, kenapa harus resah? Kenapa iri lalu dengki kepada orang lain? 

 


Apapun yang terjadi. Masalah, ujian, kekurangan bahkan kecukupan sekalipun hanya ujian. Sebagai bukti cinta Allah kepada hambany. Diberi sentilan, masalah, hingga anugerah yang melimpah. Lalu dipakai untuk apa sehingga menjadi lebih baik atau tidak? Maka apapun, hadapi dengan sabar, syukur dan ikhlas dalam segala hal.

 

Bersihkan hati, buang rasa iri apalagi benci dan dengki. Yakinlah Allah akan mencukupi sesuai porsi kita. Agar lebih ridho atas setiap takdir yang ditetapkan. Ridho yang berarti rela terhadap suatu hal atau keadaan. Untuk selalu ikhlas terhadap apa yang terjadi atau yang dialami. Karena "Barang siapa yang memenuhi hatinya dengan sikap ridho terhadap takdir, Allah pasti akan memenuhi dadanya dengan kecukupan, keamanan, dan qona'ah, serta Dia akan menjadikan hatinya fokus mencintai-Nya, bertaubat, dan tawakal kepada-Nya." (Ibnul Qoyyim RA).

 

Mulailah setiap hari, untuk lebih ridho terhadap segala keadaan. Bertindak dan bersikaplah bukan karena manusia. Tapi sebab Allah yang menguasai langit dan bumi. Untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain, apalagi menyusahkan orang lain. 

 

Hidup itu sederhana. Kerjakan yang baik dan bermanfaat. Apapun alasannya, di manapun tempatnya. Hingga Allah ridho kepada kita. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLemteraPustaka

 

Minggu, 28 April 2024

Serunya Taman Bacaan di Bogor Pasca Idul Fitri, Geliat Literasi Terus Berkobar

Setelah lebaran atau Idul Fitri 2024, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menggelar beragam aktivitas seru dan menyenangkan di taman bacaan. Tujuannya sederhana, untuk menjaga komitmen dan konsistensi dalam berkegiatan di literasi dan taman bacaan. Demi tegaknya budaya membaca di kalangan anak-anak usia sekolah di kampung-kampung. Karena saat ini, TBM Lentera Pustaka telah menadi pilihan tempat membaca bagi anak-anak Desa Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya, Sukajadi di Kec. Tamansari (4 dari 8 desa di Kec. Tamansari, anak-anaknya menjadi pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka).

 

Apa saja aktivitas TBM Lentera Pustaka setelah lebaran tahun 2024)?

Setelah libur lebaran, TBM Lentera Pustaka baru beroperasi kembali pada Minggu, 21 April 2024. Nah, beragam aktivitas seru dan menyenangakan diantaranya:

1.    Green Harmoni 2024 dalam rangka memperingati Hari Bumi oleh mahasiswa BEM Faperta IPB dengan melakukan penanaman pohon dan menggambar alam pada 21 April 2024 di Kebun Baca Lentera Pustaka.

2.    Pengajian bulanan Yatim dan Jompo Binaan sekaligus memberikan santunan bulanan yang dihadiri 12 anak yatim dan 14 ibu jompo pada Sabtu, 27 April 2024.

3.    Halal Bihalal TBM Lentera Pustaka sebagai sarana membersihkan hati dan saling bermaafan yang dihadiri 60 anak pembaca aktif dan 40 ibu orang tua pengantar pada 28 April 2024 pagi. Selain diberikan coklat, setiap anak dan ibu pun diberi kupon jajanan kampung gratis yang ada di depan TBM Lentera Pustaka.

4.    Aktivitas GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) yang diikuti 4 ibu buta aksara pada 28 April 2024 siang dan diajar 8 orang wali baca + relawan.

5.    Literasi Digital anak-anak TBM yang belajar komputer dan mengetik tugas sekolah sebagai bagian edukasi pentingnya literasi digital pada 28 April 2024 siang.

6.    MOtor BAca KEliling (MOBAKE) yang beroperasi ke Kp. Gadog Tengah Desa Sukajadi dan sekitar 20 anak usia sekolah yang membaca di lapangan bulutangkis pada 28 April 2024 sore.

7.    Rapat koordinasi wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka terkait agenda dan program 2 bulan ke depan (Mei-Juni 2024) diantaranya: Event Perpusnas RI, MNC Peduli, Bank Sinarmas, Chubb Life, BEM Faperta IPB, dan rencana soft opening KOPI LENTERA di awal Mei 2024. Rapat koordinasi dihadiri Susi, Zhia, Ai (Wali Baca) dan Resa, Farida, Fadil, Sabda, Rere, Andra (Relawan) dan Pendiri TBM Lentera Pustaka.

Beragam aktivitas seru menyiratkan TBM Lentera Pustaka bertekad menjadikan taman bacaan sebagai tempat yang asyik dan menyenangkan. Menjadi sentra permberdayaan Masyarakat, baik aktivitas membaca, diskusi, maupun nongkrong yang literat. Aktivitas seru di taman bacaan, menjadikan geliat literasi terus berkobar.





Untuk diketahui, sejak berdiri 7 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka kini mengelola 15 program literasi yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 130 anak pembaca aktif dari 4 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya, Sukajadi), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 40 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) MOBAKE (MOtor BAca KEliling) yang sediakan akses bacaan di 3 kampung, 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Di dukung oleh 6 wali baca dan 12 relawan, TBM Lentera Pustaka kini beroperasi 6 hari dalam seminggu dan memiliki koleksi lebih dari 10.000 buku bacaan.

 

Ini jadi bukti, gerakan literasi dan taman bacaan memang harus terus bergerak. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen