Sabtu, 28 Februari 2026

5 Sebab Pekerja Gelisah Jelang Pensiun

Kegelisahan saat mendekati pensiun adalah fenomena yang sangat manusiawi. Pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi jadi sebab perubahan besar dalam identitas, ritme hidup, dan keamanan finansial seseorang. Setelah puluhan tahun kerja, ternyata pekerja tetap gelisah saat memasuki usia pensiun.

 

Apa sebab pekerja gelisah jelang pensiun? Setelah menanyakan pekerja di Jakarta yang 2-3 tahun lagi akan pensiun, sebab kegelisahan jelang pensiun terdiri dari:

1.   Tidak dapat memberikan dukungan finansial kepada keluarga lagi karena sudah tidak punya gaji.

2.   Ketidak-amanan finansial karena tabungan belum cukup.

3.   Menyesal tidak punya rentang waktu yang cukup perencanaan pensiun

4.   Tidak membuat rencana apa pun sebelum pensiun.

5.   Khawatir tidak mandiri secara finansial atau bergantung kepada anak-anak.

Bahkan realitas yang ada menunjukkan banyak pekerja baru menyusun rencana pensiun dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja.

 

Kenapa gelisah jelang pensiun? Tentu, alasan utama terletak pada khawatir akan ketidakpastian finansial. Banyak pekerja baru berpikir dan bertanya dalam hati apakah tabungannya cukup untuk hari tua? Berapa lama dana yang dimilikinya akan bertahan? Bagaimana jika nanti sakit?

 


Setelah dihitung sendiri jelang pensiun, sebagian besar pekerja menyatakan program JHT dari BPJS TK manfaat yang diterima sama sekali tidak cukup untuk mempertahankan standar hidup. Apalagi manfaatnya diterima secara sekaligus. Karenanya, Menurut pekerja yang mau pensiun, program pensiun seperti DPLK sangat diperlukan. Sayangnya, para pekerja yang mau pensiun menyatakan “sudah terlambat” karena waktunya sebentar lagi akan pensiun.

 

Akibat tidak siap pensiun, banyak pekerja jadi gelisah jelasng pensiun. Dan akhirnta, pensiun dipersepsikan sebagai fase kehilangan penghasilan tetap. Tanpa bisa mempersiapkan apapun karena waktunya terlambat. Maka siapkanlah dana pensiun sejak dini. #YukSiapkanPensiun

TBM Lentera Pustaka Optimalkan Ngabubu-Read dan Bagikan 110 Takjil untuk Pembaca Aktif

Selama bulan puasa, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menggelar program "Ngabubu-Read Ramadhan Ceria" (ngabuburit sambil membaca). Aktivitas utamanya adalah tadarusan dan khataman Al Quran setiap Sabtu dan diakhiri dengan pembagian takjil kepada 110 anak pembaca aktif yang hadir. Seperti yang terjadi tadarusan dan takjilan kemarin di Bogor (28/2/2026), seluruh pengguna layanan antre takjil yang dibagikan wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka.

 

Melalui kegiatan "Ngabubu-Read" selama Ramadan, aktivitas taman bacaan dikombinasikan antara membaca buku, tadarusan, khataman Al-Quran, dan berbagi takjil kepada anak-anak pembaca aktif. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kebiasaan membaca di bulan puasa, memperkuat akhlak anak-anak, dan melatih kepedulian sosial anak. Sebab kata Rasulullah SAW: “Barang siapa yang memberi makanan berbuka pada orang yang berpuasa dia memperoleh pahala seperti pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR At-Tirmidzi)

 


Melalui takjilan, anak-anak pembaca aktif pun diajarkan antre. Untuk tidak menyerobot hak orang lain. Antre sebagai akhlak dan adab yang dijunjung tinggi di mana pun dan kapan pun. Budaya antre mengandung pelajaran mulia berupa etika dan akhlak. Melalui antre, anak-anak dilatih untuk mengatur waktunya dengan efektif, belajar bersabar menunggu gilirannya, dan mampu menghargai hak orang lain. Selain untuk tetap membaca buku, Ngabubu Read jadi momen untuk memperkuat akhlak anak dan melatih budaya antre.

 

TBM Lentera Pustaka, yang didirikan oleh Syarifudin Yunus pada tahun 2017 ini, menjadikan Ngabubu Read Ramadan Ceria sebagai momentum edukatif yang menyenangkan dengan menggabungkan aktivitas keagamaan dan literasi. Salam literasi! 

 



Studi 81% Ingin Bekerja Melewati Usia Pensiun: Antara Produktivitas dan Kecemasan Finansial

Sebuah studi menyebutkan bahwa 81% masyarakat Indonesia ingin tetap bekerja walaupun sudah melampaui usia pensiun. Hal ini jadi bukti masyarakat Indonesia memiliki etos kerja yang tinggi, semangat yang produktif, dan keinginan untuk terus berkarya tanpa dibatasi usia. Sangat menggembirakan. Tapi patut dipertanyakan, apakah ingin tetap bekerja karena passion dan makna hidup? Atau karena dana pensiun belum cukup menjamin keberlanjutan hidup di hari tua?

 

Bekerja setelah pensiun, apa untuk semangat produktif atau terpaksa? Dalam sistem ideal, pensiun bukanlah akhir produktivitas. Ia adalah transisi dari kerja wajib menjadi kerja pilihan. Seseorang yang memiliki kesiapan finansial seharusnya bebas menentukan apakah ingin tetap bekerja, menjadi relawan, membangun usaha kecil, atau menikmati waktu bersama keluarga. Masalahnya, banyak pekerja Indonesia belum memiliki perencanaan pensiun yang memadai. Partisipasi dalam program pensiun tambahan seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) masih relatif terbatas dibandingkan jumlah angkatan kerja nasional. Sementara itu, perlindungan dasar seperti program dari BPJS Ketenagakerjaan sering kali belum cukup untuk menjaga standar hidup sebelumnya. Akibatnya, bekerja setelah usia pensiun bukan lagi pilihan gaya hidup, melainkan strategi untuk bertahan secara finansial.

 

Bisa jadi, tetap ingin bekerja setelah pensiun karena realitas risiko umur panjang. Indonesia memasuki fase peningkatan usia harapan hidup. Artinya, masa pensiun bisa berlangsung selama 15 hingga 25 tahun setelah pensiun. Tanpa dana yang memadai, risiko yang muncul bukan hanya penurunan kualitas hidup, tetapi juga ketergantungan pada keluarga. Banyak orang mengira bahwa pesangon atau tabungan yang terkumpul sudah cukup. Padahal, inflasi, biaya kesehatan, dan kebutuhan tidak terduga dapat menggerus nilai dana tersebut dengan cepat. Dalam konteks ini, keinginan bekerja lebih lama bisa dipahami sebagai respons terhadap “longevity risk”, risiko hidup lebih lama daripada kemampuan finansial untuk menopangnya.

 

Karena itu, dana pensiun semestinya memberi kebebasan, bukan membatasi. Tujuan utama dana pensiun bukanlah menghentikan orang dari bekerja. Tapi sebaliknya, untuk memberi kebebasan untuk memilih di hari tua. Ketika seseorang memiliki dana pensiun yang cukup maka dapat tetap bekerja karena “ingin”, bukan karena “harus”. Dapat menolak pekerjaan yang eksploitatif, di samping dapat menjaga kesehatan tanpa tekanan finansial. Sebaliknya, tanpa kesiapan dana pensiun, usia lanjut bisa menjadi periode paling rentan secara ekonomi dan psikologis. Di sinilah, peran program pensiun seperti DPLK menjadi krusial dalam menjamin kesinambungan penghasilan di hari tua dan kemandirian finansial setelah pensiun.

 


Bekerja atau tidak bekerja setelah pensiun adalah pilihan. Tapi faktanya banyak pekerja menunda menabung karena merasa pensiun masih jauh. Masih banyak yang orientasinya konsumsi jangka pendek lalu mengabaikan dana pensiun. Dan akhirnya menganggap dana pensiun sebagai prioritas terakhir. Padahal, prinsip compounding bekerja paling optimal ketika dana pensiun dimulai lebih awal. Menunda lima atau sepuluh tahun saja dapat membuat kebutuhan kontribusi dana pensiun menjadi berlipat ganda. Jika 81% masyarakat ingin bekerja lebih lama, bisa jadi itu adalah sinyal bahwa pekerja belum merasa aman secara finansial. Dan rasa aman finansial tidak muncul tiba-tiba di usia 55 atau 60 tahun, justru dibangun sejak usia produktif semasa bekerja.

 

Angka 81% ingin bekerja sekalipun melewati usia pensiun seharusnya menjadi alarm perlunya penguatan edukasi pensiun sejak dini, bahkan sejak awal bekerja. Perusahaan perlu mendorong skema pendanaan pensiun sejak dini, baik untuk imbalan pascakerja atau pesangon dan perencanaan pensiun karyawan. Karenanya, desain produk dana pensiun seharusnya lebih fleksibel dan disesuaikan dengan karakteristik pekerja di sektor formal dan informal. Untuk itu, dana pensiun harus bergerak dari pendekatan administratif menjadi pendekatan berbasis kesejahteraan jangka panjang.

 

Pensiun yang bermartabat, ukuran keberhasilan dana pensiun bukanlah berapa banyak orang yang berhenti bekerja di usia tertentu. Ukurannya adalah apakah mereka memiliki pilihan? Jika seseorang memilih tetap bekerja karena ia menikmati pekerjaannya, itu adalah keberhasilan. Namun jika ia bekerja karena takut kehabisan uang, itu adalah kegagalan sistem perencanaan pensiun.

 

Masyarakat yang sejahtera bukanlah masyarakat yang dipaksa produktif hingga akhir hayat, melainkan masyarakat yang tetap produktif karena merasa aman secara finansial. Bekerja di usia tua sebagai aktualisasi diri, bukan keterpaksaan. Angka 81% ingin tetap bekerja di usia tua bisa dibaca sebagai optimisme. Tetapi juga bisa dicermati sebagai kecemasan kolektif yang belum terselesaikan tentang masalah finansial di masa pensiun.

 

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah orang ingin bekerja melewati usia pensiun. Tapi apakah kita siap jika suatu hari tidak lagi bisa bekerja? Di situlah dana pensiun menemukan urgensinya. #YukSiapkanPensiun

 

Jumat, 27 Februari 2026

Renungan Puasa: Jangan Pernah Duduk Bersama Orang Yang Suka Menceritakan Keburukan Orang Lain

Bulan puasa adalah momen penting untuk meninjau ulang pergaulan kita. Untuk selalu menjaga kualitas lingkungan pergaulan dan menjaga kesehatan mental. Tentang dengan siapa kita berteman dan pada siapa kita bergaul?

 

Hati-hati, di dekat kita. Mungkin saja ada orang yang suka bicara keburukan orang lain. Maka, jangan pernah duduk bersama orang-orang yang suka menceritakan keburukan orang lain. Karena begitu kita tidak ada di sana, kamu adalah topik cerita berikutnya. Duduklah bersama orang-orang yang membahas ide, gagasan, visi dan misi untuk kemajuan diri. Ingat, siapapun yang suka membicarakan keburukan orang lain, adalah orang yang menunjukkan keburukan dirinya yang sebenarnya. Sebab cara seseorang berbicara tentang orang lain kepada kita adalah cara yang sama dia akan berbicara tentang kita dengan orang lain. Itulah realitas tukang gosip.

 

Kenapa tidak disarankan duduk bersama orang yang suka membicarakan keburukan orang lain? Karena orang yang gemar bergosip atau membicarakan aib orang lain biasanya menyebarkan energi negatif dan membentuk pola pikir sinis serta penuh prasangka. Tipe orang begitu tidak bisa dipercaya (karena kalau dia membicarakan orang lain, suatu hari bisa jadi dia membicarakan kita juga). Hanya menghabiskan waktu untuk hal yang tidak produktif. Lingkungan pergaulan seperti ini pelan-pelan bisa memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, dan memandang orang lain.

 

Ada pepatah yang sering dikaitkan dengan Eleanor Roosevelt: “Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people.” Pikiran yang besar membicarakan ide-ide. Pikiran yang biasa membicarakan peristiwa. Dan pikiran yang kecil membicarakan orang. Artinya, kualitas obrolan sering mencerminkan kualitas cara berpikir.

 


Ini bukan sekadar soal gosip. Tapi pesannya adalah pilih lingkungan yang membuat kita bertumbuh, bukan yang menarik kita ke bawah. Karena kita akan dipengaruhi oleh siapa-siapa orang terdekat. Topik yang sering kita dengar akan membentuk cara berpikir kita. Dan energi di sekitar kita akan memengaruhi emosi kita sendiri.

 

Bila pun ada di dekat kita orang yang gemar menceritakan keburukan orang lain, secara perlahan tidak perlu dijauhi. Tapi cukup dengan mengalihkan topik pembicaraan atau tidak ikut menanggapi. Dan lebih baik membatasi intensitas pertemuan dengannya. Tapi jika lingkungannya benar-benar toxic, maka menjaga jarak atau menghindarinya adalah bentuk menjaga kualitas diri.

 

Daripada membicarakan keburukan orang lain, lebih baik membaca buku. Karena membaca buku dapat menambah wawasan dan membuat pikiran lebih terbuka. Membaca buku juga memberikan ketenangan sekaligus membantu perkembangan diri. Daripada waktu habis untuk membicarakan keburukan orang, membaca buku memberi kita nilai tambah. Bertambah pengetahuan, wawasan, inspirasi, bahkan solusi hidup. Seperti itulah kebiasaan yang dibangun pada anak-anak TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Bahkan di bulan puasa, mereka melakukan “ngabubu-read”, membaca buku sambil khataman al Quran setiap Minggu. Sebagai upaya membentuk akhlak dan adab yang baik seja dini kepada anak-anak usia sekolah.

 

Jadi, jangan pernah duduk bersama orang yang suka menceritakan keburukan orang lain. Toh, setiap orang pasti ada buruknya. Bersikaplah untuk selalu menjaga kualitas lingkungan pergaulan dan menjaga kesehatan mental. Jadilah terang dan berjalanlah meski dunia terasa gelap sekalipun. Salam literasi!




Hindari Pensiun Miskin, Inilah 7 Sebab Pentingnya Edukasi Dana Pensiun

Tahun 2025 lalu, OJK dan BPS merilis Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat sebagai hasil Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025. Khusus untuk dana pensiun diperoleh tingkat literasi dana pensiun berada di level 25,79%, sedangkan tingkat inklusi dana pensiun di 5,37%. Kondisi ini tergolong masih rendah. Karena dari 10 orang Indonesia, hanya 2,5 orang yang "tahu" dana pensiun dan hanya 0,5 (setengah) orang yang "punya" dana pensiun. Artinya, tiap 10 orang Indonesia tidak sampai 1 orang yang punya dana pensiun.

 

Karena itu, edukasi dana pensiun kepada publik sangat penting. Di samping untuk memberikan pemahaman akan pentingnya perencanaan masa pensiun, edukasi juga diperlukan untuk membangun kesadaran bahwa massa pensiun sama pentingnya dengan masa bekerja.

 

Pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi fase hidup panjang yang tetap membutuhkan kestabilan finansial, mental, dan sosial. Banyak orang baru menyadari pentingnya persiapan saat sudah mendekati usia pensiun. Banyak pekerja terlambat menyiapkan masa pensiunnya sendiri. Karena itu, edukasi dana pensiun sangat penting dilakukan.

 

Setidaknya ada 7 (tujuh) alasan utama mengapa edukasi pensiun penting dilakukan?

1. Meningkatkan kesadaran dini (early awareness). Sebagian besar pekerja aktif merasa pensiun masih jauh. Akibatnya tidak menghitung kebutuhan dana pensiun, tidak memahami inflasi dan risiko umur panjang, dan tidak memiliki strategi investasi jangka panjang. Padahal, semakin dini seseorang memahami pentingnya perencanaan pensiun, semakin ringan beban yang harus ditanggung setiap bulan.

2. Mengurangi risiko “pensiun miskin”. Berbagai survei menunjukkan banyak pensiunan di Indonesia bergantung pada anak, tetap bekerja karena kebutuhan ekonomi atau mengalami penurunan kualitas hidup. Tanpa edukasi, orang cenderung mengandalkan pesangon saja (yang nyatanya tidka cukup), tidak memahami program pensiun seperti DPLK, dan tidak menghitung risiko biaya kesehatan. Edukasi membantu masyarakat memahami bahwa pensiun tanpa perencanaan = risiko finansial yang serius.

3. Membantu perencanaan yang rasional, bukan emosional. Banyak keputusan keuangan didasarkan pada gaya hidup, tekanan sosial, dan keinginan sesaat. Karenanya, edukasi pensiun mengajarkan perhitungan kebutuhan dana (replacement ratio), pentingnya diversifikasi investasi, dan strategi kontribusi rutin dan konsisten untuk hari tua. Dana pensiun penting disiapkan keputusannya berbasis data, bukan sekadar perasaan.

4. Mengantisipasi risiko umur panjang (longevity risk). Angka harapan hidup orang Indonesia saat ini mencapai 73 tahun. Setiap tahun semakin meningkat. Artinya masa pensiun yang dijalani setiap orang bisa 15–25 tahun setelah berhenti bekerja. Tabungan harus cukup untuk membiayai hidup lebih lama, selama pensiun. Tanpa edukasi, orang sering mengira dana Rp. 500 juta atau Rp. 1 miliar sudah cukup, padahal belum tentu, tergantung gaya hidup dan tingkat inflasi.

5. Mendorong disiplin investasi jangka panjang. Program pensiun atau tabungan hari tua seperti DPLK, Program pensiun perusahaan, atau investasi pasar modal memerlukan konsistensi. Edukasi membuat peserta memahami manfaat compounding, risiko jika tidak punya dana pensiun, atau pentingnya evaluasi keuangan jangka panjang secara berkala

6. Mengurangi bban sosial dan keluarga. Tanpa kesiapan finansial untuk masa pensiiun maka beban ekonomi akan berpindah ke anak, berpotensi konflik keluarga meningkat, dan ketergantungan sosial bertambah di usia lanjut. Edukasi pensiun membantu menciptakan generasi lansia yang lebih mandiri dan bermartabat, di samping memiliki kesinambungan penghasilan di hari tua.

7. Mempersiapkan aaspek non-finansial. Pensiun bukan hanya soal uang, tetapi juga identitas diri, aktivitas pasca kerja, dan kesehatan menta. Edukasi pensiun membantu seseorang merancang aktivitas produktif di hari tua, rencana usaha, cara aktualisasi diri, dan peran sosial baru setelah tidak bekerja lagi.

 


Fakta hari ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anaknya setiap bulan untuk memenuhi biaua hidup (ADB, 2024). Bahkan 8 dari 10 pensiunan atau lansia menggantungkan hidupnya dari anggota keluarga yang bekerja. Sementara di kalangan pekerja, saat ini 9 dari 10 pekerja sama seklai tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Kondisi ini bukan hanya memprihatinkann tapi menegaskan pentingnya edukasi dana pensiun secara terus-menerus.

 

Suka tidak suka, edukasi pensiun diperlukan. Karena tanpa perencanaan, masa pensiun bisa menjadi fase krisis. Dapat menimbulkan ancaman finansial di hari tua. Dengan edukasi, masa pensiun bisa menjadi fase kebebasan sekaligus kemandirian secara finansial. Bahkan untuk program DPLK, edukasi sangat penting untuk mendongkrak tingkat literasi dan inklusi dana pensiun, termasuk memengaruhi partisipasi, loyalitas, dan keberlanjutan program.

 

Ketahuilah, masa pensiun setiap orang Indonesia semakin panjang durasinya, bisa 15 hingg 25 tahun kehidupan setelah berhenti bekerja. Dan pastinya, biaya hidup pun semakin lama semakin besar. Masalahnya, sudahkah kita mempersiapkan masa pensiun kita sendiri? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 


Kamis, 26 Februari 2026

Keinginan Mengontrol Hal yang Tidak Bisa Dikontrol, Kok Bisa?

Hari ini banyak orang cemas, bukan karena apa yang terjadi. Tapi cemas dan khawatir atas apa yang belum terjadi. Kebiasaan manusia sering cepat merasa cemas terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Merasa takut, khawatir, dan stres sebelum masalah itu benar-benar datang. Akibatnya, menderita dua kali. Pertama, karena bayangan di pikirannya sendiri. Kedua, saat masalah itu benar-benar terjadi (bila memang terjadi).

 

Padahal, banyak hal yang kita takutkan ternyata tidak pernah terjadi. Artinya, penderitaan itu hanya diciptakan oleh pikiran kita sendiri.  Cemas karena ingin mengontrol hal yang tidak bisa dikontrol. Cemas yang muncul karena ingin kepastian di tengah ketidakpastian. Sesuatu yang belum jelas, justru otak mengajak untuk mengisinya dengan prediksi. Sayangnya, prediksi kita sering condong ke skenario negative. Bias dan penuh kecemasan.

 


Maka jangan menyiksa diri dengan kekhawatiran masa depan. Hadapi masalah saat memang waktunya tiba, bukan sebelumnya. Fokuslah pada hari ini. Karena pikiran yang tidak terkontrol bisa membuat beban kecil terasa berkali-kali lebih berat.

 

Jangan terlalu cemas atas hal-hal yang berlum terjadi. Mulai kendalikan imajinasi yang teralu aktif. Sebab terlalu sulit “menagih” kepastian di dunia yang tidak pasti. Masalahnya bukan pada “rasa cemas”-nya. Tapi kita mempercayai semua pikiran cemas itu sebagai fakta.

 

Rileks saja dan tetaplah ikhtiar, seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka yang tetap “ngabuburead” membaca buku di bulan puasa. Jangan terlalu cemas. Salam literasi!



 

Ngabubu-Read TBM Lentera Pustaka, Kokohkan Akhlak Anak di Bulan Puasa

Selain bulan suci, bulan puasa atau Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim di dunia. Karena di bulan suci ini, semua aktivitas yang dilakukan bernilai ibadah. Puasa untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, termasuk lapar dan haus. Tadarusan, bersedekah, hingga zikir pun dilipatgandakan pahalanya. Maka, optimalkan aktivitas ibadah di bulan suci, bulan Ramadhan.

 

Ada banyak cara untuk optimalkan ibadah di bulan puasa. Salah satu yang khas adalah ngabuburit. Sebuah kegiatan menghabiskan waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba. Aktivitas menantikan azan maghrib.Tentu, ngabuburit harus diisi diisi dengan kegiatan yang positif dan baik. Sehingga ngabuburit jadi penyempurna ibadah puasa yang lebih berkualitas, seperti tadarus, pengajian, atau berzikir.

 

Agar bulan puasa lebih berfaedah dan meninggalkan bekas yang baik dalam pikiran dan tindakan sesudahnya, ada baiknya kegiatan ngabuburit dioptimalkan. Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor pun membagikan tips untuk optimalkan waktu ngabuburit saat menunggu waktu berbuka puasa dengan melakukan 4 aktivitas berikut:

1.   Tadarusan atau Khataman Al Quran. Agar bulan puasa bisa jadi momen untuk mendekatkan diri umat muslim kepada kitab sucinya. Selain menambah pahala, membaca Al Quran pun untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amalan baik. Sehingga rahmat Allah SWT selalu terlimpah setelah bulan puasa.

2.   Sedekah. Selain untuk berlimpah pahala, sedekah pun menjadi ajaran yang patut dibiasakan di bulan puasa karena untuk menggembirakan orang-orang lain yang berpuasa dan bisa meringankan beban atau kesedihan orang lain. Karena sedekah dapat meningkatkan hartanya di masa kehidupan, di samping meringankan kepedihan saat mautnya.

3.   Muhasabah diri. Untuk membuka hati dan menyadari segala dosa dan kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Momen untuk introspeksi diri, berani mengoreksi segala sikap, perbuatan, kesalahan, dan kelemahan diri selama ini. Menyesal atas dosa untuk tidak mengulanginya. Karena penyesalan adalah taubat.

4.   Menambah Ilmu. Bulan puasa pun sangat baik dijadikan momen untuk menambah ilmu. Membaca buku, mengikuti kajian keagamaan atau tausiyah agama yang berdampak positif bagi pikiran, hati, dan perbuatan.

 


Atas spirit menambah faedah bulan puasa itulah, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menggelar program “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria”, dengan melakukan aktivitas 1) tadarusan pada Rabu dan Jumat, 2) Khataman Al Quran setiap Sabtu, dan 3) Tausiyah Literasi dan doa jelang buka puasa setiap Sabtu. Melalui “Ngabubu-Read” di bulan puasa ini, TBM Lentera Pustaka mengajarkan 120-an anak pembaca aktif untuk makin “mengokohkan akhlak dengan iman, menaklukkan dunia dengan Al Quran”.

 

Sejatinya, bulan puasa adalah momen penggemblengan lahir batin untuk menjadi manusia yang lebih baik sesudah sebulan penuh berpuasa. Apakah kita menjadi lebih baik dalam keimanan dan ketakwaan setelah puasa? Itulah faedah yang harus dicapai di bulan puasa.

Maka, jangan meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan membunuh apa pun kecuali waktu. Untuk selalu berpikir dan bertindak yang baik, sekalipun di taman bacaan. Salam literasi.





Nggak Usah Sibuk Cari Validasi Orang Lain

 

Sekarang banyak orang berlomba mencari validasi orang lain. Anaknya dapat paspor WNA saja sampai dipamerkan. Sebegitu pentingkah validasi dari orang lain? 

 

Mumpung lagi puasa, ada baiknya muhasabah diri. Introspeksi diri bahwa validasi atau pengakuan orang lain sama sekali tidak ada maknanya. Lagi pula, bila sudah dipuji atau di kasih jempol orang lain, kita mau apa?

 

Ketahuilah, orang berkualitas tidak sibuk mencari validasi karena mereka memiliki kepercayaan diri yang kuat. Berani bersikap dan tidak perlu membuktikan diri kepada orang lain. Orang berkualitas hanya fokus pada tujuan dan nilai-nilai yang dipegang, bukan pada pendapat orang lain. Bahkan tidak mau disibuki oleh urusan orang lain. Lebih fokus ke diri sendiri.

 

Jadi bila ada orang yang masih butuh validasi dari orang lain, bolehlah dikategorikan bukan orang berkualitas.  Sebab orang berkualitas cenderung memiliki kesadaran diri yang tinggi, sehingga tidak perlu mencari pengakuan dari luar untuk merasa baik tentang dirinya sendiri. Orang berkualitas sudah tahu siapa dirinya dan apa yang ingin capai? Tetap fokus pada tujuan dan tidak perlu membuang waktu untuk mencari validasi dari orang lain.

 


Lebih dari itu, orang berkualitas juga cenderung memiliki mental yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain. Orang lain boleh mengkritik atau berpendapat negatif tentang dirinya. Tapi dia tidak akan terpengaruh, baik dari cara mengambil keputusan atau tindakannya. 

 

Maka, jika kita ingin menjadi orang berkualitas, fokuslah pada tujuan dan nilai-nilai kita. Dan jangan sibuk mencari validasi dari orang lain karena tidak ada gunanya.

 

Gimana dengan Anda? Tapi lebih baik baca buku di TBM Lentera Pustaka



Rabu, 25 Februari 2026

Lebih Baik THR Disisihkan untuk Top up DPLK, Apa Alasannya?

Ada yang bertanya, gimana cara menggunakan uang THR (Tunjangan Hari Raya) di musim lebaran? Patut dipahami, THR itu sifatnya pendapatan tambahan, bukan gaji rutin. Artinya, uang rutin cenderung sudah punya alokasi tetap, sedangkan pendapatan tambahan seperti THR biasanya lebih mudah dihabiskan, apalagi tanpa perencanaan. Karenanya, perlu keberanian menggunakan uang THR untuk mengubah konsumsi jangka pendek menjadi aset jangka panjang sekaligus untuk menghindari perilaku belanja impulsif.

 

Biasanya, sekitar 50% - 60% dari uang THR memang digunakan untuk kebutuhan langsung lebaran (seperti mudik, belanja baju baru, makanan, dan angpau), maka seharusnya 40%-50% uang THR tersisa sebaiknya disisihkan untuk menambah tabungan atau menambah iuran top up (sukarela) di DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Apalagi survei menyebutkan 90% uang THR cenderung habis untuk belanja atau perilaku konsumtif.

 

Maka lebih baik uang THR disisihkan untuk top up DPLK. secara finansial dan psikologis, menyisihkan sebagian THR untuk top up DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) adalah keputusan yang rasional dan sangat baik. Alasannya, uang THR yang disisihkan menjadi iuran sukarela DPLK bisa “berkembang” lebih optimal dan dapat menambah akumulasi dana untuk masa pensiun. Contoh sederhana: bila mendapat THR Rp. 10 juta, maka digunakan untuk keperluan lebarann Rp. 5-6 juta. Sisanya Rp. 4-5 juta dijadikan iura top up DPLK sehingga bisa bernilai jauh lebih besar dalam 15–20 tahun ke depan.

 

Menyisihkan uang THR sebagai iurann top up DPLK dalah momentum untuk disiplin finansial. Sebab menabung yang baik seharusnya tidak dalam tekanan kebutuhan dan saat memiliki likuiditas dana lebih. Karenanya, THR memberi ruang untuk menambah saldo dana pensiun tanpa mengganggu cashflow bulanan dan mampu meningkatkan rasio kesiapan pensiun secara signifikan. Banyak orang menunda karena merasa “gaji belum cukup”. Padahal justru momen seperti THR yang bisa dimanfaatkan untuk menambah tabungan pensiun.

 


Studi menunjukkan 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Mayoritas pekerja belum siap secara finansial saat pensiun karena tidak tersedianya dana yang cukup untuk hari tua. Tingkat penghasilan pensiun (TPP) atau replacement ratio tergolong rendah, hanya 10%-15% dari gaji terakhir di saat pensiun. Karenanya, top up iuran DPLK seperti dari THR akan dapat meningkatkan akumulasi dana DPLK dan dapat mengurangi ketergantungan pada anak atau keluarga di hari tua.

 

Menggeser mindset bahwa THR bukan hanya untuk konsumsi memang butuh keberanian. Secara budaya, THR sering identik dengan belanja, mudik atau gaya hidup musiman. Tidak salah sih, tapi jika seluruh uang THR habis untuk konsumsi, maka THR hanya memberi bahagia sesaat. Sebaliknya, jika sebagian dialokasikan ke DPLK maka THR menjadi hadiah untuk diri kita di masa depan.

 

Intinya, dibutuhkan strategi bijak dalam mengelola uang THR. Tentu, tidak harus 100% ke DPLK. Bila 50%-60% untuk kebutuhan langsung saat lebaran, maka sisanya lebih baik ditabung. Minimal, 20% bisa dialokasikan untuk top up iuran DPLK. Atau disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

 

Top up DPLK dari THR itu baik karena tidak mengganggu cashflow rutin, dapat meningkatkan kesiapan pensiun, dan mengubah bonus jangka pendek menjadi keamanan jangka panjang. Jadi kenapa tidak, uang THR dialokasikan untuk top up iuran DPLK? Selamat menikmati uang THR …

Ngabubu Read, Puasa Makin Semangat karena Membaca Buku yang Sehat

Memang benar, puasa makin semangat karena membaca buku yang sehat. Karena membaca buku yang sehart berarti membaca bacaan yang positif, menenangkan, dan memberi nilai kebaikan. Seperti membaca buku-buku tentang pengembangan diri, spiritualitas, atau kehidupan.

 

Isi bacaan buku yang sehat biasanya membantu kita untuk menjaga pikiran tetap jernih saat tubuh lemah karena puasa. Mampu mengalihkan fokus dari lapar dan haus ke hal-hal yang lebih bermakna dan menambah motivasi untuk menjalani puasa dengan niat yang lebih kuat. Jadi, buku menjadi asupan mental, sebagaimana makanan adalah asupan fisik.

 

Secara simbolik, membaca buku yang sehat ibarat saat tubuh sedang menahan, jiwa justru diberi makan. Puasa bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga membersihkan batin. Membaca “buku yang sehat” melambangkan usaha merawat pikiran dan hati sehingga puasa terasa lebih ringan, lebih sadar, dan lebih bermakna. Puasa jadi makin semangat karena pikiran diisi hal-hal baik. Hati jadi lebih tenang sehingga tujuan puasa terasa lebih dalam dan waktu luang diisi dengan pertumbuhan, bukan keluhan.

 

Realitas itulah yang dijalani anak-anak TBM Lentera Pustaka selama bulan puasa. Bertajuk “Ngabubu Read Ramadhan Ceria di TBM”, anak-anak mengisi waktu puasa dengan membaca buku, sambil khataman Al Quran seminggu sekali. Program ini bertujuan meningkatkan literasi, memperkuat akhlak, dan mendekatkan anak-anak pada buku yang  dikombinasikan dengan berbagi takjil atau mengaji bersama setiap hari Sabtu jelang waktu berbuka puasa.



Aktivitas utama Ngabubu-Read di TBM Lentera Pustaka diisi dengan membaca buku dari berbagai jenis buku cerita atau pengetahuan di taman bacaan. Khataman Al-Quran setiap hari Sabtu, di mana anak-anak dibagi kelompok untuk menyelesaikan 2-3 juz per Minggu per kelompok. Di samping ada aktivitas sosial dan donasi yang digelar oleh berbagai lembaga atau komunitas. Tujuannya adalah untuk membentuk perilaku baik dan kebiasaan akhlak yang positif selama bulan puasa. 

 

Setiap tahun di bulan puasa, Ngabubu Read selalu digelar di TBM Lentera Pustaka. Sebagai kegiatan yang edukatif dan menyenangkan di bulan puasa, di samping mengubah taman bacaan menjadi pusat aktivitas Ramadan yang produktif. Salam literasi! 

 



Selasa, 24 Februari 2026

LSP Dana Pensiun Komit Perkuat SDM Melalui Uji Sertifikasi KKNI untuk Praktisi Dapen

Sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan praktisi dana pensiun sesuai standar nasional, LSP Dana Pensiun menggelar Uji Sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 37 peserta dari jenjang 7, 6C, 6A, dan 4 di Jakarta (24/2/2026).  Dengan melibatkan 13 asesor kompetensi berlisensi BNSP seperti: Arif Hartanto, Zain Zainuddin, Edi Pujiyanto, Budi Ruseno, Asiwardi Gandhi, Syarifudin Yunus, Bambang Sri Mulyadi, Sri Murtiningsih, Purwaningsih, A. Indrahadi K, Satino, Ganis Widio Ananto, dan Yuni Pratikno,  asesmen sertifikasi KKNI Dana Pensiun dijalankan sesuai dengan SEOJK 12/2025 tentang sertifikasi kompetensi kerja bagi dana pensiun dan POJK 34 Tahun 2024 tentang Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada Dana Pensiun.

 

Selain untuk meningkatkan profesionalisme, uji sertifikasi KKNI dana pensiun juga menjadi bagian dalam meningkatkan kepercayaan public atas pengelolaan dana pensiun di Indonesia. Peserta uji sertifikasi KKNI berasal dari 24 DPPK/DPLK seperti Dana Pensiun Askrida, Dana Pensiun Bank Mandiri Satu, DPLK Manulife Indonesia, Dana Pensiun Kimia Farma, Dana Pensiun Bank Mandiri Tiga, Dana Pensiun PPIP-PUSRI, Dana Pensiun PT. BPD Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Dana Pensiun Bank Nagari, Dana Pensiun PT. BPD Jawa Tengah, Dana Pensiun PT. BPD Jambi, Dana Pensiun Bank Mandiri, Dana Pensiun Bank Indonesia Iuran Pasti, Dana Pensiun Pusri, Dana Pensiun LIA, DPLK Capital Life Indonesia, Dana Pensiun PT. Asuransi Jasa Indonesia, Dana Pensiun Pegawai Perum Peruri, Dana Pensiun Hutama Karya, Dana Pensiun Karyawan Taspen, Sucor Asset Manajemen, Dana Pensiun Bank Central Asia, Dana Pensiun BTN, Dana Pensiun Pegawai Pembangunan Jaya Group, dan Dana Pensiun Smart. Melalui uji sertifikasi KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun menjalankan perannya untuk memastikan standar kompetensi, di samping kredibilitas mutu pelaku dana pensiun di Indonesia. Sebab KKNI dana pensiun menjadi cerminan standar pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang dipersyaratkan regulasi.

 

“Uji sertifikasi KKNI dana pensiun menjadi fondasi profesionalisme SDM sekaligus tata kelola industri dana pensiun, di samping menjawab kebutuhan terkait kompetensi, kepercayaan, dan keberlanjutan. Karena itu, LSP Dana Pensiun hari ini melakukan asesmen uji kompetensi dan sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti … peserta dari jenjang 7, 6C, 6A, dan 4” ujar Edi Pujiyanto, Direktur LSP Dana Pensiun di sela asesmen uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun hari ini.

 

Melalui uji sertifikasi KKNI, LSP Dana Pensiun berkomitmen untuk mengoptimalkan kompetensi SDM dana pensiun. Sertifikasi berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) memastikan bahwa pengurus, pengelola, dan pelaksana dana pensiun memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang terstandar, baik dari regulasi dana pensiun, investasi - manajemen risiko, dan tata kelolanya. Tidak hanya berpengalaman, tapi teruji secara objektif dengan kualifikasi yang ditetapkan OJK dan BNSP. Melalui asesmen sertifikasi KKNI, setiap SDM dana pensiun divalidasi dan diwawancara atas makalah atau kinerja yang dijalankan sesuai standar kompetensi nasional. Proses asesmen dilakukan secara objektif, adil, dan valid sesuai sistem dan prosedur pengembangan kualitas SDM yang berkelanjutan untuk melindungi peserta dana pensun yang ada.

 




Untuk diketahui, saat ini LSP Dana Pensiun memiliki 29 asesor kompetensi berlisensi BNSP untuk melaksanakan dan memantau realisasi pengembangan kualitas SDM dana pensiun. LSP Dana Pensiun merupakan satu-satunya LSP di bidang dana pensiun yang terdaftar di OJK sesuai dengan Surat Tanda Terdaftar Lembaga Sertifikasi Profesi Sektor Jasa Keuangan No: STTD.LSP-03/MS.1/2025 tertanggal 23 Juli 2025 dan Keputusan Ketua BNSP No: KEP.0015/BNSP/I/2023. Untuk informasi dan program LSP Dana Pensiun dapat disimak melalui: https://lspdapen.com/.

 

Kompetensi sesuai KKNI bidang Dana Pensiun diterapkan semata-mata untuk a) pelaksanaan pendidikan atau pelatihan, b) pelaksanaan sertifikasi kompetensi, c) pengembangan sumber daya manusia, dan d) pengakuan kesetaraan kualifikasi. Melalui KKNI bidang Dana Pensiun diharapkan SDM dana pensiun mampu meningkatkan kompetensinya, sehingga 1) mengetahui ukuran kemampuan yang dimiliki, 2) dapat meningkatkan akses untuk mengembangkan diri, dan 3) menambah produktivitas kerja. Selain berkomitmen dalam mengoptimalkan KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun terus melakukan koordinasi untuk memastikan kompetensi SDM di sektor dana pensiun sesuai standar nasional dan standar profesionalisme dalam pengelolaan dana pensiun. Salam Kompeten!

 



Literasi Puasa: Hidup Ini Terlalu Singkat bila Dijalani dengan Standar Orang Lain

Kita sering lupa, bahwa hidup punya batas waktu. Usia manusia di mana pun terbatas. Kalau waktu yang terbatas itu dihabiskan untuk memenuhi standar orang lain pasti semakin berat. Hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial: status, jabatan, gaya hidup, validasi tanpa benar-benar memahami apa yang kita inginkan, maka hidup terasa “dipinjamkan”, bukan dijalani. Kita bisa sukses menurut ukuran orang lain tapi kosong secara batin.

 

Hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Sebab standar orang lain tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai personal kita. Setiap orang tumbuh dengan latar belakang berbeda, kondisi ekonomi berbeda. Bahkan minat dan bakat berbeda dan definisi tentang bahagia pun berbeda. Karenanya, memaksakan diri untuk mengikuti standar orang lain justru membuat kehilangan arah. Misalnya: “umur 30 harus punya rumah” atau “karier harus begini begitu” bisa membuat kita kehilangan fokus diri sendiri.

 

Apapun alasannya, standar orang lain pasti jadi tekanan. Membuat hidup jadi reaktif, bukan otentik. Saat hidup dikendalikan oleh standar orang lain, aakhirnya keputusan diambil karena takut dinilai. Bekerja karena gengsi, bukan panggilan. Menabung atau berinvestasi karena ikut tren, bukan rencana pribadi. Akhirnya hidup jadi responsif terhadap tekanan, bukan ekspresi nilai diri.

 

Banyak riset psikologi positif menunjukkan bahwa orang yang hidup sesuai nilai pribadinya lebih stabil secara emosional. Lebih tahan terhadap stres sosial dan kepuasan hidupnya jadi lebih tinggi. Artinya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh standar umum, tetapi oleh keselarasan antara tindakan dan nilai diri. Karenanya, autentisitas “sama dengan” kesejahteraan.

 


Hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Bukan berarti anti nasihat atau anti sosial. Tapi pesan bahwa menggunakan standar orang lain sebagai referensi adalah penjara. Lebih baik mengikuti kata hati dan jalan hidup sendiri. Dalam konteks finansial dan karier misalnya, banyak orang mengejar karier, jabatan, atau gaya hidup karena perbandingan sosial. Padahal ada yang bahagia dengan stabilitas. Ada yang memilih sederhana tapi bebas waktu. Dan ada yang mengejar makna, bukan sekadar angka. Jadi, standar hidup ideal seharusnya selaras dengan tujuan jangka panjang pribad, bukan sekadar kompetisi sosial.

 

Hidup terlalu singkat untuk membuktikan diri pada orang yang tidak membayar tagihan hidup kita. Mengejar validasi yang tidak pernah selesai dan mngorbankan nilai diri demi penerimaan sosial. Karena pada akhirnya, yang menjalani konsekuensi hidup kita bukan “orang lain”, tetapi diri kita sendiri. Maka hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Lebih baik membaca buku atau mengabdi di taman bacaan. Salam literasi!

 


Senin, 23 Februari 2026

Lebih Baik Baca daripada Berkata-kata

 

Ini tentang daya rusak kata-kata, sebagai renungan di bulan puasa. Bahwa “satu kata yang tak lolos sensor hati adalah racun yang mampu menghanguskan hutan persaudaraan”. Maka, lebih baik kunci rapat lisan kita jika ia tak mampu membawa madu kebenaran ke telinga sesama.

 

Hari ini, banyak orang terlalu gampang bicara. Bahkan membahas apapun yang tidak perlu dan sia-sia. Bukan memberi solusi malah menambah masalah. Soal pamer paspor WNA alumni LPDP hingga kasus ijazah yang tak kelar-kelar. Kata-kata yang keluar dari mulut kita lebih merusak daripada memperbaiki. Kata-kata yang keluar tanpa disaring oleh nurani, tanpa empati, tanpa pertimbangan benar-salah, bisa menghancurkan suasana harmoni puasa, merusak keheningan ibadah, bahkan merusak hubungan yang sudah lama dibangun.

 

Persaudaraan itu seperti hutan: tumbuhnya lama, perlu waktu, kesabaran, dan sangat butuh perawatan. Tapi membakarnya? Cukup satu percikan api. Dan sering kali, percikan itu adalah satu kalimat yang tajam, kata-kata yang menyinggung banyak orang. Maka hati-hatilah dalam berkata-kata. Jaga lisan kita, jaga kata-kata kita.

 


Karenanya di bulan puasa, lebih baik kunci rapat lisan kita jika ia tak mampu membawa madu kebenaran ke telinga sesama. Jangan berkata-kata bila hanya menyinggung orang lain. Karena tidak semua hal harus diucapkan. Jika ucapan kita: tidak benar, tidak baik, atau tidak perlu maka diam lebih mulia.

 

Ketahuilah, kebenaran tanpa kelembutan bisa berubah menjadi kekerasan. Dan kejujuran tanpa kebijaksanaan bisa melukai. Bulan puasa bukan hanya menahan diri dari lapar dan haus. Tapi juga melatih kita untuk menyaring kata-kata dengan hati, menimbang dampaknya sebelum diucapkan, dan menjadikan lisan sebagai pembawa kebaikan bukan peluka.

 

Sebab luka oleh tangan mungkin bisa sembuh. Tapi luka oleh kata-kata kadang menetap di dalam dada. Pilihannya adalah lebih baik diam atau membaca buku. Bila perlu berkiprah di taman bacaan sebagai ladang amal kebaikan dan menebar manfaat kepada sesama. Salam literasi!