Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai berhenti berlari terlalu cepat. Tidak lagi bekerja terlalu keras atau berjuang penuh menggapai harapan. Tidak lagi banyak mimpi, tidak lagi suka keramaian. Cukup apa adanya dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Bukan karena lelah semata. Tapi karena mulai sadar bahwa waktu tidak lagi terasa panjang seperti dulu.
Hari ini, di usia 56 tahun, saya mulai merasakan kondisi itu. Dulu, usia lima puluhan terasa seperti wilayah yang sangat jauh. Ketika masih muda, kita membayangkan umur akan berjalan lambat, seolah kehidupan selalu menyediakan banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan, mengejar mimpi, atau menunda rencana. Namun kenyataannya tidak begitu. Hidup ternyata bergerak jauh lebih cepat daripada yang kita kira.
Pada usia 56 tahun ini, saya mulai sering menoleh ke belakang.
Bukan untuk menyesali masa lalu, tapi untuk memahami perjalanan yang sudah
ditempuh. Ada banyak keputusan yang ternyata tepat, ada juga yang seandainya
bisa diulang mungkin akan saya jalani dengan cara berbeda. Begitulah hidup
bekerja, ia tidak memberi kesempatan untuk mengedit masa lalu, hanya memberi
kita ruang untuk memaknai apa yang telah terjadi. Sebagai cara untuk mengguggah
kesadaran diri.
Ternyata, usia 56 tahun membawa kesadaran baru tentang waktu. Jika
usia harapan hidup rata-rata sekitar tujuh puluhan, maka secara sederhana kita
mulai berada di bab terakhir perjalanan hidup. Kalimat itu mungkin terdengar
berat, tetapi justru di situlah letak kejernihannya. Ketika seseorang mulai
menyadari keterbatasan waktu, banyak hal yang sebelumnya terasa penting
tiba-tiba kehilangan makna. Sambil menyesali, kenapa selagi muda dulu terlalu
banyak hal baik yang ditunda?
Ambisi yang dulu terasa mendesak perlahan berubah menjadi
keinginan yang lebih sederhana: hidup tenang, kesehatan yang terjaga, keluarga
yang tetap dekat, dan kemampuan untuk tetap bermanfaat bagi orang lain.
Kini, saya mulai sadar dan memahami. Bahwa keberhasilan hidup
tidak selalu identik dengan apa yang terlihat di luar. Gelar, jabatan, status
sosial atau pencapaian karier memang penting. Tapi semuanya ternyata tidak
selalu menjadi ukuran utama kebahagiaan. Pada akhirnya, yang lebih membekas
adalah hubungan yang tulus, kepercayaan yang dijaga, dan kesempatan untuk tetap
bisa berbuat baik dan memberi manfaat bagi banyak orang. Karena sebaik-baik
manusia, memang yang bermanfaat bagi orang lain. Bukan yang dicapai dan
dinikmati sendiri.
Di usia 56 tahun pula, saya mulai lebih sering memikirkan masa
pensiun. Bukan hanya soal berhenti bekerja. Tapi tentang bagaimana menjalani
hidup setelah rutinitas panjang bertahun-tahun berakhir. Pensiun sering
disalahpahami sebagai akhir dari produktivitas. Padahal, jika disiapkan dengan
baik, pensiun justru bisa menjadi fase kehidupan yang lebih merdeka. Lebih
tenang dan menjauh dari “kesibukan” yang membuat kita jadi obsesif, subjektif
bahkan arogan. Masa tua untuk berhenti dari hiruk-pikuk dunia yang tidak lagi
diperlukan. Selain bersiap untuk kembali kepada-Nya.
Usia 56 membuat saya sadar bahwa waktu tidak hanya bergerak maju,
tetapi juga mengajarkan kita untuk melepaskan banyak hal: ego yang berlebihan,
keinginan untuk selalu benar, dan kebutuhan untuk terus membuktikan diri kepada
orang lain. Pada titik tertentu, hidup justru terasa lebih ringan ketika kita
tidak lagi terlalu sibuk mengejar pengakuan. Hidup memang tidak ada yang perlu
divalidasi orang lain. Sebab, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kecuali
hanya untuk-Nya. Maka yang tersisa di usia 56 tahun, hanya pertanyaan
sederhana: apakah hidup yang kita jalani sudah cukup bermakna?
Dan di usia 56 tahun, saya akhirnya sadar akan pentingnya selalu
menghargai diri sendiri. Untuk mengurangi kesibukan yang membuat waktu terbuang
sia-sia. Sibuk kerja, sibuk mengejar mimpi, dan sibuk lainnya hingga jadi sebab
meremehakn waktu atau merendahkan orang lain. Akibat bertekad mendapat pengakuan
dari orang lain. Pada akhirnya, kita tentang diri kita sendiri. Seberapa
bermanfaat untuk orang lain?
Pergaulan di usia 56 tahun harus lebih hati-hati. Mulai membatasi
diri dari apapun yang berlebihan, apalagi sia-sia. Bila tidak diajak jangan
ikut, bila tidak dihargai jaga jarak. Bila tidak dilibatkan jangan ikut campur,
bila tidak di undang jangan datang. Bila bukan priorita jangan minta
diprioritaskan. Bila tidak didengarkan jangan lanjut bicara, bahkan bila tidak
dikasih tahu, tidak usah kepo. Ternyata, sikap itu membuat kita lebih tenang
dan tidak melukai orang lain.
Mungkin memang tidak semua mimpi bisa terwujud. Mungkin tidak
semua rencana berjalan sempurna. Tetapi jika perjalanan hidup mampu memberi
manfaat bagi orang lain, meninggalkan jejak kebaikan, dan menjaga martabat
hingga usia senja, rasanya itu sudah cukup. Di usia 56 tahun, saya tidak lagi
memandang hidup sebagai perlombaan. Hidup lebih terasa seperti perjalanan yang
perlahan mendekati rumah. Dan pada perjalanan pulang itulah, seseorang biasanya
mulai memahami apa yang sebenarnya paling penting dalam hidupnya. Mengajar di
kampus, menjadi dewas di salah satu DPLK, konsultan sambil bermain dengan cucu
dan ngobrol ringan bersama anak-anak yang sudah dewasa sudah cukup bagi saya. Apalagi
ditambah berkiprah berbuat baik dan menebar manfaat di TBM Lentera Pustaka di
kaki Gunung Salak Bogor sebagai jalan hidup pengabdian, sungguh sudah lebih
dari cukup. Di usia ke-56 tahun, tetap bersyukur dan berucap alhamdulillah,
alhamdulillah dan alhamdulillah.
Di usia 56 tahun, saya hanya ingin memperbaiki diri dan mendekat
kepada-Nya. Selalu ikhtiar yang baik dan menebar manfaat kepada sesama, selebihnya
biarkan Allah yang bekerja untuk saya. Dan yang tidak kalah penting, memilih
tempat bergaul yang baik untuk diri kita sendiri.
Usia 56 tahun, ketika hidup mulai menghitung mundur. Kini tersadar
untuk menghargai diri sendiri dan tidak lagi berusaha menjadi orang yang
disukai. Tetap apa adanya di sisa waktu yang ada, berbuat baik dan menebar
manfaat.
Di usia 56 tahun, mau apa lagi? Saya hanya mau membaca buku dan menikmati hidup ....




Tidak ada komentar:
Posting Komentar