Cerpen atau cerita pendek adalah salah satu jenis karya sastra. Tapi secara teoretik, cerpen ya begitu-begitu saja (bila tidak mau dibilang “kurang” mengalami banyak perkembangan). Sebagai bentuk prosa narasi yang bersifat fiktif, kini cerpen kian kehilangan pembacanya. Cerpen yang didefinisikan sebagai cerita tentang intisari kehidupan manusia (short story) yang memuat satu peristiwa pokok bisa dibilang “kalah bersaing” dengan konten digital cepat seperti: video pendek (TikTok, Reels), thread singkat atau konten visual. Harus diakui, saat ini cerpen sering kalah dari segi “daya tarik instan”.
Suka tidak suka, cerpen
terlalu terikat pada tokoh, alur, tema, dan gaya bahasa semata. Sebagai karya
sastra, cerpen harus dibangun oleh dua unsur yaitu: 1) unsur intrinsik yang
terdiri dari: tema adalah ide pokok sebuah cerita, latar (setting), suasana
cerita, dan alur (plot) sebagai susunan kejadian yang membentuk cerita dan 2)
unsur ekstrinsik yang terdiri dari: nilai-nilai cerita (agama, budaya, politik,
ekonomi), latar belakang pengarang, dan situasi sosial cerita. Dari ukuran
fisik, cerpen harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (Edgar Allan Poe
dalam "The Philosophy of Composition”). Bahkan jumllah kata dalam cerpen berada
di antara 1.000 – 20.000 kata.
Cerpen memang tetap relevan, namun
memiliki beberapa kelemahan ketika berhadapan dengan pola konsumsi dan budaya
di era modern. Selain kedalaman cerita yang terbatas, cerpen kurang mengantisipasi
perilaku pembaca yang cenderung menurun. Ibaratnya, cerpen terasa “lebih berat”
dibanding scroll cepat. Pasar cerpen dan pembacanya kian lama semakin sempit,
ditambah lebih sulit dimonetisasi dibanding novel atau film. Bahkan penerbitan
cerpen pun sering terbatas.
Berangkat dari realitas itulah
hadir “Cukstaw Cerpen”, tentu bukan istilah baku dalam dunia sastra. Cukstaw cerpen
mrupakan cerita pendek yang cara penceritaannya lebih singkat lagi dari cerpen biasa.
Cukstaw berasal dari istilah bahasa gaul di jejaring sosial, singkatan dari
“cukup tahu”. Cukstaw singkatan dari cukup tahu. Cukstaw = cukup tau aja,
bersifat sekilas, tidak butuh waktu lama (lihat: http://kamusslang.com/arti/cukstaw).
Jadi, Cukstaw Cerpen adalah cerita pendek sekilas yang lebih singkat dari
cerpen, tidak butuh waktu lama untuk membacanya dan isi ceritanya memuat
inspirasi yang motivatif-reflektif bagi pembaca. Ciri cukstaw cerpen adalah
memikat, bisa menarik atau memancing. Membaca Cukstaw Cerpen hanya butuh waktu 5-10
menit. Secara fisik, Cukstaw Cerpen dibangun dari 400-600 kata atau tidak lebih
dari 5.000 karakter/huruf.
Beberapa contoh Cukstaw
Cerpen dapat disimak sebagai berikut: (Cukstaw aja ya ....)
1.
Air
Mata Surti - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/27/air-mata-surti--550678.html
2.
Maafkan
Mama Ya Nak - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/20/maafkan-mama-ya-nak-kisah-pilu-ibu-pada-anaknya--548308.html
3.
Surti,
Gadis Buta & Kekasihnya - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/13/surti-gadis-buta-kekasihnya--545763.html
Di dalam cukstaw cerpen,
ceritanya boleh tidak ada konflik namun tetap memikat. Tokohnya pun tidak harus
bersedih atau bergembira, melainkan bersifat alami namun tetap memberi
inspirasi yang bersifat motivatif – reflektif. Bisa jadi, cukstaw cerpen
disajikan secara “kurang tajam” seperti obrolan biasa tapi tetap emosional.
Boleh saja, Cukstaw Cerpen
digolongkan dalam genre fiksi kilat (flash fiction). Namun yang jelas,
Cukstaw Cerpen “sedikit keluar” dari pakem cerita pendek pada umumnya. Beberapa
ciri Cukstaw Cerpen antara lain:
1.
Cerita
bersifat sekilas, singkat tidak lebih 10 menit
2.
Ceritanya
relevan dengan realitas hidup
3.
Gaya
bahasa bebas
4.
Memuat
pesan moral yang eksplisit, motivatif-reflektif
5.
Ceritanya
antara fiksi dan nonfiksi
Cukstaw cerpen bukan “lawan”
dari cerpen. Tapi menjadi cerita yang komplementer dari cerpen yang saat ini
makin “kehilangan” pembacanya. Setidaknya, cukstaw cerpen disajikan untuk
memotivasi kalangan muda dan awam untuk menulis cerita secara singkat dan mengalami
secara langsung berjibaku dengan imajinasinya sendiri. Cerita yang sekilas dan
tidak butuh waktu lama. Cukstaw Cerpen tidak membutuhkan bagian perkenalan,
pertikaian, dan penyelesaian seperti dianjurkan H.B. Jassin. Sebab cukstaw
cerpen, fokusnya melatih siapapun untuk menulis cerita, baik fiksi maupun
nonfiksi yang berdasar pada realitas kehidupan. Di tengah dinamika kehidupan
yang makin digital, Cukstaw Cerpen dapat menjadi alternatif dalam bersastra.
Tapi secara ilmiah, Cukstaw Cerpen tetap relevan dengan acuan pakar cerita
pendek dunia, Edgar Allan Poe, yang tetap memenuhi ciri: 1) cerita harus
pendek, 2) menciptakan efek tunggal dan unik, dan 3) ketat dan padat, 4) harus
menimbulkan kesan yang tuntas.
Dan melalui cukstaw cerpen,
siapapun dapat bercerita. Sebagai sarana melatih kreativitas dalam menulis,
melatih cara berpikir yang beda. Cerita reflektif yang memikat itulah disebut
cukstaw cerpen. Terkadang, ceritanya “nyeleneh” atau absurd pun dipersilakan. Cukstaw
cerpen memang bukan genre resmi. Tapi bisa jadi alternatif anak-anak zaman now
berkreasi melalui cerita. Salam cukstaw!
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar