Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Desember 2025

Literasi Pekerjaan: Mau Jadi Self Employee?

Sudah sembilan tahun ini, hidup saya berubah. Bukan karena jabatan, bukan karena gaji. Tapi karena keputusan menjadi self-employee. Tidak lagi bekerja di suatu kantor, tidak lagi bekerja di perusahaan asuransi jiwa multinasional yang membesarkan karier saya. Kini tidak punya kantor tetap. Tidak ada ada atasan. Yang ada hanya diri sendiri dan tanggung jawab personal atas diri sendiri dan keluarga. Ini bukan pilihan hidup tapi jalan hidup.

 

Dari perjalanan karier yang sudah dilalui, bekerja untuk diri sendiri atau self employee memang tidak mudah. Tapi harus tetap dijalani sebagai bagian aktualisasi diri sekaligus menekuni “passion” yang sudah dibangun puluhan tahun. Setidaknya saya memperoleh 9 (sembilan) pelajaran hidup yang sangat penting, yaitu:

1.   Tidak ada yang menjamin selain diri sendiri. Self employee “memaksa” kita lebih cepat paham bahwa tidak ada gaji bulanan pasti, tidak ada HR yang melindungi, dan tidak ada pensiun otomatis. Maka tanggung jawab hidup ada pada diri sendiri, tidak sepenuhnya diserahkan ke sistem.

2.   Tidak ada yang aman soal pekerjaan. Dunia kerja itu rapuh, akibat politik kantor atau cara pandang yang berbeda. Maka kompetensi menjadi bagian penting yang harus dilatih selama bekerja agar siap saat harus self employee, yang kadang hari ini ada kerjaan besok belum tentua ada. Self employee tidak bergantung pada atasan atau kantor tapi pada diri sendiri.

3.   Disiplin lebih penting daripada penghasilan. Self employee yang bertahan bukan yang paling besar omzetnya, tapi yang punya kebiasaan disiplin dan menyisihkan uang. Bernai menunda konsumsi dan tetap konsisten. Ternyata kedisiplinan kecil lebih kuat daripada penghasilan besar yang tidak teratur.

4.   Risiko ada pada diri sendiri, bukan atasan atau kantor. Self employee tidak ada yang memaksa bangun pagi. Tidak ada yang menegur kalau malas. Kalau hari ini tidak disiplin, risikonya bukan pada atasan atau kantor tapi pada diri sendiri. Hati-hati, risiko selalu melekat pada self employee,

5.   Jaringan dan reputasi alat penting bekerja untuk diri sendiri. Sebab self employee hidup dari relasi, reputasi, dan kepercayaan. Tanpa itu sulit bisa bertahan. Peluang self employee sangat bergantung pada relasi, bukan pada promosi. Bertindak profesional menjadi kata kuncinya.


6.   Kerja keras saja tidak cukup. Banyak self employee bekerja lebih keras daripada karyawan, tapi tetap rentan. Karena itu, rencana yang jitu dan disiplin jadi variabel penting. Self employee poin-nya pada “self-manage” bukan di-manage oleh atasan atau kantor.

7.   Sadari fleksibilitas itu seperti “pedang bermata dua”. Kebebasan waktu dan cara kerja itu nikmat, tapi bila tanpa batas jadi mudah lengah. Tanpa rencana jadi mudah habis. Karenanya, kebebasan yang dimiliki self employee butuh struktur agar tidak menjadi jebakan.

8.   Masa depan datang tanpa pemberitahuan. Karena self employee paling cepat merasakan sakit = tidak ada pemasukan, sepi order = langsung terasa, dan usia bertambah = tenaga menurun. Masa depan tetap tidak terduga, tidak pernah menunggu kesiapan kita.

9.   Menabung sendiri itu berat. Beda dengan karyawan yang punya gaji bulanan, self employee harus mampu menabung dengan konsisten. Bila tidak maka akan ngos-ngosan dan cepat habis. Harus bijak mengatur keuangannya sendiri.

 

Jadi, self employee itu mengajarkan bahwa kemandirian sejati bukan berarti sendirian, melainkan tahu kapan harus berjalan kapan berhenti asal tetap menjaga relasi dan bersikap profesional. Dan ini penting untuk para pekerja di mana pun. Dari bekerja di kantor jadi bekerja untuk diri sendiri pasti bingung pasti takut. Tapi itu semua menjadi bagian dari proses untuk bertumbuh dan mampu menjadi “survivor” untuk diri sendiri, bukan untuk kantor atau atasan. Memang self employee jauh dari nyaman tapi mampu jadi opsi mengembgangkan passion dan potensi terbaik yang kita miliki.

 

Tentu, self employee bukan hal yang harus ditakuti. Tapi menjadi “kawah” yang membentuk kita untuk tetap profesional tanpa perlu diawasi. Bekerja untuk diri sendiri, bukan untuk atasan atau kantor. Dan jangan lupa, siapkan masa pensiun!



 

Jumat, 19 Desember 2025

Kasihan Orang Kerja, Fisiknya di Kantor Jiwanya di Tempat Lain

Nggak tahu kenapa, tiap akhir pekan banyak kawan yang ngeluh capek kerja. Katanya, lingkungan kantor mulai toxic, atasan micro manage, dan sikap saling menghargai udah mulai lenyap di kantor. Terus, kalua kerja udah seperti mau gimana dong?

 

Terus terang aja nih buat orang-orang yang kerja. Capek kerja itu wajar banget, namanya juga kerja. Mana ada kerja nggak capek? Justru yang nggak wajar itu kalua kita nggak pernah berhenti mikir, sebenarnya kita kerja untuk apa dan mau ngapain?

 

Sederhana sih, tujuan kebanyakan orang kerja itu bukan pangkat. Bukan soal pengen punya jabatan atau baik sama atasan. Asal kerja masih jalan, gaji masih aman, dan mental nggak mati pelan-pelan itu semua sudah cukup. Makanya, kalau ada orang kerja capek pasti bukan karena kerjaannya susah. Tapi karena terlalu banyak drama di kantor, atasan nggak neg-bossy banget, dan makin banyak teman kerja yang nggak bisa kerja tapi hobinya cari muka.

 

Maka kerja di mana pun harus hati-hati. Di zaman begini, banyak orang kerja tumbang alias resign cepat-cepat bukan yang bodoh. Tapi karena kebanyakan nurut, kebanyakan mikirin orang lain, dan kelamaan nahan apa-apa sendirian di kantor. Capek kerja itu tanda bukan dosa akibat kelamaan kuat sendirian.

 

Makanya  orang kerja harus punya sikap. Biar nggak tumbang di kantor, lebih baik kerjain saja hal-hal yang paling berdampak,  kerjaan lainnya menyusul. Sering-sering bilang “nanti ya gue cek dulu”, sebab nggak semua kerjaan harus dikerjain. Berhentilah mikirin kerjaan bila jam kantor usai. Dan nggak usah beresin semua urusan kantor dalam satu hari. Kerjaan itu nggak pernah beres, selalu ada terus bahkan sering diada-adakan. Ingat di kantor itu, semua kerjaan itu ada. Dari yang nggak masuk akal sampai yang masuk akal, Namanya juga kantor. Jadi, kerja juga butuh strategi jangan cuma kaca mata kuda kerja doang.

 


Capek kerja itu tanda bukan dosa. Capek juga bukan lemah tapi kelamaan kuat sendirian. Makanya, berusaha punya sikap tegas terhadap kerjaan. Selagi masih kuat silakan lanjut. Tapi bila sudah nggak kuat, pergi dan hindari demi kesehatan pikiran dan mental. Kalau mau sayang sama kesehatan bukan pada pekerjaan.

 

Nah buat orang kerja yang suka cari muka atau atasan yang micro manage juga harus mikir. Banyak teman kerja itu nggak suka politik kantor. Orang kantor yang lurus-lurus saja dan bangun kariernya setengah modar. Berangkat gelap pulang gelap. Mereka kerja keras untuk sekolah anaknya, untuk pengobatan orang tuanya, bahkan lagi menanggung sekolah adik-adiknya. Banyak orang kerja gajinya nggak seberapa tapi jadi tulang punggung keluarganya. Jadi, kalua mau cari muka atau micro manage jangan sampai nbikin karier orang kerja yang lurus sampai hancur. Sampai dipecat atau disuruh resign. Bersaing di kerjaan yang sehat saja. Kalau mau naik jabatan jangan menjatuhkan orang lain. Dan kalau sudah nggak suka kasih uang pesangon, jangan disuruh resign.

 

Hari gini, banyak orang kerja itu untuk aktualisasi diri bukan untuk kaya. Bahkan banyak orang kerja yang fisiknya di kantor tapi jiwanya sudah nggak nyambung sama kerjaannya. Akibat capek pikiran dan mental di tempat kerjanya. Anehnya, mereka kerja bertahun-tahun tapi nggak punya dana pensiun lagi. Terus kalau sudah berhenti kerja, mau ngapain? Jadi, hati-hati sesama orang kerja.


Kamis, 15 Desember 2022

Kerjaan Sampingan Pegiat Taman Bacaan Lentera Pustaka, Apa?

Banyak orang menyangka, pegiat taman bacaan dianggap orang yang tidak punya kerjaan. Makanya mengurus taman bacaan yang sifatnya sosial. Makin ke sini, tentu banyak orang bertanya. Apa sih sebenarnya pekerjaan pegiat taman bacaan? Kok, mau-maunya mengisi hari-harinya hanya untuk aktivitas di taman bacaan. Nggak ada uangnya, nggak banget bila diukur dari sisi duniawi atau material.

 

Jangan lupa motif seseorang kerja itu berbeda-beda. Ada yang untuk pendidikan anak. Ada pula yang untuk punya ini punya itu, pengen kaya, dan ada pula yang hanya untuk aktualisasi diri. Namun sebagian besar, motifnya dalah untuk mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, bekerja memang harus mendapatkan imbalan berupa gaji atau penghasilan. Kerja, dapat uang, dan cukup. Itulah yang dimau banyak orang.

 

Jadi, pekerjaan pegiat taman bacaan apa?

Pegiat taman bacaan pasti punya kerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk anak dan keluaragnya. Itu wajib hukumnya. Tapi pegiat taman bacaan punya hati untuk mengabdi kepada sesama sekaligus menebar manfaat kepada orang lain. Kan ajarannya “khoirunnaass anfa’uhum linnaass”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

 

Sebagai contoh saya sendiri. Tiap week end (Sabtu-Minggu) selalu berada di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Hanya untuk membimbing aktivitas taman bacaan, di samping sebagai ladang amal. Hingga kini, saya jalani dengan penuh komitmen, konsisten, dan sepenuh hati. Insya Allah. Dan patut diketahui, tiap tahun, TBM Lentera Pustaka selalu punya sponsor CSR yang mendukung operasional dan aktivitas taman bacaan. Maka memang taman bacaan harus dikelola secara professional dan dapat dipertanggung-jawabkan.

 


Saya sendiri kerjaannya apa?

Untuk yang mengenal saya, tentu tahulah apa pekerjaan saya. Jadi dosen sudah 28 tahun lebih, seoarang direktur eksekutif di asosiasi, dan konsultan. Alhamdulillah-nya, mulai awal Desember 2022 ini hingga 6 bulan ke depan, saya diminta menjadi konsultan expert untuk perusahaan IT. Untuk mendampingi "membangun sistem IT" pada bidang yang saya kuasai. Ini hanya kerjaan sampingan. Hanya 2 kali seminggu datang, Tapi bayarannya Rp. 25 juta per bulan. Alhamdulillah, cukuplah untuk jadi sponsor CSR di TBM Lentera Pustaka selama setahun. Padahal sebelumnya, saya tidak kenal mereka sama sekali. Entah gimana, kok ada jalannya bisa bertemu dan bersinergi. Bila sistem IT sudah ok berjalan, selepas itu saya pun diminta tetap jadi konsultan atau komisaris di perusahaan IT yang akan dibentuk nantinya. Begitulah nyatanya.

 

Pekerjaaan tidak melulu soal uang. Tapi tentang bagaimana pekerjaan itu mampu menjadi berkah. Nah, itulah hubungan terpenting taman bacaan dan pekerjaan. Aktivitas dan bersosial di taman bacaan sebagai ladang amal itulah yang "memanggil" rezeki dan semua kebaikan untuk menghampiri saya. Saat berada di taman bacaan, seratus persen saya dinaungi kebaikan, keberkahan, dan begitu mudah segala sesuatunya. Sangat benar, siapa yang berbuat kebaikan maka akan kembali kepada dirinya. Dan sebaliknya, siapa yang berbuat jahat, maka keburukan pun akan menimpanya. Cepat atau lambat, begitulah hukumnya.

 

Terkadang, orang harus tahu. Siapapun harus memahami. Tidak cukup kerja keras urusan dunia tanpa membangun keberkahan dan ladang amal. Maka harus ada perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh komitmen, konsisten, dan sepenuh hati untuk orang lain. Sekalipun hanya menghadirkan senyum untuk orang lain, apalagi mampu menghilangkan kelaparan pada orang-orang yang membutuhkan uliuran tangan kita.

 

Dan yang paling penting untuk pegiat taman bacaan. Jangan pernah urus yang bukan urusan kita. Jangan pernah cari tahu yang tidak berguna untuk diketahui. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka