Tampilkan postingan dengan label Bakti Sosial di TBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bakti Sosial di TBM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Mei 2023

Tips Promosi Taman Bacaan di Media Sosial, Apa Untungnya?

Jangan malu promosi TBM di media sosial (medsos). Itu kalimat suruhan bukan ajakan. Karena “hidup mati” taman bacaan tidak ditanggung negara. Suarakan terus arti penting membaca buku di TBM (Taman Bacaan Masyarakat). Sosialisasikan aktivitas literasi yang dilakukan. Kapan pun dan di mana pun. Bila keberadaan taman bacaan itu baik, positif, dan bermanfaat bagi orang banyak, apa alasannya tidak mempromosikan di medsos? Lagi pula, siapa yang mau promosikan taman bacaan di medsos, kalau bukan pengelola atau pegiat literasinya sendiri.

 

Jangan malu promosi TBM di medsos. Orang korupsi Rp. 8,3 trilyun saja tidak malu. Jalan rusak tidak diperbaiki saja, pemimpinnya tidak malu. Bahkan orang-orang yang kerjanya menebar aib, bergibah, dan berkeluh-kesah sepanjang hari saja tidak ada malunya. Sekali lagi, jangan malu promosikan TBM di medsos. Toh, mereka yang berkoar-koar pun tidak menanggung biaya operasional taman bacaan. Ketahuilah, hidup mati taman bacaan di mana pun tidak ditanggung negara!

 

Taman bacaan pemandangannya buku-buku. Anak-anak yang membaca. Aktivitasnya positif. Pasti segar dan mencerahkan. Lagi pula, tidak ada minat baca tanpa tersedianya akses bacaan. Bila tidak ada taman bacaan, apa yang mau dibaca? Dari mana ada minat baca tanpa ada tempat-tempat untuk membaca? Makanya jangan malu promosi TBM di medsos. Apapun alasannya, apapaun kata orang lain.

 

Banyak orang lupa. Memabaca buku itu bukan soal minat. Tapi soal kebiasaan dan akses. Kenapa anak kecil belum baligh sudah disuruh sholat sama orang tuanya? Agar terbiasa, untuk membiasakan diri. Sehingga nanti saat dewasa, jadi lebiih taat sholat dan patuh agama. Membaca buku pun begitu. Harus dibiasakan dari kecil, sejak dini dekat dengan buku.

Lalu suatu kali, seorang kawan bertanya. Apa membaca buku bisa membuat orangnya kaya dan sukses? Tentu jawabnya, kaya dan sukses itu relatif.  Kaya dan sukses menurut siapa?  Seperti mahasiswa yang jadi sarjana dan lulus cum laude pun belum tentu dapat pekerjaan. Anak sekolah yang juara 1 di kelas pun tidak ada jaminan bakal sukses. Kaya tidak melulu soal harta dan uang. Sukses pun tidak harus berdasi atau tampil keren. Justru yang penting adalah niat baik, ikhtiar bagus, dan doanya banyak. Semua orang sudah ada takdir-Nya, siapapun sudah punya rezeki masing-masing. Maka jangan malu promosi TBM di medsos. Tidak usah gengsi sola taman bacaan, toh hidup mati taman bacaan tidak ditanggung mereka atau negara!

 

Promosi TBM di medsosi itu praktik baik, sesuatu yang manfaat untuk masyarakat. Jangan kalah sama orang yang hanya bicara baik sebatas omongan, tanpa ada perbuatan. Orang-orang yang gaga mengubah niat baik jadi aksi nyata. Negeri ini tidak kurang orang yang jago bicara baik tapi gagal melakukannya. Kaya ocehan, miskin perilaku baik. Maka jadikan taman bacaan sebagai ladang amal.

 


Taman bacaan atau TBM itu bisa eksis dan bertahan, syarat-nya ada tiga: 1) kinerja-nya bagus, 2) kolaborasi dengan banyak pihak, dan 3) promosi sesering mungkin. Tanpa promosi, terus siapa yang tahu aktivitasnya TBM. Bagaimana ada kinerja TBM yang ciamik bila tidak ada aktivitasnya. Lalu bagaimana mau kolaborasi, bila tidak ada yang bisa dilakukan? Jangan malu promosikan TBM di medsos. Publikasikan praktik baik dan suarakan terus pentingnya membaca buku. Kan katanya, asal niat baik dan ikhtiarnya bagus, insya Allah hasilnya pun berkah. Nah, promosi TBM di medsos itu ikhtiar. Biar publik tahu, apa sih yang dikerjakan dan apa manfaat TBM? Selain punya aktivitas yang rutin dan dikerjakan sepenuh hati, maka TBM pun wajib hukumnya mempromosikan diri. Asal jangan hoaks, gibah atau ocehan yang tidak berguna.

 

Seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Akibat rajin promosi dan bikin tulisan aktivitasnya, selama bulan Mei 2023 ini saja, mendapat 3 orang donatur buku, kedatangan 5 tamu kunjungan (Pustaka Bergerak Indonesia, DAP Kab. Badung Bali, CR Manulife, Komunitas Ibu Muda yang Penulis, BEM Faperta IPB), 4 kegiatan CSR, dan mendapatkan donasi uang senilai Rp. 13 juta. Semuanya terjadi berkat promosi di medsos (facebook, instgram, youtube, dan google). Bahkan di bulan Juni 2023 nanti, sudah terjadwal 3 event CSR di TBM Lentera Pustaka. Maka, jangan malu promosikan TBM di medsos. Karena hidup mati taman bacaan tidak ditanggung negara.

 

Pedagang online, pasti tidak ada yang beli dagangannya bila barangnya sedikit. Testimoninya negatif atau klik “bintang-nya” di bawah tiga. Taman bacaan juga begitu. Tidak ada yang mau donasi buku bila pembacanya sedikit. Tidak ada yang mau CSR atau bakti sosial bila aktivitasnya tidak ada. Siapa yang mau membantu bila TBM-nya sepi? Karena itu, promosi TBM di medsos harus digiatkan. Tidak perlu sampai ratusan postingan tiap hari. Cukup 3-5 postingan sehari, asal rajin dan memang nyata terjadi di taman bacaan.

 

Tidak usah malu punya aktivitas di taman bacaan. Jangan mapu promosikan TBM. Karena “biaya hidup” taman bacaan tidak ditanggung negara atau orang-orang yang nyinyir. Rezeki taman bacaan itu pasti ada bila dijemput dan diimbangi ikhtiar yang bagus. Bila aktivitas di TBM baik, positif, dan bermanfaat serta jadi ladang amal banyak orang. Kenapa tidak dipromosikan?

 

Ketahuilah, promosi adalah nafas taman bacaan. Tanpa promosi, bukan tidak mungkin taman bacaan jadi “mati suri” dan pegiat literasi pun bisa frustrasi. Percayalah, di luar sana, masih banyak orang-orang baik yang peduli kepada taman bacaan. Masalahnya, mereka tahu dari mana bila tidak ada promosi aktivitas taman bacaannya?

 

Jangan malu promosi TBM di medsos. Hidup mati taman bacaan itu tidak ditanggung negara. Zaman sudah berubah, maka taman bacaan sudah saatnya harus lebih kerAS, lebih cerdAS, lebih tuntAS, dan lebih ikhlAS (4-AS).

 

Bila taman bacaan itu luar biasa, jangan malu promosikan TBM di medsos. Agar hidup jangan dibilang sering terbalik. Yang biasa saja malah berlagak luar biasa, sementara yang luar biasa justru tampil biasa-biasa saja. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacan #PeduliTamanBacaan





Senin, 15 November 2021

Festival Literasi Gunung Salak #4, TBM Lentera Pustaka Gelar Konser 5 Band

Sebagai peringatan ulang tahun ke-4, TBM Lentera Pustaka menggelar Festival Literasi Gunung Salak #4 dengan menampilkan konser 5 grup band, yaitu 1) Beat 88, 2) KMJ Band, 3) EmpatSore Band, 4) Relawan TBM Band, dan 5) Beatles Gn. Salak Band (14/11/2021). Selain menghibur anak-anak pembaca dan warga, knser 5 band ini pun menjadi cara beda dalam memotivasi taman bacaan untuk terus eksis dalam meningkatkan kegemaran membaca buku.  

 

Dihadiri tidak kurang dari 250 orang dna sekaligus mendukung peluncuran “Kampung Literasi Sukaluyu” yang dilakukan Direktorat PMPK Kemdikbud RI dan Forum TBM, konser 5 band pun jadi kali pertama dilakukan taman bacaan di Indonesia. Sebagai upaya untuk menjadikan taman bacaan sebagai tempat asyik dan menyenangkan. Bukan hanya tempat membaca atau Gudang buku.

 

Beat 88 Band dengan personil Goezrax, Rachmat Kimo, Singgih, dan Denny yang alumni prodi Seni Musik FBS UNJ tahun 1988 membukan konser dengan membawakan lagu-lagu lawas rock dari Slank dan Joe Satriani. Lalu diikuti performa Empat Sore Band (Alif-Ghifar dkk) sekaligus generasi milenial yang membuat pecah ratusan penonton yang memadati di Kebun Baca Lentera di kaki Gunung Salak Bogor. (https://www.youtube.com/watch?v=b70blpUfT5I)

 

Performa memukau juga ditampilkan KMJ Band yang karyawan professional di dunia asuransi jiwa (Fahmi, Tara, Ozan, Deri, Dea) dengan membawakan lagu-lagu yang memotivasi akan pentingnya membaca di taman bacaan. Diikuti penampilan Relawan TBM Band (Mega-Ilham dkk) yang sekaligus relawan yang mengabdi di taman bacaan. Dan konser 5 band ditutup oleh performa Beatles Gunung Salak Band (Adi dkk), sebuah music apik yang membawakan lagu-lagu the Beatles.

 


Seusai konser 5 band di Festival Literasi Gunung Salak #4, tampil pula anak-anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka yang membawakan senam literasi, angklungan, tari kreasi, dan pembacaan puisi oleh Syarifudin Yunus, pendiri TBM Lentera Pustaka sekaligus menyerahkan penghargaaan “Anugerah TBM Terbaik” untuk pembaca, kelas prasekolah, buta aksara, koperasi, relawan, wali baca, orang tua pengantar, dan penghargaan khusus untuk 2 anak difabel.

 

“Konser 5 Band di TBM Lentera Pustaka ini adalah simbol adanya kolaborasi di taman bacaan. Di samping cara beda menjadikan taman bacaan sebagai tempat asyik dan menyenangkan, bukan tempat membaca. Tamu dari Jakarta dan anak-anak serta warga bertatap muka di TBM Lentera Pustaka. Sebagai realisasi bahwa literasi dan taman bacan itu untuk semua kalangan, untuk semua orang” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di sela acara.

   

Selain untuk menghibur warag di taman bacaan, Konser 5 Band di TBM Lentera Pustaka juga jadi pentingnya partisipasi semua kalangan untuk ikut serta dalam meningkatkan tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Sebagai penyeimbang dinamika era digital dan gawai yang kian merasuk di kalangan anak-anak Indonesia. Di taman bacaan, memang harus ada sinergi dan kolaborasi untuk menengok langsung apa yang terjadi di taman bacaan? Karena sejatinya, tidak ada orang pintar dan hebat tanpa pengabdian kepada masyarakat, pada kemanusiaan. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyulam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu