Faktanya di sekitar kita, ada orang yang hidupnya memang senang mengganggu orang lain. Sibuk mengurusi hidup orang lain. Kepo akibat gemar mengintip laju orang lain. Orang yang gagal membangun hidupnya sendiri. Tergantung pada apa yang dilakukan orang lain. Otaknya selalu ingin “menang” dari orang lain. Tapi justru di situ terlihat hidupnya “tidak tenang”. Kenapa begitu? Semuanya dilakukan atas nama benci, dendam, dan iri. Itulah orang toxic.
Banyak orang pengen hidupnya
tenang. Tapi yang dikerjakan bukan jalan ketenangan. Justru sibuk mengganggu hidup
orang lain. Menyerang, bahkan sangat aktif merusak reputasi orang lain. Lalu
berteriak-teriak, seolah-olah jadi orang baik. Meminta validasi dan pengakuan dari
orang lain. Begitulah, manusia toxic bekerja sehari-hari.
Kita sering lupa. Kalau ingin
hidup lebih tenang, berhentilah membawa beban yang bukan milik kita. Tidak usah
sibuk ikut campur urusan orang lain, apalagi bila kita tidak punya kontribusi sama
sekali. Lebih baik fokus untuk memperbaiki diri. Fokus untuk menggapai tujuan
yang baik agar lebih bermanfaat untuk orang lain.
Siapapun akan hidup tenang.
Bila tidak peduli atas apa yang orang lain pikirkan dan katakana tentang kita.
Sebab kita tidak akan pernah bisa mengendalikan penilaian semua orang. Selalu
akan ada orang yang salah paham dan menghakimi tanpa benar-benar mengenal kita.
Kalau hidup kita terus dikendalikan oleh opini orang lain, kita akan kehilangan
diri kita sendiri. Maka hiduplah berdasarkan nilai yang kita yakini, bukan
berdasarkan tepuk tangan yang ingin didapatkan. Bila baik kerjakan, bila jelek
tinggalkan.
Tenang itu mudah. Bila tidak
membawa semua masalah ke dalam kepala kita. Tidak semua masalah harus
dipikirkan sepanjang hari. Ada masalah yang memang harus diselesaikan. Tapi ada
juga yang perlu diabaikan. Biarkan Allah yang akan menyelesaikannya. Semakin
sering kita mengulang masalah di kepala, semakin besar masalah itu terasa. Maka
berpikirlah untuk mencari solusi, bukan untuk menyiksa diri. Minimal, serahkan
segalanya kepada Allah.
Bila mau tenang, hindari
orang-orang toxic. Blokir WA-nya, jangan angkat teleponnya. Belajar mengatakan “tidak”.
Sebab tidak semua orang boleh mendapatkan akses dalam hidup kita. Batasi diri
dan jauhi orang-orang yang pengaruhnya buruk. Begitulah cara kita menjaga diri agar
tetap memiliki ruang untuk hidup lebih baik, lebih punya makna daripada sia-sia.
Karena itu, mulailah berdamai
dengan ketidak-sempurnaan. Banyak orang menunda bahagia karena ingin semuanya
sempurna. Padahal hidup memang akan selalu memiliki kekurangan. Selalu ada kesalahan
yang dibuat, selalu ada rencana yang gagal. Terimalah ketidak-sempurnaan.
Karena memang hidup tidak harus sempurna, asal tetap menjalani prosesnya. Daripada
sibuk ikut campur urusan orang lain lebih baik fokus bangun hidup kita sendiri.
Terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain hanya membuat kita lupa prioritas.
Cukup bandingkan diri kita hari ini dengan diri kita yang kemarin, bukan dengan
pencapaian orang lain.
Jadilah literat, jangan jadi
manusia toxic. Sebab setiap orang memiliki waktu, tantangan dan jalan hidupnya
masing-masing. Hidup akan terasa lebih tenang ketika kita berhenti berlomba di
lintasan yang bukan milik jalur kita. Sebagai nasihat sederhana, jangan jahat dalam
hidup orang lain. Karena nanti, Allah akan membalasa tiap perbuatan yang kita
lakukan kepada orang lain. Salam literasi!
%20rev.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar