Seorang kawan mengeluh soal tempat kerja, tentang kantornya sendiri. Memang dia baru 4 tahun kerja di kantor itu, setelah resign dari kantor lamanya. Sekalipun belum lama terlalu lama, dia dikenal kompeten dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Tergolong Cuma kontribusi yang signifikan atas job desc yang jadi tanggung jawabnya. Tapi belakangan, hampir semua pekerjaan diserahkan kepada dia. Di situlah, dia merasa tempat kerjanya mulai tidak adil. Dia berpikir sendiri, sepertinya dia dimanfaatkan oleh atasan dan rekan kerjanya sendiri. Kini, dia sering mengeluh dan akhirnya capek sendiri. Begitulah relaitas di dunia kerja.
Banyak karyawan berpikir, semakin
kompeten dirinya, semakin aman posisi kerjanya. Akhirnya semua kerjaan diambil.
Semua masalah kantor coba diselesaikan, dan semua tanggung jawab diterima tanpa
banyak menolak. Dianggap loyal dan
berdedikasi sehingga jadi capek sendiri. Padahal, di lingkungan kerja yang toxic,
orang yang paling bisa sering jadi orang yang paling dibebani.
Dalam kasus kawan saya tadi. Karena
dia dianggap kuat. Dianggap mampu. Dan dianggap tidak bakal protes walaupun
kerjaannya terus ditambah. Sementara rekan kerja lainnya Santai, dia bekerja
keras mengerjakan target kerja setiap harinya. Lama lama, bukannya dihargai sebagai
karyawan yang kompeten. Tapi dijadikan “penyelamat keadaan” setiap ada masalah
di kantor.
Makanya penting banget untuk
setiap karyawan. Belajar mengatur image dan energi di tempat kerja. Bukan
berarti pura-pura bodoh atau jadi pemalas. Tapi jangan membiasakan selalu jadi
orang pertama yang maju. Apalagi karyawan baru atau belum lama bekerja, jangan
terlalu kelihatan jadi problem solver atau dikenal loyal tanpa ada batas. Selalu
jadi orang yang menutupi semua kekacauan di kantor. Atau selalu jadi tempat “lempar”
tanggung jawab pekerjaan yang bukan bagiannya.
Jadi, jangan terlalu sering menunjukkan
semua kemampuan di kerjaan. Jangan sampai dianggap punya kompetensi yang
berlebihan. Sebab di tempat kerja toxic, orang kompeten malah jadi sasaran. Semakin
kelihatan kuat menanggung beban, maka makin banyak kerjaan yang dikasih. Akhirnya,
pulang paling malam dan kerja paling lelah. Sementara gaji sama, bahkan bisa
lebih kecil dari yang rekan kerjanya yang terlihat lebih santai.
Orang kerja itu butuh sehat
dan waras. Karenanya, karyawan di mana pun harus fokus pada kerjaan yang
menyehatkan. Tetap menjaga kewarasan di kantor. Kerja dan menjalankan tugas
dengan baik, tapi tetap punya batas. Sebab semakin kita kelihatan tidak punya batas,
semakin gampang orang lain bermain “politik kantor”. Orang lain yang manfaatin kemampuan kita untuk kepentingan mereka. Kita
capek sendiri, yang lainnya asyik-asyik saja. Dan yang paling penting, jangan
ukur harga diri kita di kantor dari seberapa banyak orang yang memanfaatkan
kita. Atau seberapa banyak orang memuji kita di kantor.
Di kantor mana pun, pasti
atasan akan bilang “ini untuk kemajuan bersama di perusahaan. Kita capek kerja
dan mental babak belur untuk jadi kuat dan tahan banting di kantor”. Tentu,
masalahnya bukan di situ. Tapi sikap adil dalam pekerjaan dan bersih dari
politik kantor yang berpotensi kotor, Apalagi di lingkungan kerja toxic,
siapapun perlu cara dan strategi untuk bikin batas profesional dalam menghadapi atasan
yang subjektif dan rekan kerja toxic. Tekanan kerja boleh tinggi tapi mental
harus tetap sehat. Kerjaan boleh banyak tapi “bukan dimanfaatkan”untuk
kepentingan orang lain. Karena di dunia kerja, terlalu berguna tanpa batas
sering bikin kita dijadikan “alat”, bukan dihargai sebagai manusia. Apalagi di
kantor yang kasih gaji standar dan tidak punya dana pensiun, tetap saja masa depan
belum pasti. Dan saat berhenti bekerja, akibat PHK atau pensiun, kita tetap tidak
punya jaminan finansial dan akhirnya bergantung pada orang lain.
Kerja memang harus rajin dan
loyal. Tapi harus diingat juga, ada tempat yang terlalu parah untuk disinggahi
sebagai tempat kerja. #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar