Tampilkan postingan dengan label Lebaran 2021. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebaran 2021. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Mei 2021

Literasi Idul Fitri, Ketika Maaf Lahir Batin Hanya di Linimasa dan Grup WA

Seusai sholat Id, seorang anak bertanya kepada ayahnya, “apa sih hikmah Idul Fitri?”

Agak susah menjawabnya. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Idul Fitri 1442 H kali ini jelas berbeda. Mudik dilarang, sholat Id pun disuruh di rumah. Halalbihal dan silaturahim pun diimbau tidak dilakukan. Karena berpotensi menimbulkan kerumunan. Khawatir terpapar Covid-19. Idul Fitri hanya #DiRumahAja, jadi apa hikmahnya?

 

Bisa jadi, hikmah terbesar Idul Fitri kali ini adalah ujian terhadap keikhlasan dan kesabaran sesorang. Di tengah kekhawatiran penularan Covid-19, berbagai tradisi lebaran terpaksa ditiadakan. Setelah sebulan berpuasa, kemenangan nan fitrah pun penuh keterbatasan. Maka sejatinya, hikmah Idul Fitri 1442 H terpenting tidak lain soal 1) keikhlasan dan 2) kesabaran. Agar ucapan mohon maaf lahir batin, bukan hanya di linimasa dan di bibir saja.

 

Ikhlas berarti bersih hati atau tulus hati. Melakukan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu, selain untuk menggapai ridho Allah SWT. Sabar berarti mampu menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum agama. Sabar dalam keadaan lapang maupun sempit, sekaligus mampu menahan diri dari hawa nafsu yang menggoyahkan iman seseorang. Ikhlas dan sabar itulah kata kunci dalam beramal dan beribadah, termasuk dalam menghadapi ujian pandemi Covid-19.

 

Kemarin-kemarin, berpuasa sebulan penuh. Tadarusan bahkan tarawih setuap malam. Berbagi takjil dan santunan kepada kaum dhuafa. Hingga hari ini pun menebar ucapan “Selamat Idul Fitri” dan permohonan maaf lahir batin. Di berbagai linimasa media sosial, di berbagai grup WA. Pertanyaannya, apakah itu semua sudah dilakukan dengan ikhlas dan sabar? Perbuatan yang dikerjakan bukan karena ingin dipuji orang. Bukan pula karena gengsi atau hanya kebiasaan semata. Hanya sifat ikhlas dan sabar yang bisa menjawabnya.

 

Ikhlas dan sabar memang tidak mudah. Mohon maaf lahir batin yang dari hari hati. Buka yang di linimasa atau di bibir saja. Apalagi harus menyembunyikan segala perbuatan baik dan ibadah hanya karena Allah SWT. Bukan karena ingin dipuji orang lain. Bukan karena biar dibilang begini-begitu oleh orang lain. Sungguh, ikhlas dan sabar memang tepat menjadi tingkatan maqamat setiap insan yang beriman.

 

Ikhlas dan sabar. Adalah tonggak dan hikmah terpenting Idul Fitri kali ini. Kedua sifat itulah yang menjadikan “kawah candradimuka” untuk menjadi manusia yang tulus dalam melakukan perbuatan baik apapun. Modal penting untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan dan ujian. Bahkan ikhlas dan sabar, bisa jadi sumber kekuatan yang tidak tertandingi bila melekat pada diri seseorang.

 

Ikhlas dan sabar pula, sejatinya dapat mendorong siapapun untuk bergerak melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati. Tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tanpa terpengaruh pandangan dan perkataan orang lain. Bagaikan beningnya air di dalam sebuah gelas, tanpa campuran apapun dan rela untuk diteguk oleh siapapun. Itulah ikhlas dan sabar yang hakiki. 

 


Maka ujung dari hikmah Idul Fitri yang dijalankan dengan ikhlas dan sabar. Siapapun berhak meraih “fitrah”, kesucian jiwa dan raga. Hidup yang Kembali ke “titik nol”, seperti  bayi yang dilahirkan. Dibebaskan (bukan terbebas) dari dosa dan salah, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.

 

Kembali ke titik nol. Agar kita sadar di hari esok. Mau diisi dengan sikap dan perilaku yang positif (+) atau negatif (-). Untuk menjadi manusia yang lebih baik, sebagai insan yang bertakwa, lebih baik, dan lebih optimis jadilah plus (+). Tapi sebaliknya, bila puasa dan Idul Fitri sebatas ritual semata, lalu tidak “berbekas” dalam kehidupan. Tidak menjadi lebih takwa, tidak lebih baik bahkan malah pesimis. maka jadilah minus (-).

 

Lalu, siapa orangnya yang bisa meraih predikat fitrah?

Tentu, mereka yang setelah Idul Fitri ini lebih baik, lebih bertakwa.  Orang-orang yang kain ikhlas dan sabar dalam kesehariannya. Siapa saja yang mampu menahan diri dari “dosa” dan “keinginan”. Karena dosa sifatnya terus bertambah. Karena keinginan sifatnya mengundang hawa nafsu. Dosa dan keinginan yang harus bisa dikendalikan, dalam keadaan apapun.

 

Jadi bukan puasanya, bukan pula ucapan Idul Fitri-nya. Tapi perkara yang paling sulit dalam hidup ini adalah "menjaga hati", untuk selalu ikhlas dan sabar dalam segala keadaan. Mau meminta maaf dan mau memaafkan. Wallahu a’lam bishowab. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Salam literasi #HikmahIdulFitri #Lebaran2021 #LiterasiLebaran

Rabu, 12 Mei 2021

Literasi Silaturahim Lebaran Saat Pandemi Covid-19, Gimana Caranya?

Lebaran tahun 2021 ini bikin galau, Bila tidak mau dibilang stress. Begitu kata sebagian besra kawan saya. Kerena terlalu banyak larangan. Banyak kekhawatiran. Mudik dilarang, halal bihalal dilarang, bahkan sholat Ied pun akhirnya dibatalkan. Apalagi kerumunan. Semuanya akibat pandemi Covid-19. Keadaan yang sangat bisa dimaklumi. Mungkin, seumur-umur ada lebaran. Inilah kali kedua, berlebaran dalam suasana galau. Bila tidak mau disebut mencekam. Idulfitri 1442 H, terpaksa #DiRumahAja.

 

Sekalipun dilarang, ada 1,2 juta orang sudah mudik tinggalkan Jakarta. Belum lagi puluhan ribu kendaraan yang terpaksa disuruh putar balik. Penyekatan jalan ada di mana-mana. Pemudik makin galau. Karena mudik dan bersilaturahim saat lebaran boleh jadi sudah tradisi. Bahkan dianggap sakral. Suasana batin dan pikiran lebaran kali ini, campur aduk. Penuh warna-warni tapi tetap mencekam.

 

Lalu, bagaimana bisa silaturahim dan berkunjung ke rumah orang tua atau kerabat?

Inilah persoalannya. Silaturahim, halalbihalal, saling berkunjung ke rumah kerabat sudah jadi ritual setiap kali lebaran. Tapi di masa pandemi Covid-19 begini, apa harus tetap dilakukan? Ada yang bilang harus, karena kapan lagi bisa berjumpa oramg tua dan saudara. Ada yang bilang nanti saja karena khawatir terjangkit Covid-19. Ngeri-ngeri sedap memang suasana silaturahim lebaran tahun ini. 

 

Satu hal yang patut disadari. Pandemi Covid-19 itu nyata. Covid-19 itu masih ada dan makin sulit diduga. Antara yang terjangkit dan tidak terjangkit. Vaksinasi pun bukan jaminan tidak tertular. Kemarin-kemarin, berapa banyak saudara dan kawan kita yang akhirnya meninggal dunia akibat Covid-19. Maka tetap waspada dan berhati-hati terhadap Covid-19. Lebih baik menahan diri daripada menyesal kemudian.

 


Silaturahim memang sudah tradisi. Tapi lebaran kali ini sebaiknya dilakukan secara virtual atau online. Karena silatirahim atau halalbihalal berpotensi terjadi “kerumunan”. Apalagi yang merasa sehat, biasanya “mengabaikan” protokol kesehatan. Ketahuilah, sehat itu mahal. Jangan abaikan soal sepele bila akhirnya fatal. Jangan memaksa silaturahim. Mari jaga kesehatan orang tua dan saudara-saudara kita. Lebih baik mencegah daripada mengobati. 

 

Jika pun ngotot mau silaturahim di saat lebaran, pastikan sikap toleransi dan kesabaran kita harus sepenuh hati. Demi kesehatan dan kenyamanan semua pihak. Maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan bila mau bersilaturahim saat lebaran tahun ini:

1.      Cek dulu lokasi atau tempat silaturahim yang dituju, tergolong “merag” atau “hijau”.

2.      Hubungi dulu orang tua atau saudara yang akan dikunjungi sebelum berangkat, tanya baik-baik apakah yang bersangkutan bersedia dikunjungi atau tidak?

3.      Bila bersedia, pastikan patuhi protokol kesehatan dengan ketat (memakai masker, mencucui tangan, menjaga jarak). Bila tidak bersedia, tolong dihormati dan tidak usah tersinggung karena memang begitu seharusnya.

4.      Saat tiba di rumah atau tempat silaturahim yang dikunjungi, sebaiknya tidak usah salaman atau peluk-pelukan. Hormati dengan tidak meegang orang tua, saudara yang punya riwayat penyakit, anak-anak, atau bayi.

5.      Intinya silaturahim adalah memperbaiki hubungan dan saling bermaaf-maafan. Maka hargai setiap sikap dan perilaku bila dibatasi dengan protokol kesehatan.

 

Sungguh, lebaran tahun ini memang berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Penuh keterbatasan dan banyak aturan yang harus dipatuhi. Karena itu, hormati setiap keputusan orang tua atau saudara yang akan dikunjungi. Tidak usah tersinggung apalagi menghakimi. Karena semuanya dilakukan sebagai bagian ikhtiar sehat.

 

Idulfitri 1442 H atau lebaran tahun ini, sejatinya bisa jadi momentum untuk membangun sikap saling pengertian, saling menghargai di antara kita. Di samping melatih diri untuk  berdamai dengan realitas pandemi Covid-19. Tetaplah jaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan saat silaturahim lebaran.

 

Karena siapapun tidak pernah tahu. Ada di mana virus Covid-19m siapa yang terkena, dan kapan bisa tertular? Semoga, kita semua dilindungi Allah SWT dan pandemic Covid-19 segera berakhir, amiin.

 

Selamat Idulfitri 1442 H, Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lair batin. #LebaranSaatCovid19 #HikmahIdulFitri #Lebaran2021