Selasa, 18 Agustus 2026

71% Masyarakat Cuma Anggarkan di Bawah Rp100 Ribu Sebulan untuk Buku, Tantangan Literasi Gede Banget

Tren anggaran belanja buku bulanan di kalangan masyarakat umum menunjukkan bahwa mayoritas besar mengalokasikan anggaran yang relatif terbatas untuk membeli buku setiap bulannya. Survei yang melibatkan 1.000 orang dari Goodstats (2025) menyebutkan rata-rata pengeluaran bulanan masyarakat untuk membeli buku terdiri dari:

1.    Kurang dari Rp100.000, kategori yang paling dominan, mencakup 71% dari total masyarakat.

2.    Rp100.000 – Rp500.000, berada di posisi kedua dengan persentase 24%.

3.    Lebih dari Rp500.000, hanya sebagian kecil masyarakat yang mengalokasikan anggaran tinggi untuk buku, 5% responden.

 

Artinya, anggaran belanja membeli buku di Indonesia 71% masih di bawah Rp100.000 per bulan. Daya beli buku masih tergolong rendah, sebab mayoritas masyarakat hanya mengalokasikan anggaran di bawah Rp100.000 per bulan untuk membeli buku. Angka ini menunjukkan bahwa buku baru fisik (yang umumnya saat ini dihargai di atas Rp100.000 per eksemplar) masih dianggap sebagai barang yang relatif mahal atau belum menjadi prioritas belanja utama bagi sebagian besar orang.

 

Bila dilihat dari cara masyarakat mendapatkan informasi mengenai buku baru, ternyata hasilnya: 62,5% dari media sosial, 11,3% dari platform buku daring, 10,7% dari toko buku, 5,4% dari rekomendasi teman atau keluarga, 4% dari ulasan atau blog buku, dan 3% dari lainnya. Kondisi ini menyiratkan toko buku fisik tidak lagi menjadi tempat utama masyarakat untuk menemukan atau mengetahui keberadaan buku baru (hanya 10,7%). Peran pencari tahu atau penemu buku (book discovery) kini hampir sepenuhnya bergeser ke ranah digital, dengan media sosial memegang kendali penuh sebesar 62,5%.

 


Bila mau dicermati, maka ada beberapa implikasi penting dari kondisi anggaran buku dan cara mendapatkan informasi buku baru di Indonesia, antara lain:

1.   Kebutuhan terhadap buku murah, untuk menjangkau pangsa pasar terbesar (70,8%), industri harus mampu menghadirkan buku dengan harga terjangkau di bawah Rp100.000. Hal ini memaksa penerbit untuk menekan biaya produksi (misalnya menggunakan kertas yang lebih ekonomis, mengurangi tebal halaman) atau beralih ke format digital (e-book) yang biaya produksinya lebih rendah.

2.   Optimalisasi platform daring, dengan model langganan bulanan (subscription) berbasis aplikasi digital bisa menjadi solusi menarik agar pembaca dengan anggaran terbatas tetap dapat mengakses banyak buku.

3.   Promosi wajib berpusat di media sosial, pemasaran konvensional (seperti memajang buku di etalase depan toko buku fisik tidak lagi efektif jika berjalan sendiri. Kampanye pemasaran harus dialihkan ke media sosial lewat kolaborasi dengan pembuat konten buku (bookfluencers), ulasan video (BookTok/BookTube), serta promosi interaktif yang memicu rekomendasi dari mulut ke mulut secara digital.

4.   Memainkan peran TBM sebagai penyelamat akses literasi, keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) gratis menjadi instrumen yang sangat krusial. TBM berperan menjembatani jurang antara tingginya rasa ingin tahu masyarakat dengan keterbatasan finansial masyarakat untuk membeli buku sendiri.

 

Jadi, untuk urusan belanja buku, mungkin kantong masih pas-pasan. Sebab massyarakat cuma anggarkan di bawah Rp100 ribu sebulan untuk buku. Daya beli masyarakat sangat terbatas untuk membeli buku. Karenanya, keberadaan TBM bisa jadi penyelamat literasi masyarakat. Salam literasi! #GerakanLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar