Seorang anak pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka bertanya. “Pak, arah hidup itu dicari atau ditemukan?”
Dan anehnya, saya yang
sehari-hari berdiri di depan kelas dan mengajar agak terdiam cukup lama sebelum
menjawab. Karena ternyata, tidak semua pertanyaan harus langsung dijawab. Ada
yang perlu direnungkan dulu.
Begini ya Nak, saya melihat
banyak anak-anak mulai benar-benar memegang kemudi hidupnya sendiri. Biasanya
dimulai saat SMA. Memilih kampus sendiri, memilih jurusan. Memilih teman dan memilih
lingkungan. Ada yang terlihat siap. Tapi lebih banyak yang masih kebingungan. Ada
yang cepat belajar dan beradaptasi. Ada yang masih keras kepala, belum paham
arah. Ada yang memilih mengalir. Ada yang kritis, terus bertanya dan
mempertanyakan. Ada yang punya privilege. Ada juga yang harus mulai dari
nol—bahkan dari minus.
Maka saya sadar, jadi dosen
atau guru saja tidak cukup. Kadang kita juga dipaksa belajar menjadi “pemikir”.
Dan ini yang ingin saya sampaikan untuk kita yang sedang ada di fase 18–20
tahun, tentang arah hidup:
1. Punya referensi yang
solid. Belajarlah tentang hidup dari “Yang memberi hidup”. Pelajari, pahami,
dan perbarui terus cara pandang kita. Bahkan dari ayat yang sama, pemahaman
yang berbeda bisa melahirkan nilai dan keyakinan yang berbeda. Dan dua hal itu,
nilai dan keyakinan, sering jadi fondasi cara kita mengambil keputusan. Baca
juga kisah orang-orang terdahulu. Karena dalam banyak hal, pola hidup manusia
itu berulang. Yang berubah hanya konteksnya.
2. Hiduplah dengan cara pikir
ilmuwan. Mencoba, gagal atau berhasil. Belajar. Lalu ulangi lagi di aspek lain.
Dengan cara ini, arah hidup bukan sesuatu yang “ditunggu”, tapi sesuatu yang
perlahan terbentuk. Memang tetap relatif cepat atau lambatnya, karena setiap
orang mulai dari titik yang berbeda.
3. Fokus pada diri sendiri. Saat
ini media sosial media membuat standar hidup terasa sangat ramai. Kita jadi
mudah terpicu oleh pencapaian orang lain. Padahal yang sering kita lihat
hanyalah “highlight”, bukan keseluruhan cerita. Proses jatuh bangun, gagal,
ragu—jarang sekali ditampilkan. Maka mungkin bukan soal berhenti bermain sosial
media, tapi belajar untuk tetap sadar dan tidak kehilangan arah diri di
dalamnya.
Jadi, arah hidup itu bukan
sekadar dicari atau ditemukan. Tapi dibangun, pelan-pelan, dari pilihan kecil
yang kita ambil setiap hari. Mulailah dari yang sederhana, asal baik dan bermanfaat
lakukan dan kerjakanlah. Seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka yang konsisten
membaca buku di taman bacaan. Salam literasi!

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar