Mungkin saat ini, membangun sikap kedermawanan atau kemurahan hati kepada sesama bukan hal yang mudah. Selain banyak alasan untuk tidak bisa bertindak dermawan, selalu ada pro kontra soal sikap dermawan. Akhirnya, dermawan hanya tinggal kata-kata dan selalu diperdebatkan hingga lupa dipraktikkan.
Terlepas dari perdebatan soal sikap dermawan. Dermawan itu sifat dan
perilaku yang dimiliki seseorang yang suka beramal, bersedekah, dan memberikan
sebagian harta yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain tanpa paksaan.
Tentu kedermawanan harus dilandasi rasa ikhlas dalam bersedekah, tidak
mengharapkan imbalan, dan mau menyalurkan harta di jalan Allah. Selain menjadi
realisasi sikap menghargai saudara yang kurang mampu dan wujud syukur atas
nikmat yang diberikan Allah, sikap dermawan menjadi bukti nyata mencintai
sesama manusia atas dasar kemanusiaan.
Spirit kedermawanan adalah mau menolong orang lain dengan menyumbangkan
waktu, uang, dan tenaganya dalam perbuatan baik dan menebar manfaat. Bisa jadi,
sikap dermawan semakin langka di zaman now. Padahal, sikap dermawan sejatinya
dapat membersihkan jiwa dan memperkuat hubungan antar manusia. Siap dermawan
pun mampu menyingkirkan egoisme dan membuang kepentingan diri sendiri yang
berlebihan. Menjadi lebih murah hati kepada sesama.
Tentu saja, kedermawanan tidak akan membuat seseorang kekurangan.
Justru, memberi bisa memperkaya batin, mempererat hubungan sosial, dan membawa
kebahagiaan baik bagi pemberi maupun penerima. Siap dermawan atau murah hati,
sejatinya mencerminkan keyakinan bahwa kemurahan hati dan kebaikan tidak
bergantung pada kondisi materi. Memberi tidak selalu berupa harta; bisa juga
dalam bentuk perhatian, kasih sayang, atau dukungan emosional.
Prinsip kedermawanan atau murah hati itulah yang selalu dipelihara di
TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Berderma dengan menyediakan tempat
membaca ratusan anak-anak usia sekolah, mengajar calistung puluhan anak-anak
kelas prasekolah, memberantas buta aksara kaum ibu, dan menjalankan motor baca
keliling ke kampung-kampung yang tidak punya akses membaca. Bahkan secara
rutin, bersedekah untuk anak-anak yatim, kaum jompo, dan janda sebagai wujud
kepedulian sosial. Taman bacaan yang dijadikan ladang amal semua orang
sekaligus melatih sikap dermawan secara konkret, tanpa perlu perdebatan.
Karena sesungguhnya, kekayaan sejati bukan hanya diukur dari kepemilikan
materi, tetapi juga dari nilai-nilai kemanusiaan. Semakin banyak seseorang
memberi dengan ikhlas, semakin kaya pula hatinya. Praktikan sikap dermawan,
jangan hanya diperdebatkan. Uang niat baik jadi aksi nyata. Salam literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar