Tampilkan postingan dengan label catatan ulang tahun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan ulang tahun. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Maret 2026

Refleksi Diri di Usia 56 Tahun, Saya Hanya Membaca dan Menikmati Hidup

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai berhenti berlari terlalu cepat. Tidak lagi bekerja terlalu keras atau berjuang penuh menggapai harapan. Tidak lagi banyak mimpi, tidak lagi suka keramaian. Cukup apa adanya dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Bukan karena lelah semata. Tapi karena mulai sadar bahwa waktu tidak lagi terasa panjang seperti dulu.

 

Hari ini, di usia 56 tahun, saya mulai merasakan kondisi itu. Dulu, usia lima puluhan terasa seperti wilayah yang sangat jauh. Ketika masih muda, kita membayangkan umur akan berjalan lambat, seolah kehidupan selalu menyediakan banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan, mengejar mimpi, atau menunda rencana. Namun kenyataannya tidak begitu. Hidup ternyata bergerak jauh lebih cepat daripada yang kita kira.

 

Pada usia 56 tahun ini, saya mulai sering menoleh ke belakang. Bukan untuk menyesali masa lalu, tapi untuk memahami perjalanan yang sudah ditempuh. Ada banyak keputusan yang ternyata tepat, ada juga yang seandainya bisa diulang mungkin akan saya jalani dengan cara berbeda. Begitulah hidup bekerja, ia tidak memberi kesempatan untuk mengedit masa lalu, hanya memberi kita ruang untuk memaknai apa yang telah terjadi. Sebagai cara untuk mengguggah kesadaran diri.

 

Ternyata, usia 56 tahun membawa kesadaran baru tentang waktu. Jika usia harapan hidup rata-rata sekitar tujuh puluhan, maka secara sederhana kita mulai berada di bab terakhir perjalanan hidup. Kalimat itu mungkin terdengar berat, tetapi justru di situlah letak kejernihannya. Ketika seseorang mulai menyadari keterbatasan waktu, banyak hal yang sebelumnya terasa penting tiba-tiba kehilangan makna. Sambil menyesali, kenapa selagi muda dulu terlalu banyak hal baik yang ditunda?

 

Ambisi yang dulu terasa mendesak perlahan berubah menjadi keinginan yang lebih sederhana: hidup tenang, kesehatan yang terjaga, keluarga yang tetap dekat, dan kemampuan untuk tetap bermanfaat bagi orang lain.

 

Kini, saya mulai sadar dan memahami. Bahwa keberhasilan hidup tidak selalu identik dengan apa yang terlihat di luar. Gelar, jabatan, status sosial atau pencapaian karier memang penting. Tapi semuanya ternyata tidak selalu menjadi ukuran utama kebahagiaan. Pada akhirnya, yang lebih membekas adalah hubungan yang tulus, kepercayaan yang dijaga, dan kesempatan untuk tetap bisa berbuat baik dan memberi manfaat bagi banyak orang. Karena sebaik-baik manusia, memang yang bermanfaat bagi orang lain. Bukan yang dicapai dan dinikmati sendiri.

 

Di usia 56 tahun pula, saya mulai lebih sering memikirkan masa pensiun. Bukan hanya soal berhenti bekerja. Tapi tentang bagaimana menjalani hidup setelah rutinitas panjang bertahun-tahun berakhir. Pensiun sering disalahpahami sebagai akhir dari produktivitas. Padahal, jika disiapkan dengan baik, pensiun justru bisa menjadi fase kehidupan yang lebih merdeka. Lebih tenang dan menjauh dari “kesibukan” yang membuat kita jadi obsesif, subjektif bahkan arogan. Masa tua untuk berhenti dari hiruk-pikuk dunia yang tidak lagi diperlukan. Selain bersiap untuk kembali kepada-Nya.

 


Usia 56 membuat saya sadar bahwa waktu tidak hanya bergerak maju, tetapi juga mengajarkan kita untuk melepaskan banyak hal: ego yang berlebihan, keinginan untuk selalu benar, dan kebutuhan untuk terus membuktikan diri kepada orang lain. Pada titik tertentu, hidup justru terasa lebih ringan ketika kita tidak lagi terlalu sibuk mengejar pengakuan. Hidup memang tidak ada yang perlu divalidasi orang lain. Sebab, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kecuali hanya untuk-Nya. Maka yang tersisa di usia 56 tahun, hanya pertanyaan sederhana: apakah hidup yang kita jalani sudah cukup bermakna?

 

Dan di usia 56 tahun, saya akhirnya sadar akan pentingnya selalu menghargai diri sendiri. Untuk mengurangi kesibukan yang membuat waktu terbuang sia-sia. Sibuk kerja, sibuk mengejar mimpi, dan sibuk lainnya hingga jadi sebab meremehakn waktu atau merendahkan orang lain. Akibat bertekad mendapat pengakuan dari orang lain. Pada akhirnya, kita tentang diri kita sendiri. Seberapa bermanfaat untuk orang lain?

 

Pergaulan di usia 56 tahun harus lebih hati-hati. Mulai membatasi diri dari apapun yang berlebihan, apalagi sia-sia. Bila tidak diajak jangan ikut, bila tidak dihargai jaga jarak. Bila tidak dilibatkan jangan ikut campur, bila tidak di undang jangan datang. Bila bukan priorita jangan minta diprioritaskan. Bila tidak didengarkan jangan lanjut bicara, bahkan bila tidak dikasih tahu, tidak usah kepo. Ternyata, sikap itu membuat kita lebih tenang dan tidak melukai orang lain.

 

Mungkin memang tidak semua mimpi bisa terwujud. Mungkin tidak semua rencana berjalan sempurna. Tetapi jika perjalanan hidup mampu memberi manfaat bagi orang lain, meninggalkan jejak kebaikan, dan menjaga martabat hingga usia senja, rasanya itu sudah cukup. Di usia 56 tahun, saya tidak lagi memandang hidup sebagai perlombaan. Hidup lebih terasa seperti perjalanan yang perlahan mendekati rumah. Dan pada perjalanan pulang itulah, seseorang biasanya mulai memahami apa yang sebenarnya paling penting dalam hidupnya. Mengajar di kampus, menjadi dewas di salah satu DPLK, konsultan sambil bermain dengan cucu dan ngobrol ringan bersama anak-anak yang sudah dewasa sudah cukup bagi saya. Apalagi ditambah berkiprah berbuat baik dan menebar manfaat di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor sebagai jalan hidup pengabdian, sungguh sudah lebih dari cukup. Di usia ke-56 tahun, tetap bersyukur dan berucap alhamdulillah, alhamdulillah dan alhamdulillah.

 

Di usia 56 tahun, saya hanya ingin memperbaiki diri dan mendekat kepada-Nya. Selalu ikhtiar yang baik dan menebar manfaat kepada sesama, selebihnya biarkan Allah yang bekerja untuk saya. Dan yang tidak kalah penting, memilih tempat bergaul yang baik untuk diri kita sendiri.  

 

Usia 56 tahun, ketika hidup mulai menghitung mundur. Kini tersadar untuk menghargai diri sendiri dan tidak lagi berusaha menjadi orang yang disukai. Tetap apa adanya di sisa waktu yang ada, berbuat baik dan menebar manfaat.

Di usia 56 tahun, mau apa lagi?  Saya hanya mau membaca buku dan menikmati hidup ....





 


Minggu, 16 Maret 2025

Di Usia 55 Tahun, Suka Lupa Kalau Sudah Tua

Kemarin 15 Maret 2025, saat ulang tahun ke-55, saya menggunakan kaos berjudul “suka lupa kalau sudah tua”. Kaos itu bukan tanpa alasan saya kenakan. Justru ada banyak pesan dan hikmah untuk diri saya sendiri, bahkan menjadi pengakuan diri di hadapan anak-anak, istri, menantu, dan cucu saya di saat buka puasa bersama keluarga kemarin.

 

Suka lupa kalau sudah tua. Bukan hanya soal usia. Tapi lebih pasnya soal cara berpikir dan sikap mental yang melekat pada diri sendiri. Untuk lebih fokus pada diri sendiri, tidak lagi peduli terhadap urusan orang lain, kecuali berkiprah secara sosial di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.bkita sering lupa kalau sudah tua, kok masih sering membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sudah tua, kok masih berani bergibah. Apalagi hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa mampu introspeksi diri.

 

Lupa kalau sudah tua. Masih mengejar dunia ke mana-mana, dari subuh hingga larut malam mencari materi dan harta. Tanpa bisa membagikannya kepada sesama, tanpa punya waktu lagi untuk berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain. Ketika sudah tua, terus bila mampu mencapai semuanya, mau ngapain lagi?

 

Terus terang, di sekitar kita, kian banyak orang-orang yang fokusnya pada masalah, fokusnya pada mencari kejelekan orang lain. Maka di usia 55 tahun, saat mengenakan kaos “suka lupa kalau sudah tua”, saya menegaskan untuk komitmen dan selalu ikhtiar menjauhkan diri dari perbuatan buruk dan pikiran negatif. Melepaskan apapun yang membuat stres dan tidak nyaman, menghindari diri dari orang-orang toxic, apalagi arogan dan subjektif.

 

Hari gini, di zaman begini, lebih baik fokus pada hal-hal yang baik dan bermanfaat. Bila perlu yang asyik-asyik saja, mendingan nonton tiktok yang bisa bikin ketawa kapanpun. Kenapa? Karena kita berbuat baik dan bermanfaat saja belum tentu bisa mendapat surga-Nya, apalagi gemar berbuat buruk dan berpikir negatif. Jadi penting, di usia 55 tahun, untuk memilih lingkungan dan tempat bergaul yang sehat dan produktif.

 

Saya, bisa jadi, tidak sebaik yang orang lain pikirkan. Itu hak orang lain dan saya tidak bisa mengontrol sikap dan pikiran orang lain kepada saya. Karena saya hanya bisa mengendalikan hati, pikiran, dan perilaku saya sendiri. Selebihnya saya tidak mampu dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Ketahuilah, atas alasan apapun, orang lain lebih banyak mengingat kekurangan dan kesalahan kita. Tapi hanya sedikit mengingat kebaikan yang kita perbuat. Jadi, tidak usah pusing dengan prasangka buruk orang lain. Ada istilah, bila mau tahu buruknya kita, silakan tanya kepada para pembenci kita. Tapi bila ingin tahu baiknya kita, tidak usah tanya siapa-siapa. Begitulah nyatanya.

 


Saat usia 55 tahun kemarin, saat memakai kaos “suka lupa kalau sudah tua”. Saya hanya bertekad untuk lebih fokus pada keluarga dan orang-orang tercinta di sekitar saya, tetap mengajar dan bergaul dengan orang-orang baik sambil berkiprah sosial di TBM Lentera Pustaka. Tidak ada yang lainnya, tidak lagi punya obsesi duniawi. Semuanya sudah saya rengkuh sudah saya capai, selebihnya tinggal konsisten berbuat baik dan menebar manfaat. Selebihnya menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.

 

Apapun bisa terjadi. Karena Nabi Ibrahim tidak pernah tahu api yang membakarnya berubah menjadi dingin. Nabi Musa sama sekali tidak tahu lautan di depannya bisa terbelah. Nabi Muhammad pun akhirnya menjadi pilihan kekasih Allah SWT. Segalanya dapat terjadi bila mau berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama, itulah yang kini melandasi hidup saya di usia 55 tahun.

 

The show must go on. Fokuslah pada yang baik-baik dan asyik-asyik. Dan jangan pernah biarkan orang lain merusak kebaikan yang kita sudah torehkan. Karena sejauh apapun kita melangkah, pasti ada orang lain yang tidak suka dan tidak ingin melihat kita melangkah jauh. Karena di saat kita maju, pasti ada orang-orang yang tertinggal dan mencibir di belakang.

 

Suka lupa kalau sudah tua. Artinya, penyesalan itu kadang bukan karena kita melakukan hal yang salah. Tapi karena kita melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang salah. Jadi, tetap melangkah dan hati-hati saja. Salam literasi!

 


Kamis, 14 Maret 2024

Catatan Founder TBM Lentera Pustaka di Usia 54 Tahun, Lebih Baik Bersinar di Kampung Kecil

“Pilih mana, jadi orang hebat tanpa manfaat atau jadi orang biasa yang bermanfaat?” tanya seorang anak TBM Lentera Pustaka kepadaku. Hingga saat ini, pertanyaan itu masih terngiang-ngiang. Kenapa aku harus memilih antara orang hebat tapi tanpa manfaat atau jadi orang biasa yang bermanfaat. “Kenapa sih harus memilih?” pikirku sederhana. Apa aku tidak berhak menjadi orang yang hebat dan bermanfaat?

 

Dan hari ini, di hari ke-4 bulan Ramadhan 1445 H, setelah melalui sedikit perenungan. Aku mantap memilih untuk menjadi orang biasa yang bermanfaat. Karena bila kadar ema situ adalah karatnya. Maka kadar manusia itu ada pada manfaatnya untuk orang lain. Mau sehebat apapun yang aku omongkan. Tapi bila tidak ada manfaat untuk orang lain ya percuma saja. Tapi sebaliknya, sekecil apapun perbuatan yang aku lakukan seperti berkiprah di taman bacaan. Bila itu bermanfaat bagi banyak orang, maka itu jauh lebih baik. Tidak apa-apa jadi orang biasa asal masih bisa menebar manfaat. Karena “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya.

 

Memang benar. Kadar emas adalah karat. Kadar manusia itu manfaat. Apapun yang dikerjakan, pada akhirnya bila mampu memberi bermanfaat jauh lebih penting daripada sekadar dipandang hebat. Tidak peduli apa kata orang, tidak peduli pada prasangka buruk orang lain. Karena yang bermanfaat itu pasti ada rasanya. Sementara yang hebat terkadang hanya sebatas pandangan mata. Lebih baik menjadi manusia dengan kadar manfaat tinggi. Bukan sekadar menjadi seonggok daging berbungkus kulit yang hanya hebat tanpa manfaat.

 

Banyak riwayat menyebut, siapapun yang bisa menghadirkan senyum ke hati orang lain. Menghilangkan kesusahan atau kelaparan yang dialami orang lain. Bahkan menyenangkan hati anak-anak yang membaca buku di taman bacaan. Itulah perbuatan dan amalan yang paling dicintai Allah SWT. Bahkan lebih dicintai daripada ber-i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan lamanya. Karena mau berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain. Maka, jangan pernah melemah untuk menjadi pribadi yang penuh manfaat bagi sesama, di mana pun dan hingga kapan pun.

 

Di cerita lainnya, aku juga pernah “kalah telak”. Ketika niat dan perbuatan baik yang aku jalani. Tiba-tiba dibenci dan dizolimi orang lain. Diteror dan difitnah, hingga “dirampas” segala hak-hak yang ada padaku. Hingga menjadi manusia yang “terusir” akibat jalur “mulut manis” manusia. Tapi qadarullah, aku masih menjadi manusia biasa yang tetap menebar manfaat. Di tengah terpaan badai, aku tetap diam dan terduduk di singgasana kesabaran. Aku masih seperti yang dulu, sekalipun hanya orang biasa. Masih tetap mengajar lebih dari 29 tahun di kampus, masih bekerja untuk membiayai anak-anakku, dan masih tetap berkiprah di taman bacaan sebagai jalan hidup pengabdian. Tidak peduli seberapa benci orang-orang itu padaku hingga kini.

 

Dan hari ini, pertanyaan lain ada lagi. "Pilih mana, bersinar di tempat kecil? Atau biasa-biasa saja di tempat besar?" ujar seseorang kepadaku. Aku pun tertunduk sejenak. Sambil bertanya pada diri sendiri, kenapa harus memilih lagi? Apa aku tidak boleh bersinar di tempat yang besar? Ternyata, jalan hidup orang tidak bisa dipilih. Semuanya akan mengalir dan berproses ke tempat yang semestianya, sesuai kehendak-Nya. Di luar aktivitas keseharianku, kini aku akhirnya terdampar dan memilih “lebih baik bersinar di tempat kecil”. Menjadi lentera bagi ratusan anak dan warga di taman bacaan di kaki Gunung Salak Bogor. Lagi-lagi, tidak peduli apa kata orang. Aku hanya mengerjakan apa yang harusnya dikerjakan.

 


Ayahku, sebelum meninggal di tahun 2021 lalu, dia pernah berkata, “Tidak apa-apa Nak, asal kamu tetap baik dan bermanfaat. Kerjakan saja, apalagi bila kamu senang mengerjakannya. Insya Allah berkah ada di situ”. Dan hingga kini, aku masih memegang teguh nasihat dari ayahku. Lebih baik berada di tempat kecil namun memberi sinar. Daripada berada di tempat yang besar tapi biasa-biasa saja. Ternyata benar, tidak terlalu penting punya nama besar dan omongan hebat. Bila akhirnya tidak mampu berbuat baik dan menebar manfaat. Apalagi hanya bisa menyalahkan orang lain dan mengeluhkan keadaan.

 

Dan hari ini, aku genap berusia 54 tahun. Hanya seorang lelaki biasa yang ingin tetap menebar sinarnya di tempat yang kecil. Tetap berkiprah di taman bacaan, untuk mengisi hari-hari tersisa menjelang kematian. Bertekad untuk selalu memperbaiki diri, tetap berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan. Bergaul dengan anak-anak yang rajin membaca, menyantuni anak-anak yatim dan kaum jompo. Dan terus bersyukur sekalipun jadi “driver motor baca keliling” dari kampung ke kampung setiap minggunya. Kiprah sosial yang jadi jalan hidup, di luar aktivitas keseharianku yang terbilang padat. Selalu menyediakan waktu dan tenang untuk menebar manfaat kepada orang lain.

 

Bila ada yang bertanya mau apa lagi di usia ke-54 tahun? Aku pun hanya bisa menjawab dengan sederhana. Aku hanya ingin terus memperbaiki diri, sambil berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain. Tetap berada di lingkungan kecil yang lebih menghargai keberadaanku. Dibandingkan berjuang punya nama besar di lingkungan besar yang tidak memberi manfaat apapun. Di usia yang sudah tua kini, aku hanya bertekad dan ikhtiar untuk 1) menyelesaikan disertasi dan meraih gelar doctor manajemen pendidikan, 2) diberi sehat dan panjang umur untuk beribadah kepada-Nya, dan 3) tetap berkiprah secara sosial di taman bacaan yang aku dirikan sendiri. Dan menemani anak perempuan kesayanganku untuk menggapai cita-citanya, insya Allah. Aku hanya bisa memperbaiki niat dan membaguskan ikhtiar di mana pun. Selebihnya, aku serahkan segalanya kepada Allah SWT. Biarkan Allah yang bekerja untukku esok. Aku hanya ingin menyenangkan Allah, agar Allah pun sudi menyenangkanku, amiin.

 

Aku dan siapapun boleh bekerja, boleh berbisnis, boleh bersosial, bahkan sangat boleh bergaul. Tapi pekerjaan, bisnis, aktivitas sosial, dan pergaulan yang paling baik adalah yang bisa menyambungkan kita lebih dekat pada Allah. Karena soal hidup dan usia seseorang bukan terletak pada seberapa lama. Tapi seberapa baik dan bermanfaat kita untuk orang lain. Itulah orientasi hidup yang paling utama, untuk lelaki yang kini berusia 54 tahun.

 

Bila kadar emas itu adalah karat, maka kadar manusia itu ada pada manfaatnya. Maka jangan pernah lelah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



Selasa, 14 Maret 2023

Menapak Usia 53 Tahun, Mau Apa Lagi?

Waktu, memang berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, usiaku hari ini sudah 53 tahun. Selain harus disyukuri, pertambahan usia ini harus jadi momen untuk terus memperbaiki diri. Ternyata menua itu pasti, sama sekali tidak pantas dihindari. Siapapun akan tua pada waktunya. Di usia yang terus bertambah, hanya introspeksi diri – merenung untuk hari-hari yang tersia. Khusus untuk saya, hari ulang tahun menegaskan pentingnya saya memikirkan dan bertindak untuk akhirat ketimbang dunia.

 

53 tahun sudah usiaku. Jadi momen memperbaiki niat, memperbagus ikhtiar dan berdoa kepada-Nya. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Berkomitmen dan konsisten dalam menebar kebaikan dan manfaat kepada sesama. Berkiprah dalam pekerjaan, aktivitas sosial, dan pergaulan secara tulus. Dan menjadikan setiap aktivitas yang dilakukan sebagai ladang amal. Untuk menggapai ridho Allah SWT. Karena apalagi bila bukan “senangkan Allah SWT, maka Allah SWT akan menyenangkan kita”. Tiap ulang tahun, muhasabah itu sudah cukup.

 

Sudah tidak ada alasan lagi, di usia 53 tahun, selain mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena kematian, cepat atau lambat, akan segera tiba. Bersiap untuk meninggalkan dunia dalam keadaan baik. Al-Khattabi berkata “Orang yang Allah panjangkan umurnya hingga 50 tahun, tidak diterima lagi keuzuran/alasan, karena usia 50 tahun merupakan usia yang dekat dengan kematian. Maka inilah kesempatan untuk memperbanyak taubat, beribadah dengan khusyuk, dan bersiap siap bertemu Allah.” (Tafsir al-Qurthubi).

 

53 tahun usiaku. Adalah bagian perjalanan penting menuju Allah SWT. Dan sekarang hampir sampai tujuannya. Maka sebagai pengingat diri, di usia 53 tahun ini, harus mampu untuk tidak berlebihan dalam hal apapun. Bekerja, mencari uang, bergaul, bahkan bergaya hidup secukupnya. Lebihnya ada pada ibadah dan peduli sosial. Berani mengambil sikap untuk tidak lagi berkawan dengan orang-orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal. Menjauh dari pergaulan yang penuh keluh-kesah, gibah atau onrolan yang tidak bermanfaat. Karena di luar sana, terlalu banyak kebaikan dan manfaat yang bisa ditebarkan untuk orang lain. Tentu, dengan modal sabar, syukur, dan tawakal.

 


Di usia 53 tahun ini, saya sangat bersyukur. Karena sudah menemui jalan hidup yang pas dan di-rdohoi Allah SWT. Berkiprah sepenuh hati di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Membimbing anak-anak kampung yang terancam putus sekolah untuk selalu membaca buku agar tidak putus sekolah. Mengajar ibu-ibu kaum buta aksara. Mengajar melek AL Quran kaum ibu di taman bacaan. Menjadi driver moto baca keliling hanya mengantar buku agar dibaca anak-anak yang tidak punya akses bacaan, memebebaskan kaum ibu dari rentenir melalui koperasi simpan pinjam. Dan yang tidak kalah penting, membina dan menyantuni anak-anak yati binaan dan kaum jompo. Alhamdulillah, semua kiprah sosial di TBM Lentera Pustaka berjalan lancar. Semuanya, saya dedikasikan untuk pengabdian dan mempersiapkan diri kemabali kepada-Nya. Selebihnya menyelesaikan disertasi S# untuk meraih doctor manajemen pendidikan dari Unpak yang sudah lama terkatung-katung. Bekerja sebagai dosen di Unindra, direktur eksekutif Asosiasi DPLK, dan konsultan dana pensiun hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai ayah dan suami. Menafkahi keluarga sebagai tanggung jawab dan merintis kebaikan di akhirat.

 

Sudah 53 tahun usiaku. Tidak ada alasan untuk menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Untuk belajar dan menambah ilmu agama, memperbanyak sedekah dan peduli sosial sambil selalu  mengingat kematian. Selalu komit untuk beramal soleh, meminta maaf dan memaafkan atas kesalahan yang pernah terjadi. Niatnya, untuk menggapai syafaat menjelang kematian. Karena tidak ada lagi yang diperjuangkan di dunia ini, selain memperbanyak pahala dan ibadah, di mana pun dan kapan pun.

 

Di usia 53 tahun, saat uban bertambah banyak dan lelah badan begitu gampang. Maka berhentilah dari perbuatan maksiat, menyetop segala yang tidak halal. Tangan berhenti mengambil apapun yang bukan hak saya. Mulut berhenti dari gibah, fitnah, apalagi menyakiti orang lain. Bahkan telinga harus berhenti dari mendengar hal-hal haram dan tidak bermanfaat. Untuk selalu ikhtiar berbuat baik kepada siapapun, apapun kondisinya. Sekaligus tetap berbaik sangka kepada Allah SWT, apapun alasannya.

 

Hanya doa yang bisa dipanjatkan di usia 53 tahun. Ya Allah, karuniai hamba umur panjang untuk ibadah, kesehatan untuk kebaikan dan manfaat. Jadikan hamba semakin bijak dalam bertindak dan bertutur kata. Agar semuanya menjadi ladang amal yang mendatangkan keberkahan dan kebahagiaan. Untuk menjadikan dunia sebagai bekal menuju akhirat, amiin yaa rabbal ‘alamiin…

 

53 tahun sudah usiaku. Sebagai momen untuk menjadikan diri lebih baik di waktu yang tersisa. Karena perjalanan menuju-Nya, sebentar lagi sampai…. Salam literasi #SyarifudinYunus #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka