Selasa, 28 April 2026

Gimana Hidup dengan Baik di Taman Bacaan?

Saat lagi membimbing anak-anak yang membaca di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung salak, seorang tamu yang sengaja berkunjung bertanya. Apa sih tanda seseorang benar-benar hidup dengan baik?

 

Jujur saja, itu pertanyaan yang susah dijawabnya. Apalagi bila dibalikin, apa kita sudah hidup dengan baik? Tapi secara literasi, kira-kira begini. Orang yang hidup dengan baik itu bukan dari apa yang dia tunjukkan. Tapi dari apa yang dia nggak lagi butuh tunjukkan? Ketika kita sudah tidak tertarik untuk menunjukkan apapun.

 

Orang baik nggak sibuk membuktikan diri. Nggak haus validasi. Nggak merasa perlu dilihat terus-menerus. Karena saat hidup kita benar-benar sudah “penuh”, kita nggak lagi butuh tepuk tangan. Yang kita cari, justru ketenangan. Ya, tenang itu barang mahal di zaman sekarang.   

 

Makanya orang yang benar-benar bahagia itu “aneh”. Semakin baik hidupnya, semakin dia menjaga “privasinya”. Bukan karena sombong. Tapi karena dia tahu. Nggak semua hal perlu diumumkan. Nggak semua kebahagiaan perlu dibagikan.  

 


Tahu nggak? ada fase dalam hidup, di mana kita sudah berhenti “menampilkan” hidup dan mulai benar-benar menjalaninya. Segala yang baik dan bermanfata hanya dikerjaka tanpa lagi diumumkan atau meminta validasi orang lain.  

 

Sebab di titik itu, kita nggak lagi peduli siapa yang melihat. Karena kita sudah cukup dengan apa yang kita rasakan kita alami sendiri. Bukan berarti nggak boleh berbagi. Tapi kalau semua harus ditunjukkan, mungkin kita belum benar-benar “tenang”.   

 

Karena hidup yang paling terasa “cukup”, biasanya biasanya justru yang paling sedikit terlihat. Kalau boleh bertanya, kapan terakhir kali kita merasa bahagia tanpa perlu orang lain tahu? Coba dicek dan mulai dijalankan deh, sebab nggak semua perlu validasi orang lain. Salam literasi!

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar