Ada jerit kecil yang sering luput dari telinga orang dewasa: jerit anak-anak yang sebenarnya bukan sekadar ingin bermain, tetapi ingin didengar, ditemani, dan diberi kesempatan untuk bermimpi. Di tengah kesibukan hidup, anak-anak di sekitar kita mungkin tidak membutuhkan sesuatu yang mewah. Mereka hanya membutuhkan satu orang yang mau duduk bersama mereka, membacakan cerita, mengajak tertawa, atau sekadar menggenggam tangan mereka sambil berkata, “Kamu berharga, dan mimpimu penting.”
Seperti seorang pegiat
literasi yang datang bukan hanya membawa buku, tetapi juga membawa kegembiraan.
Di sebuah sudut sederhana, anak-anak berkumpul, tertawa, bernyanyi, menjawab
pertanyaan, dan berebut kesempatan memegang mikrofon. Dari sana, buku berubah
menjadi jendela menuju dunia yang lebih luas. Mereka belajar bahwa menjadi anak
bukan hanya tentang tumbuh besar, tetapi tentang memiliki hak untuk belajar,
bermain, berimajinasi, dan percaya bahwa suatu hari nanti mereka bisa menjadi
apa saja yang mereka cita-citakan.
Mungkin inilah makna “Kopi
Pensiunan” yang sesungguhnya: bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi
setelah melewati panjangnya perjalanan kehidupan, tetapi ruang untuk
meninggalkan sesuatu yang lebih bernilai bagi generasi berikutnya. Sebab
pensiun bukan berarti berhenti memberi. Justru ketika waktu menjadi lebih
lapang, pengalaman bisa berubah menjadi cahaya—dibagikan kepada anak-anak
melalui cerita, literasi, permainan, dan keteladanan. Secangkir kopi bisa
menghangatkan tangan, tetapi kepedulian dapat menghangatkan masa depan seorang
anak.
Dan bila suatu hari suara
kita tidak lagi terdengar di tengah hiruk-pikuk dunia, semoga ada anak yang
mengingat bahwa pernah ada orang dewasa yang peduli kepadanya. Pernah ada yang
membuatnya tertawa, membacakan buku, mendengarkan ceritanya, dan meyakinkannya
bahwa ia mampu meraih masa depan. Karena jerit anak manusia bukan sekadar suara
yang meminta perhatian—ia adalah panggilan kemanusiaan agar kita tidak hanya
memikirkan bagaimana menikmati masa pensiun, tetapi juga bagaimana meninggalkan
dunia yang lebih ramah bagi anak-anak. Salam literasi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar