Tren anggaran belanja buku bulanan di kalangan masyarakat umum menunjukkan bahwa mayoritas besar mengalokasikan anggaran yang relatif terbatas untuk membeli buku setiap bulannya. Survei yang melibatkan 1.000 orang dari Goodstats (2025) menyebutkan rata-rata pengeluaran bulanan masyarakat untuk membeli buku terdiri dari:
1.
Kurang
dari Rp100.000, kategori yang paling dominan, mencakup 71% dari total
masyarakat.
2. Rp100.000 – Rp500.000, berada di posisi
kedua dengan persentase 24%.
3. Lebih dari Rp500.000, hanya sebagian kecil
masyarakat yang mengalokasikan anggaran tinggi untuk buku, 5% responden.
Artinya, anggaran belanja membeli
buku di Indonesia 71% masih di bawah Rp100.000 per bulan. Daya beli buku masih tergolong
rendah, sebab mayoritas masyarakat hanya mengalokasikan anggaran di bawah
Rp100.000 per bulan untuk membeli buku. Angka ini menunjukkan bahwa buku baru
fisik (yang umumnya saat ini dihargai di atas Rp100.000 per eksemplar) masih
dianggap sebagai barang yang relatif mahal atau belum menjadi prioritas belanja
utama bagi sebagian besar orang.
Bila dilihat dari cara
masyarakat mendapatkan informasi mengenai buku baru, ternyata hasilnya: 62,5% dari
media sosial, 11,3% dari platform buku daring, 10,7% dari toko buku, 5,4% dari rekomendasi
teman atau keluarga, 4% dari ulasan atau blog buku, dan 3% dari lainnya. Kondisi
ini menyiratkan toko buku fisik tidak lagi menjadi tempat utama masyarakat
untuk menemukan atau mengetahui keberadaan buku baru (hanya 10,7%). Peran
pencari tahu atau penemu buku (book discovery) kini hampir sepenuhnya
bergeser ke ranah digital, dengan media sosial memegang kendali penuh sebesar 62,5%.
Bila mau dicermati, maka ada
beberapa implikasi penting dari kondisi anggaran buku dan cara mendapatkan
informasi buku baru di Indonesia, antara lain:
1.
Kebutuhan
terhadap buku murah, untuk menjangkau pangsa pasar terbesar (70,8%), industri
harus mampu menghadirkan buku dengan harga terjangkau di bawah Rp100.000. Hal
ini memaksa penerbit untuk menekan biaya produksi (misalnya menggunakan kertas
yang lebih ekonomis, mengurangi tebal halaman) atau beralih ke format digital
(e-book) yang biaya produksinya lebih rendah.
2.
Optimalisasi
platform daring, dengan model langganan bulanan (subscription) berbasis
aplikasi digital bisa menjadi solusi menarik agar pembaca dengan anggaran
terbatas tetap dapat mengakses banyak buku.
3.
Promosi
wajib berpusat di media sosial, pemasaran konvensional (seperti memajang buku
di etalase depan toko buku fisik tidak lagi efektif jika berjalan sendiri.
Kampanye pemasaran harus dialihkan ke media sosial lewat kolaborasi dengan
pembuat konten buku (bookfluencers), ulasan video (BookTok/BookTube),
serta promosi interaktif yang memicu rekomendasi dari mulut ke mulut secara
digital.
4.
Memainkan
peran TBM sebagai penyelamat akses literasi, keberadaan Taman Bacaan Masyarakat
(TBM) gratis menjadi instrumen yang sangat krusial. TBM berperan menjembatani
jurang antara tingginya rasa ingin tahu masyarakat dengan keterbatasan
finansial masyarakat untuk membeli buku sendiri.
Jadi, untuk urusan belanja
buku, mungkin kantong masih pas-pasan. Sebab massyarakat cuma anggarkan di bawah
Rp100 ribu sebulan untuk buku. Daya beli masyarakat sangat terbatas untuk
membeli buku. Karenanya, keberadaan TBM bisa jadi penyelamat literasi masyarakat.
Salam literasi! #GerakanLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan
%20rev.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar