Saat lagi membimbing anak-anak yang membaca di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung salak, seorang tamu yang sengaja berkunjung bertanya. Apa sih tanda seseorang benar-benar hidup dengan baik?
Jujur saja, itu pertanyaan
yang susah dijawabnya. Apalagi bila dibalikin, apa kita sudah hidup dengan
baik? Tapi secara literasi, kira-kira begini. Orang yang hidup dengan baik itu
bukan dari apa yang dia tunjukkan. Tapi dari apa yang dia nggak lagi butuh
tunjukkan? Ketika kita sudah tidak tertarik untuk menunjukkan apapun.
Orang baik nggak sibuk
membuktikan diri. Nggak haus validasi. Nggak merasa perlu dilihat
terus-menerus. Karena saat hidup kita benar-benar sudah “penuh”, kita nggak
lagi butuh tepuk tangan. Yang kita cari, justru ketenangan. Ya, tenang itu
barang mahal di zaman sekarang.
Makanya orang yang
benar-benar bahagia itu “aneh”. Semakin baik hidupnya, semakin dia menjaga “privasinya”.
Bukan karena sombong. Tapi karena dia tahu. Nggak semua hal perlu diumumkan.
Nggak semua kebahagiaan perlu dibagikan.
Tahu nggak? ada fase dalam hidup,
di mana kita sudah berhenti “menampilkan” hidup dan mulai benar-benar
menjalaninya. Segala yang baik dan bermanfata hanya dikerjaka tanpa lagi
diumumkan atau meminta validasi orang lain.
Sebab di titik itu, kita nggak
lagi peduli siapa yang melihat. Karena kita sudah cukup dengan apa yang kita
rasakan kita alami sendiri. Bukan berarti nggak boleh berbagi. Tapi kalau semua
harus ditunjukkan, mungkin kita belum benar-benar “tenang”.
Karena hidup yang paling
terasa “cukup”, biasanya biasanya justru yang paling sedikit terlihat. Kalau
boleh bertanya, kapan terakhir kali kita merasa bahagia tanpa perlu orang lain
tahu? Coba dicek dan mulai dijalankan deh, sebab nggak semua perlu validasi
orang lain. Salam literasi!
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar