Tampilkan postingan dengan label literasi kampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi kampung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2026

Ketika Kampung Menjadi Ruang Belajar: Syarifudin Yunus dan Gerakan Literasi Lentera Pustaka

Di tengah kehidupan kampung yang sederhana, Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor hadir membawa sebuah gerakan kecil dengan makna yang besar: menyediakan akses bacaan bagi anak-anak kampung. Di tempat ini, buku bukan sekadar kumpulan halaman yang penuh tulisan, tetapi menjadi jendela untuk mengenal dunia, menemukan pengetahuan, membangun imajinasi, dan menumbuhkan mimpi. Anak-anak datang, duduk bersama, membuka buku, membaca, berdiskusi, dan menikmati kegembiraan belajar dalam suasana yang akrab.

 

Lentera Pustaka tumbuh dari keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk membaca, tanpa memandang dari mana mereka berasal. Keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru dari ruang sederhana inilah semangat literasi terus dinyalakan. Ada anak yang membaca cerita, ada yang menikmati buku pengetahuan, ada pula yang sekadar membuka-buka halaman dengan rasa ingin tahu. Dari kebiasaan kecil itu, perlahan tumbuh kecintaan terhadap buku dan pengetahuan.

 

Gerakan ini dikelola oleh Syarifudin Yunus, seorang akademisi sekaligus pegiat literasi yang konsisten menghidupkan budaya membaca di tengah masyarakat. Baginya, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca kata demi kata, tetapi tentang membangun manusia yang mampu berpikir, memahami kehidupan, dan memiliki keberanian untuk bermimpi. Karena itu, ajakan “Ayo Membaca” terus disuarakan sebagai gerakan sederhana yang dapat dilakukan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

 


Yang menarik, aktivitas di Lentera Pustaka bukan sekadar kegiatan meminjam dan mengembalikan buku. Anak-anak diajak menjadikan membaca sebagai pengalaman yang menyenangkan. Mereka berkumpul, membaca bersama, saling bercerita, menggambar, berdiskusi, dan belajar mengekspresikan gagasan. Di sinilah taman bacaan menjadi ruang tumbuh: tempat anak-anak belajar mengenal buku sekaligus belajar mengenal dirinya sendiri, teman-temannya, dan dunia yang lebih luas.

 

Taman Bacaan Lentera Pustaka adalah cahaya kecil yang terus dijaga agar tidak padam. Dari kampung, gerakan membaca itu tumbuh menjadi harapan bahwa anak-anak hari ini akan menjadi generasi yang lebih berpengetahuan, percaya diri, dan mampu menentukan masa depannya. Sebab setiap buku yang dibuka adalah satu langkah menuju pengetahuan, dan setiap anak yang membaca adalah satu harapan bagi masa depan. Maka, seperti pesan yang terus disampaikan Syarifudin Yunus: “Ayo membaca, karena dari membaca kita menyalakan lentera untuk masa depan.”