Tampilkan postingan dengan label Hikmah ramadan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah ramadan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2025

Hikmah Ramadan: Literasi untuk Orang-orang Sibuk

Bagus untuk diingatkan kepada siapapun di bulan puasa ini. Bahwa “kamu sudah kehilangan banyak hal, jangan sampai kehilangan diri sendiri”. Kalimat itu bisa ditafsirkan berbagai macam. Tapi intinya, jangan pernah larut dalam duka dan kecewa. Segeralah bangkit untuk memperbaiki diri dan bergeraklah ke arah mana pun yang mau dituju. Bergerak dan bergerak untuk hari esok yang lebih baik.

 

Kamu sudah kehilangan banyak hal, jangan sampai kehilangan diri sendiri. Pernyataan itu mengingatkan kita untuk fokus pada diri sendiri, bukan fokus pada urusan orang lain. Jangan pernah membandingkan apa yang dimiliki dengan apa yang dipunya orang lain. Kerjakan saja apapun yang harus dikerjakan, nikmati apa yang ada. Karena sejatinya, apapun tidak ada yang tertukar. Semuanya yang ada di dunia ini, memang sudah pantas untuk kita dan sesuai dengan niat dan ikhtiar yang kita lakukan. Sekali lagi, tidak ada yang tertukar.

 

Seorang kawan saya mengeluh. Katanya, hidup gini-gini saja. Kerja dari pagi hingga larut malam. Tapi katanya, ekonomi tetap saja pas-pasan. Pengen punya ini pengen punya itu tetap tidak bisa kebeli. Akhirnya, sering mengeluh dan mulai membandingkan hidupnya dengan orang lain. Sebagai kawan, saya hanya memberi tahu. Bahwa bekerja itu bukan untuk harta atau kaya, melainkan untuk aktualisasi diri. Kalau urusan harta dan kaya, itu mah urusan Allah SWT.

 

Ada lagi kawan yang hidupnya diatur banget sama waktu. Bersosial nggak bisa karena nggak punya waktu. Membaca buku tidak sempat, tadarusan pun bingung bisanya kapan? Apalagi bersedekah, katanya belum ada waktu yang cocok. Hidupnya diatur sama jam tangannya sendiri. Jadwal aktivitasnya hanya tercantum di kalender yang ada di smartphone-nya. Semuanya ada agendanya, hanya untuk urusan dunia semata. Sangat ketat terhadap waktu tapi urusannya duniawi doang. Terlalu keras mengatur setiap detik dan menit hanya untuk mengejar dunia, hingga lapu untuk diirinya sendiri.



Kita sering lupa. Hanya ada 3 orang yang tidak akan pernah bahagia, Yaitu 1) orang yang menyesali masa lalunya, 2) orang yang mengkhawatirkan masa depannya, dan 3) orang yang gagal menikmati hari sekarang untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhiratnya. Maka nikmatilah hari ini untuk selalu berbuat baik dan menbar manfaat kepada sesama. Tanpa perlu berhitung, tentang untung rugi dari apa yang dikerjakan. Terjebak rutinitas, terkadang justru menjauhkankita dari arti hidup yang sebenarnya.

 

Adalah hikmah ramadan. Banyak orang menyesal terlalu sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk hal-hal sederhana yang bermakna. Sekadar bercengjrama dengan anak-anak yatim dan kaum jompo, bersosial di taman bacaan, atau membahas yang ringan-ringan untuk kesehatan jiwanya sendiri. Hari ini, banyak orang yang merasa tertekan oleh jadwalnya sendiri, oleh tenggat waktu atau standar hidup yang tinggi. Hingga stress dan gelisah berhari-hari. Sebab terllau focus pada perjalanannnya, bukan pada tujuan akhirnya.

 

Untuk kamu oranng-orang sibuk, hati-hati. Kamu sudah kehilangan banyak hal, jangan sampai kehilangan diri sendiri. Salam literasi #NgaubuRead #TBMLenteraPustaka #PegiatLiterasi



Jumat, 29 Maret 2024

Jauhi Penyakit Hati

Kamu pernah menyebut kata “racun” nggak? Atau menyebut orang lain sebagai racun? Semoga nggak pernah ya. Karena racun itu jelek. Iya racun, zat yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara sehingga mengganggu kesehatan. Racun yang jadi “biang” penyakit, bahkan kematian. Tapi sayangnya, banyak orang yang nggak paham. Bahwa racun itu bukan hanya zat yang datangnya dari luar doang. Tapi ada juga racun yang datang dari diri sendiri. Namanya “racun jiwa”. Pikirannya sakit, hatinya rusak. Apakagi sikap dan perilakunya penuh racun.

 

 

Melihat orang bahagia, kita yang menderita. Melihat orang maju, kita yang menggerutu. Melihat orang berjaya, kita yang nggak rela. Orang lain nggak ngomong apa-apa disalah-salahkan. Orang diam saja, tiba-tiba membenci dan menyerang semau-maunya. Orang nggak ngapa-ngapain, tahu-tahu mengintimidasi dengan segala cara. Kerjanya hanya menyalahkan orang lain. Tanpa mau menyalahkan diri sendiri. Itulah racun jiwa, ada pada diri manusia yang harus “diberanguskan”. Bukan oleh orang lain tapi oleh diri sendiri.

 

Tubuhnya sehat, tapi hatinya penuh racun. Kerjanya membenci, iri dan dengki. Sukanya memusuhi orang-orang yang nggak pantas dimusuhi. Gemarnya menyalahkan orang lain tanpa mau “berkaca diri”. Maunya menang sendiri. Semua orang lain salah, hanya kita yang benar sendiri. Jadi tersiksa hidupmya karena sifat hasad dan benci selalu tersimpan dalam jiwa. Racun jiwa ada pada dirinya!

 

Saat racun jiwa merasuk di kalbu. Pasti energi negatif, emosinya labil, dan kerjanya mencari kambing hitam. Racun jiwa telah menguras pikiran, perasaan, bahkan hebatnya mampu menghanguskan amal kebaikan. Sibuk mengomentari apa yang tidak harus ditanggapi. Sibuk berburuk sangka terhadap apa yang tidak semestinya. Sibuk menyalahkan dan mencari-cari keburukan. Hingga nggak punya tenaga, untuk berbenah diri dan berkarya yang produktif.

 


Sungguh, betapa lelahnya orang-orang yang hidup dalam racun jiwanya sendiri. Dunia dipandang segalanya. Hidup dianggap sebatas kompetisi urusan dunia, lalu menghalalkan segala cara. Akhlaknya hilang lenyap, adabnya pergi tanpa jejak. Pengen senang tapi harus menyusahkan orang lain. Lalu status WA-nya bilang, Allah nggak salah menempatkan takdirnya. Berbeda antara yang diomong dan dikerjakan, beda antara fakta dan opini. Kok bisa? Karena hidupnya penuh racun jiwa.

 

Tampilannya beragama. Tapi perangainya jauh dari Allah. Tidak suka melihat musuhnya diberi nikmat dan anugerah dari Allah. Amalnya buruk, nasihat pun sudah nggak mempan lagi. Sudah khatam dengan rasa benci, iri dan dengki. Sukanya berperang dan melempar permusuhan. Racun jiwanya telah menghapus seluruh amal kebaikannya. Sudah lupa pesan dari Imam Ali, “mereka yang mendengki, seperti meminum racun sendiri tapi berharap orang lain yang mati”.

 

Mumpung lagi puasa, cukup muhasabah diri. Saat puasa, lapar itu untuk menahan diri. Menahan diri dari racun jiwa; hati yang dengki, pikiran yang kotor, sikap yang buruk, dan perilaku yang menyalahkan orang lain. Tanpa mau introspeksi diri. Setiap tarikan nafas isinya hanya rasa benci dan dengki. Sekali lagi penuh racun jiwa. Boro-boro berbuat baik dan menebar manfaat ke orang lain.

 

Buanglah racun jiwa itu, hindari penyakit hati. Karena tidak mungkin, kita yang meminum racun lalu berharap musuh kita yang terbunuh. Bertindak seperti Rumi, “jangan kau tanam apapun kecuali cinta di hati”. Salam literasi #NgabubuRead #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

Jumat, 14 Mei 2021

Mau Apa Setelah Lebaran? Hikmah Kepedulian di Taman Bacaan

Ramadan sudah kelar. Idul Fitri tinggal tersisa euforia-nya. Lalu mau apa setelah itu? Memilih lebih baik atau begitu-begitu saja. Apa hikmahnya di taman bacaan? Ketahuilah, setiap perbuatan baik tidak akan pernah sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya. Seperti hikmah bulan suci Ramadan di taman bacaan?

 

Seperti yang dialami TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak pun tidak luput dari berkah Ramadan. Melalui program “Ngabubu-READ Ramadan Ceria”, sepanjang bulan puasa tahun 2021 ini mencatat hikmah sebagai berikut:

 

1.      Ada 12 kunjungan tamu “aktivitas dan bakti sosial” di TBM Lentera Pustaka selama bulan Ramadan, seperti dari: ILUNI 30, OSIS SMAN 30 Jakarta, Komunitas ION Nissan Terrano, Kinderfield, Alumni IPB, Mahasiswa Unindra, Milenial Jakarta, Relawan, Ustazah Yusri, Liputan NET TV, Host NET TV, dan Fotografer Liputan6.com

2.      Ada 11 donasi buku/TBM yang dikirim atay diantar langsung ke TBM Lentera Pustaka, seperti dari: Cendikia Used Books, Komunitas ION, ILUNI 30, OSIS SMAN 30 Jkt, Kinderfield School, Bariza Bekasi, Tika Ginting Jkt, Edi Bogor, Anik Jkt, Ira Balikpapan, dan NET TV.  Total donasi buku mencapai 680 buku plus “apresiasi dari Tonight Show NET TV” Rp 20 juta.

3.      Ada 2 liputan khusus TBM Lentera Pustaka dari 1) Tonight Show NET TV dan2) Liputan6.com

4.      Berhasil menuntaskan 4 kali khatam Al Quran pada setiap Sabtu, menjadi peserta PELITA (Pesantren Literasi Anak) dari Dompet Dhuafa, dan 170 anak pembaca aktif  “Ngabubu-Read” membaca buku sambil menunggu waktu berbuka puasa.

5.      Menyediakan 510 paket takjil selama bulan puasa, santunan ke-16 anak yatim binaan, santunan ke-7 jompo binaan, apresiasi ke 10 ibu-ibu geberbura, dan apresiasi ke-7 walibaca/relawan.

 

Alhamdulillah dan TBM Lentera Pustaka pun sangat bersyukur atas karunia Allah SWT. Bahkan setelah Idul Fitri 1442 H ini pun hikmah dan berkah masih akan berlanjut. Diantaranya adalah 1) tawaran untuk mengikuti SIA Award 2021, 2) realisasi KKN-T IPB untuk 2 kelompok, 3) info liputan 1 stasiun TV yang masih didiskusikan, dan 4) tawaran kerjasama pengabidan sosial dari Unpak.

 


Sejak didirikan 4 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka kini memiliki 8 program, yaitu: 1) TABA (TAman BAcaan) sebagai tempat membaca 170 anak-anak dari 3 desa (Sukaluyu, tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 10 ibu-ibu warga belajar buta huruf, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) yang diikuti 21 anak-anak, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 16 anak yatim yang mendapat santunan setiap bulan, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) yang menyantuni 7 orang tua usia lanjut setiap bulan, 6) DONBUK (DONasi BUKu) untuk menerima dan menyalurkan buku bacaan ke taman bacaan, 7) RABU (RAjin MenaBUng) sebagai gerakan menabung anak-anak sejak dini, dan 8) KOPERASI LENTERA sebagai upaya untuk memberantas rentenir dan membebaskan warga dari jeratan hutang berbunga tinggi.

 

Apa hikmah terpenting dari taman bacaan?

Sungguh, taman bacaan di mana pun dan sehebat apapun tidak akan pernah bisa “survive” tanpa kolaborasi, tanpa sinergi dengan berbagai pihak di luar sana. Maka penting, taman bacaan selalu melayani dan berkolaborasi dengan para pihak yang peduli dan mau berbagi. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literais anak-anak serta masyarakat di tengah gempuran era digital.

 

Maka pesan pentingnya, taman bacaan harus terus bergerak dan berkreasi dalam membuat program-aktivitas yang menarik dan menyenangkan. Taman bacaan bukan hanya tempat membaca buku. Tapi lebih dari itu, menjadi tempat berdiskusi, ber-ekspresi, tempat aktivitas sosial, tempat interaksi sosial di luar rutinitas, dan bahkan tempat untuk “ngopi bareng” untuk isu-isu yang rileks saja.

 

Taman bacaan harus lebih istiqomah (konsisten) dan selalu qonaah (bersyukur dan tidak boleh cepat puas). Orang-orang taman bacaan hanya diminta untuk ikhtiar baik dan doa baik. Bukan banyak berpikir banyak seminar hingga lupa bertindak. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi di bumi Indonesia.

 

Di taman bacaan, selalu ada hikmah. Bahwa amal ibadah ritual harus seimbang dengan amal jariah secara sosial. Agar segala sesuatu yang ada di muka bumi ini menjadi tersingkap ke arah yang lebih baik. Karena baik itu harus diciptakan dilakukan, bukan ditunggu  apalagi diseminarkan. Salam literasi. #TamanBacaan #HikmahTamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka