Tampilkan postingan dengan label Apa sih literasi?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apa sih literasi?. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2025

Apa Sih Literasi? Literasi Itu Spirit Bukan Karier

Ada yang menyangka literasi itu perlombaan, seperti kompetisi. Bersaing lalu merasa “menang” dari yang lain. Cara pandang literasi seperti itu justru sama sekali tidak literat. Lupa ya, tidak ada teori yang paling benar tentang literasi. Makanya semua orang di manapun, boleh berteriak dan menggadang-gadang literasi.

 

Literasi bukan skill atau ilmu yang bisa mengantar manusianya menuju kesuksesan. Karena literasi memang bukan karier tapi spirit. Literasi itu marwah pengabdian yang bisa diwujudkan hanya melalui proses dan praktik baik. Maka literasi bukan lomba, bukan kompetisi. Proses berliterasi di tiap tempat, tiap daerah berbeda dan tidak akan pernah sama. Maka cara dan praktik baik yang ditempuh, sudah pasti berbeda-beda pula.

 

Literasi tidak pernah merasa tertinggal dari siapapun. Literasi tidak pernah mengalahkan apalagi dikalahkan. Banyak orang mengira literasi adalah sesuatu yang harus dicapai di masa depan, padahal ia hadir dalam proses perjuangan kita sehari-hari. Anthony Hope, menyebut literasi sama dengan kebahagiaan yaitu buah dari tindakan bermakna yang dilakukan secara berulang.

 


Cara pandang yang menjadikan literasi sebagai “garis fisnish” pasti salah. Karena literasi tidak perlu dikejar. Siapapun pasti kecewa bila mengejar literasi. Lagi-lagi, literasi itu hanya proses, hanya praktik baik yang dikerjakan di setiap waktu. Maka literasi hanya mengajak kita untuk fokus pada hal-hal kecil yang memberi kepuasan batin: masih mau belajar, berkarya dan menulis, atau membantu orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki dengan sepenuh hati. Proses literasi sangat butuh komitmen dan konsistensi. Tidak mungkin ada praktik baik literasi yang sifatnya insidental.

 

Terus terang, hidup ini terlalu singkat untuk menunggu literasi menjadi “sempurna”. Justru sebaliknya, literasi hanya butuh konsistensi siapapun untuk mengerjakannya. Menikmati proses dan perjalanan literasi itu sendiri, bukan terobsesi dengan tujuan akhir. Literasi itu tidak berujung, maka tidak akan pernah berhenti. Tidak ada sukses di literasi. Karena apa yang baik hari ini belum tentu baik pula di akhirnya. Lagi-lagi, literasi hanya proses.

 

Jadi sederhana saja, hargai sekecil apapun perjalan literasi yang ditorehkan. Sebab bisa jadi, suatu hari nanti, proses berliterasi itu yang menjadi penentu maju tidaknya peradaban sebuah bangsa. Maka nikmati saja  anak tangga literasi satu per satu, tidak perlu merasa tertinggal dari siapapun. Karena literasi, tidak pernah meninggalkan dan ditinggalkan. Salam literasi #FilosofiLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan

Jumat, 24 Juni 2022

Dari Mana Literasi Dimulai?

Suatu kali, saya diundang untuk menjadi narasumber diskusi ilmiah tentang "Literasi" yang diikuti mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa Pascasarjana UNJ. Ikut hadir 2 guru besar-nya yang memberi respon positif akan aktivitas literasi yang dijalankan TBM Lentera Pustaka, yang notabene hanya pendidikan nonformal.

 

Justru bukan soal literasi di taman bacaan yang saya mau bahas. Tapi soal "kesadaran kampus" dalam membuka ruang diskusi tentang literasi itu yang penting. Karena memang, seharusnya lembaga pendidikan formal (baik kampus maupun sekolah) yang punya "power" lebih kuat. Agar literasi bisa lebih membumi, lebih berdaya. Sayangnya, sebagian besar lembaga formal itu justru kurang punya kesadaran kolektif soal literasi.

 

Bila literasi itu dimaknakan "keterampilan yang bersifat individual", mau tidak mau, efektivitasnya terletak pada pendidikan formal. Karena ada "paksaan" untuk ber-literasi. Sehingga semangat gerakan literasi bisa eksis sceara efektif di kampus atau sekolah.

 

Menurut saya, semua persoalan individual bahkan bangsa ini sangat bisa dicarikan solusi dengan baik. Asal "tingkat literasi" orang-orangnya memadai. Jika tidak, ya apa boleh buat?

Kasus anggota TNI yang berniat baik mau memisahkan orang yang berkelahi kok malah dia yang dikeroyok oleh ormas. Belum lagi soal remeh-temeh yang seharusnya tidak jadi masalah, malah jadi "soal besar" di negeri ini. Itu semua sumbernya karena "tingkat literasi-nya" bukan?

 


Jadi buat saya, literasi ada bukan untuk menjadikan orang pintar. Apalagi jadi pandai bertanya atau berpikir kritis. Kejauhan literasi model begitu mah. Literasi itu cukup untuk mengingatkan kepada siapa pun untuk berpikir dan bertindak lebih baik dari sebelumnya. Untuk memperkokoh karakter baik yang dibutuhkan bangsa dan masyarakat ini. Agar nasionalisme, religius, integritas dan tetek bengek itu bukan hanya jargon. Tapi realitasnya "kosong".

 

Bila literasi itu targetnya menjadikan "manusia literat". Ya berarti manusia yang mau dan berani berubah ke jalan yang lebih baik. Bukan cuma kayak penonton film, yang akhirnya "begini-begini saja atau begitu-begitu aja". Film-nya diproduksi ber-episode-episode. Penontonnya ya gitu-gitu aja. Nggak tahu apa yang dijadikan pelajaran?

 

Kadang kita suka lupa. Bangsa yang maju atau masyarakat yang berkembang itu bukan karena kurikulum pendidikan-nya hebat. Bukan pula karena sistem ketatanegaraannya yang keren. Tapi justru tergantung pada "kemampuan literasi orangnya".

 

Yah begitulah nasib "si literasi" di negeri ini. Sebut saja “literasi meneketehe” (baca: mana kutahu). Entah, akan bagaimana ke depannya? Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #DiskusiLiterasi

Kamis, 10 Maret 2022

Simpulan Sementara tentang Literasi Menurut TBM Lentera Pustaka

Literasi sering disebut banyak orang. Ada yang menyebut literasi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Ada pula yang meluaskan literasi menjadi keterampilan dalam berbahasa. Seiring dinamika zaman, literasi pun diterjemahkan lebih luas lagi. Muncul istilah “literasi dasar” sebagai landasan pengetahuan dan kecakapan dalam memperoleh dan mengolah informasi untuk mengembangkan pemahaman dan potensi diri seseorang. Ada 6 cakupan literasi dasar, yaitu 1) baca-tulis, 2) numerasi, 3) sains, 4) finansial, 5) budaya dan kewargaan, dan 6) digital. Tapi bila ada literasi dasar, mana literasi lanjutannya? Atau esok, boleh saja literasi dipetakan atas dasar literasi elementary, literasi intermediate, dan literasi advance. Memang literasi terus berdinamika dan tidak bisa “diberhentikan” di satu titik definisi.

 

Literasi memang terus ber-evolusi. Seiring dinamika abad 21, Clay dan Ferguson (2001) pun menjabarkan sebagai literasi informasi yang mencakup literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Mungkin, literasi informasi agak cocok di era digital. Sebagai antisipasi terhadap hoaks, hate speech, dan penyimpangan informasi yang bertebaran di masyarakat. Hingga di titik ini, literasi sudah melibatkan kemampuan berpikir seseorang. Menarik untuk dicermati tentunya.

 

Jadi, apa simpulan sementara tentang literasi?

Sekali lagi, tidak ada simpulan baku tentang literasi. Karena literasi bukanlah sebuah keniscayaan. Tapi literasi adalah sebuah sikap moral akan pentingnya kesadaran belajar dan memahami realitas kehidupan. Sehingga siapa pun memiliki komitmen untuk terus memperbaiki diri. Kesadaran untuk meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

Setelah menekuni dunia literasi dan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, saya pun meyakini tidak akan menemukan definisi literasi yang paling pas. Tapi setidaknya hingga saati ini, saya bisa menyimpulkan sementara tentang literasi yaitu 1) kesadaran untuk belajar secara berkelanjutan, 2) kemampuan memahami realitas kehidupan, dan 3) proses untuk memperbaiki diri dan bertahan hidup di segala zaman. Di era revolusi industri dan serba digital begini, menurut saya, hanya literasi yang mampu meredam dampak negatif dari dinamika peradaban manusia. Selain agama tentunya.

 

Apa pun dalihnya, tujuan besar literasi adalah menjadi keadaan lebih baik. Bila ilmu dan pendidikan makin tinggi tapi tidak menjadikan keadaan lebih baik, berarti belum ada literasi. Bila zaman makin maju dan serba digital tapi hoaks dan gaya hidup makin buruk, maka belum terjadi literasi. Maka literasi membutuhkan kesadaran untuk belajar terus-menerus. Literasi pun harus menjadikan seseorang mampu memahami realitas kehidupan, dengan segala lebih dan kurangnya. Dan ujungnya, literasi adalah proses yang tidak akan pernah berhenti, butuh aksi nyata di lapangan. Jadi, manusia literat tidak mungkin terjadi bila tidak memiliki 3 (tiga) ciri, yaitu sadar, paham, dan berproses. Literasi bukan wacana apalagi hanya sebatas diseminarkan di mana-mana.  Literasi itu pada akhirnya harus berujung pada “ubah niat baik jadi aksi nyata”.

 


Ini kisah nyata yang saya alami di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.  Saat berdiri di tahun 2017, TBM Lentera Pustaka awalnya hanya menjalankan taman bacaan dengan 14 anak yang bergabung dan koleksi bukunya pun hanya 600 buah. Tidak punya relawan. Hanya untuk menyediakan akses bacaan kepada anak-anak di daerah yang angka putus sekolahnya tergolong tinggi. Niatnya hanya untuk menekan angka putus sekolah. Tapi kini setelah 5 tahun berjalan dan dengan mengembangkan model “TBM Edutainment”, TBM Lentera Pustaka sudah menjalankan 13 program literasi, yaitu: 1) TAman BAcaan (TABA) dengan 140 anak pembaca aktif usia sekolah yang berasal dari 3 desa, setiap anak pun mampu membaca 3-8 buku per minggu per anak, 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai sekolah, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 33 ibu-ibu anggota, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng) melalui celengan, 10) LITDIG (LITerasi DIGital) seminggu sekali, 11) LITFIN (LITerasi FINansial) sebagai edukasi keuangan, dan 12) LIDAB (LIterasi ADAb) untuk mengajarkan akhlak dan kesantunan, serta 13) MOBAKE (MOtor BAca KEliling) yang beroperasi seminggu 2 kali. Dengan koleksi lebih dari 10.000 buku dan didukung 18 relawan aktif, tidak kurang dari 250 orang menjadi pengguna layanan literasi di TBM Lentera Pustaka setiap minggunya. Hingga kini, TBM Lentera Pustaka sangat aktif dalam menjalankan program literasi secara rutin. Kata orang, taman bacaan yang paling komprehensif.

 

Manusia Indonesia yang literat adalah target gerakan literasi itu sendiri. Bukan hanya bisa membaca dan menulis. Tapi agar siapa pun mampu mengendalikan hawa nafsu dan egonya sendiri. Tetap mau peduli, mau berbuat lebih baik dan menjaga pikiran yang positif dalam setiap keadaan. Jangan karena nafsu, manusia merasa boleh melakukan apa pun. Termasuk membuat “tempat tinggal” virus-virus terjajah. Itulah sebab terjadinya pandemic Covid-19. Karena “rumah” virus yang terjajah sehingga menyerang manusia itu sendiri.

 

Jadi, simpulan sementara tentang literasi. Adalah sikap moral akan pentingnya kesadaran belajar dan memahami realitas kehidupan. Agar bersedia untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka