Di sebuah aliran sungai yang dipenuhi bebatuan besar, seorang lelaki yang sebentar lagi pensiun duduk termenung. Ia memegang sebuah buku tua yang sampulnya sudah lusuh, seolah telah melalui banyak perjalanan. Angin gunung berhembus pelan, membawa suara alam yang tenang, namun pikirannya justru penuh riuh. Buku itu bukan sekadar kumpulan kata, melainkan warisan dari ayahnya, dengan pesan singkat di halaman pertama: “Izinkan aku baca sendiri.”
Sejak kecil, lelaki itu terbiasa
diberi tahu apa yang benar dan salah, apa yang harus dipilih, dan jalan mana
yang harus ditempuh. Ayahnya selalu menjadi penunjuk arah, bahkan dalam hal-hal
kecil. Namun sejak kepergian sang ayahnya, dunia terasa berbeda. Untuk pertama
kalinya, sang lelaki pembaba buku itu harus menghadapi hidup tanpa penjelasan
yang lengkap.
Ia membuka buku itu perlahan.
Halamannya berisi kisah-kisah sederhana tentang kehidupan: tentang jatuh
bangun, tentang kesalahan, tentang keberanian memilih hingga pentingnya mempersiapkan
hari tua. Namun tidak ada kesimpulan di setiap cerita. Tidak ada jawaban pasti.
Hanya ruang kosong di akhir tiap kisah, seakan menunggu untuk diisi oleh
pembacanya sendiri.
Perlahan, lelaki itu mulai
memahami maksud pesan ayahnya. “Izinkan aku baca sendiri” bukan sekadar tentang
membaca buku. Tapi tentang menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Bahwa tidak
semua jawaban harus diberikan, karena sebagian harus ditemukan dlam teks
kehidupan itu sendiri. Bahwa kesalahan bukan untuk dihindari sepenuhnya, tetapi
untuk dipahami. Lalu, diambil hikmahnya.
Sang lelaki itu menatap
bebatuan di sekelilingnya. Keras, tidak rata, dan tampak tidak ramah. Aliran air
pun mengalir deras di sela-selanya. Namun justru di atas batu itulah ia duduk
dengan kokoh. Hidup, pikirnya, mungkin seperti batu-batu ini: tidak selalu
nyaman, tetapi selalu bisa menjadi pijakan jika kita mau menyesuaikan diri. Sebab
dalam hidup, tidak semua jalan harus mulus untuk bisa dilalui.
Hari mulai senja, dan cahaya
keemasan menyelimuti lereng itu. Sang lelaki pembaca buku menutup bukunya, kali ini dengan perasaan yang
berbeda. Ia tidak lagi mencari jawaban di setiap halaman, melainkan menemukan
keberanian untuk menulis jawabannya sendiri. Ia sadar, hidup bukan untuk
dihafal, tetapi untuk dialami. Hidup pun tidak boleh hanya bertumpu teori tanpa
mau praktik di dunia nyata.
Dengan langkah pelan, sang
lelaki itu berdiri dan meninggalkan bebatuan. Buku tua tetap ia genggam, namun
kini bukan sebagai sumber jawaban, melainkan sebagai pengingat. Bahwa dalam
perjalanan hidup, terkadang kita hanya butuh satu izin yang paling penting:
izin untuk belajar, jatuh, dan memahami dengan cara kita sendiri. Bukan caranya
orang lain. Jadilah diri sendiri, apa adanya!
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar