Makin ke sini, banyak orang makin tidka punya empati. Bahkan rasa peduli kian tergerus. Fenomena orang “tidak punya empati” terasa menakutkan, karena empati adalah fondasi utama hubungan manusia. Secara sederhana, empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang orang lain alami. Ketika kemampuan ini rendah atau tidak berkembang dengan baik, seseorang bisa kesulitan membaca emosi, menangkap sinyal sosial, atau menyadari dampak dari tindakannya terhadap orang lain.
Dalam banyak kasus, kurangnya
empati bukan sekadar “pilihan”, melainkan hasil dari berbagai faktor. Bisa
karena pola asuh yang minim kehangatan emosional, pengalaman traumatis, atau
lingkungan yang mengajarkan bahwa perasaan orang lain tidak penting. Ada juga
kondisi psikologis tertentu yang membuat seseorang memang memiliki keterbatasan
dalam merasakan empati, sehingga respons mereka terhadap situasi sosial berbeda
dari kebanyakan orang.
Hal yang membuatnya terasa
“seram” adalah karena mekanisme kontrol internal yang biasanya dimiliki orang
lain, seperti rasa bersalah atau penyesalan, tidak bekerja dengan cara yang
sama. Rasa bersalah biasanya muncul ketika kita menyadari bahwa kita telah
melukai orang lain. Namun, jika seseorang tidak benar-benar memahami atau
merasakan penderitaan orang lain, maka sinyal untuk merasa bersalah itu pun
tidak pernah aktif. Orang tidak punya empati, cenderung arogan dan subjektif!
Dari sudut pandang mereka,
dunia bisa terlihat sangat berbeda. Mereka mungkin menilai tindakan berdasarkan
logika pribadi, keuntungan, atau pembenaran internal, bukan berdasarkan dampak
emosional terhadap orang lain. Karena itu, hal-hal yang bagi kita terasa kejam
atau tidak pantas, bagi mereka bisa terasa wajar, netral, atau bahkan benar.
Penting untuk diingat,
memahami fenomena ini bukan berarti membenarkan perilakunya. Justru ini
membantu kita lebih waspada dan menetapkan batasan yang sehat. Berhadapan
dengan orang yang minim empati sering kali membutuhkan kehati-hatian, kejelasan
dalam komunikasi, dan kemampuan untuk melindungi diri sendiri secara emosional,
karena kita tidak bisa mengandalkan mereka untuk secara alami “merasakan” apa
yang kita rasakan.
Dan ternyata orang yang kurang empati itu serem banget. Jangankan untuk
memahami kondisi orang lain, untuk sekadar sadar bahwa tindakannya menyakiti
pun mereka tidak mampu. Dan yang lebih seram lagi adalah mereka tidak merasa
bersalah. Dalam kepalanya, semua tampak wajar, semua tampak layak bagi orang
yang kurang empati. Mengerikan sekali.
Maka latihlah empati dan peduli
sejak dini. Jadilah relawan dan berkiprah di TBM Lentera Pustaka. Untuk selalu
berbuat baik dan menebar manfaat kepada ratussan anak-anak yang gemar membaca
di taman bacaan masyarakat. Salam literasi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar