Setelah ngobrol sambil ngopi dengan teman-teman kerja, ternyata banyak teman pria yang takut tua. Khawatir akan masa pensiunnya sendiri, entah kenapa?
Tapi bila
dipikir-pikir, pria takut tua mungkin ada banyak penyebabnya. Bisa karena tidak
punya uang di hari tua, bisa takut bingung kalau tidak kerja, atau karena
lainnya. Tentu, pria-pria itulah yang lebih tahu, kenapanya?
Ada teman saya.
Dia sepanjang hidupnya berdiri paling depan. Disapa banyak orang, ditanya
pendapatnya. Diandalkan dalam setiap keputusan penting. Dia tumbuh dengan
identitas mentereng. Dia merasa “bernilai” karena sibuk dan dibutuhkan di
kantornya. Tapi ketika masa pensiun tiba, panggung itu tiba-tiba gelap.
Sekarang dia sudah pensiun, tidak bekerja lagi.
Di minggu-minggu
awal pensiun, semuanya terasa seperti liburan panjang. Bangun siang, minum
kopi, olahraganya jalan santai. Tapi setelah beberapa minggu, sunyi mulai
terdengar dengan nyata. HP yang dulu penuh panggilan, kini sepi. Rapat yang
dulu padat, kini tidak ada.
Dan untuk pertama
kalinya dalam hidup, ia tidak tahu harus ke mana. Ada ketakutan yang jarang ia
akui ke siapa pun: “Kalau saya nggak kerja… siapa saya?” Karena sejak kecil ia
diajarkan: laki-laki harus kuat, harus berguna, dan harus menghasilkan. Bisa jadi,
ini alasannya kenapa teman-teman saya takut tua hehehe.
Pria memang tidak pernah diajarkan untuk merasakan. Inner child-nya dulu tidak
pernah diizinkan menangis. Setelah pensiun, baru terasa. Teman saya kembali ke
masa kecilnya, mengingat “Dulu aku pengen diperhatikan…”. “Dulu aku takut…”.
“Dulu aku sendirian…”
Dan sekarang, di
usia senjanya, perasaan itu menagih untuk dipeluk. Post power syndrome bukan
soal hilangnya jabatan. Bukan soal pensiun. Tapi yang sebenarnya hilang adalah:
penghargaan diri, identitas, dan pelarian dari rasa yang pernah ditahan.
Ketika sibuk, ia
tidak sempat merasa. Ketika bekerja, iya seakan tidak punya waktu. Ketika
berhenti kerja, kini ia tidak bisa lagi lari. Dan di situ, semuanya terungkap.
Dan memang, sepertinya banyak pria sebenarnya takut tua. Takut bila duduk
berdampingan dengan hatinya sendiri. Takut melawan badai pikirannya sendiri di
hari tua.
Banyak pria lupa,
apalagi saat belerja.upa hal yang paling menakutkan adalah kejujuran pada diri
sendiri. Saat kerja boleh rapi, keren dengan outfit barang-barang branded.
Gagah perkasa. Tapi begitu pensiun, para pria itu cerita mengalami depresi
berat, linglung. Makanya psikolog, menganjurkan para pria bekerja apa saja di
hari tua. Asal punya aktivitas, alasannya. Agar kesehatan mentalnya tidak
terganggu.
Semua pria pasti
akan pensiun, akan tua. Maka jangan takut tua. Karena para pria harus
mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Nabung di dana pensiun, karena pria
butuh hobi butuh aktivitas. Bila pensiun dengan uang banyak maka bisa menjalani
hobi dengan bebas. Waktu tersedia, fisik masih sehat dan uang pensiun yang akan
membantu untuk mewujudkannya.
Begitulah kisah
pria di masa pensiun. Ternyata, pensiun bukan hanya urusan berhenti kerja. Tapi
harus punya kesiapan mental, psikologis, dan uang tentunya. Agar tetap mandiri
secara finansial di hari tua. Dan yang penting, pensiun itu mengajarkan para pria
untuk "berhenti sejenak" dari hiruk pikuk dunia atau apapun. Selamat
menjalani masa pensiun teman!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar