Minggu, 26 April 2026

Arah Hidup itu Dicari atau Ditemukan?

Seorang anak pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka bertanya. “Pak, arah hidup itu dicari atau ditemukan?”

 

Dan anehnya, saya yang sehari-hari berdiri di depan kelas dan mengajar agak terdiam cukup lama sebelum menjawab. Karena ternyata, tidak semua pertanyaan harus langsung dijawab. Ada yang perlu direnungkan dulu.  

 

Begini ya Nak, saya melihat banyak anak-anak mulai benar-benar memegang kemudi hidupnya sendiri. Biasanya dimulai saat SMA. Memilih kampus sendiri, memilih jurusan. Memilih teman dan memilih lingkungan. Ada yang terlihat siap. Tapi lebih banyak yang masih kebingungan. Ada yang cepat belajar dan beradaptasi. Ada yang masih keras kepala, belum paham arah. Ada yang memilih mengalir. Ada yang kritis, terus bertanya dan mempertanyakan. Ada yang punya privilege. Ada juga yang harus mulai dari nol—bahkan dari minus.  

 

Maka saya sadar, jadi dosen atau guru saja tidak cukup. Kadang kita juga dipaksa belajar menjadi “pemikir”. Dan ini yang ingin saya sampaikan untuk kita yang sedang ada di fase 18–20 tahun, tentang arah hidup:  

 

1. Punya referensi yang solid. Belajarlah tentang hidup dari “Yang memberi hidup”. Pelajari, pahami, dan perbarui terus cara pandang kita. Bahkan dari ayat yang sama, pemahaman yang berbeda bisa melahirkan nilai dan keyakinan yang berbeda. Dan dua hal itu, nilai dan keyakinan, sering jadi fondasi cara kita mengambil keputusan. Baca juga kisah orang-orang terdahulu. Karena dalam banyak hal, pola hidup manusia itu berulang. Yang berubah hanya konteksnya.  

 


2. Hiduplah dengan cara pikir ilmuwan. Mencoba, gagal atau berhasil. Belajar. Lalu ulangi lagi di aspek lain. Dengan cara ini, arah hidup bukan sesuatu yang “ditunggu”, tapi sesuatu yang perlahan terbentuk. Memang tetap relatif cepat atau lambatnya, karena setiap orang mulai dari titik yang berbeda.  

 

3. Fokus pada diri sendiri. Saat ini media sosial media membuat standar hidup terasa sangat ramai. Kita jadi mudah terpicu oleh pencapaian orang lain. Padahal yang sering kita lihat hanyalah “highlight”, bukan keseluruhan cerita. Proses jatuh bangun, gagal, ragu—jarang sekali ditampilkan. Maka mungkin bukan soal berhenti bermain sosial media, tapi belajar untuk tetap sadar dan tidak kehilangan arah diri di dalamnya.  

 

Jadi, arah hidup itu bukan sekadar dicari atau ditemukan. Tapi dibangun, pelan-pelan, dari pilihan kecil yang kita ambil setiap hari. Mulailah dari yang sederhana, asal baik dan bermanfaat lakukan dan kerjakanlah. Seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka yang konsisten membaca buku di taman bacaan. Salam literasi!

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar