Tampilkan postingan dengan label masalah taman bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masalah taman bacaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2022

72% Taman Bacaan di Indonesia Rasio Kecukupan Dana Operasional Bermasalah

Faktanya, 72% taman bacaan yang ada di Indonesia hanya bisa membeli buku 1 dari 4 yang dibutuhkan. Hal itu terjadi karena tingkat persentase ketersediaan dana dibandingkan kebutuhan operasional taman bacaan, 72%-nya di bawah 25%. Sementara 17,9% taman bacaan punya ketersediaan dana operasional antara 25%-50%, 7,5% taman bacaan punya ketersediaan dana mencapai 51-75% dan hanya 2,2% taman bacaan yang dananya mencukupi 75%-100% kebutuhannya. Itulah simpulan Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022 yang dilakukan TBM Lentera Pustaka (Juni 2022).

 

Survei ini membuktikan bahwa sebagian besar taman bacaan yang ada di Indonesia, tidak memiliki rasio kecukupan dana operasional yang memadai. Ingin beli buku 4 buah tapi dananya hanya bisa beli buku 1 buah. Ingin renovasi ruang baca Rp. 1 juta tapi dana yang ada hanya Rp. 250.000,-. Karena dana yang dimiliki di bawah 25% dari total kebutuhannya. Realitas ini jadi bukti pegiat literasi berjuang di taman bacaan berbasis iktikad baik dan semangat untuk bisa mempertahankan eksistensi taman bacaannya.

 

Rendahnya rasio kecukupan dana operasional ini tercermin dari hasil Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022 yang diikuti 138 pegiat literasi dari 88 kabupaten/kota di 27 provinsi di Indonesia, yang terdiri dari: Jatim, Jabar, NTT, Jambi, Jateng, Sumut, Maluku, Papua Barat, Sulsel, Sumbar, Kalbar, Sulbar, Sultra, NTB, Aceh, Banten, Lampung, Sumsel, Riau, Sulteng, DKI Jakarta, Maluku Utara, Bengkulu, Kalteng, Kalut, Yogyakarta, dan Bali. Hal ini sekaligus menyiratkan ada tantangan besar di gerakan literasi di Indonesia.

 


“Faktanya, rasio kecukupan dana taman bacaan di Indonesia memang memprihatinkan. 72% TBM yang ada hanya punya dana di bawah 25% dari yang dibutuhkan. Maka agak sulit untuk berkerasi di TBM karena terbatasnya pendanaan. Karena itu, kepedulian para donatur dan pemerintah daerah sangat diperlukan di TBM”, ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di Bogor sekaligus pelaksana Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022.

 

Konsekuensi dari rasio kecukupan dana yang minim, maka sarana prasarana taman bacaan pun menjadi terbatas. Pendanaan memang jadi masalah klasik di taman bacaan karena sifatnya sosial. Suka tidak suka, ketersediaan dana inilah yang jadi pemicu taman bacaan dapat berbuat lebih optimal dalam meningkatkan kegemaran membaca anak-anak dan masyarakat. Semoga taman bacaan tetap bisa eksis dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salam literasi. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

Rabu, 03 November 2021

64% Biaya Operasional Taman Bacaan dari Kantong Pribadi, Dilema Gerakan Literasi

Salah satu dilema yang dihadai taman bacaan adalah soal biaya operasional. Saat di tanya,, dari mana biaya operasoanl TBM atau taman bacaan? Survei terbaru TBM Lentera Pustaka (Oktober 2021) menyebutkan 64% berasal dari kantong pribadi pengelolanya, 18% dari donatur, dan 18% dari lainnya. Begitu realitas dari 22 pegiat liteasi di 16 kota saat webinar Tata Kelola Taman Bacaan “Kampung Literasi Sukaluyu”.

 

Kondisi dilematis memang selalu dihadapi pegiat literasi di taman bacaan. Selain biaya operasional, taman bacaan pun dhadapkan pada dilema fundamental yang masih menghhantuinya. Yaitu 1) ada anak tidak ada buku, 2) ada buku tidak ada anak, dan 3) komitmen pengelola taman bacaan yang setengah hati. Patut diduga, kondisi dilematis itu pula yang jadi sebab taman bacaan terkesan “mati suri”. Seakan ada tapi tiada. Hingga akhirnya, taman bacaan jadi monoton. Hanya jadi tempat membaca atau gudang buku.

 

Berangkat dari realitas itu pula, pengelola taman bacaan, suka tidak suka, harus “melawan” kondisi dilematis yang dihadapi taman bacaan. Harus berani berhadapan dengan situasi sulit apa pun. Termasuk menentukan pilihan, antara logika dan hati nurani. Logika yang menyatakan sulit untuk berbuat secara sosial tanpa dukungan dana. Atau mengedepankan hati nurani untuk tetap bertahan dalam menebar kebaikan gta membaca anak-anak dan masyarakat. Demi terciptanya masyarakat yang literat, komunitas yang mempu memahami realitas.

 

Karena itu, ada spirit taman bacaan yang tidak boleh ditinggalkan para pegiat literasi. Sebagai ikhtiar untuk terus bergerak memberdayakan kegemaran membaca di tengah gempuran era digital. Menjadikan gerakan literasi untuk semua, gerakan yang memberdayakan masyarakat sekitarnya.

 

Lalu, bagaimana caranya taman bacaan dapat bertahan?

Terlepas dari persoalan teknis di taman bacaan. Ada baiknya taman bacaan membangun nilai-nilai prinsip yang harus tetap ditegakkan pada setiap aktivitas literasi yang dijalaninya. Setidaknya ada 3 nilai penting yang harus terus dibangun di taman bacaan, antara lain:

 

1.   Kerjakan dengan sepenuh hati. Tidak banyak orang yang berani terjun ke taman bacaan. Bahkan sedikit sekali orang yang peduli. Maka tidak ada pilihan lain saat mengelola taman bacaan selain mengerjakannya dengan sepenuh hati. Selalu ikhlas ber-literasi dan berkomitmen untuk bertindak lebih baik dari hari ke hari di taman bacaan.

2.   Berhenti menyalahkan segalanya. Taman bacaan harus jadi tempat untuk membangun optimism bukan mencari kesalahan orang atau pihak lain. Apalagi untuk hal-hal yang di luar kontrol pengelola taman bacaan. Taman bacaan yang tetap fokus menjalani aktivitas literasi, di samping mencari solusi dari setiap masalah yang ada dengan penuh percaya diri.

3.   Jangan pernah menyerah apapun yang terjadi. Sikap militansi di taman bacaan sangat penting. Karena sikap itulah yang jadi energi pegiat literasi dalam me-nakhodai taman bacaan. Teruslah ikhtiar dan berjuang lebih keras untuk mengelola taman bacaan menjadi lebih baik. Karena sejatinya, ikhtiar sekecil apapun tidak akan pernah sia-sia. Asalkan pantang menyerah dan mampu menghadapinya hingga titik darah penghabisan.

 


Dilema itulah yang akhirnya “ditelan” habis-habisan oleh TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sejak berdiri tahun 2017, hanya ada 14 anak yang bergabung di taman bacaan. Tapi kini, TBM Lentera Pustaka telah mengelola 12 program literasi yang penuh maslahat, yaitu: 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 160 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, tamansari, Sukajaya). Dengan waktu baca 3 kali seminggu, kini setiap anak mampu membaca 5-8 buku per minggu, 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf agarterbebas dari belenggu buta aksara, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 ibu-ibu anggota koperasi simpan pinjam agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), dan 12) LIDAB (LIterasi ADAb) untuk mengajarkan adab ke anak-anak seperti memberi salam, mencium tangan, berkata-kata santun, dan budaya antre.

 

Bahkan saat ini TBM Lentera Pustaka pun terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia yang menggelar program “Kampung Literasi Sukaluyu” yang diinisiasi Direktorat PMPK Kemdikbudristek RI dan Forum TBM. Sebagai ikhtiar mewujudkan kawasan giat membaca berbasis inklusi sosial. Hal ini menyusul prestasi Pendiri TBM Lentera Pustaka meraih penghargaan "31 Wonderful People 2021" kategori pegiat literasi dan pendiri taman bacaan dari Guardian Indonesia, di samping jadi sosok inspiratif dalam “Spiritual Journey” salah satu BUMN di Indonesia pada 26-27 Oktober 2021 lalu.

 

Maka pegiat literasi di manapun. Jangan larut pada dilema taman bacaan. Teruslah berkreasi untuk mencari cara terbaik. Agar taman bacaan tetap eksis dan menebar manfaat yang lebih besar ke masyarakat. Karena di taman bacaan, akan selalu hadir tantangan dan risiko yang lebih besar setiap saat. Tapi di saat yang sama, taman bacaan pun harus punya cara untuk bersikap lebih antusias dan menjaga pikiran tetap positif. Agar praktik baik di taman bacaan menjadi lebih berkualitas. Karena di taman bacaan, terkadang leih baik membiarkan mata untuk melihatnya sendiri daripada menyuruh mulut untuk membahasakannya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu

 

Kamis, 18 Februari 2021

5 Tips Jitu Donasi Buku ke Taman Bacaan Versi TBM Lentera Pustaka

Sebagai pegiat literasi TBM Lentera Pustaka, ada pertanyaan ke saya. Tentang bagaimana cara donasi buku ke taman bacaan atau perpustakaan? Memang tidak ada acuan yang baku soal “donasi buku”. Namun yang terpenting adalah jangan sampai sudah niat donasi buku tapi tidak dilakukan. Jadi, pastikan bila sudah niat donasi buku maka kumpulkan buku yang akan didonasikan. Lalu kirimkan ke taman bacaan atau perpustakaan yang jadi sasaran donasi buku.

 

Donasi buku itu perbuatan baik. Maka harus direalisasikan. Karena buku-buku adalah “nafas” bagi taman bacaan atau perpustakaan di mana pun. Tanpa buku bacaan yang cukup, bisa jadi taman bacaan bakal “mati suri”. Tidak ada aktivitas membaca dan berpotensi “ditinggalkan” anak-anak pembaca yang sudah ada. Dampaknya, tradisi baca dan gerakan literasi pun akan lumpuh.

 

Donasi buku adalah sebuah kepedulian. Sebuah kemurahan hati seseorang untuk membantu taman bacaan atau perpustakaan. Maka orang yang ber-donasi buku disebut donator. Sama dengan dermawan, penderma, penyedekah, penyokong, penyumbang di bidang buku bacaan. Donasi yang diberikan berupa buku, bukan yang lainnya. Oke oke saja sih selagi punya iktikad baik untuk membantu taman bacaan.

 


Lalu, bagaimana cara donasi buku ke taman bacaan?

Sesuai pengalaman saya selama 4 tahun mengelola taman bacaan di Kaki Gunung Salak Bogor, Berikut 5 tips jitu donasi buku ke taman bacaan agar menjadi acuan:

 

1.   Tolong pastikan buku yang akan didonasikan atau disumbang adalah buku bacaan, seperti: buku-buku ensiklopedia, cerita rakyat, akhlak, pengetahuan, sains dan teknologi, agama dan sejarah, kreativitas, motivasi, dan sebagainya. Jangan donasikan buku pelajaran sekolah karena tiap daerah berbeda.

2.   Segera kumpulkan buku-buku yang akan didonasikan. Seperti buku-buku di rumah atau buku bacaan bekas anak yang sudah tidak dibaca lagi. Beli buku baru pun lebih baik. Atau bikin kampanye donasi buku Bersama teman-teman komunitas atau organisasi. Intinya, kumpulkan buku-buku yang akan didonasikan. Minimal mencapai 1 dus.

3.   Cari taman bacaan atau perpustakaan terdekat sebagai tempat donasi buku. Jangan lupa acuannya: a) pilih taman bacaan yang aktivitasnya membacanya rutin, b) anak-anak pembaca aktifnya banyak, dan c) kegiatan membacanya semarak. Agar buku-buku yang didonasikan jadi “sedekah” karena dibaca anak-anak di taman bacaan. Jangan sampai buku-buku yang didonasikan hanya jadi “tempat sampah” atau “nganggur” tidak ada yang membacanya. Untuk mengecek taman bacaan, silakan saja "search google" nama taman bacaan dan lihat aktivitasnya.

4.   Kirimkan donasi buku bacaan melalui jasa kurir ke alamat taman bacaan yang dituju. Akan lebih baik, bila bisa kontak via WA atau medsos ke pengelola taman bacaannya terlebih dulu. Pengirian donasi buku pasti ada biayanya, apalagi via jasa pengiriman/kurir. Tapi ikhlaskan dan anggap saja sebagai sedekah. Insya Allah dalam beberapa hari ke depan, buku bacaan donasi Anda akan sampai di taman bacaan yang dituju.

5.   Sebagai donatur, akan lebih baik tiap kali donasi buku didokumentasikan atau difoto. Untuk memastikan buku sudah diterima pengelola taman bacaan. Atau minimal minta konfirmasi bahwa donasi buku sudah diterima taman bacaan.

 

Donasi buku ke taman bacana itu penting. Bukan hanya sebagai kepedulian. Tapi untuk “menyelematkan” eksistensi taman bacaan di mana pun. Karena faktanya, saat ini kendala utama taman bacaan di Indonesia adalah 1) ada anak tapi tidak ada buku atau 2) ada buku tapi tidak ada anak.

 


Donasi buku, bisa jadi perbuatan baik yang sederhana tapi bermakna. Karena buku dapat menjadi “harapan” anak-anak Indonesia. Buku-lah yang meng-inspirasi anak-anak. Mau jadi apa dan mau bagaimana di masa depan? Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi anak-anak dan masyarakat Indonesia.

 

Maka, donasikanlah buku-buku Anda sekarang. Jangan tunda lagi. Ubah niat baik jadi aksi nyata, sekalipun hanya donasi buku ke taman bacaan. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #DonasiBuku