Manusia adalah labirin rasa bersalah. Saling mencintai, menyakiti, lalu memaafkan. Saling membenci, menceritakan, lalu meminta maaf. Bahkan saling memuji di depan dan menghina di belakang, lalu memaafkan lagi. Begitulah cara kita memahami keberadaan kita di dunia, terus dan terus secara berulang-ulang.
Memang, manusia adalah labirin rasa bersalah. Saat salah terjadi, bisa
jadi “makanan empuk” bagi para pembencinya. Saat benar rampa di depan mata,
bisa jadi terperangah sejenak lalu “meniadakan” kebenaran yang jelas di depan
mata sekalipun. Diakui atau tidak, manusia memang labirin rasa bersalah atas
ulahnya sendiri.
Maka di momen Idul Fitri. Semuanya mengakui dalam hati tanpa perlu
diucapkan dengan mulut. Bahwa kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Di mata
orang lain, apalagi di mata Sang Pencipta. Kita, hanya seonggok daging
yang sedang diberi kesempatan untuk hidup. Sambil menunggu giliran untuk
“kembali” ke hadirat-Nya.
Jelas sudah, kita bukan yang paling hebat. Kita bukan pula yang paling
bijak, bukan mencari sanjungan. Tapi cukup hanya terus bertekad untuk
memperbaiki diri. Segudang salah dan khilaf yang meminta untuk dimaafkan.
Seorang pemain dalam labirin rasa bersalah. Salah, salah, dan salah lagi.
Esok, kita kembali belajar. Tentang kehidupan, tentang pergaulan, dan
tentang kebaikan. Setelah terjatuh, lalu bangkit dan terus melangkah lagi.
Entah dikenali dunia ramai atau sepi. Asal tetap bertekad, untuk berbuat baik
dan menebar manfaat. Segudang apapun prasangka orang lain.
Kita memang bukan manusia sempurna. Selalu terjebak pada labirin rasa
bersalah. Tapi kita tetaplah kita, yang selalu sadar atas salah dan khilaf diri
sendiri. Mengakui, menyatakan, dan meminta maaf selalu. Untuk esok yang lebih
baik lagi.
Kini, momen untuk memperbaiki diri itu telah tiba. Ucapan maaf itu
terucap berulang-ulang. Saatnya menata diri, Memperbaiki diri dan membiarkan
persepsi di benak orang lain. Karena hidup, ujiannya memang berat. Tapi
yakinlah, pertolongan Allah pasti dekat. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir
dan batin. Salam literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar