Minggu, 01 Februari 2026

Biarkan IHSG Anjlok, Asal Pekerja Tetap Siap Pensiun

Lagi ramai nih, soal IHSG anjlok lalu bos BEI dan pejabat OJK mundur. Sarannya, biasa-biasa saja dan tidak usah khawatir. Urusan pasar dan pasar modal kayak begitu sudah biasa. IHSG anjlok itu siklus, bukan kiamat. Pasar saham memang naik–turun. Krisis datang dan pergi, tapi dalam jangka panjang ekonomi terus tumbuh. Tidak usah panik bila IHSG anjlok, apalagi yang tidak punya saha tidak punya dana pensiun.

 

Sebagai pekerja tidak usah peduli IHSG anjlok, justru peduli bila tidak siap pensiun. Tidak punya dana pensiun, apalagi sudah puluhan tahun kerja. Kalau IHSG itu soal hari ini. Tapi dana pensiun itu soal hidup puluhan tahun ke depan, setelah tidak bekerja dan tidak punya gaji lagi. Dan lagi pula, IHSG atau saham tidak akan menanggung hidup kita di hari tua, di masa pensiun.

 

Biarkan saja IHSG anjlok. Risiko kita bukan karena pasar turun tapi kita tidak siap pensiun. Saat ini 9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap berhenti kerja atau pensiun. Bahkan 1 dari 2 pensiunan mengalami masalah keuangan di hari tuanya. Mengandalkan transferan dari anak-anaknya untuk biaya hidup di hari tua. Itu semua karena tidak tersedianya dana yang cukup untuk biaya hidup di hari tua, akibat tidak punya persiapan pensiun.

 

Kita sepakata, waktu adalah senjata utama dana pensiun. Dana pensiun bukan buat besok atau tahun depan. Dengan horizon 20–30 tahun, fluktuasi jangka pendek jadi “noise”, yang penting disiplin setor iuran dan konsisten siapkan hari tua kita sendiri. Risiko terbesar itu bukan pasar turun, tapi tidak siap pensiun. IHSG bisa pulih. Tapi waktu yang hilang karena tidak menabunguntukpensiun tidak bisa diputar ulang. Banyak orang takut investasi, tapi lupa takut hidup tanpa penghasilan di usia tua.

 

Dana pensiun tidak cuma saham. DPLK dan dana pensiun dikelola secara diversifikasi, bisa ke SBN, obligasi, pasar uang, atau saham. Jadi bukan taruhan satu kartu. Saat saham jatuh, instrumen lain menahan guncangan. Mentalitas pensiun itu tenang, bukan panik. Orang yang panik saat pasar turun biasanya tidak punya tujuan jangka panjang. Dana pensiun itu kebalikannya: tujuan jelas, proses panjang, dan emosi harus stabil.

 

Jangan takut IHSG anjlok. Tapi takutlah bila di masa pensiun tidak punya uang, tidak bisa memenuhi standar hidup seperti saat bekerja. Jangan sampai kita “gagal bayar” (Listrik,, wifi, air atau biaya hidup lainnya) di hari tua akibat tidak punya dana pensiun. Sebagai pekerja, siapapun harus mempersiapan masa pensiunnya sendiri. Syukur-syukur bila disediakan dari kantor. Jadi, yuk siapkan pensiun!

 

Gagal bayar, dalam istilah keuangan, digambarkan suatu keadaan saat seseorang atau korporasi tidak dapat memenuhi kewajibannya dan tidak mampu memenuhi standar hidupnya. Gagal bayar bisa dibilang proses menuju bangkrut atau pailit. Lebih besar pasak daripada tiang, karena jumlah kewajiban yang harus dibayar lebih kecil dari ketersediaan uang yang ada. Apapun motifnya, gagal bayar terjadi akibat kelalaian.

 


Nah, salah satu cara untuk siap pensiun adalah menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Menjadi peserta DPLK agar tidak anjlok ekonominya di masa pensiun, agar tetap mampu mempertahankan stnadar hidup. DPLK jadi sebab mandiri secara finansial di hari tua, agar tidak bergantung kepada anak atau keluarga saat tidak bekerja lagi. DPLK memang dirancang khusus untuk kesinambungan penghasilan di hari tua. Punya uang yang cukup untuk biaya hidup di saat pensiun.

 

Kenapa siapkan masa pensiun di DPLK? Karena DPLK, setidaknya punya manfaat utama yaitu ada kepastian dana untuk hari tua, ada hasil investasi yang optimal karena jangka panjang, bisa mandiri secara finansial, dan punya kesinambungan penghasilan saat tidak kerja lagi. Maka agar tidak “gagal bayar” di masa pensiun. Mulailah untuk mempersiapkan masa pensiun sejak dini.  Karena setiap orang, setiap pekerja tidak akan bekerja terus. Ada saat bekerja ada saat pensiun.

 

Singkatnya, IHSG boleh jatuh, asal masa tua kita tidak ikut jatuh. Biarkan IHSG anjlok, risikonya bukan pasar turun tapi tidak siap pensiun. Ketahuilah, pensiun itu bukan soal waktu tapi soal keadaan.… #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 


CSR Bermanfaat, Periksa Kesehatan Gigi 200 Anak Pembaca Aktif

Menggandeng GWS Medika, Bank Sinarmas gelar CSR periksa kesehatan gigi untuk 200 anak sekolah di Taman Bacaan Lentera Pustaka Bogor (1/2/2026). Kegiatan ini sekaligus untuk memberikan edukasi dan akses kesehatan masyarakat secara langsung, di samping menjadi bagian program tanggung jawab sosial perusahaan. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran kesehatan gigi, mendeteksi masalah gigi sejak dini, dan mengajarkan kebiasaan sehat.

 

Ditangani oleh 6 dokter gigi GWS Medika seperti drg. Alivia, drg. Arvina, drg. Rania, drg. Yoga, dan drg. Tomo dan 9 perawat, kegiatan sosial ini diawali dengan edukasi dan penyuluhan cara sikat gigi yang benar, periksa gigi, dan catatan kondisi gigi. Turut hadir dalam cara ini Retno Tri Wulandari (Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas), Narita Kusumawardhani, Epul Saepulloh, Carlos, dan Ramdhan (Bank Sinarmas), Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka), 20 relawan TBM, dan disaksikan oleh 260 anak dan ibu pengguna layanan TBM Lentera Pustaka.

 

Acara yang berlangsung dari pukul 09.00-12.30 WIB disambut antusias oleh masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma (gratis). Dengan kupon antrean, setiap anak bergiliran untuk periksa gigi dan mendapat tindakan dan catatan kondisi gigi sebagai tindak lanjut. Anak-anak diperiksa akan kondisi gigi, gusi, lidah, dan mulut, dan deteksi dini gigi berlubang atau infeksi.

 


Dalam event kepedulian sosial ini, Bank sinarmas juga meluncurkan program CSR tahun 2026 di TBM Lentera Pustaka yang mencakup perbaikan kebun baca, pembangunan gudang buku, penutupan got, tembok – pagar, dan bantuan 100 kaos TBM, di samping menjadi mitra korporasi yang membina aktivitas TBM Lentera Pustaka. Ke depan, Bank Sinarmas juga menjadikan anak-anak TBM Lentera Pustaka laboratorium literasi finansial untuk edukasi akan pentingnya menabung di bank ke anak-anak usia sekolah dan para relawan.

 

"TBM Lentera Pustaka ucapkan terima kasih untuk Bank Sinarmas dan GWS Medika atas kegiatan edukasi dan periksa gigi 200 anak pembaca aktif kami. Sungguh, kontribusi Bank Sinarmas ke TBM Lentera Pustaka sangat luar biasa, sangat peduli pada pendidikan anak dan gerakan literasi. Sinergi yang nyata untuk masyarakat" ujar Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka.