Ini hanya pesan literasi sederhana. Siapapun, kalau nggak mau mental terganggu, kurang-kurangin melihat stories atau update-an orang lain terutama yang berbau flexing. Perbanyak melihat yang di bawah kita supaya kita bersyukur dengan apa yang kita punya. Kurangin melihat yang di atas kita supaya kita jauh dari rasa iri, dengki dan hasad.
Kesehatan mental sering terganggu bukan karena hidup kita kurang, tetapi karena kita terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Di era media sosial, orang cenderung hanya menampilkan bagian terbaik hidupnya: liburan mewah, mobil baru, pencapaian karier, atau hubungan yang terlihat sempurna. Kalau kita terus-menerus melihat itu tanpa sadar, kita bisa merasa tertinggal, gagal, atau kurang berharga, padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan mereka. Contohnya, seseorang yang sebenarnya hidup cukup dan punya keluarga harmonis bisa tiba-tiba merasa miskin hanya karena melihat temannya upload rumah baru atau jalan-jalan ke luar negeri setiap bulan.
Karena itu, memperbanyak melihat ke bawah bukan berarti merendahkan orang lain, melainkan melatih rasa syukur. Kita jadi sadar bahwa masih banyak orang yang sedang berjuang lebih berat dari kita. Misalnya, ketika kita mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan, ternyata ada orang lain yang sudah berbulan-bulan mencari kerja tetapi belum mendapat kesempatan. Saat kita merasa motor kita jelek, ada orang yang setiap hari harus berjalan kaki jauh untuk bekerja. Kesadaran seperti ini membuat hati lebih tenang dan membantu kita menghargai apa yang sudah dimiliki.
Sebaliknya, terlalu sering melihat ke atas tanpa kontrol bisa memicu iri, dengki, bahkan rasa tidak pernah puas. Kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian orang lain. Contohnya, seseorang yang awalnya bahagia dengan usahanya sendiri tiba-tiba merasa gagal setelah melihat teman seusia sudah punya bisnis besar atau penghasilan tinggi. Akhirnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak ada habisnya. Padahal setiap orang punya waktu, jalan hidup, dan perjuangan yang berbeda. Apa yang terlihat sukses di luar belum tentu berarti mereka tidak punya masalah.
Intinya, media sosial dan kehidupan orang lain sebaiknya dijadikan inspirasi secukupnya, bukan standar kebahagiaan. Fokus utama tetap pada perjalanan hidup sendiri. Bersyukur bukan berarti berhenti berkembang, tetapi tahu kapan merasa cukup agar hati tetap damai. Orang yang hatinya tenang biasanya bukan yang paling banyak hartanya, melainkan yang mampu menikmati apa yang sudah ada sambil tetap berusaha menjadi lebih baik tanpa sibuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jadi, bila mau tetap sehat dan waras, kurangi melhiat stories atau update-an orang lain. Perbanyak melihat yang di bawah kita supaya kita bersyukur, kurangi melihat yang di atas kita supaya kita jauh dari rasa iri dengki dan hasad. Salam literasi!
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar