Ini terjadi di banyak kantor,
apalagi yang tempat kerjanya bayak intrik. Ada politik kantor sebagai hukum
yang tidak tertulis tapi berpenngaruh besar. Ternyata, orang yang paling kerja
keras belum tentu gajinya paling tinggi. Iya nggak?
Ini pengalaman nyata di suatu
kantor. Ada satu pekerja, datang pagi buta. Pulang paling malam. Weekend tetep
balas email. Kerjaannya, tiap hari numpuk di mejanya. Hampir semua orang
bilang, dia itu "pekerja keras." Sebuah stempel karena buat pekerja
di kantor, sebab dikenal pekerja keras.
Lantas, kita berpikir dong.
Bila pekerja keras, "Wah, pasti gajinya gede." Ternyata, nggak tuh!
Beberapa tahun kemudian, si pekerja keras tadi resign. Banyak orang pengen tahu
sebabnya. Dan jawabnya karena gaji. Gajinya, jauh di bawah ekspektasi orang
banyak. Bahkan dibandingkan “anak baru” sekalipun. Kok bisa ya?
Jadi, siapapun yang bekerja
perlu mikir soal begini. Ternyata, orang yang paling keras kerja di kantor,
belum tentu yang paling tinggi gajinya. Dan itu bukan kebetulan. Ada alasan
sistematis di baliknya. Ada acuannya di kantor mana pun. Kenapa?
Satu, karena "hard
worker" seringkali nggak bisa nolak kerjaan. Atasan kasih tugas, bilangnya
"Siap!". Temen minta bantuan? Jawabnya "Bisa!". Akhirnya,
workload-nya “kepenuhan” alias overload. Tapi kompensasinya, nggak sepadan.
Buat apa?
Kedua, fokus ke output, bukan
impact. Kerja keras itu bagus. Tapi, kalau hasilnya nggak berdampak signifikan
ke bisnis, ya percuma. Apalagi ke pribadi pekerja. Untuk apa lembur bikin
laporan yang nggak dibaca siapa-siapa. Buang waktu kan ya.
Ketiga, nggak berani minta lebih. Sudah kerja keras tapi nggak berani nego gaji. Nggak berani minta naik jabatan. Nggak berani "menjual" diri sendiri. Akhirnya, gaji mentok di angka standar. Hanya cukup buat hidup bulanan tanpa bisa nabung untuk dana pensiun.
Dari dulu kita diajarkan,
kerja keras sama dengan sukses. Setiap orang sukses katanya pasti pekerja
keras. Ternyata bukan, tapi kerja yang cerdas. Lembur tiap hari. Nggak pernah
nolak tugas. Tiap disuruh ngerajain sesuatu, bilangnya siap. Akhirnya, burnout
alias kelelahan sendiri. Sementara gaji segitu-gitu saja. Sedih nggak sih kerja
begitu?
Banyak orang kerja, sering
lupa satu hal: "kerja itu soal value, bukan soal jam kerja". Siapapun
bisa kerja 60 jam seminggu, tapi kalau value-nya kecil, ya gaji juga kecil.
Riset Gallup (2024) yang bilang, "karyawan yang merasa "burnout"
cenderung punya kinerja lebih rendah dan nggak jarang dibayar lebih rendah
pula". Masih mau keras kerja? Mendingan kerja cerdas, waktunya efektif,
sikapnya terhadap kerjaan jelas. Bila sudah waktunya "berhenti" ya
berhenti atas kemauan sendiri. Apalagi kalau sudah punya dana pensiun yang
optimal.
Jadi, gimana solusinya buat
pekerja keras? Ya harus diubah, jangan lagi kerja keras. Tapi kerja cerdas.
Fokus ke skill -- keahlian yang dibutuhkan pasar. Jual skill yang dipunya,
jangan cuma jual waktu. Belajar nego gaji, jangan takut minta lebih. Dan jangan
takut "pergi" bila nggak sesuai dengan kerjaannya. Cari mentor dan
belajar pada orang yang sudah sukses, bukan yang cuma sibuk.
Bekerja di mana pun hampir
sama. Ada kerjaan, ada atasan, ada gaji. Tapi itu semua tidak menjamin hidup
selama bekerja bahkan pensiun bisa tenang dan nyaman. Makanya, urusan kerjaan
harus hati-hati. Sebab hidup kita, bukan hanya saat kerja tapi saat berhenti
kerja alias pensiun. Siapin masa pensiun sejak lagi bekerja. Jangan sampai masa
pensiun jauh lebih susah dari masa bekerja. Untuk apa kerja puluhan tahun, tapi
nggak bisa siapin masa pensiun sendiri.
Ada wejangan orangtua yang
masih relevan hingga sekarang. Dan bisa bikin semangat pekerja di mana pun.
Bahwa kita nggak pernah bisa memilih gimana kita lahir dan di mana kita
bekerja? Tapi kalau kita mati dalam keadaan miskin dan menyedihkan maka itu salah
kita. Kalau kita bekerja puluhan tahun tapi susah di masa pensiun, jelas itu
salah kita juga. #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #EdukasiDPLK
.png)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar