Bulan puasa adalah momen penting untuk meninjau ulang pergaulan kita. Untuk selalu menjaga kualitas lingkungan pergaulan dan menjaga kesehatan mental. Tentang dengan siapa kita berteman dan pada siapa kita bergaul?
Hati-hati, di dekat kita. Mungkin saja ada orang yang suka bicara
keburukan orang lain. Maka, jangan pernah duduk bersama orang-orang yang suka
menceritakan keburukan orang lain. Karena begitu kita tidak ada di sana, kamu
adalah topik cerita berikutnya. Duduklah bersama orang-orang yang membahas ide,
gagasan, visi dan misi untuk kemajuan diri. Ingat, siapapun yang suka
membicarakan keburukan orang lain, adalah orang yang menunjukkan keburukan
dirinya yang sebenarnya. Sebab cara seseorang berbicara tentang orang lain
kepada kita adalah cara yang sama dia akan berbicara tentang kita dengan orang
lain. Itulah realitas tukang gosip.
Kenapa tidak disarankan duduk bersama orang yang suka membicarakan
keburukan orang lain? Karena orang yang gemar bergosip atau membicarakan aib
orang lain biasanya menyebarkan energi negatif dan membentuk pola pikir sinis
serta penuh prasangka. Tipe orang begitu tidak bisa dipercaya (karena kalau dia
membicarakan orang lain, suatu hari bisa jadi dia membicarakan kita juga).
Hanya menghabiskan waktu untuk hal yang tidak produktif. Lingkungan pergaulan
seperti ini pelan-pelan bisa memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, dan
memandang orang lain.
Ada pepatah yang sering dikaitkan dengan Eleanor Roosevelt: “Great
minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people.”
Pikiran yang besar membicarakan ide-ide. Pikiran yang biasa membicarakan
peristiwa. Dan pikiran yang kecil membicarakan orang. Artinya, kualitas obrolan
sering mencerminkan kualitas cara berpikir.
Ini bukan sekadar soal gosip. Tapi pesannya adalah pilih lingkungan
yang membuat kita bertumbuh, bukan yang menarik kita ke bawah. Karena kita akan
dipengaruhi oleh siapa-siapa orang terdekat. Topik yang sering kita dengar akan
membentuk cara berpikir kita. Dan energi di sekitar kita akan memengaruhi emosi
kita sendiri.
Bila pun ada di dekat kita orang yang gemar menceritakan keburukan
orang lain, secara perlahan tidak perlu dijauhi. Tapi cukup dengan mengalihkan
topik pembicaraan atau tidak ikut menanggapi. Dan lebih baik membatasi
intensitas pertemuan dengannya. Tapi jika lingkungannya benar-benar toxic, maka
menjaga jarak atau menghindarinya adalah bentuk menjaga kualitas diri.
Daripada membicarakan keburukan orang lain, lebih baik membaca buku.
Karena membaca buku dapat menambah wawasan dan membuat pikiran lebih terbuka.
Membaca buku juga memberikan ketenangan sekaligus membantu perkembangan diri.
Daripada waktu habis untuk membicarakan keburukan orang, membaca buku memberi
kita nilai tambah. Bertambah pengetahuan, wawasan, inspirasi, bahkan solusi
hidup. Seperti itulah kebiasaan yang dibangun pada anak-anak TBM Lentera
Pustaka di kaki Gunung Salak. Bahkan di bulan puasa, mereka melakukan
“ngabubu-read”, membaca buku sambil khataman al Quran setiap Minggu. Sebagai
upaya membentuk akhlak dan adab yang baik seja dini kepada anak-anak usia
sekolah.
Jadi, jangan pernah duduk bersama orang yang suka menceritakan
keburukan orang lain. Toh, setiap orang pasti ada buruknya. Bersikaplah untuk
selalu menjaga kualitas lingkungan pergaulan dan menjaga kesehatan mental.
Jadilah terang dan berjalanlah meski dunia terasa gelap sekalipun. Salam
literasi!
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar