Ini cerita di dunia kerja. Ada pekerja yang dulu sangat antusias. Datang pagi dengan segudang ide. Mau belajar sampai kompeten. Mau ambil tanggung jawab pekerjaan yang belum selesai. Mau bantu rekan kerja bahkan lintas divisi sekalipun. Masih percaya, bahwa kantor bisa jadi tempat bertumbuh. Tapi sekarang, pelan-pelan berubah jadi orang yang bekerja seperlunya?
Bukan tiba-tiba, tentu ada
sebabnya. Dimulai dari idenya sering diabaikan. Kontribusinya mulai diambil rekan
kerja lainnya. Lemburnya dianggap biasa. Atasannya hanya muncul saat ada salah
doang. Dan setiap kali berhasil, yang didengar hanya kalimat: “Ya memang itu
tugas kamu”. Kalimat itu sederhana atau terlihat sepele. Tapi kalau diulang
bertahun-tahun, efeknya besar baget buat pekerja.
Faktanya, banyak kantor atau perusahaan
kurang sadar. Bahwa semangat pekerja itu tidak hilang begitu saja. Semangat
biasanya habis karena terkikis. Terkikis oleh beban yang tidak adil. Terkikis
oleh janji yang tidak ditepati. Terkikis oleh evaluasi yang abu-abu. Terkikis
oleh budaya “yang penting selesai” tanpa peduli siapa yang menanggung? Dan
terkikis orang “politik kantor” yang tidak sehat.
Di banyak kantor, pekerja yang
paling bisa kerja justru sering jadi tempat menambal kekurangan sistem. Pekerja
rajin sering jadi tumbal. Orangnya kurang? Dia yang bantu. Deadline mepet? Dia
yang lembur. Tim lain kacau? Dia yang diminta turun. Ada masalah mendadak? Dia
yang dicari untuk kasih solusi. Tapi saat bicara kompensasi, semuanya mendadak
formal.
Maka, ketika ada pekerja yang
rajin akhirnya memutuskan untuk bekerja sesuai porsinya, jangan cepat-cepat
menyebutnya tidak loyal. Mungkin dia sedang mengembalikan batas. Mungkin dia
mulai merasakan kerja yang tidak adil. Mulai burnout dan capek sendiri di
kerjaan. Capek mental dan fisik, sering dialami pekerja yang rajin.
Kita suka lupa. Loyalitas kerja
yang sehat itu harus dua arah. Pekerja menjaga pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Kantor juga harus menjaga manusia yang mengerjakan pekerjaan itu. Kalau hanya
satu pihak yang menjaga, lama-lama pasti timpang. Solusinya bukan
langsung resign. Tapi mulai dari tiga
hal ini: 1) catat beban kerja dan kontribusi, 2) bicarakan prioritas dengan atasan, dan 3) tentukan
batas: mana yang memang tanggung jawab kita, mana yang selama ini hanya kita tampung
karena tidak enak?
Kalau tidak berubah juga, maka
siapkan opsi. Kadang quiet quitting (kebiasaan karyawan yang hanya
bekerja sesuai porsi atau batas tanggung jawab yang tertulis di job description)
bukan tanda orang tidak punya etos kerja. Kadang itu adalah tanda bahwa kantor
terlalu lama menganggap dedikasi sebagai sesuatu yang gratis.
Pertanyaannya, apakah di
kantor kamu, orang rajin lebih sering dihargai atau justru lebih sering
ditambahi kerjaan? Maka bekerjalah sesuai porsi dan tahu batas, sambil siapkan
dana pensiun. Karena cepat atau lambat, setiap pekerja akan berhneti bekerja. Entah
karena di-PHK atau pensiun? #YukSiapkanPensiun
%20rev.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar