Pagi itu, kabut tipis masih
menggantung di atas aliran sungai yang mengalir deras. Di atas bebatuan,
seorang lelaki duduk sambil memegang buku yang sudah agak usang. Air mengalir
perlahan di bawahnya, memantulkan cahaya matahari yang baru muncul, seolah ikut
menjaga keheningan yang ia cari. Tidak ada suara bising kendaraan, tidak ada
percakapan yang saling tumpang tindih. Hanya suara air dan sesekali kicau
burung.
Lelaki itu bernama Syarif. Ia
pernah hidup di tengah keramaian kota, dikejar waktu, target, dan tuntutan yang
seolah tidak pernah selesai. Hari-harinya dipenuhi notifikasi, rapat, dan
ambisi yang terus bertambah. Namun, di balik semua itu, ia merasa semakin jauh
dari dirinya sendiri. Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk berhenti sejenak.
Bukan untuk menyerah, tetapi untuk menemukan kembali makna yang sudah terlalu
lama hilang.
Sungai itu menjadi tempat
pelariannya. Bukan karena indahnya semata, tetapi karena ia menemukan sesuatu
yang tidak ia dapatkan di tempat lain: ketenangan. Di atas aliran yang terus
bergerak, ia belajar bahwa hidup tidak harus selalu dikejar dengan tergesa.
Buku yang ia baca bukan sekadar kumpulan kata, melainkan jembatan untuk
memahami dirinya, pikirannya, dan luka-luka yang selama ini ia abaikan.
Setiap lembar yang ia balik
terasa seperti percakapan sunyi antara dirinya dan kehidupan. Ia tidak lagi
membaca untuk terlihat pintar, tetapi untuk merasa utuh. Di sana, di atas bebatuan
yang sederhana, ia menemukan bahwa keheningan bukanlah kekosongan, melainkan
ruang untuk mendengar suara hati yang selama ini tertutup oleh kebisingan
dunia.
Orang-orang mungkin
menganggapnya aneh, menghabiskan waktu sendirian di atas sungai, jauh dari
keramaian. Namun bagi Syarif, justru di situlah ia merasa paling hidup. Ia
tidak lagi terburu-buru mengejar sesuatu yang belum tentu ia butuhkan. Ia
belajar menikmati waktu, memahami makna cukup, dan menerima bahwa tidak semua
hal harus dimiliki.
Ketika matahari mulai tinggi
dan kabut perlahan menghilang, Syarif menutup bukunya dengan tenang. Ia tidak
membawa pulang sesuatu yang terlihat, tetapi hatinya terasa lebih ringan.
Sungai itu terus mengalir, seperti hidup yang akan terus berjalan. Dan di
tengah arus itu, ia telah menemukan satu hal yang selama ini ia cari: kedamaian
yang lahir dari keberanian untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia.
Damainya membaca buku, di
mana pun. Salam literasi!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar