Sedari kecil, saya diajarkan Idul Adha hanya tentang tentang Nabi Ibrahim AS, tentang Nabi Ismail AS, dan tentang qurban. Tentang pengorbanan yang dibuktikan dengan menyembelih hewan qurban. Dari dulu cerita tentang Idul Adha kira-kira seperti itu. Maka ada yang menyebut sebagai Iudl qurban.
Namun semakin tua, semakin ke sini. Saya menyadari bahwa Idul Adha bisa jadi bukan hanya tentang qurban, bukan hanya tentang pengorbanan. Karena kata guru saya, sejatinya “setiap dari kita adalah Ibrahim. Dan setiap dari kita memiliki Ismail”. Nasihat itulah yang akhirnya “mengubah pandangan” saya terhadap Idul Adha.
Sebab Ismail tidak selalu berupa seseorang. Mungkin Ismail bisa “diganti” dengan kekayaan kita, pekerjaan kita, status kita bahkan ego yang kita miliki. Atau hal-hal yang sangat kita cintai hingga kita mulai percaya itu milik kita. Sesuatu yang akhirnya kita takut kehilangan. Apapun yang kita miliki, apalagi dari jerih payah kita sendiri sudah pasti akan takut kehilangan.
Dan berangkat dari pemikiran itulah,, saya memahami sesuatu yang lebih dalam dari idul Adha. Terbukti, Allah tidak meminta Nabi Ibrahim AS untuk berhenti mencintai Nabi Ismail AS. Allah SWT meminta untuk melepaskan perasaan kepemilikan atas dirinya. Untuk melepaskan, apa yang dianggap “Ini milik Saya”. Seorang anak sekalipun, bukan milik kita.
Ternyata apapun, sejak awal tidak ada yang benar-benar menjadi milik kita. Orang-orang yang kita cintai. Hal-hal yang kita kumpulkan. Apapun yang selama ini kita pegang teguh dan pertahankan, ternyata itu bukan milik kita. Segala sesuatu yang ada di kita adalah amanah. Dipercayakan kepada kita untuk sementara waktu. Dan itulah arti pengorbanan yang sebenarnya. Agar kita tetap ikhals melepaskan apapun yang ada dalam genggaman kita kepada-Nya.
Idul Adha hanya mengingatkan. Hanya Allah SWT yang memiliki segalanya. Manusia hanya mendapat titipan dari-Bya. Maka “Jika Engkau memintanya, saya akan melepaskannya. Karena ia selalu menjadi milik-Mu sebelum sampai kepadaku.” Idul Adha mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang berpegang teguh.Tapi iman juga menuntut penyerahan diri. Ada totalitas pengabdian hanya kepada-Nya. Bukan setengah-stengah, apalagi berjuang keras untuk “menggenggam” erat apapun yang dianggap miliki kita.
Idul Adha ternyata bukan hanya semangat pengorbanan. Tapi menuntut keikhlasan dan kepedulian selama masih hidup di dunia. Agar apapun yang dititikan dapat membawa keberkahan, kedamaian, serta kebahagiaan. Dan yang terpenting, untuk selalu berparsangka baik kepada Allah dan kepada manusia. Seperti Nabi Ibrahim AS yang “mempersilakan” anaknya Nabi Ismail AS disembelih atas perintah Allah SWT
Semoga Allah SWT membantu kita untuk mengenali “Ismail” kita sendiri. Sehingga Allah memberi kita kekuatan untuk tidak pernah menempatkan apa pun di atas-Nya di dalam hati kita. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar