Tampilkan postingan dengan label Tamann Bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tamann Bacaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2023

Pegiat Literasi Dilarang Mengutuk Pagi, Membenci Hujan

Karena kecewa dan tidak terima hujan di pagi hari, keluarlah ucapan atau tulisan di media sosial begini, "Yah sialan hujan. Kok nggak berhenti-henti. Gue nggak bisa ngapain-ngapain dong."

 

Ungkapan seperti itu, sering kita jumpai dalam pergaulan hidup sehari-hari atau di grup WA. Sebagai luapan perasaan atau emosi karena motif tertentu. Disadari atau tidak, banyak orang terlalu sering mengutuk pagi bahkan memarahi hujan. Tidak suka lalu menghujat pemimpin, mencaci orang lain, atau iri pada orang lain yang sukses. Lau berkata-kata yang buruk, berdoa jelek, hingga berharap orang lain sengsara. Entah, terang-terangkan atau hanya dalam hati. Kok bisa berbuat begitu?

 

Jangan terlalu mudah mengutuk pagi atau memarahi hujan. Apalagi mencaci dan menghujat orang lain. Siapapun dia, apapun alasannya. Karena cacian, hujatan, bahkan kebencian tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Berkata-kata buruk dan negatif itu tercela dan dilarang, bila paham. Kenapa terlalu gampang melaknat atau mengutuk?

 

Waktu pagi itu hadir bukan untuk dikutuk. Tapi disyukuri karena bertabur rahmat-Nya. Hadirnya sinar matahari selalu memberi harapan kepada siapapun. Saat pagi hadir di depan mata, di situlah ada kesempatan berharga. Untuk bersyukur dan meniatkan berkata dan berbuat yang baik. Karena masih diberi kesempatan bernapas, berpikir, menikmati pagi apapun keadaannya.

 

Jangan pernah mengutuk pagi, jangan membenci hujan. Karena di luar sana, ada jutaan orang merindu hujan. Ada jutaan manusia lebih suka hujan daripada kemarau. Seperti pagi, hujan pun pasti ada orang-orang yang menanti kehadirannya. Tanpa peduli, ada yang membenci atau mencintainya. Karena semua yang datang untuk manusia, adalah anugerah dan karunia-Nya yang tidak mungkin bisa dibantah atau diperdebatkan.

 


Pagi adalah realitas, hujan adalah kenyataan. Jalani, hadapi, dan nikmatilah apa adanya. Tanpa kutukan, hujatan atau kebencian. Untuk apa menghakimi pagi tanpa berani menikmatinya? Untuk apa mengutuk pagi tanpa berani memperbaiki diri pada setiap waktu. Untuk memilih kebaikan, menebar manfaat kepada sesama-Nya.

 

Pagi bukan hukuman, hujan pun bukan penjara. Siapapun berhak menikmati pagi. Hanya pagi dan hujan yang tidak mengenal pangkat, jabatan, harta atau status sosial. Kaya miskin pasti menemui pagi. Sebagai bukti, bahwa manusia hakikatnya sama di hadapan Ilahi Rabbi. Hanya iman dan takwa yang membedakannya.

 

Maka jangan mengutuk pagi atau membenci hujan. Karena pagi, selalu mengajarkan siapapun. Untuk lebih berani "introspeksi diri" bukan "mengoreksi keadaan atau orang lain". Agar bersedia memperbaiki diri sambil menerima realitas. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 

Minggu, 10 April 2022

Catatan Literasi TBM Lentera Pustaka, Salah Bantal dan IQ Orang Indonesia

Mungkin belum banyak orang tahu. Bahwa Indonesia itu negara dengan jumlah universitas terbanyak ke-3 di dunia. Ada 2.595 universitas, hanya di bawah dari India dan USA. Tapi di atas dari Cina, Brazil atau Jepang sekalipun. Memang sih jumlah universitas secara kuantitatif tidak berbanding lurus dengan kualitas. Contoh sederhana, mungkin ini subjektif ya. Tidak sedikit, justru di negeri ini orang kuliah karena ingin sukses dan kaya. Bukan agar ilmunya bermanfaat untuk orang lain.

 

Bahkan di beberapa grup WA, alumni universitas malah lebih sering ngomongin orang lain alias gibah. Atau berdiskusi tentang kehidupan setelah mati, yang jelas-jelas bukan areanya. Apalagi menyalah-nyalahkan cara beragama orang lain. Kalau sudah begini, kadang kangen berada di grup alumni yang kerjanya ngobrolin ilmu-ilmu saat dipelajari Bersama-sama dulu. Sehingga bisa bikin sesuatu yang lebih maslahat dan punya inovasi setelah lulus untuk menebar manfaat kepada sesama.

 


Ada hubungannya dengan IQ tidak ya?

Menurut laporan World Population Review terbaru (2022), rata-rata IQ orang Indonesia 78,4. Angka ini di bawah rata-rata IQ dunia, yakni 82. Sementara di Laos 89, Singapura 108, dan Korea Selatan 106. Maaf ya bukannya pesimis. Mungkin dengan rata-rata IQ seperti itu memang agak susah mengharapkan aksi-aksi nyata yang bermanfaat besar untuk bangsa ini. Kesannya, jadi sebatas jago ngomong tapi kosong dalam tindakan.

 

Apa implikasinya, ya begini deh. Trading online yang tidak jelas saja dikagumi walau akhirnya dipenjara. Makin berpendidikan, kok hoaks dan ujaran kebencian malah makin marak. Ngasih makan tidak, nyekolahin tidak tapi kalau sudah ngomongin orang kayak yang ngelahirin saja. Maka jangan heran kalau ustas, motivator, dan penebar dusta jadi laku keras.

 

Banyang orang lupa. Untuk terhindar dari masalah atau menghindari hal-hal jelek pun membutuhkan kecerdasan.  Apalagi untuk memahami temuan-temuan ilmiah dan kebaikan yang dikerjakan. Pasti juga butuh modal intelektual minimal. Kecerdasan itu paripurna, harus melibatkan logika dan hati. Maka pantas, banyak orang kesulitan menerima pikiran-pikiran ilmiah. Apalagi pemilik IQ di bawah rata-rata. Gitu kali ya.

 

Akibatnya jadi fatal. Hari ini banyak orang gemar menyalahkan orang lain daripada menyalahkan diri sendiri. Buktinya di sini, leher pegel bilangnya “salah bantal”. Memang susah menyelahkan diri sendiri. Bantal saja sampai-sampai disalahin. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Minggu, 27 Maret 2022

Kampanyekan Global Money Week, Bank Sinarmas Edukasi Keuangan Pelajar

Dihadiri 50 anak-anak usia SD dan SMP, Bank Sinarmas menggelar edukasi keuangan akan pentingnya menabung sejak dini kepada anak-anak Taman Bacaan Lentera Pustaka ()27/02/2022). Kegiatan ini dilakukan dalam rangka Global Money Week (GMW) 2022 yang bertujuan untuk  menyampaikan pentingnya anak-anak mempersiapkan masa depan melalui keputusan finansial yang tepat.

 

Bertajuk “Build your future, be smart about money”, Bank Sinarmas menekankan pentingnya sikap bijak dalam memperlakukan uang melalui bank. Dikemas dalam suasana santai dan menghibur, edukasi pentingnya menabung ini sebagai upaya meningkatkan tingkat literasi keuangan anak-anak di wilayah Kaki Gunung Salak Bogor. Agar nantinya, anak-anak usia sekolah dapat merencanakan aspek keuangan sejak dini.

 

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) pada 2019 disebutkan adanya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan kelompok pelajar atau mahasiswa sebesar 46,7%. Di mana tingkat literasi keuangan kelompok tersebut adalah 31,69% sedangkan tingkat inklusi keuangan kelompok sebesar 78,39%. Karena itu, edukasi keuangan di kalangan pelajar penting dilakukan. Melalui edukasi keuangan yang baik, anak-anak usia sekolah diharapkan mampu merencanakan masa depan mereka secara berkualitas.

 

“Di era digital sekarang, anak-anak usia sekolah harus diajarkan pentingnya menabung. Karena itu, Bank Sinarmas sebagai sponsor CSR TBM Lentera Pustaka pun berkomitmen meningkatkan literasi finansial sebagai bagian kampanye Global Money Week. Agar ke depan, anak-anak mampu memperlakukan uang dengan bijak, di samping membangun animo dalam menabung dan menggunakan jasa bank di masa depan” ujar Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka sebagai edukator literasi keuangan di sela acara.

 


Global Money Week (GMW) merupakan kampanye peningkatan kesadaran global tahunan yang dikoordinir oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) terkait pentingnya para pelajar dan kaum muda untuk memiliki kesadaran finansial sejak dini. Agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang lebih bijak dalam mengelola uang. Termasuk edukasi literasi keuangan digital agar terhindar dari bahaya investasi online yang illegal atau online trading bodong bermotif investasi seperti yang kini marak terjadi.

 

Sebagai sponsor CSR di Taman Bacaan Masyarakat Lentera Pustaka, Bank Sinarmas secara aktif melakukan edukasi literasi keuangan, khususnya bidang perbankan dan keuanga. Hal ini sekaligus menjadi bukti kepedulian untuk peningkatan aktivitas literasi di masyarakat Indonesia yang dijalankan bank swasta nasional di Indonesia.