Minggu, 12 April 2026

Percakapan Sunyi di Atas Buku

 

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas aliran sungai yang mengalir deras. Di atas bebatuan, seorang lelaki duduk sambil memegang buku yang sudah agak usang. Air mengalir perlahan di bawahnya, memantulkan cahaya matahari yang baru muncul, seolah ikut menjaga keheningan yang ia cari. Tidak ada suara bising kendaraan, tidak ada percakapan yang saling tumpang tindih. Hanya suara air dan sesekali kicau burung.

 

Lelaki itu bernama Syarif. Ia pernah hidup di tengah keramaian kota, dikejar waktu, target, dan tuntutan yang seolah tidak pernah selesai. Hari-harinya dipenuhi notifikasi, rapat, dan ambisi yang terus bertambah. Namun, di balik semua itu, ia merasa semakin jauh dari dirinya sendiri. Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk menemukan kembali makna yang sudah terlalu lama hilang.

 

Sungai itu menjadi tempat pelariannya. Bukan karena indahnya semata, tetapi karena ia menemukan sesuatu yang tidak ia dapatkan di tempat lain: ketenangan. Di atas aliran yang terus bergerak, ia belajar bahwa hidup tidak harus selalu dikejar dengan tergesa. Buku yang ia baca bukan sekadar kumpulan kata, melainkan jembatan untuk memahami dirinya, pikirannya, dan luka-luka yang selama ini ia abaikan.

 

Setiap lembar yang ia balik terasa seperti percakapan sunyi antara dirinya dan kehidupan. Ia tidak lagi membaca untuk terlihat pintar, tetapi untuk merasa utuh. Di sana, di atas bebatuan yang sederhana, ia menemukan bahwa keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang untuk mendengar suara hati yang selama ini tertutup oleh kebisingan dunia.

 


Orang-orang mungkin menganggapnya aneh, menghabiskan waktu sendirian di atas sungai, jauh dari keramaian. Namun bagi Syarif, justru di situlah ia merasa paling hidup. Ia tidak lagi terburu-buru mengejar sesuatu yang belum tentu ia butuhkan. Ia belajar menikmati waktu, memahami makna cukup, dan menerima bahwa tidak semua hal harus dimiliki.

 

Ketika matahari mulai tinggi dan kabut perlahan menghilang, Syarif menutup bukunya dengan tenang. Ia tidak membawa pulang sesuatu yang terlihat, tetapi hatinya terasa lebih ringan. Sungai itu terus mengalir, seperti hidup yang akan terus berjalan. Dan di tengah arus itu, ia telah menemukan satu hal yang selama ini ia cari: kedamaian yang lahir dari keberanian untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

 

Damainya membaca buku, di mana pun. Salam literasi!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar