Ini hanya sebuah cerita literasi. Dulu, ada seorang pria yang setiap pagi duduk di teras rumahnya sambil menikmati secangkir kopi. Suatu hari, seorang teman bertanya, “Kenapa cuma satu cangkir? Kalau enak, bukankah lebih nikmat minum sebanyak-banyaknya?” sang pria pun hanya tersenyum dan menjawab, “Justru karena hanya secangkir, aku bisa benar-benar menikmatinya.” Dari sana, ia mulai menyadari bahwa banyak hal dalam hidup memang terasa indah bukan karena jumlahnya banyak, melainkan karena kita mampu menikmatinya dengan penuh kesadaran.
Ia teringat pada semangkuk
mie ayam yang selalu terasa begitu nikmat ketika disantap perlahan. Bukan
karena porsinya besar, tetapi karena setiap suapan dinikmati tanpa
terburu-buru. Begitu pula dengan pelangi. Keindahannya justru terasa istimewa
karena tidak berlangsung lama. Jika pelangi muncul sepanjang hari, mungkin
orang tidak lagi berhenti untuk mengaguminya. Rupanya, keterbatasan sering kali
membuat sesuatu menjadi lebih berharga.
Dalam perjalanan hidup,
manusia sering terjebak dalam keinginan untuk memiliki lebih banyak: lebih
banyak uang, lebih banyak makanan, lebih banyak waktu, bahkan lebih banyak
kesenangan. Kita mengejar semuanya tanpa sadar bahwa terlalu banyak justru bisa
menghilangkan rasa. Apa yang awalnya membahagiakan dapat berubah menjadi
kebiasaan yang hambar ketika dinikmati tanpa batas. Bukan berarti kita tidak
boleh memiliki lebih, tetapi kita perlu tahu kapan harus merasa cukup.
Karenanya, hidup itu bukan
tentang seberapa banyak yang bisa kita miliki, melainkan seberapa dalam kita
mampu mensyukuri apa yang kita punya. Kopi cukup secangkir, mie ayam cukup
semangkuk, dan pelangi cukup hadir sesaat untuk membuat kita tersenyum. Karena
pada akhirnya, segala sesuatu terasa lebih bermakna ketika dinikmati
secukupnya, bukan semaunya.
Kopi enak karena secangkir,
bukan segalon. Mie ayam nikmat karena semangkok, bukan sebaskom. Pelangi indah
karena muncul sebentar, bukan sehari penuh. Dan ternyata, segala sesuatu terasa
lebih baik ketika kita menikmati secukupnya, bukan semaunya. Salam literasi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar