Raka adalah sosok yang selalu terlihat bahagia di tempat kerja. Gajinya besar, lingkar pergaulannya luas, dan setiap akhir pekan ia hampir selalu bepergian. Sering healing sambil menikmati hasil kerjanya. Baginya, hidup adalah tentang menikmati hari ini. Ia percaya, selama masih muda dan berpenghasilan, tidak ada alasan untuk menahan diri dari kesenangan. Hitung-hitung memanjakan diri dari jerih payah sendiri, benar banget sih.
Setiap kali
menerima gaji, Raka langsung merencanakan liburan, membeli barang-barang baru,
atau menghabiskan waktu di tempat hiburan. Rekeningnya jarang benar-benar
terisi penuh. Ia tidak pernah memikirkan tabungan jangka panjang, apalagi dana
pensiun. Ketika ada rekan kerja yang mulai berinvestasi atau ikut program
pensiun, ia justru menganggap mereka terlalu khawatir terhadap masa depan. Jangan
terlalu khawatir dengan masa tua.
“Tua itu masih
lama,” begitu kalimat yang sering Raka ucapkan. Ia yakin kariernya akan terus
moncer. Kerja keras sudah cukup jadi modal untuk naik jabatan dan
penghasilannya makin meningkat. Sebagai pekerja, uangnya selalu cukup. Bahkan
ketika perusahaannya menawarkan program dana pensiun tambahan, Raka menolaknya.
Baginya, potongan gaji sekecil apa pun terasa sayang jika tidak bisa dinikmati
saat itu juga. Mumpung masih muda, batinnya.
Tahun demi
tahun berlalu. Tanpa terasa, usia Raka mendekati masa pensiun. Masa kerjanya sudah
lebih dari 28 tahun. Gaya hidupnya tidak banyak berubah, sementara tabungan
nyaris tidak ada. Saat akhirnya ia benar-benar berhenti bekerja, barulah ia
merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Tidak ada lagi gaji bulanan, tidak
ada lagi bonus, dan tidak ada lagi fasilitas kantor yang dulu ia nikmati.
Di awal masa
pensiun, Raka masih mencoba mempertahankan gaya hidup lamanya. Ia menggunakan
sisa uang yang ada untuk tetap bersenang-senang, seolah belum siap menerima
kenyataan. Namun, uang itu cepat habis. Kebutuhan hidup tetap berjalan, bahkan
biaya hari-harinya kian meningkat. Apalagi biaya kesehatan makin besar seiring
bertambahnya usia.
Beberapa tahun
kemudian, kehidupan Raka berubah drastis. Ia harus hidup dengan sangat hemat,
bahkan sering kali kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Dari seseorang yang dulunya
pekerja keras, selalu tampil percaya diri dan dikelilingi teman, kini ia lebih
sering sendiri, memikirkan bagaimana cara bertahan hidup. Penyesalan mulai
datang, namun semuanya sudah terlambat. Apa daya, Raka harus menjalani hari
tuanya dengan keuslitan keuangan. Akibat tidak mau mempersiapkan masa
pensiunnya sendiri dan terlalu bersenang-senang di saat bekerja.
Dalam
keheningan hari-harinya, Raka menyadari satu hal penting: kesenangan sesaat
yang ia kejar selama bertahun-tahun sata bekerja ternyata harus dibayar mahal
di masa tua. Ia belajar dengan cara yang paling pahit bahwa masa pensiun
bukanlah waktu untuk menyesal, melainkan hasil dari keputusan-keputusan yang
diambil sejak masa bekerja. Kisah Raka menjadi pengingat bahwa menikmati hidup
itu penting, tetapi mempersiapkan masa pensiun jauh lebih penting.
Sebab siapapun
yang bekerja, cepat atau lambat akan pensiun. Hari tua pasti tiba, masalahnya
sudah siap atau belum? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPK #DanaPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar