Tampilkan postingan dengan label Vaksin Covid-19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vaksin Covid-19. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 April 2021

Literasi Vaksinasi: Biar Sudah Vaksin 2 Kali, Apa Tidak Boleh Sakit?

Kawan saya kemarin tanya. “Kok itu istri Ridwan Kamil sudah 2 kali vaksin masih positif Covid-19?”. Agak bingung juga jawabnya ya.

 

Tapi begini. Saya sendiri pun sudah 2 kali vaksin Covid-19. Dan niatnya, vaksin sebagai ikhtiar sehat. Usaha untuk tetap bisa sehat di tengah wabah Covid-19 yang belum mereda. Protokol Kesehatan, bahkan larangan mudik juga bagian dari ikhtiar sehat. Jadi, vaksin itu jalan ikhtiar bukan penentu kesehatan seseorang. Rumusnya sederhana, hak sehat dan sakit seseorang itu murni urusan Allah SWT.

 

Lalu, apa vaksin sudah 2 kali pasti sehat? Ya jawabnya belum tentu.

Karena vaksin itu hanya ikhtiar. Bukan jaminan pasti sehat. Bukan jaminan tidak sakit. Katanya hidup sehat itu pilihan. Maka vaksin pun bisa jadi pilihan. Vaksin, hanya ikhtiar memilih jalan untuk sehat. Apalagi manusia kan serba terbatas. Mudah capek, mudah sakit, bahkan mudah pula marah-marah atau sombong. Maka siapa pun juga butuh ikhtiar untuk menetralisir. Sambil tetap waspada dan berjaga-jaga.

 

Ikhtiar itu hak manusia. Tapi hasil itu hak Allah. Jangan dicampur aduk.

Anak sekolah belajar setiap malam kan bukan untuk juara kelas. Membaca buku setiap hari pun tidak harus pintar. Atau pasangan suami istri pun tiap hari berhubungan kan bukan harus selalu jadi anak. Itu semua ikhtiar untuk menjalankan hak manusia. Kalau hasil yang serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Siapapun boleh punya ilmu tinggi. Boleh punya profesi mentereng. Atau punya kekayaan tiada batas. Tapi itu bukan jaminan untuk jadi manusia baik atau sehat. Ilmu tinggi, profesi mentereng, kekayaan banyak itu tidak berguna bila salah pakai atau tidak bermanfaat untuk orang lain.

 


Maka sederhana. Jadikan ikhtiar kita sebagai senjata kesehatan, ikhtiar sebagai peluru kebaikan. Karena ikhtiar berarti berusaha. Mau bergerak untuk menggapai sesuatu, menuju ke keadaan yang lebih baik, lebih sehat. Termasuk urusan vaksin Covid-19 pun hanya ikhtiar. Harus tetap diikuti doa. Dan selebihnya biarkan Allah SWT yang bekerja untuk hamba-Nya.   

 

Seperti kisah Nabi Ya’qub. Salah satu Nabi teladan bagi umatnya  dalam kehidupan berkeluarga. Namun keteladanan Nabi Ya’qub pun tidak lantas menjadikan anak-anaknyatumbuh menjadi anak-anak yang soleh. Dari 12 anak yang ada, hanya 2 orang yang soleh serta menjalankan perintah dan keteladanan ayahnya. Jadi, kebaikan dan keteladanan pun sejatinya tidak cukup bikin anak-anak soleh. Karena hak kesolehan pun datangnya dari Allah. Maka ikhtiar baik, lagi-lagi diperlukan dalam hidup manusia.

 

Maka tetaplah ikhtiar baik sambil menjaga pikiran baik pula. Jangan sampai terkecoh. Lalu besok lagi bertanya, kok tidak punya sakit apa-apa meninggal dunia? Wallahu a’lam bishowab. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #BudayaLiterasi #PegiatLiterasi

Kamis, 18 Maret 2021

Literasi Vaksin Covid-19, Jangan Berpikir Apriori dan Tidak Menyembuhkan

Kemarin, saat ikut vaksin Covid-19 di Istora Senayan. Kawan saya cerita, teman sekelasnya meninggal dunia akibat Covid-19. Seorang Bapak berumur 52 tahun. Padahal minggu lalu, anaknya yang meninggal. Sementera orang tua dan istrinya, kini masih dirawat di RS. Keluarganya tidak ada yang mengantar ke kubur. Karena sekeluarga sedang diuji, terkena Covid-19. Sedih dan mengharukan. Itu berarti, almarhum teman kawan saya itu termasuk dari 39.000 korban meninggal dunia akibat Covid-19 di Indonesia. Itu nyata dan fakta.

 

Akibat Covid-19 pula. Jutaan anak belum bisa sekolah. Orang kerja pun terpaksa nongkrong di rumah. Hari ke hari korban terus bertambah. PSBB dengan segala jenisnya terus dilakukan. Razia protokol kesehatan kian digencarkan. Itu semua hanya cara untuk mencegah agar Covid-19 tidak kian mewabah. Termasuk vaksinasi Covid-19 yang baru saja dilakukan.

 

Harus bisa dipahami, Covid-19 itu penyakit menular. Tapi tidak jelas gimana menularnya dan siapa yang menularkan? Berbeda dengan sakit demam, yang bisa sembuh sendiri asal “dinikmati” dan banyak istirahat. Lalu, apa obat Covid-19? Seluruh dunia pun bilang belum ada obatnya. Hanya vaksin yang bisa dilakukan. Untuk mencegah penularan Covid-19. Jadi, vaksin murni hanya ikhtiar untuk sehat. Agar tidak tertular, untuk menekan angka penyebaran. Apalagi seperti saya yang bukan dokter. Maka apalagi bila tidak ikut vaksin. Ikhtiar sehat lalu banyak berdoa. Insya Allah.

 

Sementara di luar sana. Berapa banyak orang yang apriori terhadap vaksin Covid-19. Berkomentar miring tentang vaksin. Berdiskusi tentang vaksin tapi dari sisi jeleknya saja. Dari soal bahan baku, status halal atau tidaknya, negara produsen vaksin, hingga efek samping. Biar orang lain takut divaksin. Lalu, korban makin berjatuhan. Entah, diskusi apa lagi yang mereka akan katakan? Kejelekan apalagi yang akan ditebarkan? Terlalu apriori.


 

Apriori pun bisa terjadi di taman bacaan. Anak yang baca bukan anak kita. Kampung pun bukan tanah kelahiran. Mau maju atau tidak, biar saja urusan mereka. Mau punya masa depan atau tidak pun tidak ada hubungannya dengan kita. Maka, untuk apa di taman bacaan? Buang-buang waktu saja. Itulah contoh cara berpikir apriori terhadap taman bacaan.  

 

Maka ketahuilah, salah satu musuh gerakan literasi adalah pikiran apriori yang terlalu mudah mengorbankan masa depan anak atau kesehatan untuk kebahagiaan yang semu. Lalu, menebarkannya agar banyak orang apatis alias berdiam diri. Tanpa mau ikhtiar. Seperti vaksin, taman bacaan itu bagian dari ikhtiar. Agar lebih sehat, lebih berdaya dan survive di masa depan.

 

Dalam literasi vaksin. Covid-19 itu penyakit. Maka setiap penyakit harus dicari obatnya, harus disembuhkan. Bukan dijadikan cuma diomongin atau dikomentarin. Virus harus dihalau penularannya. Soal bagaimana caranya? Tentu, orang yang kompeten yang paham. Maka siapapun harus peduli, minimal empati. Bukan malah sibuk dengan urusan yang “tidak menyembuhkan”.

 

Ikhtiar untuk sehat itu penting. Karena hanya ada 3 kemungkinan yang bisa bikin Covid-19 lenyap. Yaitu 1) virus itu mati bila manusianya sehat dan imunitas tubuhnya kuat, 2) virus itu mati bila lingkungan sosialnya bersih dan pikirannya sehat, atau 3) virus itu mati karena manusianya mati.

 

Vaksin Covid-19 itu hanya salah satu ikhtiar untuk sehat. Setelah itu berdoalah yang baik. Selebihnya serahkan kepada langit, kepada Allah SWT yang maha kuasa. Karena apapun yang terjadi, sungguh atas kehendak-Nya. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

IKA UNJ Tegaskan Vaksinasi Covid-19 Sebagai Ikhtiar Sehat

Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung di Indonesia. Upaya mencegah penularan pun harus menjadi prioritas. Selain patuh terhadap protokol kesehatan, vaksinasi yang kini dilakukan adalah pilihan. Apalagi bagi dunia pendidikan, vaksinasi boleh dibilang jadi keharusan. Utamanya, jelang diterapkannya pembelajaran tatap muka di sekolah pada tahun ajaran baru 2021/2022 mendatang.

 

Dalam kaitan itu, IKA UNJ (Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta) hari ini mengimbau dunia pendidikan untuk mengikuti vaksinasi Covid-19. Komitmen ini pun ditunjukkan IKA UNJ yang hari ini mengikuti vaksinasi Covid-19 melalui “Vaksinasi Bersama BUMN untuk Indonesia” di Istora Senayan Jakarta (18/03). Disaksikan Ketua Umum IKA UNJ, Juri Ardiantoro, beberapa pengurus IKA UNU seperti Suherman Saji (Sekjen), Syarifudin Yunus, Yus Octavia, Diana Sinta, termasuk Dr. Sofia (Dekan FIP UNJ) menerima suntikan vaksin tahap 1 bersama karyawan BUMN dan kaum lansia.

 

"Vaksinasi Covid-19 ini merupakan ikhtiar untuk mencegah penularan Covid-19. Agar pandemic berangsur berakhir. Untuk itu, IKA UNJ mengimbau masyarakat dan dunia pendidikan mengikuti vaksinasi Covid-19 sesuai jadwalnya nanti. Sebelum belajar tatap muka di sekolah, pendidik maupun tenaga kependidikan harus vaksin terlebih dulu " ujar Juri Ardiantoro di Istora Senayan sore ini.


 

Sebagai upaya pencegahan Covid-19, IKA UNJ berharap pendidik dna tenaga kependidikan dapat memberi teladan terhadap program vaksinasi nasional. Hal ini sekaligus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan kalangan dunia pendidian akan pentingnya kesadaran diri menjaga kesehatan.

 

Selain itu, IKA UNJ pun mengajak dunia pendidikan ikut aktif melakukan edukasi vaksin ke masyarakat. Agar tidak ada berita hoaks atau provokasi di media sosial. Baik soal bahan baku vaksin, status halal atau tidaknya vaksin, negara produsen vaksin, hingga efek samping vaksin. Sehingga masyarakat jadi takut untuk divaksin. Maka dunia pedidikan sangat pantas menggaungkan sosialisasi pentingnya vaksinasi dan hidup sehat di masyarakat.

 

“Alhamdulillah, saya ikut vaksin Covid-19 ini lancer. Prosesnya cepat dan tidak merasakan ada efek samping. Vaksinasi ini kan bagian dari ikhtiar sehat kita. Jadi, siapa pun perlu ikutri vaksinasi. Agar pandemic Covid-19 bisa segera berakhir” kata Syarifudin Yunus, Wasekjen IKA UNJ yang ikut divaksin hari ini.

IKA UNJ pun mengajak masyarakat untuk bersinergi untuk menuntaskan program vaksinasi nasional. Agar aktivitas dan kualitas hidup masyarakat dan bangsa Indonesia berangsur pulih ke depan. #IKAUNJ #VaksinCovid19