Tingkat kegemaran membaca sangat penting bagi suatu bangsa karena berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Masyarakat yang gemar membaca cenderung lebih mudah menyerap pengetahuan, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan menghasilkan inovasi. Oleh karena itu, budaya membaca yang tinggi menjadi salah satu fondasi penting bagi kemajuan pendidikan, ekonomi, dan daya saing bangsa di tingkat global.
Sayangnya, data BPS menujukkan
Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia periode 2020-2025 yang
tadinya menunjukkan tren meningkat secara konsisten dari tahun 2020 hingga 2024,
namun mengalami penurunan drastis pada tahun 2025. Data TGM dari tahun ke tahun
menyebut tahun 2020 (55,74), tahun 2021 (59,52), tahun 2022 (63,9), tahun 2023
(66,77), tahun 2024 (72,44), dan tahun 2025 ( 54,80). Dapat disimpulkan bahwa
meskipun terdapat tren positif selama empat tahun berturut-turut, pada tahun
2025 angka tersebut merosot tajam hingga berada di bawah pencapaian awal tahun
2020.
Tingkat Kegemaran Membaca
(TGM) Indonesia menunjukkan adanya tren pertumbuhan positif (2020-2024), dari 55,74
di tahun 2020 hingga mencapai puncaknya di angka 72,44 pada tahun 2024. Sebagai
simbol adanya keberhasilan dalam upaya peningkatan literasi. Namun di tahun
2025, terdapat penurunan drastis ke angka 54,80. Angka ini lebih rendah daripada
tahun 2020 (55,74). Artinya, pencapaian yang dibangun selama empat tahun seolah
"terhapus" hanya dalam satu tahun.
Implikasi dari potret TGM ini
adalah 1) adanya masalah keberlanjutan program literasi atau faktor eksternal
kuat yang memengaruhi kebiasaan membaca masyarakat secara mendadak, 2) kondisi
kegemaran membaca saat ini (tahun 2025) berada di titik terendah dalam enam
tahun terakhir, dan 3) perlu evaluasi mendalam terkait kebijakan literasi
nasional atau perubahan perilaku konsumsi informasi di masyarakat yang mungkin
beralih dari aktivitas "membaca" ke format lain.
Bisa jadi, tingkat kegemaran
membaca di Indonesia pada tahun 2025 cenderung menurun dibandingkan tahun
sebelumnya karena semakin tingginya penggunaan media sosial dan platform video
pendek. Masyarakat, terutama generasi muda, lebih banyak menghabiskan waktu
untuk mengonsumsi konten visual yang cepat dan menghibur dibandingkan membaca
buku, artikel, atau bahan bacaan yang membutuhkan konsentrasi lebih lama.
Perubahan pola konsumsi informasi ini membuat minat membaca secara mendalam
semakin berkurang.
Selain itu, akses terhadap
bahan bacaan yang berkualitas belum merata di berbagai daerah. Ketersediaan
perpustakaan atau taman bacaan, koleksi buku yang menarik, serta budaya
literasi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat masih menjadi
tantangan serius. Di tengah berbagai pilihan hiburan digital yang mudah
diakses, kegiatan membaca sering kali kalah menarik sehingga frekuensi dan
durasi membaca masyarakat menurun. Salam literasi! #TBMLenteraPustaka #GerakanLiterasi
#TamanBacaan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar