Jumat, 12 Mei 2023

Sekilas Cara Menulis Novel

Menulis novel menjadi bagian dari menulis kreatif. Novel adalah karya sastra berbentuk prosa yang lebih panjang dari cerita pendek. Novel dapat dimaknai sebagai kisah cerita hidup manusia dalam peristiwa yang luar biasa sehingga melahirkan konflik yang menjurus pada perubahan nasib pelakunya.

 

Novel sering disebut sebagai karya sastra yang diciptakan oleh pengarang dari pencampuran imajinasi dan gambaran kehidupan di sekitar pengarang yang menghasilkan dunia baru yang berisi tentang kehidupan para tokoh. Cerita sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang tokoh atau beberapa tokoh bisa dikisahkan ke dalam novel, seperti Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Mariposa karya Luluk HF.

 

Novel dapat dibagi atas  dua jenis, yaitu 1) novel serius dan 2) novel hiburan atau popular. Novel serius adalah novel yang perlu keseriusan dalam membacanya, pembaca dituntut mengoperasikan daya intelektualnya. Ciri-ciri novel serius, antara lain: 1) Masalah percintaan banyak diangkat, tapi bukan masalah utama. Contohnya  novel Siti Nurbaya, dan Novel Salah Asuhan, 2) Masalah kehidupan amat kompleks, misalnya hubungan sosial, maut, ketuhanan, takut dan cemas, 3) Mengungkap sesuatu yang baru dengan cara yang baru pula, 4) Tidak mengabdi pada selera pembaca, 5) Mengambil realitas kehidupan yang bersifat universal sebagai model, 6) Tujuan menghibur, memberikan pengalaman yang berharga bagi pembaca (kontenplatif) perenungan, dan 7) Tetap betahan sepanjang zaman, contohnya Romeo and Juliet.

 

Sedangkan novel hiburan atau popular adalah novel yang bersifat menghibur sebagai bacaan ringan. Citri-ciri novel hiburan atau novel pop antara lain: 1) Populer pada zamannya dan digemari para remaja, 2) Tidak menampilkan masalah kehidupan yang lebih intens, 3) Tidak meresapi hakikat kehidupan, 4) Bersifat artifisial atau sementara, ini berkaitan dengan percintaan remaja, tidak logis dalam alur ceritanya karena bersifat sementara, 5) Mudah dibaca dan mudah dipahami, 6) Masalah yang dikemukakan singkat, tapi actual seperti masalah cinta dan masalah persahabatan, 7) Mengejar selera pembaca, 8) Alur sengaja dibuat lancar dan sederhana, 9) Alur atau jalan cerita jarang dibuat flashback, cerita tidak dibuat sulit agar mudah dipahami, 10) Tokoh tidak berkembang (menuntut pengarang untuk memuaskan pembaca) seperti pemarah, baik, sederhana, jujur, tokoh mengalami perubahan watak, 11) Alur, tema, karakter, latar biasanya bersifat stereotif (itu-itu saja) tidak mengutamakan unsur kebenaran, dan 12) Bersifat menghibur, tujuannya menghibur, akhir cerita sebagian besarnya bersifat happy ending.

 


Kekuatan novel terletak pada 3 ciri novel yang paling utama:

1.   Alur atau plot yang kompleks.

2.   Tema yang dinamis.

3.   Tokoh dan karakternya yang variatif.

 

Adapun persyaratan menulis novel yang patut menjadi pertimbangan adalah sebagai berikut:

1.     Siapa tokoh utama yang akan diceritakan?

2.     Apa hal yang paling penting dalam kehidupan tokoh yang akan dikisahkan?

3.     Apa dan siapa yang menyebabkan konflik dalam hidup tokoh?

4.     Bagaimana perjuangan tokoh dalam menyelesaikan konflik?

5.     Apa peristiwa yang dapat meredakan konflik yang dihadapi tokoh?

6.     Apa adegan yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang dihadapi tokoh?

7.     Bagaimana akhir cerita yang dramatis yang dibuat pada tokoh?

 

Ada banyak cara menulis novel. Namun biasanya tahapan menulis novel paling umum adalah sebagai berikut:

1. Prapenulisan novel.

2. Penulisan novel.

3. Perbaikan novel.

4. Penyelesaian novel.

 

Secara kreatif, menulis novel pada akhirnya bukan hanya hobi tapi bisa menjadi profesi. Asal dilandasi komitmen untuk menghasilkan karya novel yang yang digemari pembaca. Sebagai contoh novelis yang patut dicontoh dan berhasil menambah pundi-pundi keuangannya seperti: 

1.   Andrea Hirata, memperoleh total keuntungan lebih dari Rp. 3,6 Miliar untuk novel “Laskar Pelangi”, belum termasuk beberapa buku lainnya dalam Tetralogi-nya dan royalti novel yang difilmkan. 

2.   Habiburrahman El Shirazy, melalui novel “Ayat-Ayat Cinta” yang ditonton oleh 3,5 juta orangberhasil meraup kocek Rp. 2,4 Milliar ditambah bonus tambahan dari novel yang diangkat ke layar lebar.

3.   Mira W., menghasilkan lebih dari 20 novel best seller yang diperkirakan memberikan keuntungan lebih dari Rp. 2 Milliar dari novel-novelnya, belum termasuk penjualan ke film dan layar lebar.

4.   Dewi “Dee” Lestari, seorang penulis yang fenomenal dengan meraih keuntungan lebih dari Rp. 1,5 Miliar dari seluruh novelnya.

5.   Agnes Davonar, melambung menjadi penulis termahal di Indonesia. Buku “Surat Kecil Untuk Tuhan” terjual lebih dari 200.000 eksemplar atau menghasilkan Rp. 700 Juta Rupiah, di samping mendapatkan lebih dari Rp. 500 juta dari hak cipta novelnya.

6.   Raditya Dika, buku-bukunya tetap menjadi terfavorit dan mendapatkan lebih dari Rp. 500 juta keuntungan pribadi sehingga dikenal sebagai penulis muda beruntung. Belum lagi pendapatan dari beberapa iklan dan acara televisi.

7.   Agnes Jessica, mantan seorang guru dan menekuni karier sebagai penulis. Penulis yang aktif hingga nyaris menerbitkan 1 buku setiap bulan dan berhasil meraih pendapatan lebih dari Rp. 400 juta keuntungan pribadi dan belum termasuk hak cipta film untuk karyanya.

8.   Asma Nadia, sungguh luar biasa menciptakan novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan essai yang hampir semuanya “best seller”. Melalui “Catatan Hati Seorang Isteri” yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing memberikan inspirasi dan motivasi pembacanya. ia mengumpulkan lebih dari Rp. 300 juta dari karyanya yang beredar dan beberapa hak cipta film untuk novelnya.

 

Bila dianalisis, novel-novel pengarang di atas memiliki kekuatan-kekuatan seperti:

a.    Mengangkat cerita yang unik dengan tema yang tidak biasa.

b.    Gaya bahasa yang terstruktur dan mudah dimengerti.

c.    Akhir cerita yang memukau.

d.    Karakter tokoh ditonjolkan dengan kuat.

e.    Masalah yang realistis.

f.    Memberi pesan moral.

g.    Membangun ikatan emosioanl antara bacaan dan pembaca.

 

Sejatinya, menulis novel bukan hanya proses. Tapi harus dibiasakan hingga menjadi sebuah keterampilan. Salam menulis kreatif!

Jangan Iri Pada Rezeki Orang lain, Kenapa?

Maaf ya buat yang membaca, sama sekali nggak ada maksud riya apalagi sombong. Cuma mau menulis bahwa "rezeki siapapun tidak akan pernah tertukar". Sekeras apapun berjuang dan berjibaku, bila nggak rezekinya ya nggak bakal dapat. Percayalah dan nggak usah khawatir soal rezeki. Apalagi iri dengan rezeki orang lain sampai ingin merampasnya, jangan!

 

Ini contoh rezekinya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Hari ini (12/5/2023) tanpa disangka, 1) TBM Lentera Pustaka kedatangan teman-teman pendirinya yang ber-aksi sosial, motivasi anak-anak dan donasi buku lalu menyerahkan donasi sebesar Rp. 9 juta dan 2) Pendiri TBM Lentera Pustaka 2 hari kemarin mengajar sertifikasi DPLK lalu dibayar Rp. 21 juta. Alhamdulillah banget kan. Semuanya masuk ke kas TBM Lentera Pustaka. Untuk nambahin biaya operasional, honor wali baca, bayar listrik dan wifi, dan aktivitas literasi berbiaya lainnya. Alhamdulillah ya Allah, rezekinya taman bacaan.

 

Sadarilah, rezeki siapapun nggak akan tertukar dan tidak pernah tertukar. Karena Allah SWT telah memberikan rezeki pada setiap hamba-Nya sesuai dengan porsinya masing-masing. Tidak perlu khawatir sola rezeki. TBM Lentera Pustaka pun tidak pernah meminta-meminta tapi rezekinya datang sendiri. Asal terus perbaiki niat, baguskan ikhtiar dan perbanyak doa plus jaga relasi dengan orang-orang baik.

 


Lagi pula kadar rezeki setiap orang juga beda-beda. Lebih atau cukup itu relatif. Besar kecil pun relatif, tergantung bagaimana cara mendapatkannya dan untuk apa digunakan rezeki itu? Asal jalannya halal, bukan sebaliknya. Rezeki itu tergantung niat baiknya, kerja kerasnya, dan untuk apa rezeki itu digunakan?

 

Rezeki memang sudah dijamin Allah SWT. Tapi bukan berarti bermalas-malasan. Apalagi berjuang cari rezeki dari ,”merampas” yang bukan haknya. Lalu digunakan untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya? Yah sudah pasti, rezekinnya jadi seret. Bila ada yang rezekinya sempit atau nggak lancar, bisa jadi karena niatnya dan ikhtiarnya bermasalah. Jadi, nggak usah pusing sama rezeki. Cukup berbuat baik saja di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Baik dulu, baik lagi, dan baik terus itulah resep mendatangkan rezeki yang paling sederhana. Jangan banyak mengeluh apalagi memendam rasa iri atau benci pada siapapun. Bakal jauh dari rezeki, bila hati dan pikiranhya sudah jelek.

 

Ketahuilah, rezeki itu hanya datang kepada mereka yang memang berhak menerimanya. Dari mana saja dan kapan saja. Maka tidak perlu khawatir dan iri dengan rezeki orang lain. Semuanya memang sudah pantas untuk kita, sesuai niat, pikiran, dan perilaku kita sendiri. “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (At-talaq: 3).

 

Bila hari ini, masih ada pertanyaan. Mengapa orang lain bisa mendapatkan rezeki yang melimpah, sedangkan orang lain lagi mengalami kesulitan. Introspeksilah, sudah baik, syukur, dan sabar belum? Salam literasi #RezekiTBM #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Di Tengah SIbuk Kerja, CR Community Lakukan Aksi Peduli Sosial ke Taman Bacaan

Bertajuk “Charity in Action, tim Client Relations Community Manulife Indonesia melakukan aksi kepedulian sosial dan berkunjung ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (12/5/2023). Dipimpin Rey Ando Gultom (mewakili Tjatur Ria Sari) bersama Wawan, Fajar, Jamal, Tini, Rini, Tika, Rika, Tiwi, Selfi berdialog sambil bermain dengan anak-anak pembaca aktif di samping menyerahkan donasi buku dan uang untuk pengembangan taman bacaan dan diterima langsung oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka didampingi wali baca.  

 

Aksi sosial “Charity in Action” CR Community Manulife Indonesia ini menjadi bukti kepedulian dan dukungan kalangan pekerja profesional terhadap aktivitas taman bacaan dan gerakan literasi di Indonesia. Untuk meningkatkan kegemaran membaca anak-anak, di samping menekan angka putus sekolah di daerah yang tergolong prasejahtera. “Selain silaturahmi, kami ikut mendukung aktivitas membaca di TBM Lentera Pustaka, agar gerakan literasi bisa semakin bagus ke depannya. Kami senang bisa ke taman bacaan ini sambil ngobrol dengan anak-anak pembaca aktif dan mendonasikan apa yang kami bisa lakukan” ujar Rey Ando Gultom di Bogor hari ini.

 

CR Community Manulife Indonesia merupakan kolega Pendiri TBM Lentera Pustaka saat masih bersama-sama bekerja di perusahaan asuransi jiwa. Sebagai cara memelihara silaturahmi, di samping untuk ikut peduli akan pentingnya membaca buku bagi anak-anak usia sekolah. Apalagi di tengah gempuran era digital yang kian masif.

 


Disuguhi singkong goreng khas TBM, CR Community pun makan siang bersama “nasi liwet” di Kebun Baca TBM Lentera Pustaka dalam suasana hangat dan akrab. Sambil berdiskusi tentang pentingnya membangun kepedulian sosial saat bekerja. Sebagai perwujudan dari CSR (Corporate Social responsibility) baik secara individu, kelompok, maupun korporasi. Belajar, bekerja sambil sosial sangat penting untuk kesehatan lahir batin di zaman serba digital seperti sekarang.

 

“Atas nama TBM Lentera Pustaka, saya mengucapkan terima kasih tak terhingga untuk teman-teman CR Community Manulife Indonesia. Sekalipun bersifat infomal, aksi nyata CSR ini sangat memotivasi anak-anak pembaca aktif taman bacaan. Terima kasih atas donasi buku dan dana pengembangan TBM. Semoga sehat dan berkah selalu ya” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka.

 

Malalui kegiatan “Charity in Action” CR Community Manulife Indonesia di TBM Lentera Pustaka, ada pesan akan pentungnya kepedulian dan kolaborasi bersama dalam menegakkan tradisi baca dan budaya literasi masyarakat Indonesia. Agar kualitas sumber day manusia ke depan menjadi lebih baik, lebih literat. Salam literasi #CRCommunity #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 



Kamis, 11 Mei 2023

Literasi Harapan, Jangan Terlalu Banyak Berharap

Siapapun jangan kehilangan harapan. Berharap dan harap harus selalu ada. Karena harap, kita jadi lebih bersemangat dalam hidup. Harap yang membuat kita tetap tegar dan pantang menyerah. Untuk melewati segala cobaan dan godaan yang ada.

 

Harap atau harapan memang harus selalu ada. Karena apa yang kita dapat terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Hanya harap yang bisa menjauhkan siapapun dari rasa putus asa. Harap yang mengajak pemiliknya untuk terus tumbuh. Bersikap lalu bertindak karena harapan. Karena siapapun dan di mana pun, begitulah kehidupan. Ada suka dan duka, ada pahit dan manis. Kadang di atas, kadang di bawah. Asal tetap punya harap.

 

Tapi harap atau berharap pun harus hati-hati. Jangan salah tempat, jangan sembarang berharap. Karena dalam hidup, apapun yang kita kira akan bertahan lama, ternyata berakhir lebih cepat. Senyum yang katanya selalu menemani kita, ternyata tidak selalu berada di situ. Waktu yang katanya milik kita pun, ternyata tidak selalu ada untuk kita. Bahkan teman yang katanya kita tumpahkan segala percaya, ternyata begitu mudahnya menjauh tanpa sedikitpun mengucap kata.


 

Harap ya sekadar harap. Harus selalu ada harap. Tapi ketahuilah, nyatanya memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Tidak ada yang dimiliki di dunia selamanya. Semuanya hanya sementara. Hanya sebatas hak guna pakai. Karena ternyata keabadian hanya milik Allah SWT.

 

Maka harap dan berharap hanya kepada Allah SWT. Teruntuk siapapun yang menaruh harap pada selain-Nya, pasti akan sirna. Saat berharap pada manusia, maka bersiaplah untuk kecewa. Mungkin bisa jadi, tidak ada habisnya. Dan untuk segala kecewa yang pernah dirasa, belajarlah bercerminlah. Jangan terlalu banyak berharap kepada selain Allah SWT. Agar tidak lagi terulang kesalahan yang sama, karena terlalu berharap.

 

Maka, ingatlah. Jangan banyak berharap kepada selain-Nya. Karena berharap pada-Nya adalah kekuatan untuk bergembira dalam situasi yang mungkin menyesakkan. Seperti larut malam yang selalu berharap untuk segera berubah menjadi pagi yang terang. Harap yang selalu ada untuk esok yang lebih cerah. Salam literasi!

 

Rabu, 10 Mei 2023

Sertifikasi DPLK Bacth 20 Mei 2023, Kali Pertama Diikuti Manajer Investasi

Asosiasi DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) menggelar Sertifikasi DPLK batch 20 secara offlien di Jakarta (10-12 Mei 2023). Diikuti 25 peserta yang berasam dari 5 Manajer Investasi, 8 pelaku DPLK, dan 1 umum. Pasca UU Pengembagan dan penguatan Sektor Keuangan (P2SK), inilah kali pertama Sertifikasi diikuti oleh Manajer Investasi, di mana sesuai UU P2SK nantinya dapat mendirikan DPLK. Hal ini sekaligus menunjukkan komitmen dan penjajakan manajer investasi untuk masuk ke pasar DPLK di Indonesia.

 

Sesuai pasal 190 UU P2SK ditegaskan “Pengelola Program Pensiun merupakan professional yang wajib memiliki komptensi dan pengalaman yang memadai”. Itu berarti, siapapun yang akan memasuki industri DPLK diwajibkan memiliki kompetensi dan pengakaman yang memadai, dengan dibuktikan melalui 1) pendidikan, 2) masa bekerja, dan 3) sertifikasi, training, dan sebagainya.

 

Oleh karena itu, sejak tahun 2017, Asosiasi DPLK telah menggelar “Sertifikasi DPLK” yang ditujukan kepada staf dan tenaga pemasar DPLK dan pihak terkait dana pensiun sebagai upaya dan komitmen menjaga standar kompetensi dan layanan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) kepada pengguna layanannya dan masyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus menjadi bagian peran penting  Asosiasi DPLK dalam tata laksana industri DPLK dan koordinasi dengan regulator, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 186 UU P2SK terkait kewajiban setiap pelaku dana pensiun menjadi anggota asosiasi dana pensiun.

  

WAJIB menjadi anggota Asosiasi sebagai optimalisasi peran Asosiasi dalam mengatur anggota dan koordinasi ke regulator.

“Sertifikasi DPLK ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan keahlian para tenaga pemasar dan staf yang akan atau bekerja di unit bisnis DPLK. Agar mampu memberikan layana terbaik kepada pengguna layanan DPLK, di samping dapat memacu pertumbuhan bisnis DPLK secara berkualitas” ujar Syarifudin Yunus, Ketua Panitia Sertifikasi DPLK.

 


Sertifikasi DPLK terdiri dari kelas tutorial selama 2 hari dan ujian sertifikasi DPLK 1 hari. Adapaun cakupan materi Sertifikasi DPLK terdiri dari modul: 1) pengetahuan dasar dan pemasaran, 2) operasional dan bisnis proses, 3) investasi, dan 4) regulasi dan risiko. Selama ini, Asosiasi DPLK menggelar ujian sertifikasi secara rutin setahun 4 kali (Januari-April-Juli-Oktober). Hingga saat ini, tidak kurang 700 orang telah tersertifikasi DPLK sebagai implementasi prinsip perilaku profesional dan kompetensi anggota Asosiasi DPLK dalam menjalankan amanat POJK No.1/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, di samping memastikan berjalannya POJK 15/2019 tentang Tata Kelola Dana Pensiun.

 

Patut diketahui, Sertifikasi DPLK merupakan sertifikasi profesi yang sangat penting di industri DPLK. Sebagai cara untuk mengotimalkan pengetahuan tentang prinsip dan manfaat DPLK sebagai bagian perencanaan masa pensiun bagi setiap pekerja. Karena dengan DPLK, setiap pekerja pada akhirnya akan memiliki manfaat: 1) memiliki pendanaan yang pasti untuk hari tua, 2) memperoleh hasil investasi yang optimal selama menjadi peserta, dan 3) mendapat fasilitas perpajakan.

 

Asosiasi DPLK memiliki komitmen tinggi untuk memacu pertumbuhan bisnis DPLK yang dilandasi kompetensi pelakunya, di samping terus melakukan edukasi dan sosialisasi akan pentingnya dana pensiun, baik untuk kalangan pekerja maupun pemberi kerja. Hingga Desember 2022 lalu, industri DPLK telah mengelola aset lebih dari Rp 122 triliun dengan melayani peserta mencapai 3,6 juta pekerja di Indonesia. Ke depan, Asosiasi DPLK akan terus aktif meningkatkan kapasitas kompetensi sumber daya manusianya. Agar aset dikelola dan peserta DPLK akan terus bertambah di Indonsia. Untuk masa pensiun yang nyaman dan sejahtera. Salam #YukSiapkanPensiun #SertifikasiDPLK #AsosiasiDPLK

Peran Taman Bacaan Masyarakat untuk Budaya Membaca Menurut UU No. 43/2007 tentang Perpustakaan

Indonesia, dalam berbagai survei, dituding memiliki budaya membaca yang rendah. Itu artinya, masyarakat Indonesia dianggap tidak punya budaya membaca. Berarti pula, tingkat literasi-nya pun tergolong rendah. Maka wajar, minat membaca orang Indonesia pun dianggap rendah pula. Bila sudah begitu, kita lupa bahwa minat membaca atau budaya membaca itu sangat tergantung pada “ketersediaan akses untuk membaca”.

 

Apalagi di zaman begini, rendahnya budaya membaca mungkin ada benarnya. Karena anak-anak dan orang dewasa lebih mahir mengutak-atik gawai daripada buku. Lebih senang main gawai daripada membaca buku. Berpuluh-puluh tahun hanya mengurusi “hilir” daripada “hulu”. Akibatnya, salah pakai gawai untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Salah memaknai tontonan TV, bukan untuk pelajaran justru inspirasi berbuat jahat. Media sosial dipakai untuk pamer atau curcol, bukan untuk inspirasi atau kebaikan. Dan membaca buku akhirnya kian ditinggalkan. Begitulah faktanya sekarang di Indonesia.

 

Apa sih konsekuensi budaya membaca yang rendah? Bila membaca adalah “hulu, maka dampak “hilirnya” adalah kualitas SDM rendah, daya saing anjlok, indeks pembangunan SDM tidak memadai, inovasi masyarakat rendah, indeks kebahagiaan turun, indeks kemanfaatan tidak ada, dan akhirnya memengaruhi pendapatan perkapita yang rendah. Tingkat kesejahteraan dan ekonomi pun tidak memadai. Di situlah pentingnya membenahi “hulu” budaya membaca daripada mengurus “hilir” digitalisasi, media sosial, atau teknologi canggih sekalipun.

 

Jadi, siapa yang bertanggung jawab dalam pembudayaa kegemaran membaca khususnya di daerah-daerah? Sebenarnya, regulasi pembudayaan kegemaran membaca sudah jelas. Tinggal diimplementasikan dengan baik dan efektif. Harus mau intospeksi diri dan memperbaiki cara serta kepedulian terhadap pembudayaan kegemaran membaca atau gerakan literasi. Karena di UU No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan sudah diatur dengan tegas pada Bab XIII Pembudayaan Kegemaran Membaca. Mari kita pahami dan tafsirkan soal pembudayaan kegemaran membaca di Indonesia.

 

Pasal 48 ayat 1)  menyebut “Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat, 2) Pembudayaan kegemaran membaca pada keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah melalui buku murah dan berkualitas, 3) Pembudayaan kegemaran membaca pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran, 4) Pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu. Pasal ini dengan tegas menyebut pembudayaan kegemaran membaca ada di level keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat seperti taman bacaan. Untuk itu, pemerintan dan pemerintah daerah harus memfasilitasi, apapun bentuknya. Apalagi banyak satuan pendidikan tidak memiliki perpustakaan yang memadai, maka solusinya keterlibatan masyarakat seperti taman bacaan harus dioptimalkan. Sayangnya, pemerintah atau pemerintah daerah “tidak peduli” akan soal budaya membaca yang dijalankan masyarakat. Inilah yang harus dibenahi dan diimplementasikan secara konkret.

 

Pasal 49 mengaskan bahwa “Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat dan rumah baca untuk menunjang pembudayaan kegemaran membaca”. Pasal ini menyebut pentingnya mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat (TBM) di daerah-daerah. Tapi sayangnya, banyak pemerintah daerah yang “tutup mata” soal keberadaan taman bacaan di daerahnya. Tidak ada sinergi untuk “memperbaiki” taman bacaan di daerahnya. Akhirnya, tidak seidkit taman bacaan yang “hidup segan mati tak mau”. Soal ini penting untuk diformulasikan kembali, mau seperti apa dan bagaimana relasi pemerintah daerah dan taman bacaan di daerahnya?

 

Pasal 50 menegaskan Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi dan mendorong pembudayaan kegemaran membaca sebagaimana diatur dalam Pasal 48 ayat (2) sampai dengan ayat (4) dengan menyediakan bahan bacaan bermutu, murah, dan terjangkau serta menyediakan sarana dan prasarana perpustakaan yang mudah diakses. Pasal ini pemerintah dan pemerintah tinggal “introspeksi diri” saja, apa yang sudah diperbuat untuk kegemaran membaca di daerahnya? Bila sudah bagus syukur, bila belum ada terus mau sampai kapan?

 

Pasal 51  menyebut ayat 1) Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui gerakan nasional gemar membaca, 2) Gerakan nasional gemar membaca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan melibatkan seluruh masyarakat, 3) Satuan pendidikan membina pembudayaan kegemaran membaca peserta didik dengan memanfaatkan perpustakaan, 4) Perpustakaan wajib mendukung dan memasyarakatkan gerakan nasional gemar membaca melalui penyediaan karya tulis, karya cetak, dan karya rekam, 5) Untuk mewujudkan pembudayaan kegemaran membaca sebagaimana dimaksud pada ayat (1), perpustakaan bekerja sama dengan pemangku kepentingan, 6) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berhasil melakukan gerakan pembudayaan gemar membaca, 7) Ketentuan mengenai pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal ini panjang banget, cuma menyimpan segudang “pekerjaan rumah” untuk pemerintah dan pemerintah daerah. Seperti apa sih program dan aksi yang dilakukan untuk “gerakan nasional gemar membaca”? Sudah dilakukan apa belum dan kapan? Bagaimana rekam jejak-nya dan apa pula apresiasi yang dilakukan pemerintah daerah ke masyararakat? Apa cukup cuma seremoni “duta baca”?

 


Pesan pentingnya, soal pembudayaan kegemaran membaca sudah jelas aturannya di negara ini. Teorinya sudah baku, hanya praktik di lapangannya yang bermasalah. Budaya itu berarti ada sikap dan perialku untuk membaca di masyarakat. Jadi semua elemen harusnya terlibat dan bertumpu pada aksi nyata bukan hanya niat baik semata. Tidak akan pernah ada minat baca masyarakat yang baik dan tumbuh tanpa ketersediaan akses bacaan di daerah, tanpa perhatian dan kepedulian pemerintah daerah. Kolaborasi harus ada, sinergi harus berani dan semua itu ada konsekuensinya. Sayang sekali, budaya kegemaran membaca saat ini hanya sebatas seremoni, rencana kerja tanpa aksi nyata di lapangan.

 

Jujur saja, tidak ada teori paling benar dalam membangun budaya membaca di mana pun. Yang ada hanya kemauan dan keberanian untuk berkiprah nyata di masyarakat untuk membangun kegemaran membaca dan gerakan literasi dengan penuh komitmen dan konsisten. Harus ada kolaborasi dan sinergi. Jangan mencetak orang-orang instan di kegemaran membaca tanpa proses yang baik dan bertanggung jawab.

 

Ketahuilah, kegemaran membaca dan gerakan literasi yang konkret tidak akan pernah selesai bila dikerjakan melalui seremoni, diskusi bahkan seminar sekalipun. Karena masyarakat di daerah hanya butuh aksi nyata dan praktik baik yang dikerjakan sepenuh hati, bukan setengah hati.

 

Maka dalam hal apapun. Jangan pernah membaca sampai koma, tetapi bacalah sampai titik. Agar tuntas dan selesai, bila perlu hingga kelar dengan diri sendiri karena membaca. Karena suatu saat nanti, membaca akan berujung pada “perlawanan yang baik” dan menuliskannya akan menciptakan perubahan yang bermanfaat. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 




Dinas Perpustakaan Kab. Badung Bali Studi Tiru Literasi Ke TBM Lentera Pustaka Bogor

Tim Desain Taman Literasi Dinas Arsip & Perpustakaan (DAP) Kab. Badung Bali hari ini melakukan "studi tiru" dan melihat lebih dekat aktivitas literasi di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (20/5/2023). Dipimpin oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DAP) Kab.  Badung, Bali, Ni Wayan Kristiani, SH., M.A.P bersama 6 anggota tim melihat secara langsung aktivitas tata kelola TBM, fasilitas dan prasarana serta berdialog bersama anak-anak dan orang tua yang kebetulan sedang "jam baca" di TBM. Diterima oleh Susi dan Ai (Wali Baca TBM Lentera Pustaka), tim DAP Kab. Badung sengaja datang jauh-jauh dari Bali hanya untuk "mencontoh" apa yang dilakukan TBM Lentera Pustaka, di samping menggali inspirasi untuk pengembangan literasi berbasis masyarakat.

 

Ada 15 program literasi yang dipaparkan TBM Lentera Pustaka, di samping fasilitas ruang baca utama, kebun baca, rooftop baca dan gudang buku. Berbagai hal bisa dipelajari dari TBM yang berdiri tahun 2017 ini sebagai model taman literasi di Kab. Badung Bali.

"Luar biasa, TBM Lentera Pustaka ini menarik dan sangat menginspirasi. Kompak dan anak-anak serta orang tua pun masih banyak yang membaca ke TBM. Tidak salah kami memilih untuk studi tiru taman literasi ke TBM ini. Tempatnya dirawat dan fasilitasnya lengkap, anak-anaknya pun antusias. TBM ini  patut direkomendasikan dan jadi contoh" ujar Ni Wayan Kristiani, SH., M.A.P, Kadis DAP Kab. Badung Bali di Bogor sore ini.

 


Sambutan hangat dan aktivitas yang apa adanya jadi budaya di TBM Lentera Pustaka. Bahkan wali baca dan relawannya sangat welcome melayani tamu seperti kami dari Bali. Tata kelola dan manajemen TBM-nya tertib, dan didukung sinergi TBM dan masyarakat untuk menghidupkan aktivitas literasi. "Bagus sekali kreativitas yang ada di TBM ini. Kami ingin kembangkan model literasi yang menarik seperti ini di Bali" ujar salah satu anggota tim.

 

Tentu bukan tanpa alasan DAP Kab. Badung Bali memilih TBM Lentera Pustaka sebagai tempat studi tiru taman literasi yang akan dikembangkan. Selain peran wali baca yang kokoh, cara menjaga kerajinan anak dan orang tua ke TBM pun patut ditiru. Ada kolaborasi melalui CSR, ada sinergi dengan komunitas dan organisasi, bahkan rutin menggelar event literasi di taman bacaan setiap bulan. Karena TBM memang harus dikelola sepenuh hati, bukan setengah hati.

 

Dari studi tiru DAP Kab. Badung Bali ke TBM Lentera Pustaka jelas tercermin. Tidak ada teori paling benar di taman bacaan. Tapi yang ada adalah praktik baik berliterasi yang dijalankan dengan komitmen tinggi dan konsistensi penuh. Agar tradisi baca dan budaya literasi masyarakat semakin meningkat. Apalagi di tengah gempuran era digital.Salam literasi





Selasa, 09 Mei 2023

Apa Untungnya Bikin Event CSR di Taman Bacaan?

Taman bacaan bukan hanya tempat membaca buku. Tapi lebih dari itu, taman bacaan pun bisa dipilih sebagai tempat event CSR (Corporate Social Responsibility) atau bakti sosial berbagai perusahaan atau komunitas. Sebagai wujud kepedulian terhadap gerakan literasi dan meningkatkan kegemaran membaca anak-anak di pelosok Indonesia. Nonton konser perlu, nongkrong di kafe perlu. Tapi mungkin lebih penting berkegiatan CSR di taman bacaan.

 

Seperti agenda di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Pada bulan Mei 2023 ini, ada berbagai aktivitas bakti sosial dan CSR yang telah dijadwalkan. Sebut saja, event CSR yang padat merayap di taman bacaan, seperti:

1.      Charity in Action oleh CR Community Manulife Indonesia yang digelar pada Jumat, 12 Mei 2023. Untuk menghibur anak-anak kelas prasekolah (KEPRA) TBM Lentera Pustaka, di samping berdonasi ke taman bacaan sebagai wujud kepedulian pekerja professional di perusahaan asuransi jiwa terhadap aktivitas taman bacaan.

2.      Peduli Taman Bacaan oleh Komunitas Anak Muda Depok pada Minggu, 14 Mei 2023. Acara motivasi dari anak-anak muda kepada anak-anak pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka. Agar lebih rajn membaca buku di taman bacaan, di samping pemberian bingkisan sebagai motivasi.

3.      𝐁𝐮𝐤𝐮 𝐔𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚 oleh 𝐌𝐍𝐂 𝐏𝐄𝐃𝐔𝐋𝐈 pada Rabu, 17 Mei 2023 memperingati Hari Buku Nasional untuk mendonasikan buku-buku bacaan ke TBM Lentera Pustaka. Acara ini sekaligus liputan CSR event MNC Peduli dan aktivitas TBM Lentera Pustaka oleh RCTI dan INews sebagai ikhtiar untuk mensosialisasikan pentingnya membaca buku dalam membentuk maysrakat Indonesia yang literat.

4.      Peluncuran Motor Pustaka oleh Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) yang didukung oleh Dirjen Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, dan LPDP pada Minggu 21 Mei 2023. Untuk diketahui, TBM Lentera Pustaka mendapat hibah “motor Pustaka” untuk bergerak menyediakan akses buku bacaan ke kampung-kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan.

5.      Hiking Bike-Read oleh Wali Baca dan Relawan TBM Lentera Pustaka pada Minggu, 21 Mei 2023. Setelah lelah mengurus taman bacaan, wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka refreshing ke Curug Pangeran di Kawasan wisata Gn. Halimun Salak dengan konvoi motor.


 

Event CSR tersebut pun di luar aktivitas rutin di TBM Lentera Pustaka yang setiap hari Minggu menggelar “Laboratorium Baca” anak-anak taman bacaan, aktivitas baca Tulisa Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA), dan motor baca keliling di sore harinya. Untuk diketahui, saat ini TBM Lentera Pustaka mengelola 15 program literasi dan  beroperasi 6 hari dalam seminggu dengan koleksi lebih dari 10.000 buku. Didukung 5 wali baca dan 12 relawan, tidak kurang dari 200 orang menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka yang meliputi 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya) Kecamatan Tamansari Kab. Bogor.

 

Literasi dan taman bacaan pasti sulit untuk berkembang. Tanpa kolaborasi dan sinergi dari berbagai pihak baik perusahaan maupun komunitas. Karena itu, event CSR di taman bacaan memang harus terus dipublikasikan dan disosialisasikan. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat yang lebih berkualitas. Karena siapapun, sejatinya punya tanggung jawab sosial untuk lebih peduli meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Dan CSR di taman bacaan, adalah ladang amal untuk siapapun. Salam literasi #EventCSR #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka




Senin, 08 Mei 2023

Literasi Gaya Hidup, Jadikan Sesuai Levelmu Bukan Level Orang Lain

Ini hanya renungan sekaligus cara untuk introspeksi diri. Hidup sesuai levelmu, jangan hidup di level orang lain. Agar nantinya tidak jadi masalah. Apapun dan di mana pun, gunakan rezeki untuk hidup yang lebih baik. Bukan untuk gaya hidup, untuk pamer.  Karena gaya hidup sama sekali tidak akan pernah membuatmu merasa cukup.

 

Hidup sesuai levelmu. Bukan berarti harus hidup sederhana. Tapi hiduplah secara pantas. Hidup yang patut atau layak. Hidup yang sesuai  atau cocok. Sehingga menimbulkan pertanyaan atau curiga orang lain. Apalagi di media sosial, hiduplah sesuai levelmu. Bila tidak, akhirnya dipanggil KPK untuk memgklarifikasi harta dan kekyaannya. Dari mana diperoleh? Karena dianggap tidak pantas.

 

Hari ini makin banyak orang hidup tidak lagi di levelnya sendiri. Lebih senang hidu-p di level orang lain. Terlalu memaksa diri. Hingga berani utang, terjebak pinjaman online, bahkan berani mengambil apapun yang bukan haknya. Akibat hidup bukan di level sendiri. Terlalu memaksa diri untk hidup di level orang lain.

 


Bertindaklah semampunya. Berbuat baik dari yang sederhana. Bersedekah sebisa yang dilakukan. Sama sekali mempertontonkan apapun yang tidak sesuai dengan level kita. Bukan karena orang lain. Tapi karena Allah SWT yang tahu sebenarnya siapa kita? Pantaskan diri sendiri untuk soal apapun dan di mana pun. Maka hiduplah sesuai kemampuanmu, jangan sesuai dengan kemauanmu.

 

Sekarang banyak orang yang tidak bisa mengukur diri. Hingga lupa untuk bersyukur. Makin banyak orang yang tidak sadar sehingga lupa untuk sabar. Bahagia itu bukan dari apa yang ditampilkan. Tapi dari apa yang diperbuat. Bahagia itu bukan karena ingin dipuji orang. Tapi karena sesuai dengan level diri sendiri. Apapun bukan karena mewahnya tapi karena berkahnya.

 

Maka jika rezekimu bertambah, naikkanlah level sedekahmu bukan pertontonkan level gaya hidupmu. Salam literasi!