Tampilkan postingan dengan label sikap pegiat literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sikap pegiat literasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2026

Berjuang untuk Literasi Melatih Mental Kuat

Berjuang di dunia literasi bukan hanya melatih kemampuan berpikir, tetapi juga membentuk mental yang tangguh. Mengelola taman bacaan, membimbing anak-anak untuk membaca, hingga menjalankan motor baca keliling untuk sediakan akses bacaan atau menggerakkan kegiatan literasi sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti minimnya dana, sedikitnya pengunjung, kurangnya dukungan, hingga kritik yang datang tanpa memahami perjuangan di baliknya. Berjuang di literasi, mengajarkan siapapun untuk tetap konsisten berkiprah meskipun hasilnya belum langsung terlihat. Misalnya, seorang pengelola taman bacaan yang membuka layanan baca selama bertahun-tahun dengan jumlah pembaca yang sedikit namun tetap memilih bertahan. Ketekunan itu melatih kesabaran, kedisiplinan, dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

 

Mental yang kuat juga terbentuk karena pegiat literasi belajar menghadapi penolakan tanpa kehilangan semangat. Ketika mengajukan proposal dana hibah atau bantuan buku yang berkali-kali ditolak, atau mengadakan kegiatan membaca yang hanya dihadiri beberapa anak namun tetap eksis dan berjuang tanpa pamrih. Terus mengevaluasi, memperbaiki cara, dan berjuang terus. Seiring waktu, jumlah pembaca bertambah, kepercayaan masyarakat meningkat, dan dampak kegiatan mulai terasa. Pengalaman menghadapi kegagalan, bangkit kembali, dan terus berbuat inilah yang menjadikan dunia literasi sebagai ruang yang efektif untuk membangun ketangguhan mental, daya juang, serta kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

 

Seperti pegiat literasi dari TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor yang tetap konsisten berjuang untuk literasi. Tanpa disadari, akhirnya membentuk ketahanan mental yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan dan keadaan. Untuk selalu bangkit dari kegagalan, mengontrol emosi dengan baik, dan tetap konsisten berliterasi. Mental semakin kuat karena tidak bergantung pada validasi orang lain, berani menetapkan batasan diri, serta menerima hal-hal di luar kendali alih-alih menyalahkan keadaan atau meratapi keadaan. Beberapa ciri mental kuat yang terbentuk dari perjuangan literasi antara lain;

1.    Berani menerima kenyataan. Tetap menghadapi masalah apa adanya tanpa menyangkal apalagi menghindar.

2.    Fokus pada solusi. Untuk selalu mencurahkan energi pada hal-hal yang bisa diubah dan mencari solusi dari setiap masalah.

3.    Ambil Pelajaran. Menganggap tantangan dan kegagalan sebagai batu loncatan untuk terus tumbuh dan berbuat.

4.    Bertanggung jawab penuh. Selalu siap menanggung akibat dari setiap Keputusan yang dijalankan.

5.    Mampu mengendalikan emosi. Selaku sabar dalam perjuangan dan mampu meredam amarah dalam segala keadaan pahit.

6.    Berani mengambil keputusan. Tegas menolak hal buruk tanpa merasa bersalah sebagai sikap yang dipegang teguh.

7.    Tidak mencari validasi. Apapun keadannya tetap tenang tanpa haus pujian orang dari lain.

 


Mental yang kuat akibat berjuang di jalan literasi pada akhirnya bisa membentuk kepribadian yang kokoh. Hingga membuat orang lain segan. Karena berjuang di literasi tidak menyukai percakapan yang terlalu dangkal. Fokusnya pada perbuatan baik dan hal-hal yang memberi manfaat. Waktu yang dihabiskan untuk literasi juga melatih untuk membuat batasan yang sehat dan jelas dalam pergaulan. Secara tegas, akhirnya mampu meninggalkan situasi maupun hubungan yang dianggap tidak sehat, apalagi toxic. Dan akhirnya, mental kuat yang terbentuk saat berjuang di literasi  menjadikan pegiat literasi tidak mudah terpengaruh, tidak gampang dikendalikan.

 

Seperti kata bijak, kekuatan mental tidak lahir dari air yang tenang melainkan dari ombak yang menggulung. Berjuang di literasi mengajarkan untuk tidak mudah hanyut dalam tekanan, rasa bersalah, maupun permainan emosi dari orang lain. Cenderung memilih untuk tetap tenang dan mencari solusi daripada ikut terseret dalam drama. Mental yang kuat pada akhirnya akan terlihat dari kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri, menjaga nilai pribadi, serta menghargai orang lain tanpa kehilangan jati diri.

 

Dan harus dipahami, sebagai konsekuensinya, seseorang dengan mental yang kuat akan membuat orang lain menjadi tidak nyaman. Sulit untuk diintimidasi, bahkan sebagian orang akan “menjauh” dengan sendirinya. Karenanya, tidak semua orang akan merasa senang orang yang memiliki karakter yang tegas dan asli. Tidak semua orang suka pada orang yang mentalnya kuat. Itulah buah berjuang di literasi. #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Sabtu, 14 Oktober 2023

Tips Berliterasi di TBM, Apa Saja yang Harus Diperhatikan?

Saat ditanya, berapa sebaiknya jumlah anak-anak yang membaca di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) secara rutin? Maka jawabnya, relatif. Jumlah pembaca atau pengikut TBM itu berlangsung secara alamiah. Tidak bisa direkayasa, apalagi TBM ramai bila ada event semata. Jumlah pembaca di TBM pasti bertambah bila TBm dikelola secara kreatif dan konsisten dari waktu ke waktu.

 

Saya selalu menyebut, ada 3 (tiga) elemen penting di TBM. Yaitu 1) ada anak-anak, 2) ada buku-buku, dan 3) ada komitmen dalam mengelola TBM. Artinya, bila aktivitas TBM dijalankan secara konsisten maka jumlah pembaca akan bertambah dengan sendirinya. Sebagai contoh di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, saat berdiri di tahun 2017 hanya 14 anak pembaca aktif. Tapi kini di tahun 2023, tidak kurang dari 130 anak tercatat sebagai pembaca aktif. Plus, pengguna layanannya seperti orang tua, berantas buta aksara, yatim + jompo mencapai 200 orang setiap minggunya. Begitu pula relawan, tadinya tidak punya sama sekali. Saat ini ada 5 wali baca dan 12 relawan yang mengabdi di TBM Lentera Pustaka.

 

Suatu kali di TBM, banyak atau sedikitnya pembaca bukanlah tolak ukur satu-satunya. Tapi komitmen dan konsistensi dalam menjalankan program literasi dan aktivitas taman bacaan. Kan jelas, tidak ada teori paling benar di TBM. Intinya TBM harus dikelola dengan baik dan profesiona, lebih kreatif dan berkolaborasi. Agar TBM jadi tempat yang asyik dan menyenangkan. Maka untuk itu, TBM harus dijadikan ladang amal sekaligus media dakwah. Sehingga siapapun, mau mengabdi dan berkiprah dengan sepenuh hati. Banyak atau sedikit pembacanya itu relatif. Kewajiban TBM itu “berdakwah” tentang literasi dan kegemaran membaca buku secara konsisten. Tanpa peduli, banyak atau sedikit pengikutnya. Persis seperti Nabi Muhammad SAW dulu, tugasnya hanya menyampaikan dakwah dengan benar dan jelas sekalipun pengikutnya sedikit di kala itu.

 

Maka siapapun saat berada di TBM, harus mampu mengubah keluhan jadi harapan. Mengubah tantangan jadi peluang, dan melawan setiap ancaman yang ada di sekitar TBM. Karena TBM, bisa jadi adalah cara Tuhan untuk memberi jalan kepada pegiat literasi untuk terus berjuang keras demi tegaknya literasi dan taman bacaan di Tengah himpitan era digital. Karena kalau bukan TBM, mau siapa lagi yang mengajak untuk membaca buku?

 


Siapapun di TBM, terbukti harus berjiwa pantang menyerah. Harus lebih kreatif, mau berkolaborasi, dan menyukai keberadaannya di TBM. Menyukai TBM-nya, menyukai apa yang dilakukan di TBM, dan menyukai cara yang dilakukannya di TBM. Karena bila sudah suka berada di TBM, maka tidak ada orang yang dapat menggoyahkan eksistensi TBM itu sendiri. Itulah yang disebut “passiona” di TBM. Dan yang tidak kalah penting, pegiat literasi harus “turun ke bumi”, diurus TBM-nya. Jangan terlalu banyak seminar atau diskusi tentang TBM agar tetap “berpijak di bumi” dan tahu solusi dari tiap masalah yang dihadapinya di TBM. Karena suka atau tidak, hari ini banyak pegiat literasi di TBM lebih banyak teori daripada praktik. Gagal mengubah niat baik jadi aksi nyata.

 

Berkiprah di TBM hanya butuh konsistensi dan komitmen. Agar lebih berani berkreasi di TBM dengan caranya sendiri. Bila berani berdiri dan berbicara tentang TBM, maka harus berani pula untuk duduk dan mendengarkan sambil membaca buku di TBM. Proses itu tidak akan mengkhianati hasil. Cukup lakukan hal-hal kecil di TBM dengan cara yang hebat dan tepat.

 

Selain harus konsisten, pada akhirnya dibutuhkan sikap sabar saat berada di TBM. Karena di TBM, sama sekali tidak perlu menjelaskan tentang TBM kepada siapapun. Karena yang menyukai TBM tidak butuh itu dan yang membenci TBM pun tidak akan percaya itu. Jalani saja prosesnya di TBM, itu sudah lebih dari cukup. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi

 

Sabtu, 11 Juni 2022

3 Sikap Wajib Pegiat Literasi di Taman Bacaan

Dunia literasi dan taman bacaan itu harus punya sikap. Sikap untuk menebar manfaat kepada orang lain, khususnya anak-anak demi tegaknya kegemaran membaca dan budaya literasi di tengah era digital. Sikap untuk melakukan alias eksekusi, bukan opini atau diskusi.

 

Maka pegiat literasi, bukan tanpa tantangan. Tidak sedikit orang yang tidak peduli bahkan nyinyir terhadap aktivitas taman bacaan. Maka solusinya, selagi yang dikerjakan baik biarkanlah prasangka atau omongan buruk orang lain di seputar taman bacaan. Karena ingat, mereka memang manusia yang belum kelar sama dirinya sendiri. Jadi apalagi bila bukan peduli urusan orang lain.

 

Pegiat literasi harus punya sikap. Seperti yang saya lakukan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Setekah 5 tahun berdiri, kini TBM Lentera Pustaka jadi tempat membaca 130-an anak dari tadinya hanya 14 anak. Koleksi bukunya mencapai lebih dari 10.000 buku dari tadinya 600 buku. Bahkan kini punya 14 program literasi dari yang tadinya hanya 1 program yaitu taman bacaan saja. Dari tidak punya relawan, kini ada 18 relawan yang bergabung dan membantu aktivitas taman bacaan. Maka sekali lagi, pegiat literasi harus punya sikap. Jangan gubris orang-orang yang nyinyir dan tidak peduli pada literasi dan taman bacaan.

 

Sebagai pegiat literasi, saya bersikap hanya tiga hal dalam hidup ini, yaitu:

1. Pegiat literasi asal tidak merugikan siapa pun dan orang lain maka kerjakanlah yang baik.

2. Pegiat literasi itu mampu bertahan hidup bukan karena siapa pun tapi karena jalan hidup yang ditentukan Allah SWT.

3. Pegiat literasi harus tetap konsisten menebar manfaat kepada banyak orang, apa pun kondisinya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain sekaligus memeprsiapkan diri untuk kembali ke kampung akhirat.

 

Maka saat ber-literasi, jangan pernah peduli apa pun yang dikatakan orang lain. Kerjakan saja apa pun yang terbaik dan jadikan taman bacaan sebagai ladang amal. Di mana pun dan hingga kapan pun.

 


Ketahuilah, di dunia ini termasuk orang-orang yang nyinyir dan banyak omong. Tidak ada satu pun yang sempurna. Karena kesempurnaan nyaris tidak mampu diraih siapa pun. Tapi kita hanya bisa melakukan yang terbaik sekalipun hanya di taman bacaan.

 

Hari ini, banyak orang menuntut kita untuk sempurna. Tapi mereka sendiri tidak pernah sempurna. Bahkan mungkin, tidak melakukan apa pun untuk kebaikan. Itulah mengapa, pegiat literasi pun tidak boleh menuntut orang lain untuk sempurna.

 

Maka pegiat literasi, teruslah berbuat baik. Jadilah diri sendiri dan apa adanya. Sambil katakan, bahwa kita tidak bisa menjadi seperti orang lain. Dan orang lain pun tidak akan pernah bisa seperti diri kita. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Jumat, 11 Februari 2022

Taman Bacaan Cukup Kerjakan yang Baik, Tinggalkan yang Buruk

Siapa pun dan di mana pun, cukup kerjakan yang baik dan tinggalkan yang buruk. Tidak perlu menyalahkan orang lain, apalagi bermentalitas korban. Merapati keadaan, sambil mencari siapa yang salah? Sungguh, hanya membuang waktu. Karena sebesar apa pun kesalahan yang ditimpakan ke orang lain. Serajin apa pun kamu menyalahkannya, itu semua tidak akan mengubah kamu jadi lebih baik. Kecuali menegaskan seolah kamu jadi korban.

 

Selain untuk ibadah, hidup pun mengandung risiko. Lalu, kenapa menghindar dari risiko? Atau berjuang keras untuk menyalahkan orang lain? Seberapa pahit pun, risiko harus diambil. Jadikan pelajaran untuk bertindak lebih baik. Bukankah risiko bisa jadi pemicu untuk memperbaiki diri? Kerjakan yang baik dan tinggalkan yang buruk. Sesederhana itulah hidup.  

 

Definisi literasi yang paling sederhana adalah “kerjakan yang baik, tinggalkan yang buruk”. Sangat jelas dan lugas. Tanpa dalih tanpa alasan. Selagi itu kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain, maka kerjakanlah. Apa pun buruk, sekalipun itu ada di sahabat, maka tinggalkanlah. Baik kerjakan, buruk tinggalkan. Itulah sikap dan prinsip ber-literasi.

 

Seperti aktivitas literasi yang ada di taman bacaan. Mulai dari menyediakan akses bacaan hingga membimbing anak-anak yang membaca agar tidak putus sekolah. Menata buku-buku di rak dan menginventarisasi koleksi buku agar rapi. Mengajar baca-tulis kaum ibu buta aksara agar tidak dibohongi orang. Membimbing calistung anak-anak kelas prasekolah agar optimis dalam hidup. Menemani anak-anak difabel agar mampu aktualisasi diri. Mengurusi koperasi simpan pinjam agar anggota terbebas dari jeratan rentenir. Hingga menyantuni anak-anak yatim dan jompo binaan agar bisa tersenyum. Semua itu pekerjaan baik yang ada di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Terserah orang lain mau bilang apa? Intinya, kerjakan yang baik dan tinggalkan yang buruk.

 


Di zaman begini, membaca buku itu bukan soal bisa atau tidak? Tapi karena mau atau tidak. Maka mengelola aktivitas literasi di taman bacaan memang tidak mudah. Apalagi masyarakatnya apatis. Terkadang bikin frustrasi, bikin stress. Ada yang membenci dan memusuhi. Bahkan tidak sedikit yang memfitnah atau menggubahi. Tapi ketahuilah, setiap perbuatan baik sekecil apa pun pasti kembali kepada yang melakukannya. Dan keburukan sekecil apa pun yang ditebarkan, maka akan kembali pula kepada yang mengerjakannya. Jadi tinggal pilih, mau berbuat yang baik atau buruk? Semua ada konsekuensinya kok.

 

Tidak usah banyak alasan. Apalagi berdalih dengan teori ini itu. Omong begini begitu padahal semuanya omong kosong. Lupa ya, hidup itu terjadi di alam tindakan, bukan di alam ucapan. Bekerja itu bukan hanya untuk mencari materi. Melainkan untuk menebar manfaat dan membantu orang lain. Jadi, setiap perbuatan baik maka kerjakanlah. Sebaliknya, Setiap pekerjaan buruk yang sia-sia pun jauhilah.

 

Maka jangan pernah menyerah berbuat baik, di mana pun dan hingga kapan pun. Jangan pula mengasihani diri sendiri, saat perbuatan baik sudah dimulai dan dijalani. Sekarang ini bukan waktunya untuk mengeluh apalagi menyalahkan orang lain. Tapi momen untuk introspeksi diri, apa perbuatan baik yang sudah dilakukan? Mumpung masih ada umur, mumpung virus Covid-19 belum menyerang ke tubuh kita. Segeralah berbuat baik, tinggalkan yang buruk. Karena cahaya matahari itu tanda bahwa Allah SWT menyuruh hamba-Nya untuk menjadi lebih baik.

 

Dan menang, setiap perbuatan baik itu jarang diingat. Tapi setiap perbuatan buruk pun jarang dilupakan. Jadi, mau lebih baik atau lebih buruk ke depannya? Man Jadda Wajada, “siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya”. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Kamis, 10 Februari 2022

Jangan Lupa Bersikap Optimis di Taman Bacaan

Tong hilap dalam Bahasa Sunda itu artinya “jangan lupa”. Tong hilap termasuk kata keterangan sebagai salah satu komponen penting dalam suatu kalimat. Kata keterangan berfungsi untuk memberi penjelasan pada kata sebelum atau sesudahnya. Bisa dipakai untuk meluaskan atau membatasi subjek atau predikat yang mengikutinya. Seperti “jangan lupa” berarti tidak boleh lupa.

 

Lalu, apa yang “tong hilap” atau jangan lupa?

Tulisan ini untuk pengelola taman bacaan atau pegiat literasi di mana pun. Tong hilap atau jangan lupa untuk selalu optimis saat berkiprah di taman bacaan. Karena taman bacaan itu tempat perbuatan baik. Jadi ladang amal untuk banyak orang. Tapi taman bacaan pun punya hambatan yang tidak kecil. Rintangan yang kadang bikin frustrasi. Tidak sedikit pegiat literasi yang berniat “berhenti” dari aktivitas literasi di taman bacaan.

 

Lagi-lagi, tong hilap selalu optimis di taman bacaan. Hanya optimisme yang mampu mengingatkan pegiat literasi untuk tetap yakin dengan perbuatan baik yang dilakukan di taman bacaan. Sekalipun hanya menyediakan tempat membaca bagi anak-anak. Taman bacaan tidak cukup hanya didirikan. Tapi juga harus dikelola dan dijalankan dengan sikap optimis. Selalu punya harapan baik untuk mencapai tujuan besarnya. Siapa pun yang berkiprah di taman bacaan, harus punya daya juang dan semangat yang tinggi. Penuh gairah dan berpikir positif pada setiap keadaan, apa pun kondisinya.

 

Sikap optimis di taman bacaan itu sangat penting.  Tanpa optimisme, taman bacaan dan pegiat literasi tidak akan bergerak maju. Krena selalu diliputi kebimbangan dan pikiran yang setengah hati. Maka seberapa rasa frustrasi atau stress di taman bacaan, sikap optimis menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Pastikan mentalitas pegiat literasi sangat kokoh saat mengelola taman bacaan.

 

Seperti yang dialami TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sebuah daerah yang angka putus sekolahnya tinggi, 81% hanya SD. Tentu, tradisi membacanya tidak ada. Maka di awal, taman bacaan pun tidak mendapat respon poistif dari masyarakat. Hanya 14 anak yang mau bergabung. Tapi karena sikap optimis, kini sudah mencapai 130 anak dari 3 desa yang rajin ke taman bacaan. Belum lagi, ibu-ibu kaum buta aksara, tidak bisa membaca dan menulis. Dari 4 orang lalu tinggal 2 orang dan kini ada 9 orang ibu yang masih tetap belajar rutin, seminggu 2 kali. Belum lagi, koperasi simpan pinjam yang kini akhirnya mampu mengurangi kaum ibu dari jeratan rentenir dan utang berbungan tinggi. Lagi-lagi, tong hilap untuk selalu optimis di taman bacaan.

  


Sementara di luar sana, banyak orang senang mengeluh. Hidupnya pesimis. Cuma gara-gara soal politik, kok sangat militant mencaci-maki bahkan menebar hoaks dan fitnah. Orang-orang yang selalu mencari kesalahan orang lain. Bahkan pemimpin dan negara pun disalahkan. Terlalu pesimis dalam hidup. Hingga lupa, bahwa apa yang terjadi pada dirinya dan bangsanya sudah dalam kehendak-Nya. Jadi, tong hilap untuk selalu optimis dan berpikir positif soal apa pun dan di mana pun.

 

Jangan lupa, tidak ada satu pun masalah yang bisa diselesaikan dengan keluhan. Tidak satu pu soal kelar bila dihadapi dengan pesimis. Maka di taman bacaan, tidak ada gunanya berkecil hati terhadap semua rintangan. Hanya sikap optimis yang bisa menghadirkan solusi. Ketahuilah, perubahan ke arah yang lebih baik hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang optimis. Jangan keluhkan pohon mawar yang berduri. Tapi syukuri duri yang ada di pohon mawar.

 

Tong hilap untuk selalu optimis di taman bacaan. Jalani saja semua proses baik yang ada di taman bacaan, Tanap risau hasilnya akan seperti apa? Jadi optimis itu lebih baik daripada pesimis. Bahkan jika lingkungan di sekitar taman bacaan buruk sekalipun. Pasti ada optimism bila mau melihat dengan cara yang lain. Di mana pun, hanya optimisme yang bisa memenangkan pertempuran sehebat apa pun.

 

Sungguh di taman bacaan. Ketika niat sudah baik dan ikhtiar sudah optimal. Bungkuslah dengan sikap optimis dan pikiran positif. Sambil tetap bertawakal kepada Allah SWT. Hingga doa yang akan membuktikannya. Bahwa taman bacaan memang baik dan jadi jalan hidup pegiat literasi. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka