Sabtu, 11 April 2026

Cara Pandang Salah di Kampus tentang AI

Mungkin tidak sedikit dosen dan mahasiswa di kampus yang punya pemahaman keliru soal AI (Artificial Intelligence) dalam dunia pendidikan. Banyak yang menganggap AI sebagai “substitusi” atau pengganti dari pikiran. Sehingga semuanya “diserahkan” ke AI. Bahkan ada pula yang memandang AI sebagai alat "jalan pintas" yang membuat malas berpikir. Skripsi dibuat dari AI tanpa tahu masalahnya apa? Makalah ilimiah pun dibuat dari AI tanpa ada analisis. Akhirnya, dosen dan mahasiswa tidak lagi mau berpikir.

 

Lebih fatal lagi, ada yang menganggap jawaban AI selalu benar, apalagi AI generative sehingga dianggap sebagai sumber kebenaran mutlak. Padahal, AI bisa menghasilkan informasi yang salah atau bias, terutama jika datanya tidak seimbang. Kita lupa, AI bekerja atas apa yang tersimpan di dunia maya. Maka bila datanya minim, maka jawaban AI berpotensi “tidak sinkron” alias salah.

 

Karenanya, AI bukan menggantikan peran dosen. Bukan pula sebagai jalan pintas mahasiswa. Justru sebaliknya, semestinya dosen dan mahasiswa memberi kontribusi terhadap algoritma atau “data tersimpan” yang dipakai oleh AI. Jadi, AI sama sekali tidak dapat menggantikan peran dosen. Tidak dapat pula menaikkan “kelas” mahasiswa secara instan. Karenanya, penggunaan AI harus berbasis etika dan moral, bukan hanya logika semata.

 

Ditanya apa saja, AI sudah pasti akan menjawab. Diminta apa saja, AI pasti akan memberi. Tapi jangan lupa, setiap jawaban AI tetap bisa dilacak karena berdasar pada algoritma yang “tersimpan” di dunia maya. Jawaban AI bukan tidak ada sumbernya, pasti ada dan dapat ditelusuri dari mana asalnya? Karena itu, sikap ilmiah dan integritas dosen dan mahasiswa sangat diperlukan saat menggunakan AI. Sebab AI bukan pengganti otak.

 

Cara pandang tentang AI di kalangan dosen dan mahasiswa memang harus disosialisasikan. Harus diluruskan, agar AI tidak salah pakai tidak salah penggunaan. Dalam konteks pendidikan dan perguruan tinggi, AI dirancang untuk membantu dosen bekerja lebih efisien, tidak untuk menggantikan peran. Dosen tetap menjadi penentu arah perkuliahan. AI hanya memperkuat kapasitas perkuliahan.

 


Salah bila mahasiswa menggunakan AI sebagai jalan pintas sehingga malas membaca atau belajar. Karena AI semestinya digunakan untuk tujuan yang jelas dan meningkatkan pemahaman secara berkelanjutan. Karena itu, sikap ilmiah mahasiswa menjadi acuan. Untuk apa dan bagaiaman AI digunakan?

 

AI digunakan bukan untuk cara instan atau menjadikan dosen atau mahasiswa malas. Justru dengan AI, ruang diskusi perkuliahan jadi lebih terbuka. Dosen lebih punya lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa sehingga pembelajaran bisa lebih bermakna dan punya ruang interaksi yang lebih luas. Jadi salah, bila AI malah “memalaskan” dosen atau mahasiswa.

 

Patut dipahami, AI bukan pikiran orisinal manusia. Bukan pula hasil dari pemikiran kritis atas suatu hal. AI hanyalah mesin pemroses data yang terbenam di dunia maya. Sedangkan pemikiran kritis adalah cara berpikir, empati, dan adaptasi sebagai keterampilan manusia yang tidak akan tergantikan. Maka AI harusnya dipakai dengan etika untuk membantu proses belajar, bukan menggantikannya. Sebab AI untuk meningkatkan (to improve) bukan membuktikan (to prove).

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar