Pensiun itu bukan berarti berhenti kerja dana nggak ngapa-ngapain. Sebab pensiun sejatinya kita tetap punya aktivitas (kerja) namun mampu menikmati hidup. Tidak lagi “ngoyo” kerja keras seperti saat masih muda. Jadi, kurang tepat bila pensiun dimaknai “nggak ngapa-ngapain”. Justru saat pensiun, kerja sebtasa aktualisasi diri sambil menjalani keseharian secara rileks. Maklum udah nggak muda lagi, fisik makin terbatas.
Lalu, gimana sih tren pensiun secara global? Ternyata, di berbagai negara,
survei membuktikan banyak orang berencana untuk tetap bekerja meskipun sudah
memasuki usia pensiun. Di Indonesia, lebih dari separuh penduduknya masih
berniat untuk tetap bekerja. Survei tren pensiun global (HSBC, 2024) menegaskan
perbandingan tren di Indonesia dengan negara-negara lainnya:
1. Di
Indonesia, sebanyak 54% orang menyatakan keinginan untuk tetap bekerja di masa
pensiun.
2.
Beberapa negara Asia niat bekerja setelah
pensiun justru lebih besar, seperti Taiwan (60%), Singapura (59%), serta India
dan Hong Kong (keduanya 58%), dan Uni Emirat Arab (57%).
3.
Di kawasan Asia Tenggara, minat bekerja setelah
pensiun seperti Singapura (59%), Malaysia (48%), Indonesia (54%)
4.
Di negara Barat dan ekonominya maju, penduduk
yang berniat tetapbekerja setelah pensiun komposisinya seperri Meksiko 52%, Amerika
Serikat 47%, China: 46%, Inggris: 45%.
Artinya, Indonesia menunjukkan tren di mana lebih dari separuh penduduknya
untuk tetap produktif bekerja setelah memasuki usia pensiun, melampaui angka di
negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan China.
Dari hasil survei itu, ada beberapa poin terkait tren pensiun global
antara lain:
1. Peralihan
paradigma pensiun. Perencanaan finansial untuk masa pensiun atau program
pensiun tidak lagi hanya berfokus pada pengumpulan dana untuk berhenti total,
melainkan pada strategi untuk menjaga produktivitas dan pendapatan aktif di
usia senja.
2.
Perbandingan global. Indonesia (54%) memiliki
proporsi yang lebih tinggi untuk tetap bekerja dibandingkan negara maju seperti
Amerika Serikat (47%) atau Inggris (45%). Bekerja di masa pensiun merupakan bagian
integral dari rencana keberlangsungan finansial dan aktualiasi diri.
3.
Fleksibilitas dana pensiun. Tingginya minat
bekerja ini menunjukkan bahwa strategi finansial di Indonesia mungkin lebih
mengandalkan kombinasi antara dana pensiun/hasil investasi/tabungan dengan
pendapatan dari pekerjaan sampingan atau bisnis di masa tua.
Khusus di Indonesia, 54% responden tetap berencana untuk bekerja
setelah pensiun. Ini berarti, pensiun tidak lagi dianggap sebagai titik akhir
aktivitas profesional, melainkan sebuah masa transisi menuju bentuk pekerjaan
yang lebih fleksibel atau berbeda. Pekerja Indonesia perlu mulai memikirkan
jenis pekerjaan apa yang ingin atau bisa mereka lakukan di usia senja. Karena
itu, diperlukan pentingnya keberlanjutan keterampilan (skill sustainability)
yang cocok untuk hari tua, di samping kesiapan fisik dan kesehatan haru
smenjadi perhatian. Agar keinginan untuk tetap bekerja tetap didukug oleh fisik
dan Kesehatan yang memadai.
Mak jelas, strategi keuangan setiap orang pun akan berbeda saat
memasuki pensiun. Di situlah, dana pensiun atau DPLK sebagai “kendaraan” untuk
perencanaan keuangan hari tua perlu lebih fleksibel dan disesuaikan dengan
kondisi pekerja. Produk dana pensiun harus sesuai dengan aspirasi pekerja,
termasuk cara bayar manfaat pensiun secara sekaligus atau bulanan.
Dan bagaimana pun kondisi yang diinginkan di hari tua, tentu dana pensiun seharusnya menjadi prioritas untuk disiapkan setiap pekerja. Kuncinya, ada di edukasi dan akses digital untuk memiliki dana pensiun seperti DPLK. #YukSiapkanPensiun #edukasiDPLK #DPLKSAM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar