Tampilkan postingan dengan label Spirit Taman Bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spirit Taman Bacaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2022

The Show Must Go On, Spirit Taman Bacaan dan Pegiat Literasi Di Manapun

Saat ditanya bagaimana bisa konsisten dalam mengelola taman bacaan?

Maka jawabnya, the show must go on di taman bacaan, bahkan di mana pun kita berada. Semua harus berjalan sebagaimana mestinya. Harus ada yang diperbuat untuk lebih baik. Karena tidak ada urusan atau soal apapun yang bisa selesai tanpa dikerjakan. Mau berdalih apapun, hidup ini terus berjalan. Apapun kondisinya, taman bacaan harus tetap berjalan. Untuk menegakkan kegemaran membaca dan budaya literasi masyarakat.

 

Siapa pun boleh punya mimpi di masa depan. Siapa pun boleh punya luka di masa lalu. Tapi semua itu tidak ada artinya tanpa tindakan yang dilakukan hari ini. Harus tetap melangkah maju, tidak bisa tidak, Jalani saja dan nikmati prosesnya, karena the show must go on. Semua harus berjalan sebagaimana mestinya. Kata orang biijak, “belajarlah dari yang kemarin, hiduplah untuk hari ini, berharaplah untuk besok. Asal jangan berhenti melangkah maju”.

 

Jangankan taman bacaan, setiap manusia pun pasti punya kekurangan punya kelebihan. Itu semua bukan bahan pembicaraan, melainkan kombinasi yang harus diselaraskan. Pasti ada orang yang tidak suka tapi ada juga orang yang suka. Ada mimpi yang bisa dicapai tapi pasti ada harapan yang sulit dicapai. Itu semua realitas dan hukum alam. Toh, hidup harus terus berjalan maka jalani dengan baik. Siap atau tidak, suka atau tidak, semua harus dihadapi dan harus tetap berjalan. Karena siapapun tidak ada yang bisa menolak datangnya pagi atau menghindari dari gelapnya malam. Semua akan datang silih berganti, dan harus dihadapi.

 

Maka semangat itulah yang dipegang erat oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sejaka berdiri 5 tahun lalu, tidak banyak orang peduli, mencibir, bahkan hanya 14 anak yang mau bergabung ke taman bacaan. Jatuh bangun, suka duka yang ada semua dinikmati dan dijalani saja. Asal tetap komit dan konsisten berada di taman bacaan sebagai jalan hidup, sebagai ladang amal untuk semua orang yang paham. Dan kini, TBM Lentera Pustaka sudah menjadi tempat membaca 130 anak-anak usia sekolah yang berasal dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya). Dengan koleksi lebih dari 10.000 buku bacaan, kini tiap anak mampu membaca 5-8 buku per minggu. Selain aktivitas taman bacaan, TBM Lentera Pustaka juga menjalankan program GErakan BERantas BUta AksaRA (Geberbura), KElas PRAsekolah (Kepra), Ramah Difabel, YAtim BInaan (YABI), JOMpo BInaan (JJOMBI), Koperasi Simpan Pinjam, dan MOtor BAca KEliling (Mobake). Tidak kurang dari 250 orang jadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka setiap minggunya.

 


"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12). Taman bacaan dan pegiat literasi di dalamnya, dilarang memperbanyak prasangka. Cukup kerjakan apa yang harus dilakukan. Karena “the show must go on”.  Tidak usah peduli pada orang-orang yang hanya kerjanya ngomong atau berpikir negatif. Apalagi orang-orang yang kepo, gemar bergibah atau bergosip tanpa pernah mampu berbuat baik kepada orang lain. Jangan mau dirusak oleh orang-orang yang tidak bermanfaat dan tidak berkontribusi kebaikan sama sekali.

 

Siapa pun di taman bacaan. Cukup perbaiki niat, baguskan ikhtiar, dan perbanyak doa-doa dengan kesungguhan hati. Hingga tiba waktunya dicukupi, diberkahi, dan dilindungi Allah SWT. Jangan merasa lelah atas masalah. Jangan berhenti untuk melangkah. Hingga berkah datang melimpah di kemudian hari. Agar semua yang dikerjakan di taman bacaan bernilai pahala disisi Allah SWT.

 

Saat di taman bacaan, jangan lupa katakan. Kepada orang-orang di luar sana, kepada para netizen. Bahwa taman bacaan dan urusan apapun tidak pernah bisa diselesaikan pakai lidah atau jari seperti di media sosial. Tapi harus dikerjakan secara nyata pakai hati. Karena the show must go on. Literat itu tindakan, bukan omongan. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

Jumat, 11 Februari 2022

Taman Bacaan Cukup Kerjakan yang Baik, Tinggalkan yang Buruk

Siapa pun dan di mana pun, cukup kerjakan yang baik dan tinggalkan yang buruk. Tidak perlu menyalahkan orang lain, apalagi bermentalitas korban. Merapati keadaan, sambil mencari siapa yang salah? Sungguh, hanya membuang waktu. Karena sebesar apa pun kesalahan yang ditimpakan ke orang lain. Serajin apa pun kamu menyalahkannya, itu semua tidak akan mengubah kamu jadi lebih baik. Kecuali menegaskan seolah kamu jadi korban.

 

Selain untuk ibadah, hidup pun mengandung risiko. Lalu, kenapa menghindar dari risiko? Atau berjuang keras untuk menyalahkan orang lain? Seberapa pahit pun, risiko harus diambil. Jadikan pelajaran untuk bertindak lebih baik. Bukankah risiko bisa jadi pemicu untuk memperbaiki diri? Kerjakan yang baik dan tinggalkan yang buruk. Sesederhana itulah hidup.  

 

Definisi literasi yang paling sederhana adalah “kerjakan yang baik, tinggalkan yang buruk”. Sangat jelas dan lugas. Tanpa dalih tanpa alasan. Selagi itu kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain, maka kerjakanlah. Apa pun buruk, sekalipun itu ada di sahabat, maka tinggalkanlah. Baik kerjakan, buruk tinggalkan. Itulah sikap dan prinsip ber-literasi.

 

Seperti aktivitas literasi yang ada di taman bacaan. Mulai dari menyediakan akses bacaan hingga membimbing anak-anak yang membaca agar tidak putus sekolah. Menata buku-buku di rak dan menginventarisasi koleksi buku agar rapi. Mengajar baca-tulis kaum ibu buta aksara agar tidak dibohongi orang. Membimbing calistung anak-anak kelas prasekolah agar optimis dalam hidup. Menemani anak-anak difabel agar mampu aktualisasi diri. Mengurusi koperasi simpan pinjam agar anggota terbebas dari jeratan rentenir. Hingga menyantuni anak-anak yatim dan jompo binaan agar bisa tersenyum. Semua itu pekerjaan baik yang ada di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Terserah orang lain mau bilang apa? Intinya, kerjakan yang baik dan tinggalkan yang buruk.

 


Di zaman begini, membaca buku itu bukan soal bisa atau tidak? Tapi karena mau atau tidak. Maka mengelola aktivitas literasi di taman bacaan memang tidak mudah. Apalagi masyarakatnya apatis. Terkadang bikin frustrasi, bikin stress. Ada yang membenci dan memusuhi. Bahkan tidak sedikit yang memfitnah atau menggubahi. Tapi ketahuilah, setiap perbuatan baik sekecil apa pun pasti kembali kepada yang melakukannya. Dan keburukan sekecil apa pun yang ditebarkan, maka akan kembali pula kepada yang mengerjakannya. Jadi tinggal pilih, mau berbuat yang baik atau buruk? Semua ada konsekuensinya kok.

 

Tidak usah banyak alasan. Apalagi berdalih dengan teori ini itu. Omong begini begitu padahal semuanya omong kosong. Lupa ya, hidup itu terjadi di alam tindakan, bukan di alam ucapan. Bekerja itu bukan hanya untuk mencari materi. Melainkan untuk menebar manfaat dan membantu orang lain. Jadi, setiap perbuatan baik maka kerjakanlah. Sebaliknya, Setiap pekerjaan buruk yang sia-sia pun jauhilah.

 

Maka jangan pernah menyerah berbuat baik, di mana pun dan hingga kapan pun. Jangan pula mengasihani diri sendiri, saat perbuatan baik sudah dimulai dan dijalani. Sekarang ini bukan waktunya untuk mengeluh apalagi menyalahkan orang lain. Tapi momen untuk introspeksi diri, apa perbuatan baik yang sudah dilakukan? Mumpung masih ada umur, mumpung virus Covid-19 belum menyerang ke tubuh kita. Segeralah berbuat baik, tinggalkan yang buruk. Karena cahaya matahari itu tanda bahwa Allah SWT menyuruh hamba-Nya untuk menjadi lebih baik.

 

Dan menang, setiap perbuatan baik itu jarang diingat. Tapi setiap perbuatan buruk pun jarang dilupakan. Jadi, mau lebih baik atau lebih buruk ke depannya? Man Jadda Wajada, “siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya”. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Kamis, 03 Februari 2022

Kenapa Taman Bacaan Harus Eksis? Sepenggal Cerita dari Pegiat Literasi

Ada taman bacaan, dari sejak berdiri hingga sekarang, seperti hidup segan mati tak mau. Koleksi bukunya sangat terbatas. Bangunannya pun sederhana. Ke sana ke mari, mencari donatur buku sulit sekali mendapatkannya. Apalagi donatur untuk biaya operasional, boro-boro katanya. Pengelolanya pun sudah hampir frustrasi. Mau diteruskan atau tidak taman bacaannya? Tapi di sisi lain, anak-anak yang mau membaca banyak. Lingkungannya pun sangat mendukung. Sampai sekarang tetap eksis walau engap-engapan. Taman bacaan ini, ada anak tapi tidak ada buku. Banyak cobaan dan rintangannya.

 

 

Ada lagi taman bacaan, justru koleksi bukunya banyak. Ribuan buku tersedia, dan banyak donatur. Berjajar di rak-rak buku seperti perpustakaan. Tapi sayang, anak-anak yang mau membacanya sedikit. Lingkungannya apatis, sulit disadarkan akan pentingnya anak membaca buku. Belum lagi pengelolanya harus bekerja setiap hari. Sesampai di rumah sudah Lelah. Akhirnya taman bacaannya kadang buka, kadang tutup. Karena anak-anak yang membaca pun sedikit. Sampai sekarang taman bacaannya masih eksis. Tapi sepi dan tidak ada aktivitas literasi yang semarak.  Taman bacaan ini, ada buku tapi tidak ada anak. Selalu ada kendala dan belum ada obatnya. Harus bagaimana ke depannya?

 

Ada pula taman bacaan, seperti TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Koleksi bukunya banyak, lebih dari 10.000 buku. Anak-anak yang membaca pun banyak, ada 130-an yag berasal dari tiga desa. Aktivitas literasinya pun selalu ada, bisa 3 event per bulan. Biaya operasionalnya pun diperoleh dari sponsor CSR setiap tahunnya. Pengelolanya tiap minggu dating dari Jakarta ke Bogor, hanya untuk mengurusi taman bacaan. Sementara lingkungannya apatis, merasa bodo amat terhadap aktivitas membaca. Taman bacaan berjuang sendiri bersama 5 wali baca dan 18 relawan yang ada. Taman bacaan ini, komitmen pengelolanya sepenuh hati tapi lingkungannya yang apatis. Butuh kerja keras dan konsitensi untuk memelihara taman bacaan agar tetap eksis.

 

Jadi, taman bacaan di mana pun pasti ada saja kendalanya. Entah koleksi buku bacaan yang sedikit, atau jumlah anak pembaca yang sedikit. Ada juga komitmen pengelola yang sepenuh hati atau setengah hati. Taman bacaan pun ada yang didukung masyarakat dan lingkungannya, ada pula yang tidak didukung masyarakat dan lingkungannya. Semua cerita itu bisa terjadi dan ada di taman bacaan.

 

Yah seperti manusia pada umumnya. Taman bacaan pun selalu ada kendala dan rintangan. Itulah tanda bahwa taman bacaan tidak ada yang sempurna. Karena kesempurnaan memang bukan milik manusia, bukan pula milik pengelola taman bacaan. Semua yang terjadi di taman bacaan, sejatinya mengajarkan para pegiat literasi, relawan dan masyarakat. Bahwa Allah SWT itu Maha Adil. Ada plus ada minus, ada lebih ada kurang di taman bacaan. Hal yang lazim terjadi di taman bacaan.

 


Apa yang terjadi di taman bacaan, sulit atau mudah. Berat atau ringan menjalaninya adalah fakta. Tinggal bagaimana pengelola dan pegiat literasi menyikapinya. Mau terus berjuang atau berhenti, menegakkan tradisi baca dan budaya literasi masyarakat? Apa pun yang terjadi, akan lebih baik diambil hikmahnya. Agar menjadi energi dan motivasi dalam menetukan taman bacaan sebagai “jalan hidup kebaikan”.

 

Sangat tidak mungkin, taman bacaan selalu dipayungi kebaikan melulu. Tidak mungkin pula taman bacaan di mana pun sempurna. Selalu ada masalah, ada kendala. Sebagai ujian dan cobaan dalam ber-literasi. Mampu atau tidak mengatasinya?

 

Satu hal yang pasti. Taman bacaan di mana pun harus terus berjuang. Ikhtiar dan doa yang baik, hingga datang pertolongan Allah SWT. Sambil tetap bersyukur dan istiqomah dalam segala keadaan.

 

Literasi memang tidak mudah. Jadi manusia yang literat pun tidak gampang. Maka wajar, mengelola taman bacaan pun sulit. Agar tetap ada tangis dan doa dari orang-orang taman bacaan kepada Allah SWT. Karena bila semua kebaikan sudah didapatkan taman bacaan, bisa jadi orang-orang taman bacaan tidak mau lagi memohon kepada-Nya.

 

Namanya literasi, itu berarti hidup dan taman bacaan pun seperti pelangi. Semakin berwarna semakin indah. Semakin banyak cerita yang bisa disajikan dari taman bacaan.

 

Maka perbaiki terus ikhtiar kita di taman bacaan. Untuk menebar kebaikan dan manfaat kepada banyak orang. Bila taman bacaan jadi jalan hidup. Maka insya Allah, taman bacaan adalah jalan hidup di dunia untuk menunjang kehidupan di akhirat. Itulah spirit taman bacaan. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Rabu, 15 September 2021

Taman Bacaan Hanya Kenal Satu Spirit, Praktik Baik!

Ada satu hal yang banyak orang tidak tahu. Bahwa di taman bacaan, di mana pun, isinya adalah praktik baik. Bukan omongan baik apalagi niat baik. Itu berarti, taman bacaan isinya perbuatan baik. Bukan teori baik yang tidak diimplementasikan. Membaca itu praktik baik. Menyediakan akses buku bacaan di daerah yang angka putus sekolahnya tinggi pun praktik baik. Bahkan memberantas kaum buta huruf di taman bacaan juga praktik baik.

 

Di masa pandemi Covid-19. Hanya praktik baik yan bisa jadi solusi. Belajar daring atau luring tidak akan berarti tanpa praktik baik. Karena belajar bukan terori melulu. Apalagi hanya ceramah tanpa contoh yang bisa diteladani. Taman bacaan dan belajar di sekolah seharusnya berbasis “praktik baik”. Karena praktik baik terbukti efektif untuk mengubah cara berpikir dan perilaku seseorang.

 

Saat saya ditanya, apa itu literasi? Maka saya menjawab, literasi adalah praktik baik. Sebuah ikhtiar untuk memahami realitas kehidupan. Orang yang literat itu mampu bersahabat dengan realitas. Lebih fokus mencari solusi daripada mempersoalkan masalah. Karena itu, gerakan literasi hanya bisa berjalan apabila isinya praktik baik. Tanpa praktik baik, jelas tidak ada masalah apa pun yang dapat diselesaikan.

 

Seseorang dapat disebut literat, bila memiliki kompetensi dalam memahami realitas. Orang yang berdaya dan mampu memberdayakan orang  lain atas dasar kesadaran bersama. Kemampuan mentransformasikan pikiran ke dalam praktik baik sehari-hari. Sehingga perilakunya sehari-hari jadi lebih adaptif. Kontibusinya positif dan manfaatnya solutif. Spirit itulah yang dibangun di taman bacaan.

 

Literasi sebagai gerakan, konstruksi berpikirnya begini. Siapa pun yang menguasai literasi dasar (baca tulis, numerasi, digital, budaya, sains, finansial) pada akhirnya berujung pada penguasaan kompetensi. Maka hanya mereka yang kompeten itulah yang memiliki karakter kuat yang diterapkan ke dalam praktik baik. Maka tanpa literasi, dapat dipastikan manusia maupun bangsa akan sulit berhadapan dengan realitas. Terlalu mudah mengeluh, gampang rapuh. Maka menurut saya, literasi adalah kesadaran untuk belajar dan memahami realitas – lalu mampu mentransformasikan pikiran ke dalam praktik baik. Hal ini sejalan dengan istilah literasi dalam bahasa latin “literatus”, yang berarti orang yang belajar.

 

Literasi adalah perbuatan. Taman bacaan pun sebuah praktik baik. Maka jangan biarkan literasi hanya besar di ruang-ruang seminar atau pikiran semata. Tanpa ada implementasi atau aksi nyata. Siapa pun, harus peduli dan ikut aktif dalam menggerakan aktivitas literasi di manapun. Literasi pun harus dikerjakan dengan sepenuh hati. Jangan pedulikan apa kata orang lain yang tidak suka dengan aktivitas literasi. Asal basisnya praktik baik, maka gerakan literasi dan taman bacaan sudah cukup. Tidak perlu gubrik orang-orang yang hanya pandai omong, jago olah kata.

 


Taman bacaan sebagai praktik baik. Itulah yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sejak didirikan tahun 2017 lalu, awalnya hanya melayani 14 anak pembaca. Tapi kini, TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Lentera Pustaka telah melayani 160 anak pembaca aktif usia sekolah yang berasal dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya) dengan jam baca 3 kali seminggu. Selain itu, TBM Lentera Pustaka pun sudah bertransformasi menjadi sentra pemberdayaan masyarakat. Karena selain taman bacaan, saat ini TBM Lentera Pustaka pun mengelola aktivitas: 1) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf, 2) KEPRA (Kelas PRAsekolah) yang diikuti 25 anak usia PAUD, 3) YABI (YAtim BInaan) dengan 16 anak yatim, 4) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo, 5) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 6) KOPERASI LENTERA dengan 28 ibu-ibu sebagai koperasi simpan pinjam untuk mengatasi soal rentenir dan utang berbunga tingg, 7) DonBuk (Donasi Buku) untuk menerima dan menyalurkan buku bacaan, 8) RABU (RAjin menaBUng) semua anak punya celengan, 9) LITDIG (LITerasi DIGital) seminggu sekali setiap anak, dan 10) LITFIN (LITerasi FINansial) setiap bulan sekali.

 

Melalui praktik baik yang dijalankan, TBM Lentera Pustaka pun kini telah mengembangkan sayap dengan membuka cabang ke-1 TBM Lentera Pustaka Dramaga Bogor bekerjasama dengan BEM KM IPB. Bahkan di tahun 2021 ini, Pendiri TBM Lentera Pustaka pun terpilih sebagai “31 Guardian Wonderful People tahun 2021” dari Guardian Indonesia untuk kategori “pegiat literasi dan pendiri taman bacaan”. Di samping terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia yang menggelar program “kampung Literasi” tahun 2021 dari Direktorat PMPK Kemdikbud RI dan Forum TBM.

 

Semua orang sadar, upaya menanamkan tradisi baca anak-anak kampung apalagi di daerah minus memang tidak mudah. Maka harus ada cara dan praktik baik. Agar kegiatan membaca lebih disenangi anak-anak. Sebagai penyeimbang aktivitas anak di tengah gempuran era digital dan kondisi ekonomi yang sulit. Termasuk rongrongan gaya hidup yang kian terbuka. Mau tidak mau, di kondisi sekarang, hanya gerakan literasi dan taman bacaan yang bisa diandalkan untuk menumbuhkan daya kreatif, daya tahan, dan daya saing masyarakat menjadi lebih baik. Sebuah praktik baik, menuju peradaban masyarakat yang lebih cerdas dan berkualitas. 

 

Maka, fokuslah pada praktik baik bukan omongan baik semata. Ubah niat baik jadi aksi nyata seperti di taman bacaan. Salam literasi #TamanBacaan #PraktikBaikTBM #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu



Rabu, 18 Agustus 2021

Spirit Taman Bacaan dan Prank Sumbangan Rp. 2 Triliun

Heboh terjadi di negeri ini kemarin. Ketika keluarga Akidi Tio berfose menyumbang Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19. Ternyata itu “prank”. Alias sumbangan bodong. Tidak nyata dan akhirnya anak pengusaha itu pun jadi tersangka. Akan diproses hukum. Mungkin ada banyak tafsir tentang hal kejadian itu. Tergantung pada sudut pandang masing-masing.

 

Berani berbuat maka berani bertanggung jawab.

Itulah hikmah yang bisa dipetik dari kejadian “prank” 2 T itu. Maka siapa pun harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. Tanggung jawab itu bukan hanya risiko. Tapi juga sebuah pilihan. Karena saat tanggung jawab itu muncul, maka di depannya ada keputusan yang diambil. Maka bila berani berbuat, harus berani pula menerima konsekuensinya.  

 

Jadi tidak ada yang salah dengan perbuatan atau keputusan, Asal diikuti keberanian untuk bertanggung jawab. Jangan berbuat apapun bila tidak berani bertanggung jawab. Itu pun sebuah pilihan.

 

Seperti perbuatan di taman bacaan. Siapa pun, pegiat literasi yang berani berkiprah di taman bacaan tentu ada risikonya. Ada konsekeuensinya. Bertanggung jawab atas aktivitas giat membaca dan gerakan literasi yang dirintisnya. Mulai dari menyediakan buku-buku bacaan, mengkoordinir anak-anak yang mau membaca. Bahkan dituntut komitmen dan konsistensi yang luar biasa dalam mengelola taman bacaan. Itulah tanggung jawab di taman bacaan.

 

Tentu, untuk mencapai tujuan taman bacaan sangat dibutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Berkorban tenaga, pikiran, waktu, bahkan uang. Berjuang untuk tetap eksis dan bertahan di tengah gempuran era digital. Bahkan berhadapan dengan “suka duka” saat membangun perilaku membaca dan peradaban masyarakat. Tapi dengan jiwa sepenuh hati, insya Allah taman bacaan pada akhirnya mampu menjadi “ladang amal” semua pihak.

 

Tapi di balik itu semua, taman bacaan dan pegiat literasi. Tentu tidak bisa menyenangkan semua orang. Tidak mungkin meng-entertain semua pihak. Selalu saja ada yang bersyukur, ada yang senang. Namun ada pula yang sinis lagi nyinyir karena tidak ingin taman bacaan maju. Tidak suka anak-anak dan masyarakat lebih literat. Itu semua adalah risiko dan konsekuensi yang ada di taman bacaan.

 


Di taman bacaan, jangan biarkan orang lain menghalangi niat dan ikhtiar baik Anda. Jangan takut sudah atau jatuh di taman bacaan. Karena itu hanya bagian dari proses menuju masyarakat literat. Teruslah berusaha dan berjuang. Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati proses.

 

Pintar-pintarlah menjaga perasaan, semangat, dan motivasi di taman bacaan. Itulah tanggung jawab siapa pun yang peduli taman bacaan. Pastinya, selalu saja ada orang yang bertekad menghalangi tujuan besar gerakan literasi. Namun penting dicermati. Bahwa orang lain itu tidak akan mau bertanggung jawab atas apa yang dilakukan di taman bacaan. Maka the show must go on. Apalagi orang-orang itu sama sekali tidak membantu, dan tidak berkontribusi apa pun di taman bacaan.

 

Berani berbuat berani tanggung jawab. Berani menanam berani memanen. Berani bicara harusnya berani melakukannya. Berani mengungkap masalah pun harus berani memberi solusinya. Itulah sikap tegas di taman bacaan, sikap militant pegiat literasi. Agar pengorbanan dan perjuangan menjadi tuntas. Seperti mahasiswa, berani memulau maka harus berani menakhirinya. Alias lulus dan meraih gelar sarjana.

 

Itulah spirit hidup yang bisa dipetik dari taman bacaan.

Berani berbuat berani bertanggung jawab. Bila berani berdiskusi maka harus bertumpu ada solusi bukan masalah. Karena di taman  bacaan, siapa pun belajar. Bila mampu saling menghargai, mengapa memilih untuk saling menentang? Bila ingin dihormati, mengapa tidak mampu menghormati?

 

Literat itu harus diperjuangkan. Untuk lebih sederhana dalam bertindak dan keluar dari kekacauan. Untuk menempuh harmonis daripada perselisihan. Dan tetap optimis di kala banyak orang pesimis. Bersyukur atas apa yang ada, itu pun tanggung jawab. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #TanggungJawabSosial

Rabu, 16 Desember 2020

LITERASI ITU PERJUANGAN

Siapapun, selagi masih ada di dunia memang harus berjuang. Berjuang untuk menggapai ridho-Nya sekaligus “berteman dengan hari akhir”. Maka perjuangan bahkan pengorbanan jadi hal yang pasti melekat dalam kehidupan seseorang. Tidak ada ikhtiar yang digapai dengan mudah, Apalagi mimpi atau cita-cita. Termasuk tegaknya tradisi baca dan budaya literasi, di mana pun, butuh perjuangan. Semua butuh perjuangan. Bahkan tidak jarang harus berkorban untuk mewujudkannya. Agar tidak menyerah di tengah jalan.

 

Seperti Nabi Muhammad SAW. Betapa hebatnya perjuangan beliau saat menyebarkan agama Islam. Tidak pernah menyerah, dicemooh, dimusuhi, bahkan segudang rintangan tetap dihadapinya. Kenapa? Karena beliau percaya, apa yang dilakukannya kelak akan memberikan manfaat untuk umatnya. Jadi, perjuangan itu memang pilihan dengan segaka konsekuensinya. Tentu.

 

Sementara di luar sana. Tidak sedikit orang yang hanya mengeluh dalam hidup. Nestapa dan merasa jadi “korban”. Apa saja dikeluhkan. Hingga lupa untuk bersyukur. Bahwa apa yang ada dan diperoleh hari ini pun, “buah” dari perjuangannya.

 

Bergerak di literasi adalah perjuangan.

Membaca itu berjuang. Menulis itu berjuang. Bahkan mengelola taman bacaan pun jelas suatu perjuangan. Berjuang untuk memberi akses bacaan kepada anak-anak. Berjuang untuk berantas buat aksara, pun berjuang agar jangan ada anak putus sekolah.

 

Berjuang untuk literasi adalah bagian perjalanan hidup. Dan belum tentu banyak orang bisa mengalaminya. Menebar kebaikan kecil dengan cara sederhana. Asal dilakukan, bukan hanya diomongin atau didiskusikan. Ketika literasi itu mudah muncul, kapanpun dan dimanapun. Maka ujungnya, hanya tinggal dijalani dan dilakukan. Itu sudah lebih dari cukup.

 

Ibarat menonton film. Kadang, daya tarik film itu bukan berasal dari pemainnya. Bukan pula dari tempat shootingnya. Tapi film itu berkesan justru dari “cerita perjuangannya”. Cerita orang-orang kalah yang akhirnya menang, cerita pahit yang berakhir manis. Itulah perjuangan.

 


Perjuangan itu bisa pahit bisa manis. Persis seperti anak sekolah.  Ada pelajaran yang sudah ada pelajaran gampang.  Karena itu semua proses dalam berjuang. Tapi yang paling penting adalah apapun keadaannya harus dihadapi. Berani berhadapan dengan realitas, tetap tegak berjuang dalam kondisi apapun.

 

Pejuang literasi, pernggerak literasi dan penggiat literasi. Semua tentang literasi itu perjuangan. Untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Untuk menebar kebaikan yang tidak banyak orang mau melakukannya.

 

Maka pesan penting, berjuang untuk literasi. Adalah harus punya “daya tahan” saat menghadapi impitan persoalan dan tekanan yang bertubi-tubi. Dari segala penjuru dari segala arah. Pekuang literasi, tentunya tidak boleh kompromi dengan gangguan apalagi cibiran. Agar budaya literasi tetap tegak, tetap bertahan.  Untuk terus berteriak lantang menyuarakan pentingnya tradisi baca dan budaya kebaikan. Sebut saja, literasi yang tidak mudah menyerah.

 

Sungguh untuk siapapun. Berjuang untuk literasi tidak ada kesendirian. Apalagi bila Allah SWT telah risho.  Karena kesendirian itu hanya di mata manusia. Tapi Allah selalu hadir dan mendamping pejuang literasi. "Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama dengan orang-orang yang berbuat baik."

 

Percayalah, Allah menghibur siapa pun yang menebarkan kebaikan bagi makhluk-Nya. Termasuk untuk tradisi baca dan budaya literasi.  Maka ubah niat baik jadi aksi nyata. Berkontirbusi dan berkiprah di taman bacaaan sekalipun. "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad:7)

 

Dan Allah, tidak pernah mengingkari janji-Nya. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PejuangLiterasi