Tampilkan postingan dengan label Menulis buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2023

Mahasiswa Unindra Siap Luncurkan Antologi Cerpen Mario Si Anak Pejabat

JANGAN BERI AKU CINTA (Buku Baru)

 

Bagai ikan yang hidup di air. Kata banyak orang, siapapun pasti hidup dengan cinta. Wajar, nggak sedikit orang percaya cinta seperti “agama”. Apalagi digelimangi harta dan uang. Hingga lupa, bahwa cinta juga punya kuku-kuku yang runcing. Sering menusuk dan menikam bak pisau kematian. Saat cinta berangkat tidur, duka pun berangkat hancur. Jangan beri aku cinta!

 

Terinpsirasi dari kasus Mario Dandy yang menganiaya David Ozora yang viral dan jadi petaka “kaum pamer” di publik. Insya Allah, buku baru Antologi Cukstaw Cerpen “Mario, Si Anak Pejabat’ siap terbit Sabtu, 6 Mei 2023. Sebuah buku fiksi cerpen “hasil kuliah menulis kreatif” karya mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Indraprasta PGRI bersama dosen pengampunya.

 

Cerita realitas yang diubah menjadi khayalan, sebuah cara beda dalam menulis. Sebagai bukti mahasiswa telah “berproses” dalam mempelajari, mencipta, dan menerbitkan karyanya sendiri. Belajar menulis yang nggak dibatasi ruang kelas. Menulis yang bukan pelajaran tapi perbuatan. Menulis bukan lagi teori tapi praktik.

 


Diterbitkan oleh LovRinz Publishing, Antologi Cukstaw Cerpen ”Mario, Si Anak Pejabat” hanya ingin memberi pesan. Saat kekerasan jadi pilihan, maka dunia menjadi penjaranya. Sekaligus otokritik buat mereka yang percaya omongan. Tanpa bisa membuktikan kebenarannya. Ketika banyak anak manusia hidup dalam tipuan dunia. Terbuai godaan setan dan rekan-rekannya. Mau sampai kapan begitu?

 

Siapa yang menanam pasti akan memanennya sendiri. Saat kekerasan jadi pilihan, maka dunia menjadi penjaranya. Saat omongan kosong jadi kebenaran, maka realitas jadi lawannya.

 

Buku baru ”Mario, Si Anak Pejabat” adalah bukti. Bahwa menulis harus dimulai dan berakhir dari yang tertulis. Jangan beri aku cinta. Tapi beri aku buku. Salam literasi!

 



Rabu, 23 Maret 2022

Pegiat Literasi di Taman Bacaan Kok Tidak Menulis?

Hingga akhir tahun 2021 lalu, saya sudah menulis 37 buku. Berarti rata-rata 3,3 buku per tahun bila dihitung dari sejak pertama kali menulis buku di tahun 2010 lalu. Baik yang saya tulis sendiri, bersama anak atau bersama mahasiswa saat mengikuti kuliah. Insya Allah, tahun 2022 ini, minimal bertambah 2 buku tapi idealnya 5 buku baru akan terbit. Termasuk buku "100 Kisah di Langit Taman Bacaan" yang dibuat dalam rangka lima tahun TBM Lentera Pustaka yang saya dirikan.

 

Beberapa buku saya yang bisa diperoleh di toko buku atau online, seperti: Jurnalistik Terapan (Ghalia Indonesia, 2010), Kompetensi Menulis Kreatif (Ghalias Indonesia, 2015). Surti Bukan Perempuan Metropolitan (2014). Ada pula buku Bedah Teks Ujaran Kebencian, kumpulan cerpen atau artikel ilmiah. Intinya, menulis sudah jadi kebiasaan hidup saya. Tiada hari tanpa menulis.

 

Kenapa buku? Ya jawabnya sederhana. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis maka ia akan hilang ditelan sejarah. Apalagi zaman begini, banyak orang doyan ngomong doyan komentar. Tapi malas menulis. Wajar hoaks dan hate speech jadi menjalar kemana-mana, apalagi difasilitasi media sosial.

 


Sebagai pegiat literasi dan Pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, saya harus memberi contoh. Bahwa perjalanan akhir dari membaca buku adalah menulis buku. Karena bacaan yang banyak dan wawasan yang luas sama sekali tidak ada maknanya tanpa dituliskan. Karena menulis adalah berbagi kebaikan dan menebar manfaat kepada orang lain yang membacanya. Maka pegiat literai, sejatinya harus menulis. Bukan hanya bicara di seminar-seminar lalu lupa menuliskannya.

 

Saat ditanya, kok bisa menulis buku? Menulis buku itu keberanian. Menulis juga praktik bukan teori. Menulis itu perbuatan bukan pelajaran. Maka tidak akan ada karya bila tidak ditulis. Sangat salah bila ada orang menulis harus menunggu datangnya inspirasi. Justru tulisan itu ya kita sendiri yang menciptakannya. Makanya resep menulis yang paling jitu adalah menulis, menulis, dan menulis. Bukan banyak omong, banyak komentar.

 

Jadi, tulis saja apa pun yang mau ditulis. Jangan peduli pada orang-orang yang kerjanya komentar. Karena mereka, sesungguhnya tidak sedang melakukan apa-apa. Dan yang terpenting esok, semua orang akan mati kecuali karyanya. Jadi menulislah agar lebih literat. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Kamis, 02 Juli 2020

Siapa Bilang Menulis Buku Sulit? Menulis Itu Ibarat Ngomong

Kata sebagian orang, menulis buku itu susah. Ada pula yang beranggapan, menulis buku itu tidak segampang pikiran. Lalu saya katakan kepada mereka. Menulis apapun, jelas susah bila tidak dilakukan.

 

Banyak orang lupa, resep terbaik menulis adalah menulis, menulis, dan menulis. Karena menulis bukan untuk didiskusikan, apalagi hanya jadi bahan seminar. Nah masalahnya, bagaimana cara kita menulis?

 

Berdasarkan pengalaman pribadi. Hingga saat ini, saya setiap hari pasti menulis. Minimal 6.000 karakter bisa dihasilkan dari jari-jemari di papan laptop. Atau setara satu artikel koran. Hasilnya pun alhamdulillah. Selain mendapat upah bila dipublikasikan. Hingga kini pun sudah 31 buku yang diterbitkan, baik karya sendiri arau bersama. Ada pula ratusan artikel koran yang sudah diterbitkan. Karena menulis sudah jadi kebiasaan sehari-hari.

   

Ibarat ngomong atau berbicara, itulah cara sederhana menulis buku.

Bila kita pandai ngomong maka harusnya pandai pula menulis. Bila mampu ngomong berjam-jam, maka harusnya mampu pula menulis berjam-jam. Bukan sebaliknya, banyak ngomong. Tapi saat menulis justru bilang tidak punya waktu.  Tidak mampu menulis karena alasan sibuk. Belum menulis, sudah mencari alasan untuk menghindar.

 

Resep menulis apapun, termasuk menulis buku adalah seperti orang ngomong, seperti sedang berbicara. Agar kata-kata yang dihasilkan bersifat mengalir. Persis seperti ngomong, mengalir dan tidak ada kata yang susah untuk diomongkan. Ibarat ngomong, menulis buku  pun kata-katanya sederhana. Agar mudah dimengerti. Kalimat-kalimatnya pendek saja. Tidak usah panjang-panjang bila akhirnya menyulitkan. Sedikit tapi padat, seperti orang sedang ngomong.

 

Menulis buku ibarat ngomong. Itu pun sinyal. Bahwa kita diajak untuk menyedikitikan ngomong atau bicara. Lalu diubah menjadi lebih banyak menulis. Agar kebiasaan pun berubah. Kita jadi orang yang selalu ngomong atas apa yang dituliskan. Bukan sebaliknya, banyak ngomong tanpa pernah menuliskan nya.

 

Seperti orang ngomong. Menulis itu butuh proses dan tidak mungkin langsung sempurna. Menulislah seperti ngomong, seperti berbicara. Asal ide dan gagasan mampu diekspresikan. Toh, bila ada yang salah bisa diperbaiki. Tulisan yang kurang pas, nanti bisa disunting. Asal jangan menulis sambil menyunting. Tuntaskan saja dulu tulisannya. Setelah itu baru disunting. Agar tulisannya menjadi lebih baik, lebih enak dibaca Menulislah seperti kita ngomong.

 

Dan penting diketahui, Menulis itu bukan wacana, bukan pula sebatas niat. Apalagi hanya jadi bahan diskusi atau seminar. Saya selalu menyebut, menulis itu bukan teori tapi praktik. Tulisan hanya terjadi bila ada perilaku menulis.



Maka bila kita mampu rutin, banyak, dan terbiasa untuk urusan lain yang tidak produktif. Lalu, kenapa kita tidak bisa rutin, banyak, dan terbiasa dalam urusan menulis? Maka, Jadikanlah menulis sebagai sebab mahalnya suasana batin. Sederhana tapi tetap berkualitas di setiap waktu. Karena menulis ibarat ngomong ... #MenulisIbaratNgomong