Tampilkan postingan dengan label Peran TBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peran TBM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2026

Jawa Barat Tertinggi, Ini Faktor Penyebab dan Solusi Angka Putus Sekolah Dasar di Indonesia

Angka putus sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD) masih menjadi tantangan mendesak bagi pemerataan pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data hingga Desember 2024, Provinsi Jawa Barat mencatatkan angka anak putus sekolah dasar tertinggi secara nasional, yakni mencapai 114.513 anak. Secara akumulatif, empat provinsi di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten) mendominasi dengan menyumbang 59,8% dari total kasus pada daftar sepuluh provinsi tertinggi di Indonesia.

 

Kondisi putus sekolah ini tidak hanya mencakup murid yang berhenti di tengah jalan, tetapi juga lulusan SD/sederajat yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Di luar Pulau Jawa, daerah seperti Sumatra Utara (39.553 anak), Sulawesi Selatan (32.584 anak), dan Sumatra Selatan (29.622 anak) turut mencatatkan angka yang signifikan. Data ini memperlihatkan bahwa risiko terhentinya akses pendidikan dasar terjadi secara merata, baik di wilayah padat penduduk maupun kawasan berkembang. Berikut adalah rincian 10 provinsi dengan angka putus sekolah dasar tertinggi se-Indonesia:

1.       Jawa Barat: 114.513 anak

2.       Jawa Tengah: 59.662 anak

3.       Jawa Timur: 57.026 anak

4.       Sumatra Utara: 39.553 anak

5.       Sulawesi Selatan: 32.584 anak

6.       Sumatra Selatan: 29.622 anak

7.       Banten: 28.794 anak

8.       Riau: 26.881 anak

9.       Kalimantan Barat: 23.765 anak

10.    Lampung: 22.028 anak

Kategori angka putus sekolah ini mencakup anak yang dikeluarkan dari sekolah serta lulusan SD/sederajat yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP/sederajat.

 

Berbagai kajian mengindikasikan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga menjadi akar masalah utama. Walaupun biaya sekolah negeri disubsidi, pengeluaran operasional harian seperti biaya transportasi, seragam, dan alat tulis tetap menjadi beban berat bagi keluarga miskin. Hal ini diperparah oleh adanya tekanan bagi anak untuk bekerja membantu mencari nafkah, rendahnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya sekolah, serta keterbatasan sarana fisik dan transportasi di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).

 


Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) hadir sebagai solusi akar rumput yang sangat potensial. TBM tidak hanya menyediakan akses buku bacaan gratis, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang belajar inklusif yang menyenangkan untuk membangkitkan kembali minat belajar anak. Melalui pendekatan komunitas, pengelola TBM aktif mengedukasi orang tua, memberikan pendampingan belajar tanpa biaya, serta memfasilitasi anak yang telah putus sekolah agar dapat masuk ke jalur pendidikan kesetaraan (Paket A). Pegiat literasi dan pengelola TBM Lentera Pustaka sekaligus dosen Unindra, Syarifudin Yunus, menuturkan, "Taman bacaan masyarakat hadir bukan sekadar tempat membaca buku gratis, melainkan benteng edukasi untuk meredam angka putus sekolah melalui pendampingan belajar yang menyenangkan, pemulihan motivasi anak, dan edukasi bagi orang tua."

 

Upaya menekan angka putus sekolah membutuhkan kolaborasi erat antara kebijakan pemerintah, bantuan dana pendidikan yang tepat sasaran, dan penguatan peran gerakan masyarakat seperti TBM. Dengan memperluas jaringan taman bacaan hingga ke pelosok desa dan membebaskan beban biaya pendampingan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. Salam literasi! #TBMLenteraPustaka #PutusSekolah #GerakanLiterasi



Jumat, 27 Agustus 2021

PJJ Kian Bikin Stres, TBM Lentera Pustaka Siapkan Akses Bacaan Anak di Masa Pandemi Covid-19

Akibat pandemi Covid-19 yang terus berkepanjangan, anak-anak sekolah “terpaksa” harus belajar dari rumah. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berkepanjangan akhirnya menimbulkan tekanan psikologis terhadap siswa. Apalagi siswa yang sulit adaptasi dengan teknologi, termasuk yang tidak punya akses internet dan gawai yang memadai. Alih-alih efektif, PJJ malah bikin stress siswa. Itulah fakta siswa yang terjadi di banyak daerah, seperti di kaki Gunung Salak Bogor.

 

Suka tidak suka, pandemi telah membuat siswa kehilangan masa-masa belajar sesungguhnya. Bahkan hubungan sosialnya pun terganggu. PJJ pun diperburuk dengan tuntutan belajar yang tinggi. Tugas pelajaran menumpuk. Namun waktu mengerjakannya sempit. Dan para siswa kehiangan waktu untuk aktualisasi diri. PJJ kian menjenuhkan dan melelahkan. Hingga psikologis tertekan lalu emosi siswa jadi tidak stabil. Padahal siswa SD, SMP, maupun SMA, sejatinya membutuhkan kontak dalam belajar atau sosialisasi yang tinggi. Agar dapat belajar mengenali lingkungan, berinteraksi, dan beradaptasi dengan teman-teman sebaya.

 

Lalu, apa yang bisa dilakukan terhadap anak-anak atau para siswa di saat pandemi?

Inilah momentum penting untuk kian “akrabkan siswa dengan buku”. Saatnya mengajak anak-anak untuk lebih banyak membaca daripada bermain gawai. Saatnya menjadikan buku baca sebagai “sahabat baru” para siswa dan anak-anak di manapun. Berikan anak-anak akses untuk membaca, baik secara luring maupun daring.

 

Karena dengan buku, anak-anak dapat membaca dengan gayanya sendiri. Sambil menonton atau menikmati cemilan. Asal sambil membaca buku. Akrabkan anak dengan buku, bukan lagi soal minat baca. Tapi soal pembiasaan untuk wujudkan perilaku membaca anak. Untuk itu, diperlukan keterlibatan semua pihak. Agar perilaku membaca dapat mengimbangi gempuran era digital, di samping menjadikan gerakan literasi menjadi lebih nyata. Daripada memberikan tugas pelajaran yang membuat stres siswa lebih baik menugaskan membaca buku untuk menemukan satu karakter baik dari bacaan.

 

Selain membiasakan membaca buku, pandemi Covid-19 pun semestinya jadi momentum untuk memberi kemudahan akses bacaan anak-anak. Sekaligus memutus narasi tentang minat baca anak Indonesia yang rendah. Tapi sediakan akses bacaan dan membiasakan perilaku membaca seperti yang dilakukan di taman bacaan masyarakat (TBM) yang ada di kampung-kampung di seantero nusantara.

 


Berangkat dari realitas itulah, TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor berkomitmen kuat untuk mengakrabkan anak-anak dengan buku bacaan. Demi tegaknya perilaku membaca anak-anak usia sekolah. Tentu, dengan menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker dan menjaga jarak. Bahkan di taman bacaan ini, membaca buku dikemas dengan asyik dan menyenangkan. Membaca di kebun baca, di sungai, sambil bermain angklung. Tiap minggu pun ada laboratorium baca, di samping tersedia jajanan kampung gratis. Spiritnya sederhana, akrabkan anak-anak dengan buku bacaan.

 

Alhasil, kini TBM Lentera Pustaka memiliki 160-an anak pembaca aktif yang tadinya hanya dihuni 60 anak di akhir tahun 2020 lalu. Dengan jam baca 3 kali seminggu dan koleksi lebih dari 6.000 buku, TBM Lentera Pustaka menegaskan komitmennya untuk mendekatkan anak-anak dengan buku bacana di tengah gempuran gim online dan main yang tidak produktif. Berbekal motto #BacaBukanMaen, kini TBM Lentera Pustaka sudah jadi “tempat membaca sambil bermain” anak-anak dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya).

 

Bahkan lebih dari itu, TBM Lentera Pustaka pun kini telah menjadi sentra pemberdayaan masyarakat. Karena program-program lain pun dijalankan di taman bacaan, seperti GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf, KEPRA (Kelas PRAsekolah) yang diikuti 25 anak usia PAUD, YABI (YAtim BInaan) yang menyantuni 16 anak yatim, JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo, dan KOPERASI LENTERA dengan 25 ibu-ibu sebagai koperasi simpan pinjam untuk mengatasi soal rentenir dan utang berbunga tinggi, dan TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel yang ada.  

 

Akrabkan anak dengan buku adalah pekerjaan membangun peradaban. Tidak mungkin hasilnya dirasakan dalam waktu singkat. Butuh proses panjang dan waktu. Maka perilaku membaca dna gerakan literasi harus punya energi cukup. Butuh komitmen dan konsistensi dalam mengajak anak-anak membaca buku. Sekaligus menyeimbangkan kegiatan membaca dan bermain. Karena sejatinya, membaca buku adalah “pekerjaan besar” untuk mengubah cara pandang anak-anak tentang realitas kehidupan sambil mempersiapkan masa depannya sendiri dengan optimis. Salam literasi #TamanBacaan #GerakanLiterasi #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka