Rabu, 27 Mei 2026

Di Kantor, Orang Rajin Lebih Dihargai atau Ditambahi Kerjaan?

Ini cerita di dunia kerja. Ada pekerja yang dulu sangat antusias. Datang pagi dengan segudang ide. Mau belajar sampai kompeten. Mau ambil tanggung jawab pekerjaan yang belum selesai. Mau bantu rekan kerja bahkan lintas divisi sekalipun. Masih percaya, bahwa kantor bisa jadi tempat bertumbuh. Tapi sekarang, pelan-pelan berubah jadi orang yang bekerja seperlunya?

 

Bukan tiba-tiba, tentu ada sebabnya. Dimulai dari idenya sering diabaikan. Kontribusinya mulai diambil rekan kerja lainnya. Lemburnya dianggap biasa. Atasannya hanya muncul saat ada salah doang. Dan setiap kali berhasil, yang didengar hanya kalimat: “Ya memang itu tugas kamu”. Kalimat itu sederhana atau terlihat sepele. Tapi kalau diulang bertahun-tahun, efeknya besar baget buat pekerja.  

 

Faktanya, banyak kantor atau perusahaan kurang sadar. Bahwa semangat pekerja itu tidak hilang begitu saja. Semangat biasanya habis karena terkikis. Terkikis oleh beban yang tidak adil. Terkikis oleh janji yang tidak ditepati. Terkikis oleh evaluasi yang abu-abu. Terkikis oleh budaya “yang penting selesai” tanpa peduli siapa yang menanggung? Dan terkikis orang “politik kantor” yang tidak sehat.   

 

Di banyak kantor, pekerja yang paling bisa kerja justru sering jadi tempat menambal kekurangan sistem. Pekerja rajin sering jadi tumbal. Orangnya kurang? Dia yang bantu. Deadline mepet? Dia yang lembur. Tim lain kacau? Dia yang diminta turun. Ada masalah mendadak? Dia yang dicari untuk kasih solusi. Tapi saat bicara kompensasi, semuanya mendadak formal.  

 

Maka, ketika ada pekerja yang rajin akhirnya memutuskan untuk bekerja sesuai porsinya, jangan cepat-cepat menyebutnya tidak loyal. Mungkin dia sedang mengembalikan batas. Mungkin dia mulai merasakan kerja yang tidak adil. Mulai burnout dan capek sendiri di kerjaan. Capek mental dan fisik, sering dialami pekerja yang rajin.

 


Kita suka lupa. Loyalitas kerja yang sehat itu harus dua arah. Pekerja menjaga pekerjaan dan tanggung jawabnya. Kantor juga harus menjaga manusia yang mengerjakan pekerjaan itu. Kalau hanya satu pihak yang menjaga, lama-lama pasti timpang.  Solusinya bukan langsung resign.  Tapi mulai dari tiga hal ini: 1) catat beban kerja dan kontribusi, 2)  bicarakan prioritas dengan atasan, dan 3) tentukan batas: mana yang memang tanggung jawab kita, mana yang selama ini hanya kita tampung karena tidak enak?

 

Kalau tidak berubah juga, maka siapkan opsi.  Kadang quiet quitting (kebiasaan karyawan yang hanya bekerja sesuai porsi atau batas tanggung jawab yang tertulis di job description) bukan tanda orang tidak punya etos kerja. Kadang itu adalah tanda bahwa kantor terlalu lama menganggap dedikasi sebagai sesuatu yang gratis.

 

Pertanyaannya, apakah di kantor kamu, orang rajin lebih sering dihargai atau justru lebih sering ditambahi kerjaan? Maka bekerjalah sesuai porsi dan tahu batas, sambil siapkan dana pensiun. Karena cepat atau lambat, setiap pekerja akan berhneti bekerja. Entah karena di-PHK atau pensiun? #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar