Tampilkan postingan dengan label berpikir positif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berpikir positif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2025

Literasi Pikiran, Semuanya Tergantung Pikiran Kita Sendiri

Ada benarnya pendapat yang menyebut “nasibmu tergantung pikiranmu”. Segala sesuatu tergantung pikiran kita sendiri. Pikirannya jelek maka akan jeleklah yang terjadi. Pikirannya bagus, maka baguslah yang akan dinikmati.

 

Rasa cemas, sedih, kecewa, dan segala perasaan negatif yang kita rasakan sering kali bukan karena kenyataan. Melainkan karena makna yang kita sematkan pada kenyataan itu sendiri. Jika pikirannya negatif, maka perasaan kita jadi negatif. Jika pikiran kita positif, maka perasaan kita pun ikut positif.

 

Merasa miskin, sulit, gagal, dan berbagai kenyataan buruk yang sering kali kita dapatkan, ternyata hasil dari bagaimana pikiran kita merespon realiats dan dunia sekitar. Pikiran itulah yang mempengaruhi nasib kita ke depan. Jika pikiran kita buruk,  maka nasib kita jadi buruk. Jika pikiran kita baik, maka nasib kita pun baik. Percaya nggak?

 

Semaunya karena pikiran. Pikiran kita akan membentuk kenyataan hidup dengan pola yang selalu tetap dan berulang. Sebaba pikiran terbentuk perasaan, sebab perasaan membentuk tindakan, dan sebab tindakan akan membentuk kenyataan. Karenanya, penting punya skill memainkan pikiran sendiri. Bila tidak, maka pikiran akan dimainkan oleh keadaan sehingga kita kehilangan kendali terhadap hidup kita sekarang dan mungkin selamanya.

 

Perasaan yang kita miliki, nasib, rezeki, dan segala kenyataam hidup yang diperoleh adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Apa yang kita pikirkan itulah yang kita rasakan dan diterima. Itulah hakikat hidup kita, hanya sebuah permainan pikiran. Seperti firman Allah SWT, “Dan kehidupan dunia tidak lain adalah permainan dan senda gurau” (QS Al An’am: 32). Dan akhirnya, kita disadarkan. Bahwa siapa yang mampu menguasai pikirannya maka dialah yang akan menguasai hidupnya.

 


Perasaan kita sering kali labil, sering terombang-ambing. Itu berarti perasaan kita dimainkan, karena pikiran kita sedang dimainkan. Ketika hidup kita dipermainkan orang lain, itu karena pikiran kita dimainkan oleh orang lain. Maka jaga pikiran kita, jangan samapi dipermainkan oleh diri sendiri apalagi oleh orang lain. Ketika kita tidak punya pencapaian, itu karena pikiran kita dimainkan oleh gangguan sehingga kita kehilangan tujuan. Semaunya bertumpu pada pikiran kita.

 

Ternyata, nasib kita karena pikiran kita. Karenanya, segera mainkan pikiran kita dengan memikirkan hal-hal positif jika perasaan kita lagi negatif. Niscaya perasaan kita menjadi lebih positif. Jika nasib kita buruk, maka segera mainkan pikiran kita dengan memfokuskan pada hal-hal yang baik. Niscaya nasib kita berubah menjadi lebih baik.  Sebab, pikiran kita ibarat kendaraan, kita perlu rutin memperbaikinya agar terasa nyaman dan tidak rusak.

 

Mulailah dari yang sederhana. Perbaikilah pikiran kita, untuk hidup yang lebih tenang., nyaman, dan mampu memenangkan permainan kehidupan. Sebab ketidak-mampuan kita dalam merasakan ketenangan adalah karena kita tidak mampu memainkan pikiran kita. Hingga akhirnya pikiran kita mati, lalu tumbuhlah mati rasa, hingga berujung pada tindakan yang mematikan. Mainkanlah pikiran kita sebelum pikiran mematikan kita. Hancurkan pola pikir yang membatasi hidup kita sebelum kita hancur karenanya. Dan ternyata, nasib kita tergantung pikiran kita sendiri. Salam literasi!.

Senin, 29 Januari 2024

Cara Berpikir Pegiat Literasi Seperti Apa?

Selalu bersyukur dan tetap berbuat baik dalam kondisi apapun adalah refleksi dari cara berpikir positif. Cara berpikir yang orientasinya menebar manfaat. Soal apapun dilihat dari sisi baiknya. Di manapun selalu peduli untuk memberi kontribusi yang positif. Tetap optimis dalam segala keadaan. Maka di zaman begini, bertahan dengan cara berpikir yang positif sangat penting. Karena dapat membantu kita menjadi lebih produktif, lebih bijak dalam menyikapi realitas kehidupan.

 

Tapi sayangnya, berpikir positif sama sekali tidak mudah. Sangat butuh perjuangan untuk menjadi orang yang berpikir positif. Apalgi ketika sedang tertimpa suatu masalah. Tidak sedikit orang yang cenderung berpikiran negatif. Akibatnya, berpotensi membuat orangnya dilanda cemas, khawatir, dan stres. Maka ada baiknya, untuk selalu waspada dan bergaul dengan orang-orang yang berpikir positif. Karena sejatinya, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, Apalagi bila Allah SWT sudah berkehendak.

 

Biasanya, orang yang tidak nyaman dengan dirinya mencoba mengerdilkan orang lain. Sementara orang berpikir positif selalu senang melihat orang lain maju dan berkembang. Jika disadari, soal apapun, tidak ada gunanya menyalahkan orang lain. Apalagi membenci atau berprasangka buruk. Sehingga menbuat diri jadi cemas dan gelisah. Jika berlarut-larut, bukan tidak mungkin berdampak terhadap kesehatan mental. Lalu sehari-harinya jadi toxic people. Niat, pikiran, dan perbuatannya hanya untuk merugikan orang lain.

 

Berangkat dari realitas itu, salah satu cara mempertahankan berpikir positif adalah berkiprah di taman bacaan masyarakat. Seperti yang dilakukan pegiat literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Berkiprah dengan sepenuh hati untuk membimbing anak-anak yang membaca buku, mengajar kaum buta huruf, mengajar calistung anak kelas prasekolah, memfasilitasi computer untuk literasi digital, hingga menjalankan aktivitas motor baca keliling untuk sediakan akses bacaan ke kampung-kampung. Melalui aktivitas literasi di taman bacaan, siapapun setidaknya dapat membiasakan untuk berpikir positif, mau berbuat baik dan menebar manfaat, serta selalu bersyukur di setiap keadaan. Sisi positif dari berkiprah secara sosial di taman bacaan adalah mentradisikan berpikir positif untuk siapapun.

 


“Allah senantiasa menolong hambanya selama ia menolong saudaranya” (HR. Muslim: 4867). Membantu sesama dan berpikir positif adalah prinsip hidup yang patut dijunjung tinggi. Karena hal itu terbukti efektif untuk membangun sikap optimis dan melihat sisi baik dari setiap peristiwa atau masalah. Tanpa pikiran yang positif dan semangat untuk membantu sesama, bukan tidak mungkin masalah demi masalah justru akan menghampiri. Semakin cemas, gelisah, dan tertekan pikirannya.

 

Maka spirit sehari-hari yang harus dibangun. Adalah senantiasa berpikir positif. Selalu berani mengubah niat baik jadi aksi nyata. Melalkukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Tanpa pedulikan cibiran atau penilaian orang lain. Karena apapun yang baik pasti akan kembali kepada yang melakukannya.

 

Literat itu berani berpikir positif. Dan saat berpikir positif tanpa tapi …. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Minggu, 11 Juli 2021

Jangan Sia-siakan Waktu, Karena Covid-19 Terus Mengintai

Hari-hari gini, akibat Covid-19 serab tidak menentu. Artinya sungguh, kita tidak bisa memprediksi apa yang bakal terjadi. Pada teman, pada tetangga atau keluarga kita sendiri dalam seminggu ke depan. Saya sudah menyaksikan sendiri. Setiap hari, ada saja yang pergi. Teman yang seminggu lalu menyapa, kini tiada lagi. Saudara yang kemarin masih WA, kini telah berpulang. Tidak terduga dan tiba-tiba. Mereka pergi terdampak Covid-19. Hampir sulit dipercaya?

 

Bila anak-anak kita nakal, rewel. Biarkahlah dan syukuri karena mereka masih Bersama kita. Tidak perlu marah-marah. Dan beri tahu dengan kelembutan. Ajari mereka untuk menghargai waktu. Siapa tahu mereka pun akan kehilangan kita? Katakan itu apa adanya. Pasti mereka pun takut kehilangan kita. Maka, hargailah waktu.

 

Bila suami atau istri menjengkelkan, atau bersikap tidak seperti yang diharapkan. Biarkanlah dan syukuri toh mereka masih hadir dalam hidup kita.  Jangan diajak bertengkar atau memusuhinya. Tidak penting, siapa yang salah siapa yang benar? Memang, apa lagi bila sudah melukainya? Beri tahu saja, suami istri pun harus menghargai waktu selagi masih ada. Karena esok, bisa mendadak pergi. Atas sebab apapun. Hargailah waktu kita selagi masih ada.

 

Bila orang tua yang lansian rewel dan merepotkan. Biarkanlah dan syukuri. Tidak perlu dibentak-bentak, apalagi dimarahi. Asal mereka masih ada di samping kita, masih bisa ngerepotin anaknya. Sayangiilah mereka tanpa syarat. Usianya sudah tua dan terlalu rentan dengan sakit. Lindungi mereka dan hargai waktu bersama mereka bila masih ada.

 

Bila ada teman-teman yang menjengkelkan atau kadang ngeselin. Biarkanlah dan maafkanlah mereka. Syukuri saja, mereka masih ada dan mau bertegur sapa. Bahkan bercanda sekalipun. Karena kita tidak tahu, apakah besok atau lusa mereka masih ada? Jangan mudah tersinggung, jangan gampang sakit hati. Manusia itu tidak ada yang sempurna. Apalagi diri kita sendiri. Mungkin menurut mereka, kita juga mengjengkelkan. Maka hargai lagi waktu saat bersama mereka.  

 

Jadi, hargai waktu kita yang tersisa. Selagi masih ada waktu. Dan tetaplah berbuat baik, berpikir positif. Jangan buang-buang waktu. Ketahuilah, hidup itu bukan untuk diri sendiri. Tapi juga harus bermanfaat dan berarti untuk orang lain. Maka hargai waktu yang kita punya, jangan lalu pada waktu. Karena waktu tidak bisa diulang.

 

Di luar sana, Covid-19 jelas mengubah semuanya. Berdampak negatif bahkan memanggil teman, saudara atau kelauarga kita pergi lebih dulu. Tapi di balik itu, ada hal positif yang dijadikan hikmah. Agar kita selalu mensyukuri atas waktu yang ada. Saat kita masih sehat, masih bisa berbuat yang baik. Maka kerjakanlah dan hargai waktu kita. Jangan sia-siakan waktu.

 


Sungguh, ada pelajaran penting hari ini.

Di media sosial, di grup WA, di mana pun. Hargailah waktu. Berhentilah untuk membenci, stop permusuhan, tidak usah bertindak keras. Jadilah lebih baik, lebih lembut, lebih mencintai, dan lebih sabar. Dalam segala keadaan. Sekali lagi, hargai waktu yang tersisa.

 

Ketahuilah, siapa pun. Manusia di mana pun pasti tidak ada yang sempurna. Karena hanya Allah SWT yang sempurna dan berkehendak. Tetap jaga Kesehatan, patuhi protokol kesehatan. Jangan abai untuk baik, untuk ikhtiar baik. Untuk terus mengingat Allah SWT. Di setiap waktu yang tersisa. Sekali lagi, hargai waktu kita.

 

Tetaplah berpikir positif, hargai waktu kita untuk berbuat baik. Karena waktu pula yang menentukan, apakah esok kita masih ada atau tidak? Sekarang, bersikaplah lebih eling dan legowo.

 

Hargai waktu yang tersisa, tanpa syarat apapun. Salam literasi