Tampilkan postingan dengan label cara Beda kelola taman bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cara Beda kelola taman bacaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2023

Kreativitas, Cara Beda Kelola Taman Bacaan

Memang tidak mudah membangun tradisi baca dan budaya literasi di tengah era digital. Bukan soal gampang, mengubah perilaku anak-anak untuk lebih dekat dengan buku bacaan di tengah gempuran gawai. Maka wajar, bila gerakan literasi seakan “berjalan di tempat”. Apalagi berkiprah di taman bacaan, tidak semudah membalik telapak tangan. Selalu ada tantangan, selalu berpotensi terpinggirkan. Eksistensinya pun kian terancam.

 

Siapapun yang berkiprah di taman bacaan. Tidak cukup hanya bermodalkan siakap sabar. Tidak cukup pula hanya berbekal idealisme literasi. Bahkan tekad, komitmen, dan konsistensi pun belum cukup. Harus punya keberanian untuk “tutup kuping” atas prasangka dan ocehan orang lain. Di samping bertindak kreatif dalam segala keadaan. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Artinya, harus ada cara beda di taman bacaan. Jangan mengelola taman bacaan dengan cara biasa-biasa saja. Bila mau tetap bertahan.

 

Hanya ada 3 sebab taman bacaan sulit untuk bertahan. Yaitu karena 1) buku ada. anak tidak ada, 2) anak ada, buku tidak ada, dan 3) sikap sepenuh hati pengelolanya. Tanpa kepastian akan tiga hal itu, taman bacaan dapat dipastikan sulit bertahan. Jangan mencapai tujuannya, taman bacaan pun sulit bisa eksis bila ketiga hal tersebut terganggu. Taman bacaan yang kepayahan, hingga tergopoh-gopoh untuk tetap hadir di tengah masyarakat.

 

Maka siapapun, harus ada cara beda mengelola taman bacaan. Seperti yang dilakukan Taman Bacaan Masyaraat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Hingga di tahun ke-6 ini, TBM Lentera Pustaka tidak pernah merasa lelah untuk selalu berkreasi. Menggagas program baru, berkolaborasi, dan ngobrol secara intensif bersama wali baca dan relawan. Hanya untuk memastikan eksistensi dan kiprah taman bacaan. Untuk selalu menjadikan taman bacaan sebagai tempat yang asyik dan menyenangkan. Maka kini, tidak kurang 130 anak pembaca aktif ada di TBM Lentera Pustaka, dari awalnya hanya 14 anak saja. Ada 14 program literasi yang dijalankan TBM Lentera Pustaka, seperti taman bacaan, berantas buta aksara, ramah difabel, kelas prasekolah, koperasi simpan pinjam, literasi digital, literasi finansial, hingga motor baca keliling. Dengan dukungan 5 wali baca dan 12 relawan, kini TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu dan melayani tidak kurang dari 200 pengguna layanan setiap minggunya.

 


Beberapa cara beda yang dilakukan TBM Lentera Pustaka antara lain;

1.      Menerapkan “TBM Edutainment” sebagai metode tata kelola taman bacaan yang berbasis edukasi dan entertainment. Taman bacaan sebagai pusat edukasi dan huburan anak-anak sehingga menjadikan membaca buku sebagai aktivitas yang asyik dan menyenangkan.

2.      Menerapkan salam literasi, doa literasi, dan senam literasi tiap kali aktivitas membaca dilakukan di taman bacaan yang dibimbing oleh wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka yang hadir.

3.      Menggelar event bulanan sebulan sekali dengan mendatangkan “tamu dari luar” sekaligus memberikan “jajanan kampung gratis” untuk anak-anak yang rajin membaca dan orang tua yang mengantar anak-anaknya ke taman bacaan.

4.      Berkolaborasi CSR dengan korporasi untuk ikut mendukung aktivitas literasi dan biaya operasional taman bacaan. Pada tahun 2023 ini, TBM Lentera Pustaka didukung CSR korporasi dari 1) Bank Sinarmas, 2) Asosiasi DPLK, dan 3) AAI Indonesia di Perancis.

5.      Kreativitas yang tidak boleh berhenti di taman bacaan. Saat ini TBM Lentera Pustaka pun dilengkapi rooftop baca dan kebun baca yang direvitalisasi oleh Bank Sinarmas, di samping selalu berkerasi untuk berkolaborasi dengan BEM Faperta IPB, komunitas-komunitas, menjadi tempat riset dan penelitian literasi mahasiswa, serta menjadi sentra diskusi pegiat literasi.  

 

Seperti di bulan puasa tahun 2023 ini, TBM Lentera Pustaka pun menggelar "Ngabubu-Read Ramadan Ceria" dengan menggelar khataman Al Quran setiap Sabtu, di sampung menyediakan takjil berbuka puasa. Anak-anak pembaca aktif lebih difokuskan untuk tadarusan selama sebulan penuh hingga mampu khatam Al Quran seminggu sekali. Melalui Ngabubu-Read, TBM lebtera Pustaka pun memberikan santunan kepada anak-anak yatim binaan, jompo binaan, para janda, dan kaum ibu buta huruf. Di samping memberikan "uang ketupat" kepada setiap anak pembaca aktif dan orang tuanya. Sebagai saluran zakat mal dan sedekah pendiri TBM Lentera Pustaka bersama teman-temannya yang peduli.

 

“Semua orang tahu, mengelola taman bacaan memang tidak mudah. Maka kami di TBM Lentera Pustaka selalu menghadirkan cara beda untuk menghidupkan taman bacaan. Melalui event bulanan, salam literasi, doa literasi, senam literasi, bahkan menjadi laboratorium literasi finansial dan digital perusahaan dan komunitas. Melalui TBM Edutainment, kami menerapkan model tata kelola dan pengembangan taman bacaan yang berbasis edukasi dan entertainmet” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka  di Bogor (2/4/2023).

 

Kreativitas adalah kata kunci tata kelola taman bacaan. Soal anak-anak yang membaca, koleksi buku bacaan, biaya operasional, program literasi, wali baca dan relawan, biaya operasional, kendala sosial, fasilitas taman bacaan, kolaborasi dengan siapa?, komitmen dan konsistensi, dan apapun yang terjadi di taman bacaan. Di taman bacaan, 90% persoalan dapat diselesaikan dengan kreativitas pengelolanya. Maka taman bacaan terllau muda “mati suri” ketika kreativitas terbelenggu atau tidak ada di taman bacaan.

 

Dan satu lagi, siapapun yang mau berkiprah di taman bacaan. Harus punya siakp pantang menyerah dan ikhlas dalam menekuninya. Karena taman bacaan adalah jalan sunyi pengabdian dan kepedulian yang tertumpahkan tanpa henti sepanjang masa. Untuk mengubah niat baik jadi aksi nyata.  Di taman bacaan, siapapun tidak butuh uang untuk berada di dalamnya tapi hanya butuh hati untuk menjalankannya.

 

Toh, apapun kebaikan yang dikerjakan di taman bacaan tidak akan pernah sia-sia di kemudian hari. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 




Jumat, 26 November 2021

Cara Beda Kelola Taman Bacaan, Pendiri TBM Lentera Pustaka Jadikan TBM Edutainment Disertasi Meraih Gelar Doktor

Saat merenung sejenak. Kenapa banyak taman bacaan di Indonesia seperti kepayahan. Membangun tradisi baca seperti tergopoh-gopoh. Seperti “ada tapi tiada” atau sebaliknya. Hidup mau, mati pun enggan. Bisa jadi, kondisi itu terjadi akibat 3 sebab. Yaitu 1) buku ada anak tidak ada, 2) anak ada buku tidak ada, dan 3) komitmen pengelola taman bacaan yang setengah hati, tidak sepenuh hati.

 

Sulit dibantah siapapun. Membangun giat membaca memang tidak mudah. Mengubah perilaku anak-anak yang terbiasa main menjadi dekat dengan buku tidak semudah membalik telapak tangan. Pegiat literasi atau relawan pun “jatuh bangun” berkiprah di taman bacaan. Mak saat berada di taman bacaan, siapa pun bukan hanya butuh niat dan tekad kuat. Tapi komitmen dan konsistensi untuk menjalankan aktivitas membaca sangat diperlukan. Sabar pun tidak cukup. Tanpa dibarengi sikap “tutup kuping” dari prasangka dan harus lebih kreatif. Agar eksistensi taman bacaan dan tradidi membaca benar-benar tercipta. Karena taman bacaan sejatinya, bukan sekadar tempat membaca. Tapi ikhtiar membangun peradaban masyarakat.

 

Maka mau tidak mau, taman bacaan atau membangun tradisi baca di mana pun. Harus ada cara yang beda. Beda dalam memperlakukan anak-anak yang membaca, beda dalam membuat program literasi. Dan beda pula dalam tata Kelola taman bacaan. Itu berarti, taman bacaan harus lebih kreatif, lebih dinamis. Karena memang tidak ada “teori paling benar” dalam mengelola taman bacaan, dalam aktivitas literasi.

 

Taman bacaan dan kegiatan membaca harus jadi aktivitas yang menyenangkan. Taman bacaan hari ini harus asyik. Karena selama ini, taman bacaan dianggap kurang asyik dan terlalu membosankan. Jadi resepnya sederhana, jadikan taman bacaan tidak membosankan. Gimana caranya, maka pikirkanlah jalan keluarnya.

 

Sekadar berbagi cerita saja. TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Tepatnya di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu. Daerah ini bolehlah disebut kawasan prasejahtera. Angka putus sekolah anak pun tinggi, 81% SD. Plus tingkat ekonomi yang minus. Maka anak-anak pun sama sekali tidak punya akses bacaan. Daerah yang jauh dari tradisi baca sebelumnya.

 

Tapi kini, sejak TBM Lentera Pustaka hadir 4 tahun lalu semuanya telah berbeda. Taman bacaan sudah jadi “rumah” bagi  250 pengguna layanan taman bacaan. TBM Lentera Pustaka pun terus berkembang dan kini menjalankan 12 program literasi seperti: 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 160 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya) dengan waktu baca 3 kali seminggu, kini setiap anak mampu membaca 5-8 buku per minggu, 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf agar terbebas dari belenggu buta aksara, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 31 ibu-ibu anggota koperasi simpan pinjam agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), dan 12) LIDAB (LIterasi ADAb) untuk mengajarkan adab ke anak-anak seperti memberi salam, mencium tangan, berkata-kata santun, dan budaya antre.

 


Lalu, metode apa yang dilakukan TBM Lentera Pustaka?

Adalah TBM Edutainment, sebuah model pengembangan taman bacaan yang digagas sendiri oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka. TBM Edutainment, intinya tata Kelola taman bacaan berbasis edukasi dan entertainment. Taman bacaan yang bermuatan edukasi dan hiburan. Selalu ada salam literasi, doa literasi, senam literasi, membaca bersuara, event bulanan, jajanan gratis, literasi digital, literasi finasial, literasi adab, dan program kreativitas literasi seperti angklungan, marawis, pembacaan puisi, festival literasi Gunung Salak. Bahkan saat ini, TBM Edutainment sedang ditulis sebagai disertasi oleh Pendiri TBM Lentera Pustaka di S3 Manajemen Pendidikan Universitas Pakuan. Untuk meraih gelar “doktor taman bacaan”.

 

Bolehlah disebut, TBM Edutainment sudah jadi energi dan “darah segar” tata kelola taman bacaan. Partisipasi masyarakat terus bertambah, program literasi kian meluas, dan yang terpenting pengguna layanan taman bacan pun makin banyak. Selain aktivitas taman bacaan, TBM Lentera Pustaka pun punya aktivitas berantas buta aksara, yatim binaan, kelas prasekolah, koperasi, jompo binaan, donasi buku, dan kebun baca. Taman bacaan yang tadinya sepi bak “jalan sunyi” kini berubah jadi sentra kehidupan masyarakat. Jadi titik kumpul untuk aktivitas masyarakat yang baik, positif, dan bermanfaat. TBM Edutainment sebagai cara beda tata kelola taman bacan di era digital.

 

Tata kelola taman bacaan memang harus kreatif. Harus beda dari yang dilakukan sebelumnya. Gerakan literasi dan taman bacaan pun jangan terjebak pada diskusi dan ruang seminar semata. Karena aktivitas literasi di mana pun harus dilakoni, harus terjun langsung ke lapangan. Gerakan literasi tidak akan pernah kelar bisa dibedah lewat diskusi dan seminar. Tanpa aksi nyata di lapangan, gerakan literasi tidak akan jadi apa-apa, tidak berguna.

 

Jadi, kata kunci taman bacaan dan aktivitas literasi terletak pada cara-cara “out of the box”. Cara beda mengelola taman bacaan. Taman bacaan pun jangan fokus pada orang-orang jahat, jangan peduli pada orang-orang yang apatis. Lebih baik terus bergerak dan tetap lakukan kolaborasi dengan pihak-pihak yang sejalan. Agar taman bacaan tetap asyik dan menyenangkan. Demi tegaknya tradisi membaca dan budaya literasi yang lebih berkualitas. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu